Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Bubur ayam


__ADS_3

Setelah mendapatkan uang saku dari mama Silfi, Yoga kembali mendapat uang saku dari ibu putri.


“Makasih, buk.” Yoga menerima sepuluh lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Lumayan mendapat tambahan uang saku lima ratus ribu dari ibu putri.


“Sama-sama, Ga. Ingat jangan aneh-aneh nanti di marahin mbakmu!” Ujar Bu putri.


“Siap, buk. Aman.” Yoga pun meninggalkan ruang keluarga dan berangkat. Ia mengendarai motor klx milik Adam yang kini menjadi miliknya.


***


Pukul 01:00 Adam baru pulang. Nabila sudah tidur pulas seperti biasa perempuan itu meringkuk memeluk guling. Karna mau memeluk Adam tapi orangnya belum pulang.


“Selamat tidur, sayang.” Adam mencium kening Nabila dengan lembut. Lalu berbaring di sebelah Nabila. Sebelumnya ia sudah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur.


Keesokan paginya hari minggu Nabila sudah bangun pagi-pagi sekali. Ia akan berjalan-jalan keliling komplek sekalian olahraga.


“Pagi, ma!” Sapa Nabila pada mama Silfi yang sedang mengamati tanaman bunga di taman depan. Mama Silfi melihat pak Sholeh sedang memotong rumput di taman.


“Pagi, sayang. Mau olahraga?”


“Iya, ma. Muter komplek bentar cari keringat.”


“Suami kamu nggak nemenin?” Tanya mama Silfi.


Nabila menggeleng. “Nggak, ma. Mas Adam belum bangun.”


“Ya, udah sana!”


“Berangkat dulu ya, ma.” Pamit dengan mencium punggung tangan mama Silfi.


Diluar dugaan ternyata banyak juga yang menghabiskan minggu pagi dengan berjalan santai. Beberapa orang berjalan dengan hewan peliharaan mereka entah itu anj*ng atau kucing. Beberapa dengan keluarga. Bahkan saat melewati taman komplek Nabila bisa melihat banyak orang melakukan olahraga santai. Joging atau sepeda an.


‘Coba mas Adam mau bangun pagi, kan bisa sepeda an atau jalan santai berdua.’ Batin Nabila cemberut melihat kemesraan sepasang manusia didepannya.


Nabila memilih cuek dan melanjutkan jalan santainya. “Loh, itu kayaknya kak Rangga?” Melihat Rangga diantara kerumunan anggota gowes. ‘Sapa nggak ya, ntar nyapa dikira sok akrab. Nggak nyapa dikira sombong.’ Batin Nabila.


“Bila!” Teriak Rangga dengan tangan melambai-lambai dan tersenyum pada Nabila. Laki-laki itu tengah memandang Nabila dari tempatnya. Beberapa teman Rangga pun ikut menoleh ke arah Nabila. Mereka ikut tersenyum melihat Nabila.


Pun, Nabila mengangguk dan tersenyum. ‘Duh, kok pada ngelihat aku sih. Kan jadi malu.’ Menunduk karna merasa malu.


Rangga memarkirkan sepedanya dan berjalan menghampiri Nabila. “Kamu sendirian, Bil?” Tanya Rangga begitu sampai di dekat Nabila.


Nabila mengangguk. “Iya, kak!Kak Rangga kok disini?” Tanya Nabila heran. Karna setahu Nabila rumah Rangga agak jauh dari komplek Nabila. Kok bisa Rangga gowes sampai di daerah Nabila tinggal.


“Oh, iya. Aku sama temen-temen emang sering sepeda an sampai daerah sini.” Jawab Rangga berbohong. Padahal laki-laki itu sengaja mengajak rombongan gowesnya untuk bersepeda sampai daerah Nabila tinggal. Dengan harapan bisa bertemu Nabila. ‘Ini pasti takdir, Bil. Kita ditakdirkan bersama, nyatanya kita bertemu padahal tidak janjian.’ Batin Rangga.

__ADS_1


“Lah, kan jauh banged, kak?”


“Emang jauh tapi asyik.” Bersepeda adalah salah satu hobi Rangga. Alm. Randy juga mempunyai hobi yang sama. “Kamu lagi jalan santai?”


“Iya, kak!”


“Sendirian?”


Nabila mengangguk.


“Suami kamu kemana?”


“Dirumah, kak.” Jawab Nabila pelan.


“Karna kebetulan ketemu disini, mau nggak kamu gabung sama aku dan teman yang lain?Kita mau makan bubur ayam.” Ujar Rangga penuh harap. Dengan menunjuk teman-temannya yang sudah lebih dulu duduk di dekat mang bubur. Beberapa dari mereka sudah memegang mangkuk berisi bubur.


Nabila mengangguk lagi. “Boleh, kak. Kebetulan bila juga lapar.” Ucap Nabila.


‘Yes!’ Dalam hati Rangga bersorak riang bisa makan bubur bersama Nabila. Lalu, Nabila dan Rangga berjalan menuju mang bubur.


“Mang bubur ayam dua!” Ucap Rangga memesankan Nabila sekalian. Rangga meraih kursi plastik dan menyuruh Nabila untuk duduk.


“Makasih, kak.” Duduk di kursi plastik berwarna biru itu.


“Teh anget aja, kak.”


Rangga mengangguk. “Teh anget dua, mang!”


“Siap!” Sahut mang bubur.


Nabila dan Rangga saling mengobrol seraya menikmati bubur ayam. Mereka kelihatan akrab sekali. Padahal baru beberapa kali bertemu. Nabila dan Rangga memang sama-sama tipikal orang yang ramah dan gampang bergaul. Wajar bagi keduanya bisa cepat akrab.


***


Adam menggeliat pelan. Tangan kanannya meraba-raba sebelahnya, kosong?Adam pun langsung membuka mata lebar dan melihat jam dinding. “Baru jam 6 pagi.” Gumam Adam. Laki-laki itu lalu melakukan peregangan otot-ototnya setelah bangun tidur.


Setelahnya Adam turun dari ranjang dengan muka bantalnya keluar dari kamar untuk mencari istrinya. Karna sudah beberapa kali memanggil Nabila, tapi, tidak mendapat sahutan. Berarti istrinya itu sudah tidak ada di dalam kamar.


Adam berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Pikirnya Nabila pasti kedapur. Semenjak hamil, istrinya itu sering lapar di pagi hari. Saat sampai di dapur Adam tidak mendapati istrinya disana. ‘Kemana dia?’ Batin Adam.


“Cari siapa, Tuan?” Tanya Bi Ijah.


“Nabila, Bi.”


“Owh, non Bila keluar, Tuan. Mau jalan-jalan santai katanya.” Jawab Bi Ijah sopan.

__ADS_1


“Jalan-jalan santai?” Adam memastikan sekali lagi. Sejak kapan Nabila mau jalan-jalan santai. Biasanya perempuan itu berolahraga di ruang olahraga.


Bi Ijah mengangguk.


“Sama siapa, Bi?”


“Sendirian, Tuan.” Ucap Bi Ijah.


“Sendirian?”


Bi Ijah mengangguk lagi.


“Baiklah, makasih, Bi!” Adam kembali kekamarnya langsung membersihkan diri. Ia memakai kaus dan celana santai tapi tetap kelihatan keren. Laki-laki itu berniat menjemput Nabila.


Adam mengemudikan mobilnya untuk menjemput Nabila. Meskipun hanya keliling komplek tapi cukup jauh jika berjalan kaki. Adam sudah menelusuri jalanan komplek tapi tidak menemukan Nabila. Ia pun memutuskan untuk ketaman. Nabila pasti pergi ketaman. Perempuan itu sering sekali merengek mengajak Adam pergi ketaman di pagi hari. Katanya ingin melihat suasana taman di pagi hari.


Sampai di taman Adam memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkir mobil. Ia turun dari mobil seraya memakai kaca mata hitam khas cogan (Read:cowok ganteng). Laki-laki itu mulai berjalan masuk area taman. Ia memasang kedua matanya dengan tajam mencari-cari sosok wanita kesayangannya.


Pas diarah 180 derajat Adam melihat perempuan yang ia sayangi. Perempuan yang ingin dijemputnya tengah tertawa lebar dengan seorang laki-laki. Perempuan yang juga adalah istrinya.


“Dia!” Adam mengepalkan tangannya melihat kedekatan Nabila dan Rangga. Tidak suka!!Jelas saja Adam tidak suka melihat Nabila tersenyum manis dihadapan laki-laki lain.


‘Bila ngapain sih senyum sok cantik begitu, genit ah. Nggak suka aku!’ Batin Adam geram sambil berjalan ke arah Nabila dan Rangga.


“Sayang!!” Panggil Adam saat sudah hampir sampai di dekat Nabila.


Nabila dan Rangga pun menoleh ke arah Adam. Perempuan itu tersenyum manis pada suaminya. “Mas, Adam?”


Cup..Adam langsung menegcup kening Nabila begitu sampai di hadapan Nabila. Laki-laki itu menunduk seraya memegang kedua bahu Nabila dan mencium kening istrinya dengan mesra. “Kamu kok nggak bangunin, mas?Kan mas bisa temenin kamu jalan santai?” Tanya Adam.


“Mas tidurnya kaya orang mati. Bila nggak tega banguninnya.” Jawab Nabila menepuk kursi plastik disebelahnya agar Adam duduk.


“Maaf, ya. Karna mas nggak bangun, kamu jadi jalan-jalan sendiri!” Ucap Adam lembut memegang tangan Nabila. Dunia serasa milik berdua. Rangga hanya jadi penonton.


‘B*ngsat!!Sok mesra, tunggu saja Adam. Aku akan merebutnya darimu!’ Batin Rangga tertawa di dalam hatinya.


Hati Rangga panas melihat kemesraan Nabila dan Adam. Apalagi saat ini dirinya merasa seperti obat nyamuk.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2