Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Teka - teki


__ADS_3

Jajanan pasar yang menjadi favorite Daniel adalah klepon dan juga lapis tiga warna. Dua-duanya termasuk makanan manis.


“Sayang sore ini kita pulang ke rumah ya, aku ada urusan sama kakek.” Daniel teringat pembicaraan seriusnya dengan kakek Han. Abel menoleh sekilas dan menangguk. Abel sedang memasak orak-arik dan menggoreng ikan asin. Kemampuan memasak Abel masih di tahap yang mudah-mudah. Sebenarnya mau Abel bisa masak atau tidak bukanlah masalah bagi Daniel. Daniel sanggup menyewa pembantu yang banyak untuk Abel. Toh Daniel menikahi Abel juga bukan untuk menjadikannya koki.


“Apa kita nginep di rumah aja nanti malam?” Tanyanya pada suaminya.


Daniel mengelap tangannya yang belepotan minyak akibat jajanan pasar lalu bangkit. Daniel berjalan menghampiri Abel. Ia mencuci tangannya di wastafel yang berada di dekat Abel lalu mengelapnya dengan serbet.


“Aku sih mau nginep di mana aja, yang penting jatah sebelum tidur.” Memeluk Abel dari belakang. Daniel membenamkan bibirnya di ceruk leher Abel.


“Mentang-mentang udah sah mesum terossss.” Protes Abel.


“Biarin enak..” cup, cup, cup, mengecupi ceruk leher Abel membuat Abel merasa geli.


“Bee, lepas dong!Aku lagi masak nih.” Merasa tidak nyaman plus mode bahaya. Bisa bisa masak memasak Abel tidak selesai jika Daniel seperti itu.


“Pengen yang.” Menggigit kecil daun telinga Abel.


“No!! Kamu nggak puas apa Bee?Semalem udah sampai pagi loh.” Mengecilkan api kompor sambil melepaskan tangan Daniel di perutnya.


“Nggak pernah ada kata puas karena itu kamu. Tapi, aku akan melepaskanmu saat ini. Sebagai gantinya nanti malam dirapel.” Ucap Daniel melangkah kembali ke kursi pantry. Abel geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya dan juga nafsu suaminya yang sepertinya tidak ada habisnya.


“Nanti malam libur.”


“Nggak, nggak bisa. Enak aja libur.” Protes Daniel tidak setuju. Sementara Abel terkekeh. Niatnya memang hanya untuk menggoda Daniel.


***


Abel membawa paperbag berisi baju gantinya, ia dan Daniel akan menginap dirumah Daniel. Rumah yang sekarang di tempat i kakek Han selama di Indonesia.


Pukul empat sore mereka tiba dirumah yang lansung di sambut oleh John dan kakek Han yang kala itu tengah bersantai di ruang keluarga. Usai mengobrol sebentar Daniel membawa Abel ke kamarnya. Ini pertama kalinya Abel menginap di rumah ini. Namun, Abel sudah pernah berkunjung beberapa kali.


“Kamu istirahat dulu, aku akan temui kakek.” Pamit Daniel pada istrinya. Abel pun mengangguk.


Abel memang sedikit mengantuk apalagi mereka melakukan permainan ranjang sebelum ke rumah kakek. Ya, Daniel memang tidak bisa di percaya, malam hari yang di sepakati menjadi siang menjelang sore hari. Daniel meminta jatahnya saat mereka bangun dari tidur siang. Untung saja Daniel hanya bermain singkat tidak seperti biasanya.


***


Daniel mengajak kakek Han berbicara di ruang kerjanya.

__ADS_1


“Dimana Abel?” Tanya kakek Han sambil mendudukan dirinya di sofa.


“Di kamar tidur, dia kelelahan.” Jawab Daniel sambil cengengesan. Kakek Han sudah bisa menebak kelelahan seperti apa yang di rasakan Abel.


“Malang nya nasib cucu menantuku harus melayani bocah sepertimu.” Kakek Han tahu seperti apa peringai Daniel di tempat tidur. Bukan hal yang rahasia lagi, mengingat Daniel adalah mantan cassanova.


“Haha, aku sedang berusaha keras, kek. Abel menginginkan anak.” Jawab Daniel.


“Benarkah?Apakah dia mengatakan nya padamu?”


Daniel menggeleng. “Tidak, hanya saja Daniel tau, Abel ingin segera punya anak agar anak kami seumuran dengan anak-anak dari sahabat Abel. Bahkan, kau tau kek sepertinya Abel sudah menyiapkan jodoh untuk calon anakku yang belum tumbuh di rahimnya.” Sekali lagi Daniel terkekeh.


“Siapa calonnya?”


Flash back on..


Daniel dan Abel sedang berada di kediaman Adam. Daniel ada urusan pekerjaan dengan Adam, sementara Abel ikut karena merindukan Nabila dan si kembar.


Daniel dan Adam berniat menghampiri istri-istri mereka di ruang keluarga setelah mereka menyelesaikan urusan pekerjaan. Tidak di sangka mereka malah mendengar obrolan lucu dari para istri. Daniel dan Adam bersembunyi di balik dinding untuk menguping obrolan lucu Abel dan Nabila.


“Kamu udah tau jenis kelamin anak Nita belum?” Tanya Nabila. Abel mengangguk.


“Sama, terus kita beli bando-bando yang lucu.” Balas Nabila.


“Ah, aku juga pengen punya anak.” Abel mengerucutkan bibirnya. Cukup menggemaskan bagi siapa pun yang melihatnya.


“Sabar bentar lagi sah, aku doa in langsung jadi.” Nabila cekikikan. “Tapi, anak pertama kamu cewek aja ya?”


Abel mengernyit. “Kenapa gitu?”


“Aku ada rencana jodohin anak-anak kita, biar persahabatan kita lanjut jadi besan.” Jawab Nabila.


“What?Anak lo, sama anak gue terus anak Nita?” Tanya Abel memastikan.


“Yups, Anak gue kan cowok dua. Ntar Aksa si sulung buat menantu kamu, terus Akra jadi menantu Nita, gimana?” Nabila dengan segala ide lucunya. Dibalik dinding dua lelaki saling tatap sambil menahan tawa mereka.


“Gue sih Yes, kalau anak nya mau.” Walau bagaimana pun Abel tidak mau memaksa kebahagiaan anak nya kelak.


“Ya harus mau dong, caranya sejak kecil kita deketin mereka. Kalau perlu ditunangin dari kecil.” Ucap Nabila. Memang hanya Nabila yang mempunyai ide itu sementara Abel geleng-geleng kepala mendengar ambisi Nabila terhadap masa depan anak-anak.

__ADS_1


Flash back off..


Kakek Han mendengarkan cerita Daniel dengan serius. “Kakek setuju, keluarga tuan Adam sepadan dengan keluarga kita.”


Daniel geleng-geleng kepala. Mulai lagi kakeknya dengan bobot bibit bebet.


“Sudahlah kek, skip dulu pembahasan ini. Kita kembali ke topik utama. Jadi, apa maksud kakek dengan Daniel menyembunyikan Dewi?” Tanya Daniel.


Kakek Han memberi isyarat pada John agar memeriksa keadaan luar ruang kerja Daniel. Dan menutup pintu rapat agar aman.


“Bukankah kau yang menyembunyikan Dewi?”


Daniel menggeleng. “Tidak, Daniel bahkan belum menemui perempuan itu.”


“Kau yakin?” Daniel mengangguk.


“Memang kenapa?”


“Dewi menghilang. Kakek berencana membuat perhitungan dengan perempuan itu, beraninya dia mencelakai cucu menantuku. Tapi, saat orang suruhan kakek pergi ke apartemen nya, Dewi sudah tidak ada. Orang suruhan kakek juga menerobos masuk, sepertinya dia kabur.”


Flash back on..


Saat pesta pernikahan Abel dan Daniel. Kakek Han tidak sengaja mendengar percakapan Dewi dengan seseorang di telepon. Kakek Han juga mendengar Dewi sempat berdebat dengan Ilham di depan toilet membahas masalah itu, Ilham mengancam Dewi akan melaporkan Dewi ke polisi karena sudah berniat mencelakai Caca. Dewi kala itu di undang sebagai sahabat dekat Caca oleh orang tua Abel. Papa Damar dan mama Lila sepertinya tidak tau mengenai perselingkuhan Ilham dan Dewi makanya mereka masih mengundang Dewi.


Flash back off..


“Apa dia menyadari kakek mendengar pengakuannya pada Ilham?” Tebak Daniel. Kakek Han menggeleng.


“Sepertinya karena ancaman Ilham. Setelah anak buah Kakek meninggalkan apartemen Dewi, Ilham juga datang kesana. Ilham nampak seperti orang yang kehilangan Dewi.” Jawab kakek Han.


“Tapi, Bagaiamana mungkin Dewi mengaku hal jahatnya pada Ilham?Apa perempuan itu bodoh?” Bukan menyembunyikan kejahatannya, Dewi justru mengungkapkan semua hal jahat yang dia lakukan pada Ilham.


.


.


.


Sampai disini dulu ya, see u tomorrow .

__ADS_1


__ADS_2