
Hutan Mangrove
“ Kenapa kamu seneng gitu?” Tanya Adam.
“ Lusa Abel sama Nita mau nyusul ke Jogja .” Jawab Nabila.
“ Bagus dong. Kita bisa liburan bareng.”
“ Mas kalo temen-temen kesini kita jelajah yaa,”
“ Boleh..”
Adam masih fokus dengan kemudinya. Mobil melaju memasuki daerah yang rimbun, penuh dengan pepohonan dengan daun hijau. Masih terlihat kabut tipis.
Sekitar satu setengah jam Nabila dan Adam sampai di Waduk sermo. Setelah memarkirkan mobilnya, Adam dan Nabila turun dari mobil. Adam memejamkan matanya menghidup udara pagi yang masih segar. Sementara Nabila sibuk mengambil foto Selfie.
“ Pakai jaketmu Bil.” Ucapnya pada Nabila.
Nabila menoleh sebentar ke arah Adam. Lalu dia memakai jaketnya yang sedari tadi terlampir di lengan tangannya. Di waduk sermo saat pagi hari memang dingin. Nabila duduk di kursi panjang yang berada di dekat pohon besar menatap ke arah waduk.
“ Mas sini.” Ucap Nabila melambaikan tangannya.
Adam menghampiri istrinya dengan langkah santai. “ Kita mau apa sekarang?” Tanya Adam.
“ Nanti naik perahu terus mengelilingi waduk.” Jawab Nabila. “ Setelah itu beli cilok, terus lanjut perjalanan lagi.”
Adam manggut-mangggut. “ Naik itu?” Tanya Adam menunjuk perahu kecil.
“ Iyaa.. Mas takut?” Tanya Nabila melihat ekspresi Adam.
“ Nggak ,tapi apa itu aman?”
Nabila mendekat ke arah Adam, menggandeng manja lengan Adam. “ Aman aku udah sering naik”
Adam lalu berdiri mengajak Nabila untuk segera menaiki perahu yang dimaksud Nabila.
“ Nanti tunggu penumpang yang lain. Kalo sudah ada 10 orang baru jalan.” Kata Bila menarik Adam agar duduk lagi.
“ Kenapa gitu?” Tanya Adam yang tidak senang, dia ingin segera merasakan sensasi naik perahu kecil.
“ Kalau cuma 2 orang bapaknya nggak mau jalan, rugi bensin.” Jawab Nabila.
“ Hm itu to masalahnya.” Adam kembali berdiri dan menarik Nabila agar mengikutinya. Dia berjalan ke arah bapak pemilik perahu, Adam bernegosiasi dengan Pak perahu, dia memberi beberapa lembar uang 100.000 an kemudian mengajak Nabila naik ke atas perahu.
“ Mas nyogok yaa?” Tanya Bila.
__ADS_1
“ Sedikit, lagi pula aku ingin mengelilingi waduk ini berdua saja sama kamu. Nggak pengen ada penumpang lain.” Ucapnya yang sudah duduk di atas perahu.
“ Oh.. Mas fotoin aku dong.” Ucap Bila menyerahkan ponselnya pada Adam. Bila kemudian memposisikan duduk di ujung perahu memakai kaca mata dan berpose. “Mas udah belum ?”tanya Bila.
“ Udah kok” jawab Adam memberikan ponsel Nabila
Nabila memeriksa hasil jepretan Adam. “Kok nggak berasa sih, mas kasih aba-aba dong 1 2 3 gitu biar fotonya bagus” Dia melihat hasil foto Adam blur semua.
“ Ulangi!! Kasih aba-aba, jangan sampai blur lagi. Masa Presdir Hanggara Grub motret aja blur !” Nabila menggerutu.
“ Ya kan motret bukan keahlian aku Bil.” Ucap Adam . “ Mana ponselmu, aku foto ulang”
Nabila kembali ke posisi awal, dia duduk di ujung perahu dan berpose.
“ Dah siap Bil?Aku hitung ya 1,2 3 .” Ucap Adam.
Cekrek...
Cekrek...
Cekrek...
Adam memotret Nabila banyak sekali, agar Nabila bisa puas memilih hasil fotonya. Setelah naik perahu Nabila membeli cilok. Cilok kelilingan, penjualnya memakai sepeda motor untuk berjualan. Untuk rasanya tidak perlu diragukan lagi, mantap.
Sekitar pukul 11:00 Adam dan Nabila melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka berencana ke Hutan mangrove. Mobil Adam tiba-tiba berhenti karena mobil di depanya juga terhenti.
“ Masa sih Mas?” Tanya Bila, dia ikut mengarahkan penglihatannya ke depan.
“ Itu kamu lihat sendiri, kalo enggak kecelakaan memang apa lagi yang bisa bikin macet panjang gini”
“ Yahh “ Nabila menghela nafasnya.
“ Makan dulu saja yaa, sudah hampir jam 12 siang ini, kamu sekalian sholat kan?” Ajak Adam yang kemudian menepikan mobilnya di sebuah rumah makan, di sebelah rumah makan itu ada mushola kecil.
Adam dan Nabila masuk ke resto tersebut, banyak mobil yang ikut menepi karena memang sudah jam makan siang. Suasana resto sangat ramai, untung saja parkirannya luas.
“ Mau makan apa?” Tanya Adam pada istrinya.
“ Gak ada lotek ya Mas?” Tanya Nabila saat melihat menu yang isinya ayam dan ikan saja.
“ Ya mana ada Bil, resto yang lumayan besar begini jualan lotek.” Celoteh Adam.
“ Aku maunya makan lotek Mas.” Ucap Nabila.
“ Sayang makan seadanya dulu yaa, nanti kita cari lotek di jalan.” Bujuk Adam pada istrinya.
Nabila menggelengkan kepalanya. “ Nggak mau, maunya lotek aja.”
__ADS_1
“ Hm ya gimana Bil, kita udah terlanjur masuk masa enggak jadi?Kan nggak enak.” Ujar Adam. “ Makan dikit aja terus nanti beli lotek oke?” Adam kembali membujuk istrinya.
“ Yaudah Iyaa.. Aku mau makan ikan bakar aja, tanpa nasi sambelnya Sambel matah” Ucap Adam.
“ Oke sayang, kamu tunggu disini.” Adam mengusap lembut rambut istrinya lalu pergi menyerahkan pesanan pada pelayan.
Beberapa saat kemudian pesanan Adam dan Nabila datang. Adam makan dengan lahapnya, sementara Nabila terlihat malas-malasan. Tapi tetap saja dia menghabiskan ikan bakar yang dipesannya. Setelah makan Nabila melaksanakan sholat dhuhur. Begitu juga Adam, dia mencoba mengikuti istrinya menjalankan sholat lima waktu tapi masih bolong-bolong.
Setelah sholat mereka hendak melanjutkan perjalanan, tapi masih terlihat macet panjang.
“ Yang bikin macet apa ini pak?” Tanya Nabila pada tukang parkir.
“ Anu itu Mbak ada kecelakaan di depan sekitar 1km dari sini. Truk gandeng muatan berat menabrak motor mbak, trus truknya malang menuhin jalan mbak.”
“ Wah lama ini pasti pak, padahal saya mau ke hutan mangrove. Apa tidak ada jalan lain Pak?” Tanya Nabila lagi.
“ Ada mbak, lewat jalan alternatif desa.”
“ Lewatnya mana pak?Atau ada joki yang bisa antar kesana?” Sahut Adam.
“ Ada mas, mau saya carikan joki nya?” Tanya bapak parkir.
“ Boleh Pak, saya tunggu disini saja.” Jawab Adam.
Beberapa saat kemudian bapak parkir itu datang dengan dua pemuda.
“ Ini mas, anak saya bisa antar lewat jalur alternatif” ucap Bapak itu.
Kedua pemuda itu kemudian memperkenalkan diri ke Adam, namanya Rendi dan Denis. “ Saya di depan pak, kalo kecepatan yang bawa motor nanti bapak klakson saja.” Ucap Rendi anak Bapak tukang parkir.
“ Oke” Jawab Adam yang kemudian mengajak Nabila untuk masuk ke dalam mobil.
“ Itu mereka uda punya SIM belum mas?” Tanya Nabila.
“ Sudah kok Bil, kamu tenang aja.” Jawab Adam.
Rendi dan Denis berboncengan dengan motor untuk menjadi joki, mengantarkan Adam dan Nabila ke Hutan mangrove. Sekitar 45 menit akhirnya mereka sampai di hutan mangrove.
Adam memarkirkan mobilnya, lalu menghampiri kedua pemuda yang juga sedang memarkir motornya. “ Kalian ikut masuk tidak?”
“ Kami tunggu disini saja Pak.” Jawab Denis.
“ Ikut masuk saja, nanti bantu kita ambil foto.” Tutur Nabila.
“Denis!!!” Dari arah berlawanan ada suara orang tua yang memanggil Denis.
Bersambung...
__ADS_1