
Caca merasa geram sendiri mendapat perlakuan yang tidak mengenakan menurutnya.
“Cek in?” Caca menatap lelaki yang mendekatinya itu sembari bertanya memastikan apakah yang di dengarnya tadi hanya bercandaan atau memang lelaki itu sengaja mengganggunya.
Laki-laki itu mengangguk, tangannya mencoba merengkuh pinggang Caca namun dengan cepat Caca memundurkan langkahnya.
“Yups, cek in. Lo mau di hotel mana?Gue yang siapin, gue jamin servis gue bakalan bikin lo puas.” Sambil mengedipkan sebelah matanya.
What the hell!
Apa lagi ini?Caca belum sepenuhnya terbebas dari Ilham malah bertemu pengacau.
“Sorry, gue udah punya tunangan.” Caca menolak dengan halus, ia membalik tubuhnya meninggalkan lelaki itu namun lelaki itu menahan tangan Caca dan menarik Caca kedalam dekapannya.
“Be rengsek!!” Satu tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Caca reflek mengangkat tangannya ketika lelaki itu dengan tidak tau malu memeluk Caca. Caca pun mendorong lelaki itu hingga tersungkur ke lantai.
“Ba jingan! Dasar ja lang!” Lelaki itu bangkit berdiri ia mengangkat tangannya hendak menampar balik Caca. Caca sendiri langsung mematung, perempuan itu menutup kedua matanya pasrah.
Kok nggak sakit?
Caca memberanikan diri membuka kedua matanya. Dan, ia membelalak terkejut. Dokter Mike berdiri tepat dihadapan Caca sambil menahan tangan lelaki yang hendak menampar Caca.
Dokter Mike memelintir tangan lelaki itu memutar nya dan meletakkan tangan lelaki itu di punggung lelaki itu sambil tangan dokter Mike memegangnya.
“Beraninya tangan kotor lo berniat menyentuh perempuan ini, lo bosan hidup, ha?” Mike nampak murka, kilatan api amarah terpancar jelas di kedua mata Mike.
“Cih, memang lo siapa nya perempuan itu?” Lelaki itu berdecih.
“Pacar, dia pacar gue.”
Mike belum sempat menjawab tapi Caca sudah menyahut nya. Sepertinya Mike tidak keberatan dengan pengakuan Caca, buktinya Mike tidak menyanggah perkataan Caca. Ia justru menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyum. Atau Mike hanya tidak mau Caca malu makanya ia membiarkan Caca mengakui Mike sebagai pacarnya?
“Lo udah tau siapa gue bagi perempuan ini, jadi, hukuman apa yang pantas buat lo?” Mike berkata diiringi seringai jahat nya.
“Lo jangan berani macam-macam sama gue, lo nggak tau siapa gue, gue bisa bikin lo masuk penjara hanya sekali ucap.”
Bukan merasa bersalah dan menyesal, lelaki itu malah menantang Mike dengan bualannya.
“Oh, ya?!” Mike menanggapinya dengan santai.
__ADS_1
Cih, tikus got beraninya nantangin gue.
Lelaki itu mungkin tidak tau jika Mike mempunyai dukungan dari segala aspek. Ia memiliki Raka sebagai bosnya yang sudah terbiasa dengan dunia bawah, juga kekayaan Raka dan istrinya yang melimpah, dari segi finansial Mike aman, ia juga memiliki Daniel yang akan membereskan segala masalah hukum yang Mike buat, tak lupa Mike memiliki Wu bai si ahli retas meretas yang siap menghancurkan balik musuhnya, juga Leo yang selalu sigap membantu dan penuh taktik licik, ada pun jika ia terluka, ia masih memiliki Renata istri Wu bai yang juga seorang dokter.
Memiliki orang-orang itu sebagai sahabat dekatnya tidak membuat Mike takut akan apapun. Apalagi Mike tidak salah dalam kasus ini.
Haduh, bisa bahaya ini.
Caca merasakan suasana sudah semakin memanas, ia mendekati Mike, membujuk Mike untuk melepaskan lelaki yang sempat berniat melecehkannya.
“Mike, sudah. Lepaskan saja dia!Aku tidak papa!”
“Apa kau tidak mau menghukumnya?” Caca menggeleng.
Mike mendengus kesal lalu melepaskan lelaki itu mendorongnya hingga lekaki itu tersungkur ke lantai. “Lo lihat!Pacar gue sangat baik, dia bahkan melepaskan sampah kayak lo begitu saja.”
“Udah, Mike....” Caca merangkul lengan Mike sambil satu tanganya mengelus elus lengan Mike dengan lembut. Itu adalah sebuah bujukan dari Caca pada Mike. Bujukan agar Mike tidak memperpanjang masalah itu.
“Urusan kita belum selesai.” Lelaki itu bangkit dan pergi meninggalkan Club.
“Kamu nggak papa?” Mike menoleh sekilas pada Caca. Caca pun menganggukkan kepalanya.
kembali ke Daniel dan Abel..
Usai makan malam Daniel mengajak Abel untuk berdansa, alunan musik terdengar begitu saja saat Daniel meminta Abel berdansa dengannya. Abel bahkan tidak tau dari mana musik itu berasal.
Mereka hanya berdansa satu lagu karena Abel mengeluh sesak nafas.
“Kok bisa sesak nafas?Kamu punya asma?” Daniel terlihat begitu khawatir. Abel menggelengkan kepalanya, seingat Abel sejak kecil Abel sehat. Ia tidak memiliki riwayat penyakit apapun.
“Mungkin karena gaun nya terlalu mepet.” Abel mencoba mencari kemungkinan penyebabnya sesal nafas.
“Kenapa tidak pakai gaun lain yang lebih cocok dengan mu? Yang lebih nyaman dipakai?” Daniel malah memprotes Abel. Lah, dia, kan, yang mengirimi gaun itu untuk Abel. Masa Abel menolaknya, Abel, kan, merasa tidak enak jika menolak gaun yang sudah disiapkan dengan susah payah.
“Ini, kan, gaun pemberianmu.” Abel berucap dengan datar.
“Lalu?”
“Aku tidak enak jika tidak mengenakan nya, padahal sudah kamu siapkan. Aku takut kamu kecewa.”
__ADS_1
Daniel geleng-geleng kepala mendengar ucapan Abel. Perempuan itu rela merasakan tidak nyaman demi tidak membuat Daniel kecewa.
“Lain kali kamu tidak perlu memaksakan nya, jika tidak nyaman jangan gunakan meskipun itu pemberianku!Aku justru kecewa saat kamu menggunakan barang pemberianku namun itu membuatmu tidak nyaman atau tersakiti. Kamu mengerti, kan?” Daniel berkata dengan lembut. Abel menggangguk.
“Aku mengerti, sayang.”
Dor..dor pyar..
Abel terkesiap saat mendengar suara kembang api. Perempuan itu mencari dari mana arah suara dan menengadah ke langit. Benar, dilangit kembang api itu pecah sangat indah.
“Lihatlah ke bawah!” Daniel berbisik pada Abel sambil menunjuk ke arah taman cafe.
Abel mengikuti arah jari telujuk itu. Ia membelalak terkejut, ada sesuatu yang sangat indah di taman itu. Sebuah tulisan ‘Will you marry me?’ menyala. Ia pun berkaca-kaca.
“Ini, apa ini untukku?” Abel menoleh pada Daniel dan lelaki itu mengangguk.
Daniel pun mengambil posisi mundur dua langkah dari posisinya lalu ia berjongkok dan mengambil sebuah kotak cincin dari saku jas nya. Ia keluar kan isi dari kotak cincin itu. Cincin berlian yang sangat indah. Di arahkannya kotak cincin yang sudah terbuka itu menengadah ke arah Abel dengan tangan kanannya.
“Isabella Anastasya, aku bukan lah lelaki yang sempurna, bukan pula lelaki yang baik dengan akhlak, aku bahkan mempunyai masa lalu yang buruk, namun, aku mau berubah menjadi lebih baik demi diriku dan masa depan kita. Apakah kamu mau mendampingi ku menjadi pribadi yang lebih baik, menerima aku yang jauh dari kata baik ini?Isabella Anastasya, maukah kamu menjadi menikah denganku?” Daniel, lelaki itu akhirnya memberanikan diri melamar Abel.
Abel terharu dengan ucapan Daniel, ia tak kuasa menitikan air mata karena bahagia.
“Iya, aku mau.” Abel menjawab sambil mengangguk.
Daniel berdiri lalu memasangkan cincin itu pada Abel dengan penuh cinta. Setelahnya ia langsung memeluk Abel dengan erat.
“Terimakasih, sayang. Sudah menerima lamaranku.” Abel mengangguk di pelukan Daniel sambil membalas pelukan Daniel. Ia membenamkan kepalanya di dada bidang Daniel.
.
.
.
END.
T A M A T
__ADS_1