Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Nabila yang lemah


__ADS_3

“Kek?Maksud kakek apa?” Ulang Adam karna kakek Trisno tidak menjawab pertanyaannya. Dalam hatinya Adam panik mendengar Nabila terbaring di rumah sakit. Tapi, laki-laki itu mencoba tenang.


“Nabila pingsan di kamar tadi pagi.”


“Apa?!” Adam langsung beranjak berdiri. “Kok bisa?Bukannya kemarin baik-baik aja?Terus gimana keadaan Nabila sekarang?Anakku gimana?Dirumah sakit mana?Siapa yang jagain Nabila sekarang?” Adam bertanya tanpa spasi.


“Kamu masih ingat sama calon anak kamu?” Ketus kakek Trisno.


“Kakek jangan bercanda!Jelas Adam ingat calon anak Adam, mana mungkin Adam lupa.”


Kakek Trisno bersedekap dengan gaya coolnya. “Oh, terus semalam kamu kemana?Kenapa nggak pulang kalau masih ingat?”


‘Mana mungkin aku ngaku kalau lagi ada masalah sama Nabila. Yang ada orang rumah jadi gempar.’


“Adam lembur kek.”


“Kamu mau nipu kakek?Kamu pulang sore, Dam. Kakek sudah lihat rekaman CCTV kemarin!” Ujar kakek Trisno jengkel. Sejak kapan cucunya suka berbohong.


‘Sudah kuduga kakek teliti.’ Adam menghela nafasnya. “Adam belum selesai kek, Adam memang lembur tapi bukan di kantor. Adam lembur di apartemen Nabila. Kalau Adam pulang Nabila pasti nggak ngizinin Adam kerja sampai larut. Adam juga nggak mau Nabila tidur larut karna nunggu Adam selesai kerja, jadinya Adam lembur di apartemen Nabila.” Ucap Adam penuh kebohongan.


“Yakin?”


“Cek aja CCTV apartemen Nabila,” ujar Adam mencoba meyakinkan kakek Trisno.


“Baiklah kakek percaya.”


Adam keluar dari kursi kebesarannya seraya meraih jasnya. “Ayo kek!” Adam menggandeng lengan kakek Trisno.


“Kemana?”


“Menjenguk istriku lah, kek.” Adam terpaksa menunda rencananya pura-pura marah pada Nabila karna Nabila malah jatuh sakit. Adam tidak mungkin membebani pikiran Nabila.


***


Di rumah sakit.. Nabila masih terbaring lemah, ia hanya bangun sebentar dan tidur kembali. Ada ibu putri, mama Silfi, bapak Hendra, papa Wisnu dan kakek Tejo yang berjaga. Mereka langsung menuju rumah sakit begitu mendapat telepon dari Bi Sumi jika Nabila pingsan.


Mereka juga tau dari Bi Sumi jika Adam tidak pulang semalaman. “Untung saja Bi Sumi bangunin Nabila, Jeng. Coba kalau enggak bisa fatal.” Ucap Bu Putri.


“Iya Jeng. Syukur Nabila dan bayinya baik-baik saja. Si Adam juga malah kemana nggak pulang semalaman.” Gerutu mama Silfi.


“Mungkin sibuk sama kerjaan, Jeng.”

__ADS_1


“Memang lebih penting kerjaan dari pada istri dan anaknya?Lihat aja kalau nanti sampai sini aku marahi dia!” Ujar mama Silfi berapi-api. Ia tidak akan membiarkan Adam melakukan hal bodoh yang bisa saja ia sesali nantinya. Tidak pulang semalaman tanpa mengabari pembantu termasuk hal bodoh bagi mama Silfi.


Dua ibu-ibu itu mengobrol dengan berbisik-bisik karna tidak mau menggangu istirahat Nabila. Sementara para bapak duduk tenang di sofa. Lain halnya dengan kakek Tejo, ia sibuk mondar mandir menunggu Trisno yang sedang menjemput Adam.


‘Kemana si Trisno jemput orang dari kantor atau dari bulan laman sekali?’ Batin kakek Tejo tidak sabar untuk memarahi Adam.


Ceklek..pintu terbuka! Adam muncul bersama kakek Trisno. Ia langsung nyelonong masuk mendekati brankar tempat Nabila tidur.


“Ucap salam kalau masuk ruangan itu!” Ketus mama Silfi.


“Assalamualaikum.” Ucap Adam.


“Walaikumsalam.” Jawab ibu Putri, bapak Hendra, papa Wisnu dan Kakek Tejo.


“Telat!” Balas mama Silfi.


“Lebih baik telat dari pada enggak sama sekali, Ma.” Adam tidak mau bertengkar dengan mama nya. Laki-laki itu paham betul mama nya sedang marah. “Hilih kalau enggak di ingatkan juga gak bakalan ucap salam. Kayak anak SD aja apa-apa harus diingatkan.” Ucapan mama Silfi terlalu ketus.


“Sabar, Jeng.” Ibu Putri mengingatkan.


“Biarin saja Jeng, anak ini mesti dikasih tau biar nggak keseringan lupa. Bisa-bisa nanti lupa punya istri yang sedang hamil. Sampai-sampai gak inget pulang.” Sindir mama Silfi.


“Astaghfirullah, ma.” Adam menepuk dadanya dan menghela nafasnya mendapat sindiran tajam dari mama kandungnya. Adam tidak mengira keputusannya tidak pulang semalam berakibat bencana.


“Jeng!” Ibu putri memegangi lengan besannya. Putri memang lembut jika pun marah ia tidak akan langsung meluapkan emosinya saat itu juga.


“Ma, sudah Ma. Kita keluar dulu, beri Adam kesempatan bersama Nabila!” Bujuk papa Wisnu sebelum istrinya semakin marah dan membuat keributan.


“Iya Silfi, kamu keluar dulu sana. Beli es jeruk biar adem.” Timpal kakek Trisno.


“Ayo, Jeng!” Putri sedikit menyeret lengan Silfi untuk keluar ruangan.


“Awas ya kamu, Dam. Urusan kita belum selesai!” Tegas mama Silfi. Putri, Silfi, Hendra dan Wisnu meninggalkan kamar rawat inap Nabila.


Adam menoleh pada Trisno yang berdiri di belakangnya. “Kakek yakin Adam bukan anak pungut?” Tanya Adam serius.


“Hahaha, ngawur kamu.” Balas Trisno.


“Habisnya kakek lihat sendiri, mama kalau marah kayak gitu. Nggak ada lembut-lembutnya, padahal sama anak sendiri.” Gerutu Adam.


“Sudahlah, mama mu memang seperti itu. Ayo Tejo kita juga keluar!” Ajak Trisno pada Tejo.

__ADS_1


***


“Sayang?” Adam mengelus rambut Nabila. “Nggak seharunya aku marah sama kamu, Bil.” Menatap istrinya yang terbaring lemah dengan tatapan sendu.


Semua keluarga memutuskan untuk pulang kerumah. Mereka membiarkan Adam menemani Nabila sendiri. Juga bentuk hukuman untuk Adam karna lalai menjaga Nabila.


1 jam yang lalu sebelum mama Silfi pulang.


“Adam!!”


“Iya Ma, ada apa Ma?ini rumah sakit Ma, jangan teriak-teriak!”


“Kamu kenapa enggak angkat telepon tadi pagi?” Tanya mama Silfi. Setelah Nabila pingsan Bi Sumi langsung menghubungi Adam. Namun, tidak diangkat oleh Adam. Bukan hanya Bi Sumi, sampai dirumah sakit seluruh kelurahan juga menghubungi Adam tapi tidak di jawab.


Adam teringat jika tadi pagi dirinya tidak mengecek ponselnya. Adam langsung ke kantor setelah mandi dan berganti pakaian. Ia bahkan sarapan di kantor. Sampai di kantor Adam banyak pekerjaan dan lupa tidak mengecek ponsel. Bahkan Adam meninggalkan ponselnya di ruang kerjaanya saat rapat dengan para direktur.


“Adammmm?”


“Maaf ma, Adam nggak ngecek hp. Adam nggak tau ada banyak panggilan masuk.” Jawab Adam jujur.


“Kamu itu!Buang saja hp mu kalau nggak digunakan, padahal fungsinya hp itu untuk apa?Untuk komunikasi saat terjadi hal genting, bukan untuk sawangan atau gegayaan.” Mama Silfi mendengus kesal.


“Maaf, ma!”


“Minta maaf sama istrimu bukan mama!”


“Iya, ma.”


“Pokoknya mama nggak mau kejadian hari ini terulang lagi!Kamu harus lebih peduli sama istrimu, paham?!”


Adam mengangguk. “Adam paham, ma. Nggak akan ada kejadian seperti hari ini lagi. Adam janji!” Ucap Adam dengan serius.


“Mama pegang janji kamu!Ya sudah, mama sama yang lainya mau pulang. Kamu yang jaga, nanti malam kita kesini lagi!” Tutur mama Silfi.


“Hati-hati di jalan ma!”


“Hm.”


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2