Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Masih marah ?


__ADS_3

Sudah satu jam Nabila menunggu jemputan yang tak kunjung datang, akhirnya Nabila memutuskan memesan taksi online atau gr*b car. Hanya perlu menunggu 5 menit mobil yang di pesan Nabila datang. Nabila mencocokkan plat mobil yang ada di hadapanya dengan plat yang tertera di aplikasi, sama!Oke, berarti aman. Nabila pun masuk ke dalam mobil itu dan duduk di bagian belakang. Ternyata pengemudinya masih muda. Mungkin berumur 20 an.


“Sesuai alamat di aplikasi ya mbak?” Tanya sang sopir pada Nabila.


“Iya mas,” balas Nabila. Mobil yang ditumpangi Nabila melaju meninggalkan area cafe. Hening.. tidak ada percakapan antara Nabila dan si pengemudi. Karna terlalu hening Nabila memilih untuk bermain game. Ia mengambil ponselnya di dalam tas. Membuka ponselnya dengan scan jari telunjuknya yang ia gunakan sebagai kode. Nabila bermain game H*go di ponselnya. Belum ada 10 menit ngegame Nabila sudah merasa bosan.


“Hm.” Keluh Nabila seraya menghembuskan nafasnya kasar.


“Maaf ya mbak macet, mungkin perjalan agak lama.” Ucap sang pengemudi sopan.


“Nggak papa mas, jam segini memang rawan macet.” Nabila melihat jam tangannya. Benar, pukul 17:00 adalah jam macet. Jika saja Nabila tidak kelamaan menunggu jemputan pasti ia sudah sampai rumah.


“Mas, kalau berhenti sebentar apa bisa?Saya pengen jajan di ind*maret.” Nabila teringat kind*r Joy, jajanan yang sangat ia sukai.


“Bisa mbak, asal masih searah dengan alamat.” Jawab mas pengemudi.


Nabila membeli 20 kind*rjoy, sekalian untuk stok. Ia juga membeli camilan ringan untuk keluarga. Selain itu Nabila membeli susu ibu hamil.


Nabila sampai di depan rumahnya, rumah yang dilengkapi dengan gerbang yang menjulang tinggi. Ia memencet tombol gerbang yang menjulang tinggi itu. Berharap pak Bejo segera membuka gerbang rumahnya.


“Lho non Bila?!” Pak Bejo kaget begitu membuk gerbang ada majikannya berdiri di depan gerbang dengan lesu.


“Iya, saya pak.” Jawab Nabila melangkah memasuki pekarangan rumahnya.

__ADS_1


“Kok nggak minta dijemput, non?” Pak Bejo penasaran. Bisanya Nabila kan minta di jemput sopir jika tidak membaw mobil.


‘Apa??Nggak minta dijemput?Aku kan udah wa mas Adam. Dia bilang pak Slamet yang akan jemput.’ Bantin Nabila.


“Lagi pengen naik taksi, pak.” Jawab Nabila asal.


‘Atau jangan-jangan mas Adam nggak kasih tau pak Slamet. Aku tau mas Adam marah, tapi, apa perlu sampai membohongi ku?padahal aku tidak di jemput tidak papa, aku bisa naik taksi pulang. Kenapa?Kenapa mas Adam membiarkan aku menunggu pak Slamet jika kenyataanya dia tidak menyuruh pak Slamet menjemputku?” Dalam perjalanan ke kamarnya Nabila terus bertanya-tanya dalam benaknya.


“Untung saja aku segera pulang, coba aku menunggu jemputan pak Slamet. Bisa-bisa nggak pulang aku.” Gumam Nabila seraya membuka pintu kamarnya. Ia meletakan tas nya di meja sofa. Mencopot flat shoes miliknya dan menaruhnya di rak kecil khusus sepatu kotor. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Malam ini Adam tidak ikut makan malam. Ia lembur sampai malam bahkan jam 22:00 pun Adam belum pulang.


Membaca novel sudah Nabila lakukan, menonton drakor sudah. Menunggu ternyata memang menyebalkan. Apa saja yang dilakukan Nabila tidak membuatnya tenang. Perasaan cemas masih saja bersemayam di dirinya. Sampai pukul 01:00 saat Nabila terbangun untuk sholat malam Adam masih belum pulang.


Nabila mencoba menghubungi Adam lewat panggilan video call whatshap berdering tapi tidak di terima. Lalu Nabila mengirim pesan pada Adam. Terkirim tapi tidak di baca, sekilas Nabila bisa melihat whatshap Adam online, namun, pesan dari Nabila tidak di balas. Jangankan di balas, di baca saja tidak. Seakan Adam sengaja melihat namun mengabaikannya. Sakit?Tentu saja sakit, hati Nabila teramat sangat perih dengan perlakuan Adam saat ini. Adam yang tidak mempercayai dirinya. Dan, memilih mengabaikannya.


“Dek, apapun yang terjadi nanti bunda akan selalu membawa adek bersama bunda!” Ucap Nabila seraya mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Belum terlalu besar, tapi, sudah kelihatan untuk seorang ibu hamil.


‘Jika nanti mas Adam tidak mau mengakui bayi ini, lebih baik aku pergi.’ Batin Nabila mengusap air maya yang jatuh di pipinya.


***

__ADS_1


Adam Pov


Hari ini aku sangat malas, tidak ada semangat. Tapi, bagaimanapun keadaanya aku harus tetap pergi ke kantor. Ribuan orang mencari rizki dengan bekerja di perusahaan ku. Aku tidak boleh menjadi pemimpin yang malas. Pertengkaranku dengan Nabila semalam berakhir karena ketukan pintu dari mama. Aku tidak bicara lagi padanya sampai pagi ini.


Setelah sarapan aku berangkat ke kantor tanpa pamit padanya. Aku masih kesal, aku kesal dengannya. Padahal harusnya Nabila yang kesal dengan perlakukan ku. Tidak seharusnya aku meragukan kesetiaan Nabila. Aku tau dia perempuan yang baik. Semalam mungkin aku terbakar api cemburu hingga tidak sengaja melontarkan kata yang menyakitinya.


Aneh, satu kata itulah yang bisa mendeskripsikan kejadian semalam. Siapa sebenarnya yang mengirim paket untuk Nabila?Siapa yang menginginkan istriku?Selama ini yang aku tahu Nabila tidak mempunyai teman laki-laki. Apa mungkin ada seseorang yang memeperhatikan Nabila dari jauh?Entahlah... aku harus menyelidikinya. Sebelum melangkah aku akan memikirkan dengan matang apa yang akan aku lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.


Aku berpikir di kursi kebesaranku dengan tenang. Terlintas sebuah ide di dalam benakku. Ide yang cukup rumit dan bisa menyakiti Nabila. Apakah ada ide lain?hm, kurasa tidak. Jika ingin memancing si pengacau agar keluar dari tempat persembunyiannya aku harus melaksanakan ide gilaku.


Aku akan marah pada Nabila, ya hanya berpura-pura. Mungkin, aku akan memperlihatkan kekecewaanku pada Nabila seakan rumah tangga ku dan Nabila berada di ujung tanduk. Dengan begitu seharusnya si pengacau akan muncul. Dia pasti akan datang pada Nabila, berpura-pura menjadi pangeran berkuda putih menyelamatkan Nabila dari kesakitan karena aku mengacuhkannya. Lalu membuat Nabila nyaman bersamanya dan mengambil Nabila dari aku. Hei, tidak semudah itu ferguso!


Sebelum si pengacau itu membuat Nabila nyaman aku akan membuka kedoknya. Saat dia muncul aku akan langsung menyingkirkan nya dari kehidupan ku dan Nabila. Perfect!Rencana yang lumayan untuk menyingkirkan hama yang menggangu rumah tanggaku.


‘Sayang, maafkan kekasaranku semalam. Aku harap kamu bersabar. Semua yang akan aku lakukan demi keutuhan rumah tangga kita.’ Batinku seraya memandangi wajah cantik istriku yang ku pajang di dalam figura meja kerjaku. Dia adalah moodboster ku.


‘My queen, Nabila.’


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2