
Diruang tamu Adam.
Adam sedang bersama Riko, Kevin dan Daniel membahas masalah Rangga. Akan bagaimana sebaiknya mengurus Rangga. Mengapa ada Daniel di sana?Ya,. Tentu saja harus ada Daniel karena Daniel adalah pengacara yang di percaya Adam untuk mengurus masalah Rangga. Adam berniat membawa masalah Rangga naik ke ranah hukum. Biar lelaki itu jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya. Apalagi yang dilakukan Rangga hampir membunuh Nabila dan kedua bayinya. Untung saja Adam datang tepat waktu saat itu.
Adam dan yang lainnya melakukan pertemuan di rumah Adam, karna lelaki itu sedang cuti tidak masuk kerja. Adam mau menghabiskan satu hari ini di rumah sesuai permintaan Nabila. Nabila memang tidak melarang Adam bekerja selama dirumah hanya meminta Adam untuk tidak keluar rumah satu hari ini.
Di sela-sela mereka mengobrol Bi Ijah datang membawa dua piring berisi bakpia pathuk dan geplak. Bi Ijah juga membawa kopi yang masih panas. Ini minuman kedua yang Bi Ijah sajikan sebelumnya Bi Ijah sudah membuatkan teh, namun Adam meminta di buatkan kopi.
“Makasih, Bi.” Ucap Kevin. Bi Ijah pun mengangguk.
“Kok ada bakpia, Bi?” Tanya Riko. “Beli dimana?” Riko juga ingin membelikan bakpia untuk Nita jika tau toko bakpia yang enak di Jakarta.
“Enggak beli, Tuan. Ini tadi yang bawa mbak Abel, katanya oleh-oleh.” Jawab Bi Ijah.
“Oleh-oleh dari mana, Bi?” Tanya Riko lagi menjeda ucapannya. “Emang Abel kemana?” Lalu menoleh pada Adam dan Kevin.
Kevin melirik sekilas Daniel, sementara Adam hanya mengangkat kedua bahunya cuek.
“Itu anu, mbak Abel dari Jogja liburan sama pacarnya.” Jawab Bi Ijah. Seketika Riko menoleh pada Daniel.
“Udah jadian?” Tanya Riko dan Daniel mengangguk.
“Bagus!!” Menepuk bahu Riko dengan keras seraya tersenyum.
“Kalau begitu saya pamit ke belakang, tuan.” Adam dan yang lainnya pun mengangguk.
Kevin menatap tajam Daniel. “Lo harus hati-hati salah sedikit Abel bisa ngamuk, dia lebih galak dari pada macan.” Tutur Kevin mengingatkan. “Gue tau itu.” Balas Daniel terkekeh.
“Berarti Abel disini dong, kok gue nggak lihat dia masuk darimana?” Ucap Riko penuh tanda tanya.
“Iya ya, Kita dari pagi disini nggak ada yang lewat.” Kevin menimpali. Daniel juga bingung sepertinya ia tidak melihat Abel lewat.
“Mungkin lewat pintu samping langsung ke dapur, dia mana mau lewat sini ketemu kalian bertiga.” Ujar Adam yang hafal dengan denah rumahnya.
Riko meraih ponselnya dari saku lalu menghubungi seseorang.
“Mau telepon siapa?” Tanya Kevin.
“Istri, biar dia kesini.” Jawab Riko.
Melanjutkan obrolan mereka tentang Rangga. Dan bagiamana keadaan Rangga saat ini.
__ADS_1
Flash back on..
Setelah Adam membawa Nabila pergi bersama Abel dan Daniel, Riko mengurus Rangga sesuai permintaan Adam.
Rangga seperti orang yang ketukan, wajahnya pucat, tubuhnya gemetaran dan penuh keringat dingin bahkan seperti biji jagung keringatnya. Lelaki itu meringkuk sambil menutup telinganya.
“Dia kenapa mas?” Yoga melirik Riko sekilas lalu kembali menatap Yoga tajam. Riko menggeleng tidak tau.
Awalnya setelah Adam membawa Nabila pergi Yoga akan langsung memukul Rangga dengan bogem tangannya, ia siap membuat Rangga babak belur karna berani menyakiti Nabila, namun Riko menahan Yoga. Riko tidak mau Yoga main hakim sendiri yang akhirnya malah merugikan Yoga.
“Dia pasti lagi akting biar nggak dihajar, emang bener-bener ba jingan.” Lagi-lagi Yoga mengayunkan tangannya hendak memukul Rangga.
“Jangan!” Riko menahan tangan Yoga seperti yang lelaki itu lakukan beberapa waktu yang lalu.
“Kenapa sih mas?Dia layak mendapatkan pukulan dari ku, dia sudah menyakiti mbak Nabila dan keponakanku.” Kesal Yoga yang selalu di tahan Riko saat akan menghajar Rangga. Riko menggeleng tegas.
“Dia terlihat lemah dan menyedihkan, bukan tandingan kita. Untuk apa kita menghajar orang yang lemah, nggak level.” Ucap Riko yang kemudian di benarkan oleh Yoga. “Iya juga sih.”
Riko berjalan mendekati Rangga.
“Pergi!!Pergi kalian!” Teriak Rangga ketakutan.
“Sepertinya dia takut sama darah, Ga.” Ucap Riko seraya memperhatikan Rangga.
“Cih.. lemah, mana ada lelaki takut darah.” Ejek Yoga.
Riko menghubungi rumah sakit, tak lama kemudian ambulan datang ke tempat itu. Riko sengaja menghubungi rumah sakit milik Adam agar pihak rumah sakit tidak ada yang banyak bertanya. Apalagi melihat kondisi kamar yang penuh darah dan keadaan Rangga yang ketakutan.
Riko dan Yoga mengikuti ambulan yang membawa Rangga menuju Rumah sakit. Sampai di rumah sakit dokter mengatakan kemungkinan Rangga fobia darah.
Riko pun segera menghubungi keluarga Rangga melalui ponsel Rangga, namun, mama Rangga sedang berada di luar kota. Terpaksa Riko dan Yoga menunggui Rangga sampai pengawal Adam datang ke rumah sakit menggantikan mereka menjaga Rangga agar tidak kabur.
Flash back off..
***
Nabila dan Abel mengobrol selagi si kembar bersama oma dan yangti nya. Obrolan mereka bertambah seru ketika Nita tiba-tiba datang.
Abel pun menceritakan pada kedua sahabatnya hubungan nya dengan Daniel.
“Cie ileh, akhirnya dapat fucek Boy juga kamu.” Goda Nita.
__ADS_1
Abel sempat merengek pada Ayu untuk menjodohkannya dengan fucek Boy. Dan, akhirnya ia mendapat fucek Boy yang juga kenalan Ayu.
“Hehe.. dia nggak se fucek Boy itu kok kalau pas lagi sama gue, nggak tau kalau di belakang gue.” Ucap Abel.
“Hati-hati pacaran sama Playboy, pasti banyak siangan nya.” Nabila mengingatkan.
“Tenang, meskipun saingannya banyak tetep gue yang jadi pemenangnya.” Celoteh Abel percaya diri. Ia merasakan Daniel sudah jatuh hati padanya lebih sampai tidak mungkin berpaling lagi. Semoga saja ya, Abel.
“Kamu beneran suka sama Daniel, kan?Nggak cuman coba-coba?” Tanya Nabila memastikan dan Nita menangguk setuju.
“Meskipun pak Daniel Playboy tapi kasian kalau cuman di jadian uji coba.” Nita menimpali pertanyaan Nabila. Selain itu mengingat hubungan Abel dan Daniel yang terlalu cepat.
“Sumpah gue nggak coba-coba, gue serius sayang sama dia, cinta sama dia. Gue bener-bener udah jatuh sejatuh-jatuhnya sama dia, gue sama dia tuh ibarat kopi sama gula. Gue kopinya dia gulanya, dengan hadirnya dia di hidup gue sebagai pemanis, sementara hidup gue tanpa dia bakalan pahit dan gelap.” Ucap Abel panjang lebar dengan serius.
“Lebay..” serentak Nabila dan Nita.
“Serius cuy.” Seloroh Abel.
“Kok bisa sih pak Daniel mau sama kamu?” Ucap Nabila dan diangguki Nita.
“Lah emang gue kenapa?Gue, kan, cantik, seksi ya lumayan lah, otak gue juga lumayan encer.” Abel merasa tidak ada yang salah dari dirinya, ia cocok-cocok saja dengan Daniel.
“Otak kamu, kan, nggak cuman encer tapi error..Ups keceplosan, sorry.” Ujar Nabila langsung menutup mulutnya.
Nabila hanya menggoda Abel ya, ia tidak bersungguh-sungguh mengatai otak Abel. Mereka hanya bercanda, toh Nabila, Abel dan Nita sudah sering main ejek saat bercanda.
“Bilaaa.....” kesal Abel seraya melempar Nabila dengan bantal sofa. Sementara Nabila yang di lempar bangak hanya terkekeh.
Sudah lama mereka bertiga tidak bercanda gurau seperti saat ini. Dulu Abel di bully karna jomblo, sekarang sudah punya pasangan pun masih di bully. Persahabatan memang se menyenangkan itu ya!
.
.
.
.
.
Done dua bab hari ini ya guys.. see you tomorrow! Dan, tolong tinggalkan jejak dong, jangan pelit Like sama koment.
__ADS_1