
Abel memasukan ponselnya ke dalam tas lalu mengikuti Nabila berjalan menuju sofa. Ia duduk di sebelah Nabila tepatnya di hadapan Adam dan Daniel. Jantung nya berdegup kencang saat merasakan tatapan dari Daniel pada dirinya.
Apaan nih orang natap gue kayak natap musuh aja. Batin Abel merasa tidak nyaman dengan tatapan Daniel.
“Bila nggak tau kalau pak Daniel ada disini, apa Bila datang di waktu yang tidak tepat?” Tanya Nabila pada Daniel dan suaminya.
“Nggak, saya hanya berkunjung karna lama tidak berkunjung ke kantor Adam.” Jawab Daniel sambil tersenyum.
“Kamu tumben kesini nggak ngabarin dulu, yang?” Tanya Adam pada istrinya.
Biasanya Nabila memang mengabari Adam dulu saat akan berkunjung ke kantor Adam.
“Aku bawain jajanan pasar buat kamu mas.” Nabila membuka plastik kresek yang tadi ia tenteng dan mengeluarkan kotak snack yang berisi berbagai macam jajanan pasar.
“Kamu habis dari pasar?” Tanya Adam sambil memeriksa apa saja jajanan pasar yang di bawa Nabila. Nabila mengangguk.
“Iya.. sama Abel.” Jawab Nabila.
“Pasar tradisional?” Sahut Daniel.
Nabila mengangguk lagi.
“Kalian berdua mau ke pasar tradisional?” Daniel sedikit tidak percaya. Dilihat dari penampilan Nabila dan Abel yang jelas berasal dari putri keluarga kaya sepertinya tidak mungkin kedua perempuan itu mau pergi ke pasar.
“Mereka sering ke pasar tradisional, aku pernah ikut sekali.” Jawab Adam cepat. Ia memang pernah sekali mengikuti Nabila dan kedua sahabat nya pergi ke pasar.
“Serius?” Daniel mengernyit karna ucapan Adam. Seorang Presdir dari perusahaan besar mau pergi ke pasar.
Adam mengangguk.
“Tidak buruk, kau harus mencobanya. Banyak makanan enak.”
“Hei, ayo lah mana mungkin aku pergi kepasar sendirian. Aku bisa hilang disana.” Daniel terkekeh membayangkan dirinya pergi ke pasar. Pasar yang ada di dalam benak Daniel pastilah kumuh dan becek.
“Siapa bilang kau pergi sendiri, kau bisa mengajak Abel untuk menemanimu, kau mau, kan, Bel?” Adam melirik Abel diikuti oleh Nabila dan Daniel yang juga melirik perempuan itu.
Abel sendiri menunduk sedang tidak fokus. Ia memikirkan tatapan Daniel yang tajam padanya tadi. Entah mengapa tatapan Daniel itu sangat mengganggunya. Ia pun menyahut ucapan Adam dengan ngasal.
“Bel!” Panggil Adam karna tak kunjung mendapat jawaban dari Abel.
“Eh, ia ia.” Jawab Abel ngasal.
Daniel tersenyum senang mendengar jawaban Abel, begitu juga Adam. Ia sangat tau Daniel tertarik pada Abel, bagaimana pun Adam juga seorang laki-laki. Ia bisa menilai tatapan lelaki lain. Maka dari itu Adam mencoba memberi kesempatan pada Daniel untuk mengenal Abel lebih dekat, siapa tau mereka berjodoh.
“Kau tidak boleh ingkar nona Abel.” Ujar Daniel.
“Iya.. iya,” sahut Abel masih tidak fokus.
“Eh, ingkar?Maksudnya bagaimana?” Lah Abel baru sadar?Kemana aja dia dari tadi pikir Nabila.
“Ingkar menemani pak Daniel pergi kepasar.” Ucap Nabila.
“Ha??” Abel melongo, kapan dia bilang akan menemani Daniel ke pasar.
“Apaan ekspresi bodoh kamu itu?” Bisik Nabila.
“Kapan gue bilang mau nemenin dia kepasar?” Balas Abel berbisik pada Nabila.
“Tadi pas mas Adam minta kamu nemenin pak Daniel ke pasar, kamu bilang iya-iya aja.” Bisik Nabila. Abel pun melongo lagi.
Dasar orak udang, nggak fokus. Rutu Abel pada otak nya yang sejak tadi tidak fokus kena tatapan Daniel.
Sementara Adam dan Daniel tersenyum puas. Daniel memahami maksud Adam yang sengaja memberinya kesempatan untuk lebih dekat dengan Abel. Begitu juga Adam, ia tersenyum bisa mengerjai sahabat istrinya itu.
Tak berapa lama sekertaris Adam masuk dengan membawa teh panas sesuai permintaan Adam. Mereka akan menikmati jajanan pasar yang di bawa Nabila dengan teh panas.
Setelah hampir setengah jam berada di perusahaan Adam. Nabila pun pamit pulang. Ia juga harus menemani Abel pergi ke Mall. Adam mengizinkan Nabila pergi ke Mall lagi pula istrinya itu pergi bersama Abel. Adam percaya Abel pasti bisa menjaga Nabila.
***
Sementara Daniel, lelaki itu masih di perusahaan Adam melanjutkan pembicaraan mereka. Tadi ia dan Adam menghentikan obrolan penting mereka karna ada Nabila dan Abel.
“Thanks Bro.” Ucap Daniel pada Adam.
“Lo jangan sia-siain kesempatan, keburu Abel di ambil orang. Lo denger sendiri, kan, dia mau jalan sama cowok ntar malem?” Ucap Adam sengaja memanas-manasi Daniel.
Daniel yang sepertinya termakan oleh omongan Adam. Ia menjadi gusar memikirkan Abel yang akan kencan dengan lelaki selain dirinya.
“Gue bisa minta tolong satu lagi nggak?” Tanya Daniel penuh harap.
__ADS_1
Adam sudah bisa menebak Daniel meminta tolong dalam hal apa.
“Gue akan coba tanya ke Bila, kemana Abel jalan ntar malem.” Jawab Abel seraya tersenyum.
“Haha, memang lelaki bisa tau apa yang ada dipikirkan lelaki lain.” Ucap Daniel terkekeh. Karna dirinya memang ingin meminta bantuan Adam untuk mencari tau kemana Abel akan bertemu lelaki yang tadi Abel ucapkan.
Jalan dengan lelaki lain, Heh kau jangan bermimpi Abel! Smirk Daniel dalam batinnya.
***
Di Mall Nabila, Abel dan Nita sedang shopping. Nabila menghubungi Nita setelah mereka keluar dari kantor Adam. Nita sendiri langsung menyusul Nabila dan Abel ke Mall di antar oleh suaminya.
Sudah lama mereka bertiga tidak jalan-jalan bersama. Kali ini Nita akan mentraktir Nabila dan Abel saat mereka berbelanja ataupun makan. Sekarang Nita sudah menjadi istri sah Riko, perempuan itu mempunyai uang bulanan dari suaminya. Ia menggunakan jatah bulanan itu untuk mentraktir kedua sahabatnya. Lagi pula dulu Nabila dan Abel lah yang sering mentraktir Nita. Setidaknya sekarang Nita ingin membalas sedikit kebaikan kedua sahabatnya.
“Aku mau beli flatshoes aja deh, tapi pengen heels, tapi nggak bisa dipakai sekarang kalau beli heels.” Gerutu Nabila bimbang.
Nabila ingin membeli heels yang baru saja ia pegang tapi untuk apa?Belum bisa dipakai sekarang juga, semenjak hamil Nabila tidak pernah memakai heels.
“Tapi kalau nggak di beli besok pasti udah habis.” Gumam Nabila menatap heels yang masih ditangannya.
“Beli aja di pakai pas udah lahiran.” Bisik Abel.
“Beli aja Bil, dari pada nanti nyesel sampai rumah.” Sahut Nita.
Nabila tampak menimbang-nimbang ucapan Abel dan Nita.
“Abis lahiran, nyesel. Oke!” Ucap Nabila yakin sambil memegang erat heels itu. Ia berjalan mendekati mbak-mbak SPG.
“Saya mau size 39 ada kak?” Ucap Nabila pada SPG.
“Ada nyonya, saya ambilkan untuk stoknya.” Jawab mbak SPG. Ia memanggil Nabila nyonya setelah melihat perut buncit Nabila.
Sambil menunggu sepatu nya, Nabila melihat-lihat tas. Beberapa tas koleksi baru butik itu cukup bagus. Namun, tidak membuat Nabila berkeinginan untuk membelinya.
Nita terlihat kebingungan memilih tas di butik itu. Seperti bukan selera Nita yang biasa membeli tas seadanya.
“Sini aku bantu pilihin.” Ucap Abel seraya menarik lengan Nita menyadari kebingungan sahabatnya.
“Apa nggak terlalu mewah?” Tanya Nita melihat pilihan Abel.
Nabila yang mendengar percakapan kedua sahabatnya itu menoleh. Pandangan matanya tertuju pada tas yang ditunjuk Abel. Ia pun berjalan menghampiri kedua sahabatnya.
“Bagus kok, itu cocok buat kamu.” Sahut Nabila bergabung dengan kedua sahabatnya.
“Nggak papa lagian lo, kan, beli pake duit suami lo. Mau semahal apapun juga gak masalah.” Ujar Abel yang diangguki oleh Nabila.
“Aku nggak enak sama mas Riko, masa cuma sling bag kayak gini 32 juta. Kelihatan mewah sih, tapi mahal banged bisa buat keperluan lain.” Ucap Nita menimbang.
Abel geleng-geleng kepala mendengar ucapan Nita. Yah, dirinya dan Nabila biasa membeli barang branded tidak dengan Nita.
“Bil, kasih tau temen lo gih.” Ucap Abel. Nabila mengangguk.
“Ikut aku duduk disana yuk, aku ceritain sesuatu.” Ajak Nita pada sahabatnya. Nita menuruti ia mengikuti Nabila duduk di sofa sudut butik itu. Sementara Abel memilih-milih sepatu.
“Nit, aku tau kamu orang nya sederhana nggak mau terlalu wah. Cuman, sekarang beda, kamu itu istri mas Riko, dia itu pimpinan sebuah perusahaan. Setidaknya kamu bisa mulai mengimbangi mas Riko dari segi penampilan. Aku bilang gini bukan mengejek penampilan kamu yang sekarang, tapi nggak ada salahnya kan kamu ngimbangin mas Riko. Itung-itung jaga aman aja, siapa tau nanti kamu tiba-tiba diajak ketemu klien mas Riko terus kliennya sama istrinya, terus istri kliennya branded abis dari atas sampai bawah, kalau kamu kayak sekarang takutnya di ejek dan dipandang sebelah mata. Terus nanti kalau misal kamu ketemu karyawan mas Riko di jalan atau kenalan mas Riko tau penampilan kamu kurang mereka bisa-bisa menganggap mas Riko nggak kasih kamu uang yang cukup sampai-sampai kamu nggak bisa belanja. Kamu nggak mau itu terjadi kan?” Ucap Nabila panjang lebar. Intinya Nabila hanya mau membantu Nita untuk menjadi wanita yang lebih elegan saja. Agar kelak Nita tidak minder lagi saat berhadapan dengan orang-orang penting.
Nita cukup serius mendengarkan saran dari Nabila.
“Emang penampilan aku masih kurang ya?” Tanya Nita. Nabila pun mengangguk.
“Bentar ya.” Nita meraih ponselnya yang berada di dalam tas, ia mengirim pesan pada seseorang.
“Boleh.” Ucap Nita kemudian.
“Boleh apa?” Tanya Nabila tidak mengerti.
“Kata mas Riko aku boleh belanja sepuasnya, berapapun habisnya nggak masalah.” Jawab Nita polos.
“Astaga, kamu nanya ke mas Riko buat belanja?” Tanya Nabila dan Nita pun mengangguk.
“Amsyong.” Nabila menepuk jidatnya sendiri begitu polosnya sahabatnya itu.
“Ayok!” Nita beranjak berdiri dengan semangat.
“Kemana?” Tanya Nabila.
“Shopping, bantu aku beli baju, tas, sepatu dan semuanya yang branded tapi cocok sama kepribadian aku.” Ucap Nita.
“Okay, kuyy lah.” Sahut Abel langsung menggandeng kedua lengan sahabatnya.
__ADS_1
“Aku bayar heelsku dulu.” Ucap Nabila menuju kasir.
Sore itu Nabila dan Abel menemani Nita belanja sampai puas. Entah berapa digit yang Nita habiskan sore itu. Seusai shopping mereka janjian akan nyalon bersama minggu depan sebelum perkuliahan di mulai.
Pulangnya Nabila dan Nita di jemput suami masing-masing. Sementara Abel si jomblo Yah pulang sendiri dengan mobilnya.
***
Adaml melirik istrinya yang sedari tadi senyum-senyum sendiri. Entah apa yang di pikiran istrinya sampai bisa tersenyum semenggemaskan itu.
“Kamu kenapa sih, yang?” Tanya Adam pada istrinya.
“Aku nggak sabar nunggu adek lahir mas.” Jawab Nabila sumringah.
“Kenapa memang?”
“Biar bisa di ajak ngemall, tadi aku lihat pasang suami istri lagi ngemal terus dorong stroller anaknya cewek cowok lucu banged, gemoy.” Ucap Nabila lagi.
Adam mengelus puncak kepala istrinya. Bukan hanya Nabila, Adam pun tidak sabar menunggu kelahiran anaknya. Ia ingin membawa anaknya ke perusahaan memamerkan pada seluruh karyawannya.
“Kamu yang sabar, sebentar lagi.” Ucap Adam lalu teringat permintaan Daniel.
“Aku pasti sabar kok, mas.”
“Emang Abel mau kemana, yang?Tumben beli baju, biasanya dia ngajak kamu beli baju kalau ada acara, kan?” Mencari tau kemana Abel akan pergi lewat istrinya.
“Oh..Dia mau kencan, mas.”
“Emang punya pacar?” Tanya Adam datar seraya fokus dengan kemudinya.
“Sama manta pacar, hehe.” Jawab Nabila terkekeh.
“Kok bisa?”
“Bisalah, Si Akbar baru pulang dari luar negeri kayaknya, terus kangen sama Abel ya udah mereka ketemuan. Lagian sama-sama jomblo.” Jawab Nabila lagi. Nabila memang tidak peka jika Daniel tertarik pada Abel.
“Oh.” Adam manggut-manggut.
“Kemana mereka kalau kencan, Yang?” Tanya Adam lagi yang langsung membuat Nabila heran.
Kok mas Adam kepo sih? Batinnya.
“Kepo deh.”
“Bukan kepo yang, siapa tau kalau tempatnya bagus kita juga bisa nyoba kencan kesana.” Ucap Adam ngeles. Mencari alasan senatural mungkin.
Gara-gara Daniel nih. Batin Adam kesal dikatai kepo oleh istrinya.
“Nonton, mas. Habis itu paling makan malem bareng atau ke pasar malem.” Jawab Nabila. Adam pun manggut-manggut lagi.
Sampai lah Adam di kediaman pribadinya.
“Kamu masuk dulu, Sayang. Mas mau telepon Tio dulu.” Nabila mengangguk.
Bukan telepon Tio tapi Daniel. Ia memberi tahu Daniel informasi yang di dapatnya dari Nabila.
***
Abel dan Akbar sudah sampai di PIM. Mereka akan nonton disana, bernostalgia seperti masa-masa pacaran saat SMA.
Abel nampak bergelanyut manja di lengan Akbar sembari mengantre pop corn. Ia sudah membeli tiket secara online.
Tanpa ada yang menyadari dari kejauhan Daniel yang mengendap-endap sambil memperhatikan Abel dan Akbar. Lelaki itu kesal melihat Abel bermanja pada Akbar, ia pun mengepalkan tangannya geram. Ingin sekali lelaki itu menarik Abel dari lengan Akbar. Namun, ia siapa?punya kuasa apa ia melakukan itu?Mau tidak mau ia hanya bisa memantau Abel dari kejauhan sambil menahan kekesalan.
Selama tiga jam Daniel mengikuti Abel dan Akbar dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Ia memakai topi dan kaca mata hitam juga pakaian casual seperti remaja agar tidak menarik perhatian.
Bahkan saat mobil Akbar melaju meninggalkan Mall, Daniel tampak membuntuti mobil itu. Mobil yang Daniel buntuti berhenti di sebuah gedung apartemen.
Sampailah mereka di depan apartemen Abel. Daniel mengintip dari pojok apartemen. Ia bisa melihat Akbar dan Abel sepertinya sedang mengucapkan perpisahan. Ia juga bisa melihat dengan jelas Akbar mencium pipi Abel lalu mengusap lembut rambut kepala Abel. Akbar juga memanggil Abel dengan panggilan sayang.
“Jadi, mereka pacaran?” Gumam Daniel kecewa. Ia melangkah gontai meninggalkan apartemen Abel.
Perasaannya kalut tidak karuan. Padahal ia baru saja akan mendekati Abel tapi tenyata perempuan itu sudah memiliki pacar. Pupus sudah harapan Daniel. Ia lelaki yang gentelman, ia tidak akan mengganggu perempuan yang sudah berpasang.
Dengan tekat bulat, Daniel akan melupakan Abel selagi perasaannya masih awal.
.
.
__ADS_1
.
Ini 2000 kata lebih loh guys, jangan lupa kasih Like dan koment ya..