Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Pertemuan Abel dan kakek Han ..


__ADS_3

“Kenapa berisik sekalih.” Keluh Abel menyembunyikan kepalanya di balik bantal.


“Mama bilang bangun, sayang. Temani mama ke rumah sakit.” Teriak mama Lila.


Rumah sakit?Siapa yang sakit?


Abel turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu, ia memutar knop pintu untuk membukanya. Masih dengan muka bantalnya, bagiamana tidak Abel baru bisa tidur dini hari.


“Siapa yang sakit, ma?” Membuka pintu kamarnya, mama Lila terlihat berdiri di depan pintu kamar.


“Kakek Han, sayang. Sahabat kakek kamu, kamu masih ingat nggak, kakek yang dulu sering ngatain kamu ompong dan tukang ngompol itu lho.” Ucap mama Lila ceplos-ceplos.


Astaga mama, bisa-bisanya mama mengingatkan ku akan aib yang sudah lama itu.


“Bel..” panggil mama Lila karena Abel melamun.


“Ia..ia, Abel ingat, ma. Ya udah Abel mandi sebentar terus anterin mama ke rumah sakit.” Ucap Abel kemudian. Mama Lila mengangguk.


“Mama tunggu di bawah ya.” Kali ini Abel yang mengangguk.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Abel dan mama Lila mengobrol.


“Tumben kak Caca tinggal di apartemennya, ma?Biasanya, kan, pulang terus.” Tanya Abel penasaran. Walaupun memiliki apartemen sendiri Caca sangat jarang tinggal di apartemennya.


“Hm.” Mama menghela nafas berat sejenak. “Mungkin kakak kamu lagi galau, Bel. Urusannya sama Ilham belum selesai mungkin, saat ini kemungkinan kakak kamu lagi butuh waktu untuk sendiri.” Ucap mama Lilaz


Abel mengerutkan alisnya. “Memang kak Caca sama mas Ilham ada urusan apa yang belum selesai, ma?WO mereka nggak sesuai atau gimana?” Setahu Abel, Caca dan Ilham, kan, sudah bertunangan dan sedang menguras rencana pernikahan yang akan diadakan dua bulan lagi.


Mama Lila menepuk jidatnya sendiri. “Astaga, Abel. Mama lupa bilang sama kamu, Caca batal tunangan sama Ilham.”


“What?” Pekik Abel kaget. “Tapi kenapa, ma?Kak Caca sama mas Ilham, kan, saling cinta, mama sama papa juga merestui. Jangan bilang gara-gara bobot bibit bebet yang kakek sering katakan itu!” Tebak Abel dengan pemikirannya sendiri. Ya, Abel tau sih sifat kakek Nanto yang sering mengatakan bobot bibit bebet, bahkan kakek Nanto kadang terkesan matre.


Mama Lila mengalihkan wajahnya menatap kearah luar kaca mobil. “Kakek menjodohkan Kakak kamu dengan cucu sahabatnya, Bel. Mama sama papa nggak bisa menentangnya apalagi di surat wasiat nenek kamu juga tertulis perjodohan itu.” Ucap mama sedih.


Abel geleng -geleng kepala. “Kasian kak Caca, ma.”


Nggak hanya Abel yang merasa kasian pada Caca, mama Lila pun merasakan hal yang sama namun ia bisa apa. Semua sudah diputuskan, Caca sendiri juga menerima.


***

__ADS_1


Mama Lila dan Abel sampai di ruangan rawat inap kakek Han, beliau baru saja sadar beberapa menit yang lalu.


“Apa ini Bella?” Tanya kakek Han lirih melihat perempuan muda di sebelah mama Lila. Mama Lila pun mengangguk seraya tersenyum.


“Iya, kek. Ini Bella yang kemarin kakek tanyakan, ayo sayang mendekat sama kakek Han.” Tutur Lila pada Abel. Abel pun mendekati kakek Han dan mencium punggung tangan kakek.


“Hallo kek, bagaimana keadaan kakek?” Tanya Abel lembut.


“Yah, biasalah nak, penyakit orang tua.” Jawab kakek Han terkekeh.


“Makanya kalau kakek udah tua jangan sering marah-marah, kek. Biar nggak gampang sakit apalagi kena serangan jantung, hidup itu indah, kek. Dibikin Happy terus aja.” Cerocos Abel yang lalu di senggol lengannya oleh mama Lila. Kakek Han sediri melongo mendapat ceramah an oleh gadis di dekatnya itu.


“Apaan sih, ma?Abel kan ngomong apa adanya?”


“Nggak sopan kamu itu, Bel.” Tegur mama.


“Haha, nggak papa Lila. Bella benar, akhir-akhir ini saya memang sering marah-marah.” Ujar kakek Han.


“Nah, tu, kan, kakek aja mengakui, kok.” Abel dan kakek pun tertawa.


Mama Lila, Kakek Han dan Abel mengobrol sampai tengah hari. Kakek Han bahkan terlihat bersemangat mengobrol dengan Abel.


Dia lebih cocok untuk Daniel, Daniel pasti akan bertekuk lutut kalau sama Bella, apa aku minta ganti saja Caca sama Bella. Tapi, Caca tersinggung tidak? Batin kakek Han.


***


Daniel bergegas ke rumah sakit setelah pekerjaan nya selesai. Hari ini Ia harus membela dua klien dalam dua persidangan hari ini. Untung saja persidangan berjalan lancar, dan seperti biasa Daniel selalu memenangkan persidangan.


Dalam kesibukannya Daniel tetap menghubungi Abel meskipun semua pesan dan panggilannya di abaikan oleh Abel.


Mungkin Abel butuh menenangkan diri. Gumam Daniel.


Mobil sport hitam yang Daniel lajukan sampai di parkiran rumah sakit. Usai memarkir mobilnya Daniel langsung menuju ke kamar inap kakeknya


Daniel melihat kakeknya tengah tertidur, Abel sendiri sudah pulang beberapa waktu yang lalu.


“Bagaimana keadaan kakek, John?” John ditugaskan Daniel untuk menjaga kakek Han selama Daniel mengurus pekerjaanya.


“Kondisi tuan besar semakin membaik, tuan muda. Mood beliau bahkan bagus.” Jawab John.

__ADS_1


“Oh, ya?!” Daniel duduk di sofa seraya mengernyit. Tidak mudah membuat mood kakek Han membaik, apalagi kakek dan Daniel sempat berseteru sebelum Daniel pergi ke kantor. “Apakah ada yang mengunjungi kakek tadi?” Mungkin keluarga calon tunangan nya menjenguk pikir Daniel.


“Tadi nyonya Lila beserta putri bungsunya menjenguk, tuan besar.” Jawab John.


Daniel manggut-manggut. “Owh.”


***


Kakek Han bangun saat menjelang magrib. Ia di bantu membersihkan diri oleh perawat lelaki. Kakek menatap Daniel yang tengah sibuk dengan ponselnya, apa yang membuat Daniel tak henti menatap ponselnya, pikir kakek.


“Niel..kemarilah!” Melambai pada Daniel.


Daniel menyimpan ponselnya ke dalam saku celana lalu menghampiri kakek. “Apa ada yang kakek butuhkan?Apa kakek mau ke toilet.” Kakek Han menggeleng. Beliau justru menunjuk kursi yang berada di sebelah brankar, menyuruh Daniel untuk duduk di sana.Daniel pun duduk tanpa protes.


“Tadi Lila sama Bella kesini.” Tutur kakek Han. “Tapi, Caca nggak datang. Apa kamu sudah bertemu Caca?” Tanya kakek.


Cih, mendengar namanya membuatku marah, untuk apa aku bertemu dengannya. Karena pertemuanku dengannya hubunganku dengan Abel berantakkan. Batin Daniel.


“Mungkin Caca sibuk, dia, kan, bekerja di perusahaan. Apa kakek mau aku membawa Caca kesini?” Tanya Daniel meskipun kesal dengan Caca, tapi, ia juga harus memperhatikan kesehatan Kakek.Jika, kakek ingin bertemu Caca mau tidak mau ia akan menghubungi Caca. Diluar dugaan kakek Han justru menggelengkan kepalanya.


“Tidak??” Daniel mengernyit. “Lalu?” Tanya Daniel.


“Kakek lebih suka sama Bella, bagaimana kalau calon tunanganmu di ganti Bella saja.” Usul kakek dengan santainya.


Apa-apaan kakek ini, memang bisa mengubah calon tunangan dengan begitu mudahnya? Bagin Daniel kesal.


“Daniel tidak mau membahas masalah ini, lebih baik fokus saja pada kesehatan kakek.”


Daniel terlalu malas membahas masalah pertunangan, ia hanya mengkhawatirkan hubungannya dengan Abel. Apalagi sejak pertemuannya semalam Abel mengabaikan Daniel. Bahkan mulai sore tadi Abel menonaktifkan ponselnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sabar ya guys, ntar Abel bakalan tau yang sebenarnya kok.


Jadi, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya..


__ADS_2