
Abel membuatkan minuman dan camilan untuk Sely yang sedang sibuk menyelesaikan pekerjaanya.
“Terimakasih, Bu.” Jawab Sely sopan.
Abel mengangguk ramah. Setelahnya ia masuk kedalam kamar menyusul suaminya yang lebih dulu masuk ke dalam kamar beberapa menit yang lalu. “Mas.. kamu nggak nemenin Sely?”
Daniel rebahan dengan malas, “kenapa aku harus nemenin Dia?” Tanya Daniel tidak mengeti, toh Sely sudah sedewasa itu untuk apa di temani?
“Ya dia ‘kan ngurusin kerjaan kamu. Masa di acuhkan?” Abel merasa perlakuan suaminya kurang tepat.
“Itu jobdesk dia, sayang. Lagi pula dia yang memaksa mengerjakan pekerjaanya disini. Padahal dia bisa membawanya pulang.” Ucap Daniel.
“Oh, gitu.” Mengangguk paham.
__ADS_1
“Jangan ngurusin dia, mending kamu puk puk aku, Yang. Aku ngantuk.” Manja Daniel menarik lengan Abel agar istrinya itu duduk di tepi ranjang. Abel geleng-geleng kepala, jika sudah manja begini Abel seakan mempunyai kucing peliharaan yang lucu. “Mana yang mau di puk-puk?” Tanya Abel.
“Sini dulu..” menepuk-nepuk bagian kosong di sebelahnya agar Abel naik ke atas tempat tiduran Abel menurut apa perkataan suaminya. Selain itu Abel juga berbaring sesuai permintaan suaminya. “Mau peluk kamu sampe tidur.” Memeluk Abel dari belakang dengan posisi Abel membelakangi Daniel. Tak butuh waktu lama Daniel pun terlelap, lalu Abel ikut terbawa suasana dan terlelap bersama suaminya. Jika diruangan kamar sepasang suami istri tengah tertidur pulas berbeda dengan seorang perempuan yang tengah berada di ruang kerja.
“Sial banget.” Ungkapan kesal keluar dari mulut Sely kala berkas-berkas yang harus dia periksa cukup membutuhkan waktu lama. Harusnya pekerjaannya itu cepat terselesaikan bila Daniel ikut membantu. Namun apa yang terjadi saat ini bukan Daniel yang membantu nya justru ia di perlakukan bak penunggu ruangan kosong.
**
Sejak subuh Abel sudah berkutat di dapur untuk memasak. Dia ingin sekali memasak sambal kentang cabai merah. Semua bahan Abel siapkan dari kentang, bumbu dapur, cabai merah besar, santan, kerecek. Abel mengupas kentang dengan bantuan pisau pengupas buah. Lalu diiris nya kentang itu menjadi potongan kecil berbentuk kotak. Di gorengnya irisan kentang itu hingga masak. Setelah kentang di goreng semua. Abel menyiapkan bumbu sambal kentangnya. Di tumbuk halus bumbu itu namun untuk cabainya Abel potong miring.
“Akhirnya.” Menatap puas hasil masakannya pagi ini. Setelah di pikir-pikir sambal kentang dan nasi sama dengan karbohidrat dan karbohidrat. Untuk di jadikan sarapan cukup berat. Abel pun memutuskan merebus telur ayam. Dia merebus tiga telur ayam, jadi, menu sarapan hari ini adalah telur rebus dan sambal kentang cabai merah.
Untuk menu minumannya, Abel hanya menyiapakan air putih dan segelas teh hangat seperti permintaan Daniel semalam.
__ADS_1
“Gimana?” Abel menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Daniel yang baru saja mencicipi hasil dari masakannya pagi ini.
“Asin, sayang.”
“Masa sih?” Abel tidak percaya dengan ucapan Daniel. Dia sudah mencicipi masakannya dan tidak asin. “Nggak kok, pas asinnya.” Usai mencicipi ulang satu suapan sambal kentang di piring Daniel.
“Tapi asin. Sayang, ho’o hoek.” Tiba-tiba menutup mulutnya dan terburu-buru masuk ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Daniel memuntahkan semua makanan yang baru saja ia telan. Abel mengikuti Daniel dengan panik, di pijatnya tengkuk leher Daniel pelan-pelan.
“Kamu masuk angin lagi, Bee?” Tanya Abel cemas.
“Nggak tau, Yang. Rasanya lemes.” Keluh Daniel.
Abel memapah Daniel menuju sofa ruang keluarga. Dia longgarkan dasi yang sudah terikat rapat di kemeja Daniel. Dia juga membuka kancing kemeja Daniel yang bagian atas. “Aku kerokin mau, ya?” Bujuk Abel kasian melihat suaminya. Daniel mengangguk saja,
__ADS_1
.
.