Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Hutan Mangrove II


__ADS_3

Hutan mangrove II


Seorang perempuan paruh baya mendekat kearah Denis dan langsung melayangkan tangannya ke pipi Denis.


Plakk tamparan mendarat di pipi Denis.


Bila jelas tidak senang dengan apa yang dilihatnya dia langsung maju.


“ Ibu apa-apaan main orang tampar begitu.” Ucap Bila berdiri di depan Denis.


“ Mbak siapa tidak usah ikut campur!” ucap perempuan paruh baya yang tidak lain adalah Ibu tiri Denis. Dia mendorong Nabila yang berada di depanya sampai Nabila hampir jatuh, untuk Adam sigap menahan tubuh Nabila.


“Kamu gak papa Bil?” Tanya Adam menegakan tubuh Nabila agar berdiri tegap.


“ Gak papa Mas.” Jawab Bila.


Ibu tiri Denis dan Denis terlihat cekcok adu mulut, Rendi terlihat membela Denis. Saat ibu tiri Denis hampir menampar Denis, Adam pun maju menangkap tangan ibu tiri Denis.


“ Cukup Bu, lebih baik jika ada masalah di bicarakan baik-baik. Tidak perlu main tangan!” Ucap Adam.


“ Mas ini siapa lagi?Tidak usah ikut-ikutan, ini urusan keluarga saya, lagi pula saya ibunya!” Tegas ibu itu.


“ Mbok sampeyan niku mboten sah drama, sampeyan sampun ngusir kulo saking ngomah. Sak Niki enten urusan nopo maleh madosi kulo??” Ucap Denis pada ibunya.


“ Rasah kakean omong koe Nis, wes tak omong bola bali koe luweh becik Rabi Karo mbok Siti kok ngeyel. Sak iki ayo mulih Karo aku!!.” Ibu tiri Denis ingin menarik tangan Denis tapi dia menjauh.


“ Ngapunten mbok, dugi kapanpun kulo mboten ajeng nikah kalian mbok Siti!!”


“ Yowes kui keputusanmu, tapi koe ojo tau Bali mulih meneh. Kabeh omah alas wes dadi jenengku, koe wes ra ono hak meneh!!Lungo o sik adoh, ojo pisan-pisan wani mulih!” Ucap ibu tiri Denis. “ Kabeh gombalanmu wes tak guang dadi koe wes ra perlu mulih meneh!” Ibu tiri Denis lalu pergi meninggalkan tempat itu.


“Sabar yo ***.” Ucap Rendi pada sahabatnya.


“ Bener kae mau ibumu?” Tanya Nabila pada Denis.


“ Enggih mbak.” jawab Denis dengan bahasa Jawa karena tau Nabila bisa bahasa Jawa.


“ Lha kok sadis ngono!” Nabila heran dengan kelakuan ibunya Denis.


“ Ibu Tiri mbak, bapak ibu kandung pun sedo.” Jawab Denis.


“ Oalah, njuk koe mapan nengdi yen ibumu ra ngolehke koe Bali?.”


“ Teng gene rencang mbak, pindah-pindah.”


“ Wis lulus SMA?” Tanya Nabila lagi.

__ADS_1


“ Dereng mbak, kelas Kalih.”


Adam mendekat pada Nabila. “ Sayang aku nggak ngerti sama apa yang kamu dan mereka omongin.” Ucap Adam. Nabila lalu menjelaskan apa yang di ucapkan ibu tiri Denis dan percakapannya dengan Denis dengan bahasa Indonesia. Adam kemudian menatap Denis dari atas sampai bawah.


“ Kita masuk dulu, ngobrol sambil jalan.” Ajak Adam. Keempat orang itu kemudian masuk ke area hutan mangrove.


Adam dan Nabila menikmati pemandangan hutan mangrove, mereka mengambil banyak foto berdua dibantu oleh Rendi dan Denis. Sampai akhirnya waktu sudah sore. Adam mengajak Nabila untuk kembali.



![]((null)


)


Sebelum kembali Adam mengajak Rendi dan Denis untuk makan dulu di warung makan sederhana yang juga menyediakan lotek. Karena sedari tadi Nabila merengek ingin makan lotek.


“ Kamu kenapa bertengkar sama ibu kamu?Kasian ibu kamu sudah tua.” Ucap Adam.


Denis yang mendengar apa yang dikatakan Adam pun reflek menjelaskan bagaimana kejamnya ibu tiri Denis. Adam manggut-manggut mendengar curhat an Denis, entah kenapa Adam merasa berempati pada Denis.


“ Jadi kamu bayar uang sekolah Bagaimana?Ibu kamu kan sudah tidak pernah memberi uang semenjak bapakmu meninggal?,” tanya Adam di sela-sela mengunyah makanannya.


“ Bapak meninggalkan uang hasil jual tanah lewat budhe saya Pak, Ibu tidak tau kalo sawah sudah di jual. Jadi budhe menyuruh saya untuk pergi yang jauh sebelum ibu menyadari sawah bapak sudah di jual. Sepertinya bapak sudah tau perilaku ibu, sebelum bapak berpulang, makanya Bapak menjual sawah tanpa sepengetahuan Ibu.” Tutur Denis menjelaskan.


“ Kamu mau ikut saya ke Jakarta?.” Tanya Adam. “ Nanti kamu bisa sekolah disana, kamu juga bisa lari dari ibu kamu, dijamin dia tidak akan menemukan kamu.”


Denis sedikit berfikir, itu pilihan yang cukup bagus untuk Denis. “ Apa tidak merepotkan Pak?Kalau saya ikut bapak?” Tanya Denis kepada Adam.


“ Tidak sama sekali, iya kan Bil?” Adam menoleh kearah Nabila.


“ Iyaa, kamu ikut kita saja. Kalau kamu mau nanti kamu langsung ikut kita saja.” Ucap Nabila.


“ Gimana Nis?” Tanya Adam.


“ Tapi saya ke rumah budhe dulu Pak, ambil uang saya di budhe. Baju saya juga, terus sekolah saya Pak?.”


“ Kamu tenang saja Nis, nanti biar saya bantu kamu urus kepindahan sekolah kamu.” Ucap Adam.


“ Baik Pak, Terimakasih Pak.”


“ Sama-sama.”


Sesudah makan Adam dan Nabila melanjutkan perjalanan, mereka kembali ke tempat tadi. Denis berpamitan pada Rendi dan orang tuanya, selama ini Denis menginap di rumah Rendi. Denis membawa beberapa pasang pakaian. Lalu dia ikut pulang bersama Adam dan Nabila.


“Nama lengkap kamu siapa Nis?” Tanya Nabila.

__ADS_1


“ Yoga Denis Saputra mbak.”


“ Aku panggil kamu Yoga saja ya, aku sama mas Adam lagi liburan di Jogja. Mungkin seminggu lagi baru kembali ke Jakarta. Nanti sampai waktu itu biar Mas Adam suruh orang urus kepindahan sekolah kamu”


“ Terimakasih Mbak,”


“ Sama-sama Yoga.”


Mobil memasuki gerbang rumah mewah milik keluarga Nabila. Denis sendiri takjub dengan rumah itu sampai mulutnya menganga. “ Ini rumah Pak Adam?” Tanya Denis ketika Adam mengajaknya masuk ke dalam rumah, sementara Nabila sudah lebih dulu masuk karena merasa mual. Mabuk darat mungkin.


“ Bukan, ini rumah mertuaku. Orang tuanya Nabila. Tapi kamu santai saja, mertuaku baik kok.” Ucap Adam mengajak Denis masuk ke dalam rumah.


“ Pak Buk.” Sapa Adam pada Bapak dan ibunya yang sedang mengobrol di ruang keluarga.


“ Sudah pulang?” Tanya ibu. “ Siapa iki Dam?” Tanya ibu melihat Denis.


“ Denis Bu, nanti bakalan ikut Adam sama Nabila ke Jakarta. Sementara Denis ikut tinggal bersama saya dan Bila di sini. Boleh kan Bu?”


“ Wo ya tentu saja boleh, sini Le kenalan sama ibu bapak.” Ibu melambai kearah Denis, Denis langsung mendekat dan dengan sopan berkenalan dengan ibu bapak. Ibu dan Bapak tidak mempermasalahkan kehadiran Denis, karena sebelum mereka masuk Nabila sudah bercerita.


Adam naik ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dia meninggalkan Denis yang sedang mengobrol dengan ibu dan bapak.


Setelah mengobrol cukup lama dengan ibu dan bapak, pelayan memberi tahu kamar Denis. Ibu dan Bapak pun menyuruh Denis untuk membersihkan diri dan istirahat.


“Bil ?”


“ Yaa?”


“ Mau itu ?” Ucap Adam pada Nabila.


“ Itu apa ?” Tanya Nabila tidak mengerti.


“ Itu lho itu..”


Bersambung...


Iklan


Author: Oh readers ku sayang, bolehkah aku meminta like ,komentar dan Rate 5?


Netizen: Halah meng thor, cerita mu lagi sithik ra menarik.


Author: Plis neh ..


Netizen: Gah !!

__ADS_1


Author: Hm


__ADS_2