
Adam Pov..
Aku sampai rumah pukul 16:20 WIB, kulihat di parkiran tidak ada mobil yang biasanya digunakan pak Slamet. Aku bisa menebak pak Slamet sedang menjemput Nabila. Aku pun langsung menuju kamarku untuk membersihkan diri.
Sampai pukul 17:15 WIB pak Slamet belum sampai rumah. Padahal seharusnya mereka sudah dirumah paking lambat jam 17:00 WIB. Aku meraih ponselku yang berada di nakas sebelah tempat tidur. Aku menghubungi Nabila, tapi, nomornya tidak aktif. Pun, aku menghubungi pak Slamet.
‘Hallo, Tuan.” Jawab pak Slamet.
“Kok belum sampai rumah, Pak?” Tanyaku pada pak Slamet.
‘Maaf, Tuan tadi mobilnya sempat mogok. Jadi, saya terlambat menjemput, Non Bila.’
“Oh, Ok tidak masalah. Tolong, kasihkan teleponnya ke Nabila, pak. Saya mau bicara.” Ujarku pada pak Slamet.
‘Maaf, Tuan tapi non Bilanya nggak ada.’
“Maksud bapak?Nggak ada gimana?” Aku mulai panik, dengar perkataan ambigu dari pak Slamet.
‘Mbak Nabila nggak ada di cafe, Tuan. Kata karyawan cafe sudah pulang dengan seorang ibu-ibu dan mas-mas, Tuan.’ Suara Pak Slamet terdengar rendah. Mungkin takut aku memarahinya.
“Kok bisa Nabila tidak menunggu, bapak?Tadi pas mobil mogok pak Slamet ngabarin Nabila tidak?” Dengan siapa Nabila pulang. Bikin khawatir saja.
‘Sudah pak, saya kirim pesan ke non Bila kalau tidak bisa jemput.
“Oh, pantesan Nabila pulang sendiri. Harusnya bapak ngirim pesan ke Nabila tidak bisa jemput tepat waktu karna mobil sedang mogok, dan suruh Nabila menunggu!” Ucapku.
‘Niatnya saya juga mau WhatsApp begitu, Tuan. Maaf, Tuan.’ Pak Slamet terdengar merasa bersalah.
“Ya sudah tidak papa, bapak pulang saja.” Aku mengakhiri teleponku dan meletakannya kembali ke nakas. Aku turun dari ranjang meninggalkan ruang kamarku. Kedua kakiku melangkah perlahan menuju ruang kerjaku. Tujuannya sederhana, aku ingin memantau CCTV depan gerbang. Aku sangat penasaran siapa yang mengantar Nabila pulang. Aku duduk di kursi ruang kerjaku dan menyalakan laptop ku.
Aku menunggu Nabila dengan cemas. Sudah 15 menit berlalu tapi istriku belum pulang juga. Tepat di menit ke 20 aku menunggu Nabila, sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang rumahku. Aku melihatnya dari CCTV yang sejak tadi ku pantau di ruang kerjaku.
Laki-laki?Siapa laki-laki yang mengantar Nabila pulang. Mereka kelihatan akrab, laki-laki itu bahkan membukakan pintu mobil untuk Nabila. Sok perhatian sekali. Dia pikir dia siapa, beraninya sok perhatian pada istriku.
Aku semakin geram mengingat Nabila yang tidak bisa dihubungi tapi malah pulang diantar seorang laki-laki. Aku pun menutup laptopku dengan kasar dan beranjak berdiri. Kesal, panas hatiku melihat Nabila diantar laki-laki lain. Aku langsung menuju kamarku untuk menunggu Nabila.
Ceklek.. Pintu kamarku terbuka. Nabila masuk ke dalam kamar dengan langkah santai. Bisa-bisanya!
“Dari mana kamu?!” Tanyaku berdiri dihadapanya dengan kedua tangan bersedekap.
“Dari kampus, mas.” Aku bisa melihat dia ketakutan saat menjawab pertanyaanku.
“Jam segini?Memangnya kamu kuliah ambil kelas malam, magrib begini baru sampai rumah?” Aku bertambah kesal saat dia tidak jujur. Padahal beberapa waktu yang lalu saat aku melacak GPS di ponselnya, dia berada di tempat lain bukan kampus. Dan, bukan jalan menuju rumah.
__ADS_1
Dia mengangguk. “Iya, Bila dari kampus, mas.”
“Aku tanya apa kamu ambil kelas malam?!” Aku sedikit meninggikan suaraku.
Dia menggeleng. “Tidak, mas. Maaf, Bila memang selesai kuliah habis Azhar tapi menunggu jemputan pak Slamet lama. Tadi Bila nongkrong di cafe sambil nunggu jemputan dari pak Slamet.” Jawabnya dengan bibir bergetar. Aku sangat tau dia takut.
“Terus kamu pulang sama pak Slamet?”
Dia menggeleng. “Nggak, mas. Mobil pak Slamet mogok, pak Slamet bilang nggak bisa jemput. Jadi, Bila pulang di antar teman.”
“Siapa?”
“Kak Rangga.”
“Rangga siapa?”
“Kembaran alm. Kak Rendy, mas.”
“Bagus!” Aku tidak bisa menahan amarahku lagi ketika tau siapa yang mengantar Nabila pulang.
“Maksud, mas?”
“Bagus!Sangat bagus kamu, Bil. Pulang sama laki-laki yang bukan suami juga bukan sopir kamu. Kamu lupa status kamu?Kamu itu sudah punya suami, Bil!Memang pantas pulang diantar laki-laki lain?Sudah begitu kamu tidak langsung pulang malah kelayapan. Bagus sekali!!” Aku bertepuk tangan memuji kelakuan Nabila. Apa dia tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana bisa Nabila mau diantar laki-laki itu.
‘Br*ngsek.’ Umpatku kesal.
“Sudahlah, mandi sana!Jangan lupa pakai air hangat.” Melihatnya menunduk seperti itu membuatku merasa iba. Tapi, aku kesal dengan kelakukanya. Sebelum amarahku semakin menjadi lebih baik aku menyuruhnya mandi. Aku akan tanya baik-baik kemana saja dia tadi, setelah amarahku mereda dan aku bisa berpikir jernih.
“Baik, mas.” Aku naik keatas ranjang dan bermain dengan ponselku. Sementara dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
***
Author Pov
Nabila langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah Adam menyuruhnya mandi. Sampai di dalam kamar mandi Nabila langsung menangis. Ia tau ia salah. Makanya ia tidak mau menangis dihadapan Adam. Ia tidak mau Adam menilainya cengeng dan memanfaatkan airmatanya untuk meluluhkan kemarahan Adam. Setelah beberapa saat menangis Nabila merasa lega. Ia pun melanjutkan untuk membersihkan diri dengan air hangat.
***
Nabila pergi ke ruang makan untuk makan malam. Rasa lapar melanda perutnya sejak 2 jam yang lalu. Saat di cafe Nabila hanya minum jus tanpa makan camilan karna niatnya ingin menikmati makan malam bersama keluarga. Tidak taunya sampai dirumah malah bertengkar dengan Adam. Bahkan Nabila sudah tidak menemukan Adam di kamarnya setelah ia mandi.
“Ga, kamu lihat mas Adam nggak?” Tanya Nabila pada Yoga yang sudah lebih dulu berada di ruang makan. Remaja laki-laki itu asik menyantap makan malamnya.
Yoga mendongak ke Nabila yang berdiri di sebelahnya. “Nggak tau, tapi aku denger mobil mas Adam keluar kayaknya.” Tanpa menunggu lama Nabila bergegas ke garasi. Benar satu mobil Adam tidak ada berarti suaminya tengah keluar rumah. Nabila pun kembali ke ruang makan dengan kecewa.
__ADS_1
Nabila duduk di depan Yoga dan langsung mengambil nasi serta lauk yang ia tempatkan diatas piringnya. Tanpa bersuara Nabila memakan makan malamnya.
“Mbak, mau tak kasih tau rahasia?”
Nabila menggeleng. “Nggak, aku lagi gak mood nyimpen rahasia orang lain.” Jawab Nabila malas.
“Hiss, padahal ini tentang mas Adam.” Ujar Yoga memancing.
Nabila meletakkan sendoknya di piring dan menatap Yoga penasaran. “Kalau tentang mas Adam aku mau tau.” Ucap Nabila serius.
“Hm, maaf, mbak. Yoga sedang tidak mood menyebarkan rahasia orang lain.” Ucap Yoga santai.
Nabila menghela nafas seperti senjata makan Tuan. “Mbak denger mobil kamu baru, Ga.”
Remaja laki-laki itu terlihat semangat dengan pertanyaan Nabila. “Iya mbak, canggih euy atap mobilnya bisa dibuka. Keren pokoknya, kakek emang tau selera Yoga.” Yoga sudah tidak sungkan untuk menunjukan kemewahan di depan teman-teman terdekatnya. Walaupun ya mobil mewahnya tidak ia bawa sampai sekolah. Yoga sengaja memarkir mobilnya di bengkel dekat sekolahan dan berjalan kaki sampai sekolah. Yoga masih tidak mau pamer jik di sekolahan.
“Memangnya kamu nggak pengen peleg baru, Ga?” Ucap Nabila santai sambil mengunyah makan malamnya.
‘Sogokan nih, mbak Bila pasti penasaran banged sama rahasia mas Adam.’ Batin Yoga.
“Mbak mau beliin?”
“Gampang, asal kasih tau dulu rahasia mas Adam.” Ujar Nabila lagi dengan senyum.
‘Lumayan peleg baru.’ Mata Yoga berbinar-binar. Ia sangat tau Nabila tidak pernah ingkar atas apa yang di janjikan.
Yoga melambaikan tangan agar kepala Nabila sedikit maju. Yoga pun memajukan kepalanya mendekati Nabila siap untuk berbisik-bisik. “Jadi, waktu mbak opname dirumah sakit ada kiriman bunga untuk mbak. Tapi, dibakar sama mas Adam.” Bisik Yoga.
“Apa?!” Nabila membelalakkan mata kaget.
“Jadi, kamu menjual rahasia seharga peleg, Ga?Bagus!!” Suara seseorang yang tidak asing menyita perhatian Yoga dan Nabila. Keduanya menoleh ke arah suara. Seketika Yoga dan Nabila merasa aura dingin menusuk tubuh mereka. Mereka pun merasa begidik ngeri dengan tatapan orang itu.
.
.
.
.
.
Pesan dari author: Selesaikan pertengkaran dengan kepala dingin. Jangan sampai membuat keputusan yang akhirnya akan memicu penyesalan hanya karna tidak bisa mengendalikan amarah saat mengambil keputusan. Keputusan yang diambil saat sedang marah 100% berujung penyesalan!
__ADS_1