Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Pertemuan keluarga


__ADS_3

“Aku tidak mungkin menerima perjodohan itu, aku sudah punya kekasih.” Jujur Daniel pada Defan. “Kau saja, lagi pula kau, kan, jomblo.”


Daniel tau Defan tidak mempunyai kekasih dari informasi yang ia dapat dari Wu bai.


“Aku tidak mau menikah muda, kak. Lagi pula Kakak yang sudah masuk usai menikah bahkan lewat.” Ejek Defan pada Daniel. Entah dengan kepercayaan diri dari mana Defan berani mengejek Daniel.


“Memang kau tidak mau harta warisan nenek?” Tanya Daniel santai.


“Kalau aku tidak terlalu butuh harta warisan nenek, aku sudah kaya tanpa harta warisan.” Lanjut Daniel sambil menyulut sebatang rokok dengan pemantik nya.


“Aku mau, tapi tidak mau kalau harus menerima perjodohan tidak masuk akal itu.” Pekik Defan. Sama halnya Daniel, menurut Defan perjodohan itu tidaklah masuk akal dan konyol. Defan mau menikah dengan wanita pilihannya sendiri, wanita yang ia cintai sepenuh hati.


Hening.. Daniel tau memaksa Defan pun hasilnya tetap sama, Defan tidak akan mau menerima perjodohan itu.


“Apa kakak tau ibu mulai menyerang kakek?” Tanya Defan hati-hati. Daniel mengangguk. “John sudah memberitahuku.” Jawab Daniel.


“Kau mau ikut aku atau ibumu?”


Daniel sebenarnya tidak mau menanyakan hal itu pada Defan. Bagaimana pun dirinya hanya kakak tiri dibanding ibu nya apakah Defan akan menuruti kakaknya?Kakak yang hampir tidak pernah menyapanya?


“Akan ku pikirkan.” Jawaban Defan membuat Daniel menghela nafas kasar. Ia dibuat menunggu jawaban oleh seseorang, beraninya Defan.


“Rahasiakan pertemuan kita hari ini, aku akan menemui mu beberapa hari lagi.” Ucap Daniel dan Defan mengangguk. Setelahnya Daniel menyuruh orang untuk mengantar Defan pulang. Negosiasinya dengan Defan tidak menghasilkan apapun.


***


Sampai pada hari bertemunya kedua keluarga. Kakek Han terlihat sumringah menantikan hari ini. Ia terlihat berwibawa dengan baju batik yang pernah ia beli dari Indonesia. Berbeda dengan Daniel, ia terlihat malas dan memakai setelan jas seadanya bahkan terkesan ngasal.


Dalam perjalanan menuju tempat makan malam kakek bercerita bagiamana persahabatannya dengan kakek Nanto, almh. Nenek Daniel dan almh. Istri kakek Nanto. Cerita yang menarik bagi Daniel, terutama cerita perjuangan mereka membangun mimpi bersama-sama.


“Sudah sampai, Tuan.” Ucap John seraya menoleh pada kakek Han dan Daniel yang duduk di kursi belakang.


“Terimakasih John.”


Kakek John turun dari mobil, yang pintunya sudah di bukakan oleh pihak hotel. Di ikuti oleh Daniel mereka masuk ke dalam hotel dan menuju ruang pertemuan yang sudah di siapkan pihak hotel. Menurut infomasi karyawan hotel, pihak keluarga kakek Nanto sudah tiba sepuluh menit yang lalu.


Ceklek.. karyawan hotel membukakan pintu ruangan VVIP yang sudah di pesan. Terlihat ada empat pasang mata menatap ke arah pintu. Mereka langsung berdiri menyambut kedatangan kakek Han dan Daniel.

__ADS_1


“Nanto...Han!!” Nanto dan Han langsung bersalaman dan memeluk ala pelukan seorang pria, pelukan dengan tepukan bahu.


“Apa kabar, paman?” Sapa Damar dan Lila bersamaan.


“Baik-baik.” Balas Han yang telah melepaskan pelukannya dari Nanto kemudian beralih menyalami Damar dan Lila.


“Ini pasti Caca?” Tebak kakek yang sudah pernah melihat foto Caca dari asistennya. Caca pun mengangguk lalu mencium punggung tangan kakek Han.


Setelahnya Kakek seakan mencari-cari seseorang, seperti ada yang terlewatkan. “Dimana si bungsu?” Tanya kakek Han.


“Ah, Bella tidak bisa datang, Paman.” Jawab Lila sopan yang tidak menyangka kakek Han akan menanyakan Abel. Lila tidak berpikiran kakek Han akan ingat pada Abel karna dulu saat Lila dan Damar berkunjung ke rumah Kakek Han dengan membawa Abel, Abel masih kecil.


“Bocah nakal itu tidak mau ikut, Han. Kau tidak tau saja seberapa nakalnya dia, padahal aku sudah sering menceritakannya padamu.” Sahut Nanto menjelaskan. Nanto dan Han memang sering berkomunikasi via chat, Nanto sering menceritakan kehidupan keluarganya.


Sayang sekali padahal aku lebih senang Bella yang dijodohkan dengan Daniel. Batin kakek Han.


Kakek Han lebih sering memanggil Abel dengan sapaan Bella, namanya kan Isabella Anastasia. Menurut Kakek nama Bella lebih cantik dan mudah diingat.


“Ah iya, ini cucuku. Niel, perkenalkan dirimu!”


Sekilas mirip dengan Abel, hanya lebih anggun dan elegan. Tapi, tetap saja Abelku yang paling cantik, imut dan menggemaskan. Batin Daniel setelah mengamati Caca.


Terlihat jelas dia tidak menyukaiku, kenapa dia tidak menolak perjodohan ini. Batin Caca.


Sejak bergabung dengan perushaaan papa Damar, Caca menjadi lebih peka terhadap orang lain. Ia bisa menilai sikap seseorang hanya dari sekali bertemu.


“Han, untuk perjodohan Daniel dan Caca lebih baik tunangan dulu, biarkan mereka saling mengenal selama satu bulan. Baru lanjut menikah.” Ucap Nanto.


“Tidak masalah, sepertinya mereka memang perlu saling mengenal. Bagaimana menurutmu, Niel?” Menoleh pada Daniel.


“Terserah kakek saja.” Jawab Daniel malas, kakek Han langsung menginjak kaki Daniel karna geram. Daniel tentu saja meringis kesakitan tapi ia menahannya.


Setidaknya tunangan tidak masalah untuk tidak menikahinya, selama menjadi tunanganku akan ku buat dia membenciku dan dia sendiri yang akan membatalkan pertunangan. Batin Daniel dengan seringai liciknya.


“Apa kamu keberatan, Ca?Atau kau mau langsung menikah saja?” Tanya Nanto pada cucunya. Sementara Damar dan Lila menoleh pada Caca. Pasangan suami istri itu merasa kasihan pada putri sulungnya yang harus mengorbankan kebahagiaannya demi memenuhi keinginan sang kakek dan almh. Neneknya.


“Caca ikut dengan keputusan kakek saja.” Jawab Caca.

__ADS_1


Toh mau menolak atau menerima hasil akhirnya tetap kakek yang menentukan, untuk apa menanyakan pendapatku. Batin Daniel.


Kedua keluarga sepakat tunangan dulu, dan pertunangan akan di laksanakan di Jakarta. Dua minggu setelah kakek Han dan Daniel menyelesaikan masalah perusahaan di Kanada. Pertemuan itu ditutup dengan makan malam.


***


Jakarta, Indonesia.


Sejak Daniel pergi ke Kanada untuk urusan pekerjaan, Abel memilih fokus pada skripsinya. Ia bahkan sering begadang sampai pagi mengerjakan skripsi.


Abel ingin menyelesaikan skripsinya dengan cepat agar ia bisa segera lulus dan menikah.


“Rajin banged buk.” Goda Nita pada Abel. Nita sedang berada di apartemen Abel karna ditinggal oleh suaminya keluar kota. Semalam ia menginap di apartemen Abel.


“Biar cepet wisuda terus kawin.” Jawab Abel seraya fokus mengetik di laptopnya.


“Nggak nyangka diantara kita bertiga, kamu duluan yang ngerjain skripsi.”


Nita terkekeh jika mengingat Abel adalah yang paling malas diantara Nabila dan dirinya. Tapi kenyataannya malah Abel yang akan lulus lebih dulu. Nita sendiri belum mencicil mengerjakan skripsi, masih ada bebeapa mata kuliah yang belum ia ambil karena sempat bolos lama di saat ngidam. Nabila juga belum memulai mengerjakan skripsi karna cuti melahirkan dan mengurus si kembar.


“Abel gitu loh.. tapi ntar anak gue paling muda di antara anak kalian.” Ucap Abel sedih.


“Ya elah, Bel. Selisih setahun dua tahun masih bisa jadi seumuran.” Ucap Nita dan Abel mengangguk.


Seharian ini Abel tidak mendapat pesan ataupun telepon dari Daniel. Daniel juga tidak membalas pesan singkat dari Abel. Abel pun bisa memahami kesibukan Daniel, ia mengira Daniel sendang banyak pekerjaan. Andai saja Abel tau kekasihnya itu sendang makam malam dan membahas pertunangan dengan perempuan lain.


.


.


.


.


.


Bab kedua hari ini ya guys,, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian..

__ADS_1


__ADS_2