Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Telat jemput


__ADS_3

***


Pukul 17:00 Nabila masih di cafe miliknya menunggu jemputan Adam. Abel sudah pulang lebih dulu.


‘Katanya jam 3 jemput sampai jam 5 nggak dateng-dateng, emang tukang kibul mas Adam.’ Gerutu Nabila dalam hatinya.


Yang ditunggu-tunggu pun tiba, mobil Adam menepi di depan cafe. Nabila dengan cepat masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Adam turun membukakan pintu.


Memakai sabuk pengaman dan memalingkan wajahnya kearah luar mobil.


Adam bisa tau istrinya sedang marah. “Maaf sayang, aku telat jemputnya.”


“Hm.”


“Kok cuma Hm?”


“Terus Bila harus jawab apa?”


“Ya apa gitu, masa Hm singkat banget.”


“Hm Oke.”


“Astaghfirullah Bil, sama aja singkat.”


“Lagian mas kenapa gak ngabarin Bila kalau jemputnya telat?Bila kan bisa naik taksi atau minta jemput pak Slamet!” Ucap Nabila ngegas, dia masih tidak mau menatap Adam yang sedari tadi menyentuh dagu Nabila. Adam menyentuh dagu Nabila dengan tangan kirinya, berharap Nabila mau menoleh ke arahnya. Sedangkan tangan kanan Adam fokus memegang kemudi.


“Iya iya, mas minta maaf lupa nggak ngabarin telat jemputnya. Dimaafkan nggak?”

__ADS_1


“Jangan di ulangi.”


“Iya sayangku.” Jawab Adam tersenyum, ia tau istrinya sudah tidak marah lagi padanya.


Adam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menembus kemacetan Jakarta di sore hari menjelang magrib.


“Kok macet sih?” Gerutu Nabila tidak sabar.


Adam menoleh pada istrinya dan mengusap usap rambut Nabila. “Sabar sayang, jam segini padat-padatnya orang pulang ke rumah.”


“Makanya aku kan bilang jemput jam 3 biar nggak macet!” Cebik Nabila


“Iya iya. Mau mampir beli apa gitu nggak?”


“Nggak!”


Satu jam menempuh perjalanan mereka pun tiba dirumah. Nabila langsung naik kekamarnya dan membersihkan diri. Ia tidak mau kelewatan jam ibadah sholat magrib. Begitu juga dengan Adam yang mengekori istrinya kemanapun setelah sampai dirumah.


Setelah makan malam, Nabila menonton drama Korea di bioskop mini rumahnya. Sedangkan Adam mengecek pekerjaan di ruang kerjanya.


Meskipun sudah bekerja seharian penuh, sampai dirumah Adam masih sering mengecek pekerjaan yang dikirim Tio lewat email. Atau kerjaan dari kantor-kantor cabang. Seusai mengecek pekerjaanya, Adam menyusul Nabila.


Saat membuka pintu bioskop Adam bisa melihat Nabila dengan jelas. Perempuan itu sedang menatap layar lebar di depanya dengan sesenggukan dan memegang tisu.


Adam melangkah masuk mendekati istrinya, lalu ia pun mendaratkan tubuhnya di sofa. Adam dengan santainya mengambil camilan di toples dan memakan camilan itu.


“Sayang, emang sedih banged ya?” Tanya Adam datar seraya mengunyah camilannya.

__ADS_1


Nabila mengangguk. “Sedih banged, nggak rela putra mahkota menangis seperti itu.” Menujuk layar.


Nabila tengah menonton drama the moon that embrace the sun. Salah satu drama Korea favorite Nabila. Sudah berpuluh-puluh kali Nabila menonton ulang drama itu.


“Emang kenapa putra mahkota nangis?”


“Mas nggak lihat, dia tu kehilangan istrinya!”


“Ya aku mana tahu, Bil.”


“Makanya ikutan nonton biar nggak tanya terus.” Ketus Nabila. “Jangan habisin camilanku.” Melirik Adam di sebelahnya.


“Hehe enak Bil, nanti aku beliin lagi camilannya kalau habis.” Jawab Adam.


“Yang banyak.” Ucap Nabila.


“Siap sayang, kalau perlu pabrik camilannya sekalian aku beli.” Jawab Adam terkekeh.


Bukan senang Nabila melotot pada Adam. Nabila tau kadang meskipun bercanda suaminya itu akan melakukan apa yang sudah di ucapkan nya, meskipun tergolong buang-buang uang.


“Becanda sayang.” Ucap Adam nyengir.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2