
Seharian ini Daniel mengurung Abel di dalam kamar. Mereka bahkan melewatkan jam makan siang. Daniel dan Abel baru keluar dari kamar saat masuk jam makan malam. Itupun karena Abel merengek lapar pada Daniel. Kalau Daniel jangan ditanya, ia bahkan tidak merasa lapar. Bersama Abel di dalam kamar sudah membuat Daniel kenyang lebih dari apapun. Apalagi jika terus-terus an bermain di atas ranjang. Mau puasa tidak makan seminggu pun sepertinya Daniel betah. Berlebihan, iya sih!
“Ayo Bee!!” Rengek Abel sambil mengerucutkan bibirnya. Abel sudah lapar. Ia mengajak Daniel untuk membeli nasi goreng seafood.
“Iya, iya, sayangku.” Menangkup kedua pipi Abel sambil mengecupnya sekilas.
“Kamu lama banged sih bee mandinya, aku bedakan udah kelar dari tadi, kamu nya baru keluar dari kamar mandi.” Keluh Abel.
“Salah kamu sih, yang. Aku jadinya lama.” Balas Daniel.
Daniel menggandeng Abel keluar dari kamar mereka.
“Kok salah aku sih?”
“Kamu nggak mau diajak mandi bareng, jadinya aku lama.” Jawab Daniel.
Lah, kalau mandi bareng justru nambah lama.
“Alesan aja kamu tuh, udah lah pokoknya kalau sampai nggak nemu nasi goreng seafood Cak Diqin aku marah.” Ketus Abel sambil membuka pintu apartemennya. Ia melepas gandengan tangan Daniel. Abel berjalan mendahului Daniel menuju lift.
“Sayang tunggu dong!” Panggil Daniel menjangkau tangan Abel.
“Jangan pegang-pegang, kita marahan!” Abel cuek saja. Ia acuh pada Daniel yang mengekorinya sambil mencoba menggenggam tangannya. Namun, tetap saja di tepis oleh Abel.
Hahaha.. rasaain!
Abel memang sengaja ingin mengerjai Daniel. Seberapa sabarnya Daniel menghadapi sikap labil Abel. Tuh, kan, sikap kekanak-kanakan Abel mulai lagi.
Sampai di basement Daniel membukakan pintu mobil untuk Abel. Mereka menggunakan mobil Abel. “Silahkan, nyonya.”
“Makasih.” Masuk ke dalam mobil dan duduk. Daniel sendiri berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil duduk di kursi kemudi.
Daniel mengenakan sabuk pengamannya lalu menghidupkan mesin mobil. Untuk sesaat Daniel memanasi mesin mobil dulu karna sudah beberapa hari mobil Abel tidak pernah digunakan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang keluar dari basement apartemen Abel. Tak lupa Daniel membunyikan klakson saat mereka melewati pos satpam gedung apartemen. Keadaan jalanan kota Jakarta masih sangat ramai, kendaraaan roda dua maupun roda empat masih berlalu lalang di jalanan kota itu. Sesekali terdengar bunyi klakson dari pengendara yang tidak sabaran. Beberapa pengendara mobil juga nampak salip menyalip tanpa peduli mereka tengah berada di jalan raya.
“Mereka pikir arena balap apa, kebut-kebutan di jalan raya. Dasar norak!” Abel mengomentari mobil yang baru saja menyalip dengan kecepatan tinggi, mobil itu bahkan tidak menghidupkan lampu sen.
“Buru-buru kali sayang, mungkin ditunggu istrinya dirumah.” Daniel menyahuti ucapan Abel sambil melirik istrinya sekilas.
“Buru-buru nggak gitu juga Bee, utamakan keselamatan dari pada kecepatan. Atau jangan-jangan kamu juga gitu??” Kini gantian Abel yang melirik suaminya itu dan hanya di balas cengiran oleh Daniel. Abel sudah bisa menebak arti cengiran suaminya itu.
“Kamu juga gitu?” Ulang Abel.
__ADS_1
“Gitu apa?”
“Gitu suka kebut-kebutan!”
“Nggak, aku kalau bawa mobil pelan, kok. Ya, kayak sekarang.”
“Oh, nggak percaya tuh.”
“Nggak percaya ya udah, orang aku juga cuman bohong.”
Puk.. Abel menepuk lengan Daniel pelan. “Kok ditimpuk sih, yang?” Tanya Daniel sambil menjauh kan lengannya dari Abel. Lelaki itu memegang kemudi dengan satu tangannya.
“Kamu ya Bee, baru nikah sehari aja udah berani bohong, gimana nanti?” Gerutu Abel.
“Ya gimana, abis kamu nanya nya gitu. Jelas-jelas kamu tau sayang aku nggak pernah bawa mobil pelan, mana ada bawa mobil sport pelan. Nggak enak.” Ujar Daniel.
“Kamu emang nggak bisa dibilangin ih,” mendengus kesal karena suaminya. Abel pun cemberut.
“Iya, iya.. maaf. Lain kali aku bawa mobilnya pelan kayak siput.” Mencubit pipi Abel dengan tangan kirinya. “Jangan cemberut lagi dong!” Bujuk Daniel.
“Diem kamu jangan pegang-pegang!” Menepis jari telunjuk Daniel yang mencoba menunjuk-nunjuk pipi Abel. “Fokus sama jalanan Bee.” Lanjutnya. Tangan Daniel pun kembali fokus pada kemudinya karena tidak mau Abel semakin cemberut.
Untung saja warung makan Cak Diqin masih buka dan nasi goreng seafood yang diinginkan Abel masih, jika tidak bisa bahaya nasib Daniel malam ini. Bisa-bisa Daniel tidur di sofa. Daniel tentu tidak mau tidur di sofa, lelaki itu masih ingin melanjutkan malam pertama yang sebenarnya. Kejadian tadi siang hingga sore itu tidak bisa disebut malam pertama karena mereka melakukannya di siang hari.
Pagi harinya Abel terbangun karena merasa lapar padahal perempuan itu baru tidur tiga jam an. Abel langsung membangunkan daniel. Daniel sendiri tidak protes saat Abel membangunkannya dan mengajaknya untuk pergi ke pasar.
Usai mandi pagi yang kilat Abel dan Daniel pergi ke pasar. Sampai di pasar Daniel terus menggandeng tangan Abel, ia takut tersesat di pasar tradisional yang cukup luas itu. Abel tidak protes saat Daniel menggenggam tangannya seperti balita yang takut terpisah dari ibunya. Abel justru tersenyum senang.
Abel sampai di warung bubur ayam. Abel mengajak Daniel untuk sarapan terlebih dahulu sebelum mereka melanjutkan berkeliling pasar. Usai sarapan Abel kembali mengajak Daniel melanjutkan berkeliling pasar. Mereka sampai di depan kios sayuran. Abel melihat cabe rawit yang segar juga brokoli yang juga masih fresh. Abel menghentikan langkahnya di depan kios itu untuk membeli cabai rawit.
“Silahkan neng, cabai nya baru neng, baru datang dari petani langsung.” Ucap ibu pemilik kios itu saat melihat Abel menyentuh cabai rawit merah.
“Sekilo berapa, Bu?” Tanya Abel.
“Seratus ribu, neng.”
“Ya sudah sekilo, Bu.” Ucap Daniel menyahut, yang langsung di cubit lengannya oleh Abel. Daniel menoleh pada Abel dengan tatapan penuh tanda tanya. Apa salahnya hingga ia dicubit oleh istrinya?Daniel benar-benar tidak tau letak kesalahannya.
Enak aja main langsung pesen sekilo mana mahal lagi.
“Cabai rawit sekilo sama apalagi neng?” Tanya ibu itu sambil tangannya meraih cabai rawit hendak ia masukan ke dalam timbangan.
“Bentar dulu Bu, nggak bisa kurang apa Bu?Mahal banged seratus ribu.” Tawar Abel pada ibu itu. Daniel melongo mendengar istrinya menawar cabai yang harganya hanya seratus ribu.
__ADS_1
What?Istri gue nawar cabai rawit yang harganya seratus ribu..Kaya orang tipis aja.
“Sayang aku bisa belikan mau berapa kilo pun, nggak usah nawar.” Bisik Daniel pada istrinya. Bukannya senang Abel justru mencubit perut Daniel lagi hingga lelaki itu meringis, dan langsung menutup rapat mulutnya.
Nih laki nggak tau apa-apa bisa bangkrut kalau asal iya aja tiap beli barang.
“Kamu diem aja Bee.” Balas Abel sambil berbisik.
“Gimana neng?”
“Bisa kurang nggak Bu, kalau bisa kurang saya mau.” Jawab Abel.
“Wah sudah pas ini neng.” Balas ibu itu.
“Saya pikir boleh enam puluh ribu, kalau begitu saya permisi, Bu.” Ucap Abel sambil menarik tangan Daniel. Abel membalik tubuhnya menjauh dari kios ibu itu diikuti Daniel yang hanya diam saja. Daniel memilih diam dari pada di cubit oleh Abel lagi.
“Satu.. dua..ti..” ucap Abel lirih.
“Ya sudah neng, boleh.” Teriak ibu itu memanggil Abel.
Abel yang di panggil tersenyum tipis sambil membalik tubuhnya menghadap ibu itu. “Boleh enam puluh?” Tanya Abel memastikan.
Ibu itu mengangguk sambil melambaikan tanganya pada Abel agar kembali mendekat ke kiosnya. Abel melangkah kembali ke kios itu. Tak lupa diikuti Daniel yang setia mengekorinya.
“Ini cuman sama kamu lho neng, kalau sama yang lain nggak boleh. Cabai lagi mahal bla bla bla.” Ucap ibu itu panjang lebar sambil menimbang cabai rawit dan beberapa sayuran pilihan Abel, ada brokoli, wortel, paprika, kangkung, bayam cabut, jagung posol, jagung manis sayur dan beberapa lainnya.
“Terimakasih, Bu.”
“Sama-sama neng, nanti mampir lagi ya neng kalau ke pasar.” Ucap ibu itu.
“Siap, Bu.”
Daniel sigap membawa dua kresek hasil belanjaan Abel. Setelah dari kios sayur-mayur, Abel membawa Daniel menuju kios jajanan pasar. Sampai di kios itu mata Daniel berbinar, ia ingat beberapa jajanan pasar yang pernah Daniel makan di kantor Adam. Daniel langsung menunjuk jajanan ini, itu, dan Abel menaruhnya di keranjang belanjaan.
Sampai di apartemen Abel langsung berkutat di dapur untuk memasak makan siang. Sementara Daniel duduk di kursi pantry melihat Abel memasak sambil memakan jajanan pasar yang tadi dibeli di pasar.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai hai, aku menyapa kembali. Maaf ya lama nggak update.