
“Sebenarnya lo apa?”
“Gue mau bantu Ibunya Nita jualan sayuran di pasar. Jadi, gue latihan dulu.”
Adam melihat perubahan di diri Riko semenjak Riko mengakui ingin mengejar Nita. Riko menjadi lebih baik dari sebelumnya, sudah tidak bergonta-ganti pacar dan jarang mabuk mabukan. “Demi Nita?”
“Iya, setelah urusan gue sama Rani kelar gua langsung lamar dia aja.” Ujar Riko penuh semangat.
“Emang Nita mau sama lo?”
Raut wajah Riko kembali kusut. “Nah, makanya itu, lo bilang sama Bila buat bantuin gue lebih deket sama Nita.”
“Imbalan gue apa?”
“Ya Elah Dam, lo mau apa dari gue?Lagian lo udah punya segalanya.”
“Bercanda, Rik. Jadi, ada apa lo kesini?Lo kesini nggak cuman mau pamar tampang gembel lo doang kan?”
“Eh iya, sampai lupa. Gue mau tanya lo udah nemuin cara buat ngeberesin Rani belum?”
Adam mengangguk dam memberi isyarat agar Riko mendekat. Adam lalu membisikkan rencananya pada Riko. Riko pun mengangguk-anggukan kepalanya sesekali mendengar rencana Adam.
“Oke, gue udah ngerti. Kalau gitu gue balik dulu.” Setelah mengerti rencana Adam, Riko pamit dan bersiap untuk memulai rencana Adam. Riko sudah tidak mau menunda menyingkirkan Rani dari hidupnya. Dia ingin segera bisa bersama dengan Nita.
“Baiklah.”
Jam 5 sore Nabila dan Adam kembali ke kediamannya. “Kamu masih ngantuk Bil?”
Nabila mengangguk. Adam mencubit pipi Nabila yang menggemaskan. “Bagaimana bisa Bil?Padahal kamu udah tidur lama banged tadi, kamu sampai di kantorku langsung tidur lho.”
“Nggak tau juga mas, bawaannya pengen bobok terus.” Jawab Nabila nyengir.
Mengusap rambut Nabila dengan satu tangannya. “Nanti sampai rumah tidur lagi.” Satu tangan Adam menentang kemudi. Adam mengemudikan mobilnya sendiri, menembus jalanan sore Koya Jakarta yang macet.
Sekitar 1jam lebih Adam dan Nabila sampai di kediamannya. Rumahnya terlihat sepi hanya ada Bi Sumi yang menyapa kehadiran Adam dan Nabila.
“Yoga sudah pulang Bi?” Tanya Nabila.
“Tadi pulang jam 4 an non, cuma mandi lalu pergi lagi. Den Yoga bilang mau basket sama teman-temanya, nanti enggak makan malam dirumah.” Jawab Bi Sumi.
“Oh, kalau Raga sama Diana?”
“Den Raga sama Non Diana belum pulang Non, tadi pagi keluar pakai mobil Non Bila. Katanya mau keliling kota Jakarta.”
“Baiklah, saya keatas dulu Bi.”
“Baik, Non.”
Nabila menyusul Adam yang sudah lebih dulu naik ke lantai kamarnya berada.
***
__ADS_1
Nita menunggu angkot untuk pulang ke rumah setelah berkerja di cafe Nabila. Mobil mewah berwarna Silver menepi di depan Nita. Pengemudi mobil itu pun menurunkan kaca mobilnya. “Eh Nita!Nunggu angkot?”
“Eh, Kak Revan. Iya nih kak, mau pulang dari tadi enggak ada angkot yang lewat.”
“Pulang kemana?”
“Jl. Yos ss kak.”
“Wah kebetulan searah, bareng aku aja. Aku juga lewat sana.” Revan menawarkan agar Nita ikut ke mobilnya karena searah dengan rumah Revan.
“Nggak usah kak, aku pulang naik angkot aja.” Jawab Nita sopan, dia tidak mau merepotkan Revan.
“Ntar kemaleman kalau nunggu angkot, belum tentu ada yang lewat juga. Bareng aku aja. Nggak kok kalau ngerepotin, kamu tenang aja!” Kata Revan serius.
Nita ragu-ragu tapi benar kata Revan, sudah jam 8 malam lebih belum tentu masih ada angkot yang lewat. “Baiklah, Kak” Nita masuk ke mobil Revan, duduk di kursi sebelah Revan.
“Pakai sabuk pengamanmu!” Tukas Revan.
Di perjalanan Revan dan Nita banyak bercerita, Revan termasuk tipe laki-laki yang mudah bergaul begitu juga Nita selain ramah seperti Nabila, Nita tipe teman yang gampang akrab. “Nit, aku boleh tanya sama kamu?”
“Boleh, mau tanya apa kak?Pasti tentang Bila kan?” Tebak Nita.
“Kok tau?”
“Mudah kak, mau tanya apa kak?” Dari awal Nita sudah menyadari gelagat Revan. Jadi, Nita mengirim pesan ke Nabila. Meminta izin Nabila apabila Revan menanyakan sesuatu tentang Nabila, bagaimana Nita harus menjawabnya.
“Nabila serius udah nikah?”
“Aku pernah telefon Nabila, yang angkat suaminya.” Jawab Revan datar. “Bila beneran udah nikah ya?”
Nita mengangguk. “Udah Kak.”
Revan nampak kecewa dengan jawaban Nita, dulu dia mengira yang mengangkat telefon Nabila adalah kakak laki-lali Nabila, Revan mengira hanya alasan Nabila karena tidak mau mengangkat telefonnya jadi menyuruh kakaknya. Tapi setelah mendengar langsung dari Nita, Revan pun percaya.
“Hm, kamu tau suaminya?Suaminya kerja dimana?” Tanya Revan lagi.
“Kenal Kak, kerja di Hanggara Group kak setahuku. Namanya Adam.”
“Oh, pantesan dia sejak awal susah di deketin haha.”
Meskipun kecewa tapi Revan termasuk lelaki yang menerima kenyataan. Dia tidak akan mengganggu perempuan yang sudah punya kekasih apalagi perempuan uang sudah menikah.
“Terimakasih, Kak. Maaf merepotkan.” Ucap Nita saat sudah sampai di depan pintu masuk apartemennya.
“Sama-sama Nit, kalau gitu aku lanjut jalan.” Revan melanjutkan perjalanan, mobilnya melaju meninggalkan area apartemen Nita. Begitu juga dengan Nita, dia langsung masuk ke apartemennya.
***
Nabila dan Adam bersantai diruang keluarga setelah makan malam. Ada Riko juga yang sedang berkunjung. Akhir-akhir ini Riko lebih sering main kerumah Adam, Riko sengaja menghindari Rani. Tidak jarang dia menginap dirumah Adam.
“Mbak, mbak Bila.” Yoga yang baru saja pulang dari basket sudah teriak-teriak dari pintu utama.
__ADS_1
Secara bersamaan Adam, Nabila dan Riko pun menoleh ke arah Yoga. Setelah mengetahui Yoga yang berteriak, mereka kembali pada aktivitasnya.
“Mbak ada hot news!” Seru Yoga berlarian menuju Nabila yang sedang duduk bersandar di bahu Adam.
“Penting nggak?”
“Penting mbak, ini adalah berita yang sangat-sangat penting. Lebih penting dari apapun, berita yang sangat tajam setajam silet.” Kaya Yoga menggebu-gebu.
Adam dan Riko Hany menggelengkan kepalanya melihat tingkat yoga.
“Ya udah, apa cepetan. Kamu bau tau nggak?” Nabila menutup hidungnya saat Yoga duduk di sebelahnya, Yoga yang baru saja pulang dari basket memang sedikit bau. Apalagi Yoga mengintari kota Jakarta hanya menggunakan motor, asap kendaraan pun jadi menempel di tubuh Yoga.
“Ya Allah mbak jahatmu. Aku bau kan karena habis basket mbak.”
“Wes cepetan ngomong, biar kamu bisa cepet mandi!”
“Jadi, tadi aku lihat....”
“Lihat apa?” Tanya Nabila penasaran.
“Sabar to mbak.”
“Kamu berbelit-belit sih.”
“Mbak Bila aja yang nggak sabaran!”
“Yowes yowes, Intine wae!” Nabila mulai kesal dengan yoga. Maklum ibu hamil.
“Hm, Dasar bumil nggak sabaran. Aku lihat mbak Nita lagi jalan sama pacarnya!”
Nabila yang tadinya leyeh-leyeh bersandar dibahu Adam pun langsung duduk tegap. “Kamu jangan asal, Nita mana punya pacar.”
Bersambung ...
.
.
.
.
Like
Like
Like
Vote
Vote
__ADS_1
Vote