Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Tidak sadarkan diri


__ADS_3

Author Pov


Adam selesai bekerja pukul 16:30, ia memutuskan untuk pulang. Tapi, bukan pulang ke rumah melainkan pulang ke apartemen Nabila. Adam yakin pasti Nabila tidak akan mengira jika dirinya pulang ke apartemen Nabila. Adam berencana akan menginap di apartemen Nabila malam ini.


“Sudah sampai, Tuan.” Ucap Tio asisten Adam. Mereka sudah sampai di basement apartemen Nabila.


“Terimakasih Tio, kamu pulang saja. Jemput aku besuk pagi!” Ucap Adam sebelum akhirnya turun dari mobil dan berlalu masuk ke lift yang akan membawanya ke lantai unit apartemen Nabila.


Adam memencet kode sandi masuk rumah Nabila. Ceklek.. pintu pun terbuka. Adam melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen itu. Meskipun tidak pernah ditinggali apartemen Nabila selalu rapi dan bersih. Pembantu akan rolling 3 hari sekali untuk membersihkan apartemen Nabila. Adam masuk ke kamar Nabila yang juga kamarnya jika mereka menginap disana. Ia langsung membersihkan dirinya. Selesai membersihkan diri Adam mencari baju ganti di walk in closet milik Nabila yang tidak terlalu besar. Walk in closet itu berisi baju Nabila dan baju nya. Jadi, saat menginap ke apartemen Nabila maupun Adam tidak perlu khawatir tidak mempunyai baju ganti.


Adam menggunakan setelan piyama berwarna putih. Ia pun merebahkan dirinya di ranjang. Ia tiduran dengan kepala bertumpu pada salah satu lengan tangannya. “Huh, tidur sendiri lagi.” Gumam Adam.


Drttt.. suara gemetaran ponsel di nakas menggangu Adam yang baru saja memejamkan matanya. Laki-laki itu meraih ponselnya dengan tangan kanannya. Pesan masuk dari Nabila.


Isi pesan..


📲aku sudah sampai dirumah dengan grab car, mas. Utuh tanpa suatu apapun, mas pulang jam berapa?


“Pulang dengan grab car?Bukannya aku sudah mengirim pesan pada pak Slamet untuk menjemputnya?” Gumam Adam heran. Adam melihat kontak pak Slamet tidak ada pesan yang ia tulis kepada pak Slamet. Adam membuka pesan itu ternyata dirinya hanya mengetik pesan tapi belum sempat menekan send. Pantas saja Nabila pulang dengan grab. Adam jadi merasa bersalah pada istrinya.


“Dia pasti menunggu dengan cemas.” Gumam Adam mengingat tadi ia memang sedang sibuk saat hendak mengirim pesan pada pak Slamet. Mungkin itulah sebabnya Adam lupa menge-send pesannya ke pak Slamet. “Syukurlah dia sudah sampai rumah.” Adam meletakan kembali ponselnya ke nakas dan memejamkan mata. Tak selang beberapa lama Adam pun tertidur.


Adam terbangun karna merasa lapar. Pandangan laki-laki itu mengarah pada jam dinding di kamar begitu kedua matanya terbuka sempurna. Baru jam 22:00, tapi, Adam merasa sudah tidur terlalu lama. Adam bangkit dan turun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia membuka kulkas, Hm kosong hanya ada air mineral.


Mau keluar?Tidak ada mobil, mobilnya di bawa Tio. Pesan grabfood?Harus pasang aplikasinya dulu. Laki-laki itu pun kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan dari istrinya. ‘Dia pasti sangat khawatir.’ Batin Adam. Seulas senyum ia sunggingkan dari kedua sudut bibirnya. Bukan tersenyum karna sudah membuat Nabila khawatir. Tapi, tersenyum karna Nabila masih bersikap baik padanya meskipun ia sudah menyakiti Nabila dengan kata-kata kasar.


“Perempuan sepertimu bagiamana aku tidak jatuh cinta, sayang.” Gumam Adam ingin sekali membalas pesan Nabila. Tidak boleh!Adam harus tahan, ia kan sedang melaksanakan misi untuk menangkap pengacau yang sedang mencoba mengusik rumah tangganya.


Adam membuka APP store lalu mengetik gr*b. Ia akan memasang aplikasi grab di ponselnya. Tujuannya untuk memesan makan malam. Cacing di dalam perutnya sudah menari-nari dengan riang tanpa rasa bersalah. Bahkan para cacing itu tidak sungkan membangunkan Adam yang tengah tertidur pulas.


Adam memesan nasi goreng ampela dan cap cai sebagai makan malam. Lengkap dengan es jeruk. Semenjak menikah dengan Nabila es jeruk sudah menjadi salah satu minuman kesukaan Adam. Laki-laki itu jadi ingat saat berkeliling kota Jogja di malam hari dengan sepeda motor. “Ah aku rindu sekali keramahan kota Jogja, nanti setelah anakku lahir. Aku akan membawanya ke kampung halaman bunda nya.” Ucap Adam senang.


.

__ADS_1


.


***


Keesokan paginya Nabila terbangun karna mual-mual. Padahal sudah lama Nabila tidak merasakan mual di pagi hari. Lemas sekali rasanya bahkan untuk berdiri nabila merasa tidak sanggup. Ada apa dengan tubuhnya? Nabila terduduk lemas di dalam kamar mandi untuk beberapa saat. Sampai dirinya mendapatkan kekuatan dan berdiri kembali. Ia berusaha membersihkan dirinya dengan singkat. Perempuan itu berjalan perlahan keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian yang bersih.


Nabila duduk di atas tempat tidur. Kepalanya masih sangat pusing. Rasanya ada yang berputar putar di langit. Tidak salah lagi ini vertigo. Nabila hendak keluar dari kamarnya, baru beberapa langkah ia sudah ambruk dan tidak sadarkan diri.


.


.


***


Adam terbangun saat jam beker di nakas berdering. Semalam Adam sudah mengatur alarm jam 06:00 pagi. Laki-laki itu takut kesiangan. Adam lalu turun dari tempat tidurnya, satu persatu kaki Adam menapak pada lantai marmer. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ponsel Adam terus-terusan berdering saat laki-laki itu berada di dalam kamar mandi. Siapa yang menghubungi nya pagi-pagi sekali. Kemungkinan itu adalah telepon penting.


***


Tok.. Tok


“Masuk!”


Sela masuk ke dalam ruangan Adam. “Ini jadwal untuk seminggu kedepan, Pak.” Sela meletakan daftar jadwal Adam untuk satu minggu kedepan. Perempuan itu juga mengganti panggilannya pada Adam dengan sebutan “Pak” sesuai permintaan Nabila. Karna menurut Nabila lebih enak di panggil pak dari pada Tuan.


“Makasih!”


“Baik, pak. Kalau begitu saya permisi.”


“Hm.”


Sela baru saja keluar dari ruangan Adam. Ia berpapasan dengan Tio di depan pintu. “Tuan ada?” Tanya Tio.

__ADS_1


“Ada tuh, kenapa kayaknya penting banged?” Tanya Sela.


“Kepo!” Ucap Tio melenggang meninggalkan Sela dan masuk ke dalam ruangan Adam.


“Halah.” Sela acuh dan kembali ke mejanya.


Tap tap tap.. suara langkah kaki, sepatu pantofel sepertinya. Langkah kaki itu semakin mendekati meja Sela.


“Bosmu ada didalam?” Kakek Trisno sudah berdiri di depan meja kerja Sela.


“A-ada Tuan.” Jawab Sela gugup. “Saya akan sampaikan kedatangan Tuan besar pada Pak Adam.” Ucap Sela sopan. Perempuan itu mencoba tenang menghadapi kakek Trisno yang sepertinya sedang marah.


“Tidak perlu!Saya akan langsung masuk!” Ketus Kakek Trisno seraya berjalan menuju ruangan Adam.


“Huh.” Sela bernafas lega begitu Kakek Trisno berlalu. Seperti terselamatkan dari maut.


Kakek Trisno dengan tongkatnya dan topi ala topi kebanggaan masuk keruangan Adam tanpa mengetuk pintu.


“Adam!!” Teriak kakek Trisno mengagetkan Adam dan Tio yang sedang berbicara serius. Keduanya langsung melihat ke arah asal suara.


“Kakek!Kakek ngapain ke sini?” Tanya Adam. Tio menggeser dirinya ke samping meja Adam agar kakek Trisno bisa langsung berhadapan dengan Adam.


“Ngapain katamu?Kemana kamu semalam, sampai tidak pulang?” Ketus kakek Trisno. Kakek duduk di sofa dan menyenderkan tongkatnya di samping sofa.


‘Kok kakek bisa tau?Pasti Nabila ngadu, harusnya kan nggak ada orang yang dirumah kecuali pak Bejo. Semua orang kan di rumah mama.’ Batin Adam.


“Kata siapa Adam nggak pulang?Nabila ngadu sama kakek?” Tanya Adam datar.


“Kakek tau sendiri!Kamu pikir Nabila yang terbaring dirumah sakit bisa ngadu sama kakek?” Melotot pada Adam dengan tatapan ingin sekali mencekik cucu tersayangnya itu.


“Maksud kakek apa?”


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2