
Nabila menenangkan Nita yang terus menyalahkan dirinya karena belum bisa membahagiakan sang ibu.
Begitu juga Abel yang baru saja tiba di rumah sakit. Abel langsung menghambur Nita dan Nabila yang sedang berpelukan.
“Sudah, Nit. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, kamu udah cukup jadi anak yang berbakti.” Ucap Abel lirih. “Jangan seperti ini, kamu pengen ibu bahagia di sana kan?” Abel menatap mata sayu Nita.
Dan Nita pun mengangguk. “Kamu harus ikhlas, doakan ibu. Semoga ibu mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.” Abel pun kali ini mencoba memberi Nita semangat lagi.
Pemakaman ibu Sofi di lakukan malam itu juga. Karena tidak ada keluarga jauh yang perlu ditunggu. Budhe Nita yang dari Bandung juga sudah hadir.
Setelah pemakaman Nabila membawa Nita ke rumahnya. Semua itu dilakukan agar Nita tidak semakin sedih mengingat ibunya.
Nita akhirnya tertidur karena kelelahan dengan memeluk figura berisi foto dirinya dan sang ibu.
“Sayang, minum vitamin mu dulu.” Bisik Adam ditelinga Nabila.
“Aku keluar dulu ya.” Nabila pamit pada Abel dan Riko yang masih di ruang kamar yang di tempati Nita.
Adam mengajak Nabila pergi ke dapur. “Ini air putihnya.” Adam menyerahkan air putih pada Nabila.
“Mas, boleh kan Nita tinggal sama kita?Aku nggak tega dia tinggal sendiri.”
Adam mengelus rambut istrinya dengan lembut. “Boleh, sayang.”
Drap..
Drap..
Langkah suara kaki Bi Ijah berlari menghampiri Adam dan Nabila yang sedang di dapur.
“Non, ada tamu.” Ucap Bi Ijah.
“Siapa Bi?” Tanya Nabila menoleh ke Bi Ijah. Adam juga ikut menoleh.
“Anak kecil, Non. Dua anak kecil, laki-laki dan perempuan.” Ucap Bi Ijah lagi menjelaskan.
Adam dan Nabila saling pandang. “Mungkin Jessi sama Jordan, sayang.”
Nabila pun langsung bersemangat dan berlali ke ruang tamu. “Jangan lari, Bil. Ingat adek.” Adam sedikit berteriak melihat Nabila yang berlari itu.
“Bi, besuk pagi masak yang banyak yaa. Banyak yang nginep malam ini!” Tutur Adam pada Bi Ijah.
***
Di ruang tamu dua bocah kecil dengan koper masing-masing tengah menunggu sang pemilik rumah menemui mereka.
“Aunty Nabila kok lama sih.” Gerutu Jessi.
Jordan memencet hidung adiknya itu dengan gemas. “Sabar, kata mommy aunty Nabila kan sedang menemani aunty Nita.”
Sebelumnya Ayu sudah mengetahui dari Nabila duka yang sedang menimpa Nita. Nabila juga menceritakan pada Ayu untuk sementara waktu Nita akan tinggal bersama Nabila.
Itu sebabnya Ayu menitipkan kedua anaknya pada Nabila. Mungkin Jessi dan Jordan bisa menghibur Nita yang sedang sedih.
__ADS_1
“Sayang-sayangnya aunty.” Teriak Nabila langsung memeluk kedua bocah kecil itu.
“Aunty, mommy mau Jordan dan Jessi menumpang di rumah aunty sementara. Soalnya mommy keluar negeri.” Ucap Jordan begitu Nabila melepaskan pelukan kedua bocah itu.
“Iya aunty, mommy dan bibi Natalie pergi ke Shanghai. Tadinya mommy mau mengajak kami, tapi kami lelah aunty.” Cicit Jessi menambahkan.
Nabila sedikit merasa kasihan pada kedua bocah itu. Mereka baru saja pulang dari luar negeri langsung ke Jogja, jika harus keluar negeri lagi pasti sangat melelahkan.
“Aunty senang kalian mau menginap di rumah aunty, kalau mau malah kalian tinggal saja sama aunty.” Ucap Nabila lembut. Nabila mengajak kedua bocah itu untuk duduk di sofa.
“Terimakasih, aunty.” Balas Jessi dan Jordan secara bersamaan. Kedua bocah itu pun duduk dengan nyaman di sofa.
“Bi, Bi Sumi.” Nabila memanggil Bi Sumi yang sedang berada tidak jauh dari mereka.
“Iya, Non.”
“Tolong bersihkan satu kamar lagi ya Bi, bawa koper ini juga kedalam.”
“Baik, Non.”
Jordan dan Jessi melihat ke sekeliling ruang tamu. Mereka sedang mengamati desain interior di ruang tamu itu. Lalu kedua bocah itu berbicara dengan bahasa Prancis.
Nabila hanya bengong melihat kedua bocah itu. Mereka seperti sedang memperdebatkan sesuatu di hadapan Nabila.
“Bagaimana kabar yangkung dan yangti, kalian?” Tanya Nabila memecah perdebatan kedua bocah itu.
“Yangkung sama yangti sehat, aunty.” Jawab Jessi.
“Kata mommy, aunty Nita sedang bersedih.” Ucap Jordan lagi.
“Aunty Nita baik-baik saja sayang.” Jawab Nabila.
Adam menyusul Nabila ke ruang tamu dengan membawa 2 gelas susu hangat dan camilan.
“Ada tamu kecil rupanya.” Ucap Adam seraya meletakan nampan berisi susu hangat dan camilan di meja kaca yang berada di tengah-tengah sofa ruang tamu.
Jordan dan Jessi langsung bangkit dan mencium tangan Adam secara bergantian.
“Hallo uncle.” Sapa Jessi setelah mencium tangan Adam. “Jessi dan Kaka Jordan akan menginap disini uncle.” Ucap Jessi lagi.
Adam pun langsung menggendong Jessi yang imut itu kedalam pelukannya. “Dengan senang hati, Jessi. Uncle sudah menyiapkan kamar khusus untuk tamu-tamu kecil.”
Adam menciumi gemas pipi Jessi. “Uncle, kapan dekbay akan lahir?” Tanya Jordan penasaran.
“Em, kapan sayang?” Nabila melirik ke Nabila yang duduk di sebelah Jordan.
Jordan juga ikut menoleh ke Nabila. “Kapan aunty?”
Nabila baru saja mau menjawab pertanyaan Jordan tapi tiba-tiba ponselnya berdering. “Aunty, angkat telefon dulu ya.”
Nabila menjawab panggilan telefon dengan ID si pemanggil Kak Ayu.
📞 Hallo, Mba?
__ADS_1
📞 Bil, aku nitip Jordan sama Jessi ya, soalnya mereka nggak mau di ajak ke Shanghai. (Ucap Ayu dari seberang sana)
📞 Iya mbak, tenang aja. Aku pasti jagain mereka.
📞 Makasih, Bil. Maaf aku tidak sempet mampir tadi, soalnya aku buru-buru ngejar pesawat.
📞 Gak, papa mbak. Hati-hati disana.
📞 Ya udah. Aku tutup dulu, udah mau take off ini.
Nabila dan Ayu pun mengakhiri percakapan mereka. Nabila kembali ke ruang tamu tapi sudah tidak mendapati Jessi dan Jordan. Hanya ada 2 gelas susu yang sudah kosong.
Nabila kemudian mencari Jessi dan Jordan. Ternyata mereka di bawa Adam ke ruang kamar Nita.
Jessi sudah naik di ranjang dan memeluk Nita yang sedang menangis. Sementara Jordan duduk di tepi ranjang bersama Abel. Dan untuk Adam dan Rico duduk di sofa.
“Sudah bangun?” Tanya Nabila pada Riko.
“Iya, nangis lagi.”jawab Riko. Yang mereka maksud adalah Nita. Nabila lalu duduk di sebelah suaminya. Melihat Jessi yang sedang membujuk Nita untuk istirahat.
“Ayo aunty, Jessi temani aunty tidur.” Jessi mengajak Nita untuk berbaring, kemudian tangan mungil bocah itu memberi puk puk kecil di bahu Nita.
“Aunty.”
“Ya, sayang?” Nita menjawab panggilan bocah kecil itu.
“Apa aunty tau Jessi tidak punya Daddy?”
Nita diam tidak menjawab bocah kecil itu. Ia bingung harus menjawab apa. “Maaf sayang, aunty tidak tau.”
“Tidak papa aunty, kita sama aunty sudah tidak punya ibu dan Jessi juga tidak punya Daddy.”
“Apa Jessi sedih karena tidak punya Daddy?”
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. “Tidak aunty, Jessi dan Kaka Jordan tidak sedih. Karena kami masih punya mommy, yangkung, yangti, bibi Natalie dan yang lainnya. Mereka semua menyayangi Jessi dan kakak Jordan.” Ucap gadis kecil itu membuat Nita tertegun.
“Jadi, aunty Nita jangan sedih. Meskipun aunty Nita sudah tidak punya ibu tapi aunty masih punya Jessi dan kakak Jordan. Kami menyayangi aunty.” Entah mengapa perkataan jessi membuat haru semua orang di ruangan itu.
“Terimakasih, sayang. Aunty tidak sedih lagi.” Nita pun memeluk Jessi. Dan meneteskan air matanya. Bagaimana mungkin bocah sekecil itu bisa mempunya pemikiran seperti itu.
Sementara Adam menatap Jordan, ia merasa Jordan sangat mirip dengan rekan bisnisnya.
.
.
.
Bersambung..
Mampir juga ke kisah hidupnya mommy Ayu ya guys.. Untuk judul novelnya “Bekas Istri Yang Kaya”..9
__ADS_1