
Nita menceritakan kejadian di apartemennya beberapa waktu lalu saat Riko merenggut kesuciannya.
Hening..
Hening..
Hening..
Abel mengepalkan tangannya merasa emosi dengan kelakuan Riko. Bisa-bisanya Riko bebuat hal seperti itu di luar nikah. Padahal Nita selama ini sangat menjaga kehormatan nya.
Nabila menyadari emosi Abel dari raut wajah Abel. “Bel, calm Down!” Lirih Nabila pada Abel.
“Are u crazy, Bil?Bagaimana aku bisa calm down seperti katamu saat sahabatku di perlakukan seperti itu.” Abel merasa kesal. Ini tidak benar.
__ADS_1
“Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga kehormatanku sendiri. Aku nggak pantas jadi temen kalian lagi.” Nita berucap dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. Perempuan itu menyadari kesalahannya. Menyadari dirinya yang tidak bisa menolak Riko malah terbuai dengan permainan Riko.
Nabila menoleh pada Nita, merasa iba pada sahabatnya itu. Belum lama Nita kehilangan ibu nya sekarang, sekarang Nita malah kehilangan keperawanannya.
“Kamu ngomong apa sih, Nit. Aku sama Abel akan tetep di sisi kamu sampai kapanpun itu selama kamu mau menerima keberadaan kami.” Ucap Nabila tulus.
Abel mengangguk. “Gue emang rada kecewa sama lo karna lo nggak bisa jaga mahkota lo sebagai perempuan. Tapi, bukan berarti gue nggak mau temenan lagi sama lo!” Ucap Abel. Abel mengalihkan pandangannya dari Nita saat berkata kecewa pada Nita. Perempuan itu menitikan air matanya, merasa iba pada Nita. Selain itu Abel juga merasa gagal sebagai seorang sahabat tidak bisa melindungi Nita.
Nita menunduk dan menangis sesenggukan.
Abel melotot pada Nabila. “Beb, gue belum nikah woy. Main ceplas-ceplos aja.” Sungut Abel.
“Nggak bukan gitu maksud gue bel, gini loh kalau keluar di dalem kan ada kemungkinan benih mas Riko bisa jadi. Sebelum kemungkinan itu menjadi kenyataan kita harus nikahin Nita sama mas Riko cepet-cepet.” Nabila menjelaskan apa kekhawatirannya pada Abel. Ia khawatir bisa saja Nita langsung hamil. Sebelum itu terjadi Nita dan Riko harus segera menikah. Agar jika nantinya Nita hamil tidak akan menjadi omongan negatif.
__ADS_1
“Oh iya yaa.” Abel paham.
“Mas Riko sedang mengurus pernikahan kami. Alhamdulillah keluarganya bisa menerima aku.” Ucap Nita.
“Syukurlah kalau begitu. Aku jadi sedikit lega, tapi tetap saja aku perlu membuat perhitungan sama mas Riko.” Abel masih belum rela Nita menikah terburu-buru karena terpaksa. Jika Riko tidak meniduri Nita lebih dulu pasti mereka tidak akan menikah secepat itu. Setelah Nita menikah Abel akan menjadi satu-satunya single diantara kedua sahabatnya.
“Kamu benar, Bel. Kita perlu ketemu mas Riko dan ngomong.” Nabila pun berpikiran yang sama dengan Abel. Jika Nita menikah dengan Riko bagaimana keadaan Nita nantinya. Apa Riko akan mengizinkan Nita untuk mengejar mimpi nya. Jika saja Riko tidak lebih dulu meniduri Nita, mungkin Nita bisa menyelesaikan kuliah dulu dan mengejar mimpinya. Nita pernah bercita-cita menjadi dosen. Meskipun pada akhirnya cita-cita terakhir Nita hanya mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa membiayai kehidupannya dengan sang ibu. Namun, ibunya sudah berpulang saat Nita bahkan belum sempat menggapai cita-citanya.
“KA-kalian nggak bakal menghajar mas Riko kan?” Tanya Nita gugup. Nita tau apa yang dilakukan Riko pada dirinya adalah kesalahan besar. Tapi, semuanya tidak hanya kesalahan Riko saja. Nita juga ikut bersalah karena tidak bisa menolak Riko.
“Itu urusan kita, lo nggak perlu tau.” Abel menyeringai jahat. Seakan sudah memikirkan apa yang akan dilakukannya pada Riko.
.
__ADS_1
.
Bersambung..