
Nabila pergi ke kampus diantar Adam.
“Bil?” Panggil Abel.
Nabila menoleh. “Paan?”
Abel langsung menjatuhkan lengannya di bahu Nabila, merangkul Nabila. “Tumben dianter mas Adam?”
Nabila dan Abel berjalan bersama menuju kelas. “Lagi males nyetir, pak Slamet sibuk nggak bisa anter.”
Sampai di kelas mereka tidak menemukan Nita. Abel dan Nabila langsung mengirim pesan pada Nita, tapi tidak ada balasan. Pesan whatshap mereka hanya centang satu.
“Nita kemana sih, nggak biasanya tanpa kabar.” Gerutu Nabila. Nabila yakin ada satu hal yang tidak beres.
Saat Abel mengajaknya untuk bolos dan pergi mencari Nita, dosen mereka masuk. Terpaksa Abel dan Nabila mengurungkan niatnya untuk mencari Nita.
2 jam berlalu, akhirnya mata kuliah jam pertama selesai. Nabila kembali mengajak Abel untuk membolos dan mencari Nita. Tapi Abel kemudian ingat sesuatu.
“Aku whatshap mas Riko saja, mungkin saja mas Riko bersamanya.” Ujar Abel.
“Ya uda cepet.” Nabila dan Abel tidak jadi membolos karena Riko membalas pesan Abel. Riko mengatakan Nita tengah bersamanya.
***
Seorang perempuan tengah menangis dan mengurung dirinya di kamar mandi. Perempuan itu menyesali kejadian semalam, dimana dirinya kehilangan mahkota berharganya sebagai perempuan. Perempuan itu terduduk di bawah air shower dengan buliran air mata terus mengalir di kedua pipinya.
“Bagaimana aku bisa sebodoh ini?Bagaimana aku bisa menghadapi hidupku setelah ini, aku benar-benar merasa hina. Diriku kini sudah tidak suci lagi, aku hanyalah wanita kotor sekarang hiks hiks.” Perempuan itu menangis tanpa henti, ia tidak mengindahkan ketukan pintu kamar mandi.
Terus dan terus menangis hingga kelelahan dan tidak sadarkan diri.
Di balik pintu kamar mandi seorang lelaki mengutuk dirinya sendiri. Mengutuk dirinya yang tidak bisa mengendalikan nafsunya hingga merusak wanita yang dicintainya.
Lelaki itu terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga kesucian perempuan yang ia cintai sampai ikatan pernikahan.
Andai saja ia tidak meminum alkohol mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Lelaki itu kini sedang kalut, ia siap mempertanggung jawabkan apa yang ia lakukan. Yang ia takutkan bagaimana jika wanita yang sudah ia rusak itu membenci dirinya. Lelaki itu tidak akan sanggup jika mendapatkan kebencian dari wanita yang paling dicintainya.
__ADS_1
Sudah 1 jam lebih wanita yang dicintainya mengurung diri di kamar mandi. Lelaki itu sudah mengetuk pintu berulang-ulang namun tak juga ada sahutan dari sosok yang ada di balik pintu.
Lelaki itu pun memutuskan untuk mendobrak pintunya. Betapa kagetnya lelaki itu melihat wanita yang dicintainya tidak sadarkan diri masih di bawah air shower.
Dengan cepat lelaki itu membopong wanita yang di cintainya. Membalut tubuh polosnya dengan handuk, dan membaringkannya di ranjang.
Lelaki itu langsung mengambil ponsel di nakas sebelah ranjang, dan menghubungi dokter. Setelah menghubungi dokter, lelaki itu memakaikan baju pada wanita yang dicintainya.
“Bagaimana dok?” Tanya lelaki itu setelah dokter memeriksa wanita kini masih tidak sadarkan diri.
“Hanya kelelahan Tuan, sebentar lagi akan sadar. Setelah sadar tolong dibantu minum obat.” Jawab lelaki paruh baya mengenakan jubah putih berprofesi sebagian dokter.
“Baik, dok. Terimakasih.”
Sesuai kata dokter tidak lama kemudian perempuan itu bangun.
“Jangan bangun!Berbaring saja, kamu butuh istirahat.”
“Mas Riko kenapa nggak Biarin aku mati aja, kenapa malah menolongku?” Ucap perempuan itu yang tidak lain adalah Nita.
“Kamu ngomong apa sih, Nit?Kamu sadar enggak sama apa yang kamu omongin barusan?Mati itu kehendak Tuhan, jangan pernah bicara seperti itu lagi!” Ya lelaki itu ialah Riko, sahabat Adam. Dia meninggikan suaranya saat Nita mengucapkan kata yang tidak pas.
Lelaki itu mendekatkan dirinya perlahan pada Nita, tangannya meraih tangan Nita. Ia duduk di tepi ranjang seraya menggenggam tangan Nita. “Aku minta maaf membuat mu seperti ini, aku akan bertanggung jawab. Izinkan aku bertanggung jawab padamu.” Ucap Riko dengan serius.
Nita tidak bergeming, ia hanya menatap lekat kedua bola mata Riko. Mencari kebenaran dari semua ucapan Riko. Saat menatap mata Riko, Nita bisa melihat ketulusan disana.
“Mau kah kau menikah denganku?” Sebelum mengucapkan kata ini, Riko meraih kota kecil di saku celananya. Ia mengambil sebuah cincin dari kotak itu.
Air mata kembali menetes di pipi Nita. Ia sangat bahagia Riko melamarnya.
“Nit?” Panggil Riko. Dan Nita pun mengangguk menandakan ia setuju dengan lembaran Riko.
Dengan satu gerakan Riko menarik Nita dalam pelukannya. “Terimakasih, sayang. Aku janji akan membahagiakanmu.” Ucap Riko seraya mengecup pucuk kepala Nita.
“Sama-sama, bisa mas janji satu hal sama Nita?” Pinta Nita.
“Katakan, sayang.” Riko melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Bisakah kejadian semalam menjadi rahasia diantara kita?” Riko mengangguk setuju, bagaimana pun semalam adalah aib bagi Nita. Berbeda dengan Riko yang sudah hafal dengan dunia malam.
Flashback On
Riko tengah minum di Club. Dia sangat frustrasi karena Nita mendiamkannya. Semenjak memutuskan tinggal di apartemen sendiri, Nita tidak menghubungi Riko. Jangan kan menghubungi membalas pesan dari Riko pun tidak.
Riko minum sampai dirinya hampir mabuk. Saat sudah di kuasi oleh alkohol Riko meminta sopir untuk menjemputnya. Tapi bukanya pulang, Riko meminta sopir untuk mengantarkannya ke apartemen Nita.
Riko menggedor-gedor pintu apartemen Nita. Sampai sang pemilik apartemen membuka pintunya.
“Mas Riko?Apa yang mas lakukan malam-malam kesini?” Tanya Nita baru saja membuka pintu, dan mendapati Riko berdiri sempoyongan di depan pintu.
Riko menerobos masuk ke apartemen Nita, ia tidak mengindahkan pertanyaan Nita.
Nita pun menutup pintu apartemennya dan menyusul Riko yang sudah lebih dulu masuk ke apartemennya.
“Mas Riko mabuk?”
“Tidak!!” Riko mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Ia langsung berbaring, tanpa mencopot sepatu. Riko meraih dasi yang masih menempel di kemejanya dan melepasnya lalu membuang ke sembarang arah.
“Mas bener-bener mabuk.” Nita memungut dasi yang baru saja di buang Riko dan mencopot sepatu Riko. Nita meletakan sepatu itu di rak khusus sepatu. Lalu kembali mendekati Riko.
Nita melihat Riko dengan mata tertutup berbaring disofa. Nita pun berjongkok di depan Riko. “Hm..Kalau mas nggak bangun aku tinggal.” Kata Nita.
Riko langsung bangun dan duduk tegap, dengan dua telapak tanganya di letakan di pupu dan kakinya lurus. “Aku sudah bangun, jangan meninggalkanku.” Ucap Riko memelas.
Nita pun bangkit berdiri. “Aku buatkan teh dulu.” Saat Nita akan berjalan menuju dapur, Riko menahan tangannya.
Riko langsung berdiri dan memeluk Nita dari belakang. Riko menciumi tengkuk leher Nita dengan lembut, sampai lama-kelamaan mereka terbawa suasana dan terjadilah hal yang tidak seharusnya di lakukan pasangan yang belum menikah.
Flasch back off
“Aku janji kejadian semalam hanya kita berdua yang tau.” Ucap Riko mengangkat dua jarinya.
.
.
__ADS_1
Bersambung..