
***
Caca sadar saat tengah malam, begitu membuka mata perempuan itu hanya melihat mama Lila dan kakek Nanto. Kakek nanti tertidur di sofa sementara mama Lila tetidur di kursi sebelah brankar Caca dengan kepala di atas brankar Caca.
Mama Lila terbangun saat merasakan ada pergerakan dari Caca. “Caca, kamu sudah sadar, nak.” Air matanya luruh. “Maafkan mama dan papa, nak. Karena mama dan papa kamu menderita.”
Caca menggeleng. “Tidak, ma. Ini bukan salah mama dan papa, mama jangan minta maaf.” Caca meraih tangan mama Lila dan menggenggamnya.
“Ca, syukurlah kamu sudah sadar. Kakek nggak akan bisa memaafkan diri kakek sendiri kalau kamu sampai kenapa-napa.” Kakek Nanto juga menyadari Caca yang sudah sadar. Beliau langsung mendekat pada cucu tertuanya itu.
“Caca baik-baik saja, kek. Seharusnya Caca yang minta maaf, karena Caca sudah melakukan hal bodoh.” Caca pun tersadar tindakannya sangat salah.
“Jangan ulangi lagi ya, nak. Kamu masih ada kakek, mama dan yang lainnya. Seberat apapun bebanmu bagikan pada kami.” Tutur kakek Nanto lembut sambil mengelus kepala Caca. Caca pun mengangguk.
Mama Lila tak kuasa menahan haru. “Kalau gitu mama panggil dokter ya.”
Mama Lila kembali ke dalam kamar dengan membawa dokter Mike. Ya, mereka tengah berada di rumah sakit milik sahabat Daniel yang di pimpin oleh Mike.
Mike pun tersenyum pada Caca dan memeriksa kondisi Caca. Lalu ia memberitahukan kondisi Caca pada mama Lila dan kakek Nanto. Setelahnya Daniel keluar dari ruangan itu.
“Dimana Abel dan papa, ma?Kenapa hanya kakek dan mama yang disini?” Tanya Caca.
“Papa sama Abel baru pulang sayang, besok pagi kesini.” Jawab mama Lila berbohong. Tidak mau Caca kembali bersedih jika tau adiknya kecelakaan bahkan belum sadar.
***
Abel masih berada di ruang ICCU. Daniel dan Papa Damar masih setia menunggu gadis itu. Operasi Abel berjalan lancar, hanya tinggal menunggu gadis itu membuka mata. Daniel sendiri nampak berantakan, rambutnya acak-acak an, mata sembab karena menangis serta kemeja yang sangat kusut.
“Maafkan Daniel, paman. Ini semua salah Daniel.” Daniel dan papa Damar duduk di depan ruang operasi. Mereka baru bisa bicara dari hati ke hati.
“Sudahlah nak, semua sudah terjadi. Paman tidak mau menyalahkan siapa pun. Jika ada yang harus di salahkan adalah paman, karena paman yang memaksa Caca menerima perjodohan itu.” Ucap Papa Damar sambil menepuk bahu Daniel.
“Lalu tante Lila dan Caca kemana paman, kenapa mereka tidak datang?” Daniel memang belum tau Caca berusaha bunuh diri.
“Lila di rumah sakit menjaga Caca, dia mencoba bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya.” Ucap papa Damar dengan suara bergetar.
Deg.. Bunuh diri, apa dia terluka karena aku yang ternyata pacar Abel?
__ADS_1
Jika benar yang di pikiran Daniel saat ini, ia akan merasa sangat bersalah, dua wanita terluka karena dirinya. Daniel juga mengingat bagaimana Caca menahan emosi saat Daniel melemparkan kontrak pernikahan padanya.
“Apa Caca melakukan itu semua karena Daniel, paman?” Tanya Daniel hati-hati.
Papa Damar menggeleng dengan yakin. “Tidak, meskipun mengetahui kamu dan Abel pacaran, Caca tidak akan terluka, Caca sangat menyayangi Abel, paman yakin dia juga mendukung hubungan mu dan Abel setelah mengetahui semuanya.” Jawab Papa Damar, ia tau betul sifat putri sulungnya yang selalu mengutamakan keluarga di atas apapun.
“Lalu, kenapa dia mencoba bunuh diri, paman?”
“Itulah, Niel. Paman juga belum tau apa penyebabnya, Caca bahkan belum sadar.” Papa Damar menunduk sesaat tak sadar air matanya menetes.
Dua hari berikutnya, Nabila dan Nita baru tau Abel kecelakaan, kedua sahabat Abel itu langsung datang ke rumah sakit di temani suami masing-masing.
“Loh, itu Abel mau dibawa kemana, mas?” Nabila menyikut lengan suaminya melihat Abel dibawa masuk ke dalam ambulan. Adam pun ikut melihat kemana arah pandangan mata Nabila.
“Daniel..” panggil Adam pada Daniel yang akan masuk ke dalam ambulan. Lelaki itu menoleh ke arah Adam.
Nabila dan Adam berjalan cepat ke arah Daniel.
“Abel mau aku pindahkan ke rumah sakit Raka, sekalian satu tempat dengan Caca dirawat. Kalian baru datang?” Tanya Daniel.
Nabila memberitahu Nita dan Riko yang berjalan di belakang mereka karena Nita tidak bisa berjalan cepat. Mereka lalu menyusul Daniel.
Sampai dirumah sakit kakek Nanto, kakek Han, papa Damar, sudah menunggu kedatangan Abel. Bukan tanpa alasan mereka memindahkan Abel, itu semua permintaan Caca. Ia ingin di rawat dekat dengan Abel.
Nabila dan Nita menghabiskan setengah hari dirumah sakit meskipun Abel belum membuka mata. Mereka mengajak Abel mengobrol dengan harapan Abel bisa segera sadar.
***
Malam harinya Daniel menjaga Abel sendirian. Papa Damar ada urusan pekerjaan diluar kota baru berangkat sore tadi ditemani kakek Nanto. Mama Lila menjaga Caca. Sementara kakek Han pulang ke mansion untuk istirahat.
“Sayang, sudah dua hari kau tidur. Cepatlah bangun, aku Merindukanmu.” Menggenggam tangan Abel dan menciuminya.
“Sayang, ayo lah cepat bangun. Kakek sudah berjanji akan menikahkan kita, apa kau tidak mau menikah denganku??” Lanjut Daniel.
“Sayang, jika kau tidak bangun, aku akan menikahi Caca saja.” Ceplos Daniel.
“Enak aja, nggak boleh, kamu itu miliku. Nggak boleh sama kak Caca.” Lirih Abel mengerjap-ngejar kan matanya.
__ADS_1
Sebenarnya Abel sudah sadar beberapa waktu yang lalu, namun ia tidak mendapati satu orang pun diruangan nya. Saat Abel mendengar pintu dibuka seseorang, ia kembali menutup matanya. Ternyata yang datang adalah Daniel.
“Sayang, kamu sudah bangun?” Daniel terkesiap mendengar suara Abel.
“Aku akan memanggil Mike.” Tanpa menunggu sahutan Abel, Daniel langsung berlari keluar memanggil Mike.
“Halo Abel, apa kau bisa mengenali ku?” Tanya Mike, Abel pun mengangguk. Mike mengecek kondisi Abel.
“Bagaimana?” Tanya Daniel tidak sabaran.
“Semuanya normal.”
“Baguslah.” Daniel duduk lalu membelai lembut rambut Abel. “Kau benar-benar membuatku frustrasi.” Ujarnya lirih.
“Maaf.”
“Tidak sayang, aku yang harusnya minta maaf.”
“Dimana keluargaku?Kenapa kau sendiri, kau sudah tau aku adalah anak bungsu papa Damar, kan?” Tebak Abel dan Daniel mengangguk.
“Lalu kenapa mereka tidak menunggui ku, mama mana?Kak Caca mana?” Cecar Abel.
“Abel kondisi mu masih belum stabil, kau harus banyak-banyak istirahat.” Ucap Mike mengalihkan pembicaraan.
“Baik, dokter.” Jawab Abel lembut.
Mike justru terkekeh. “Hei, kenapa kau seperti itu, tidak perlu formal padaku.” Ucap Mike.
Abel pun tersenyum tipis lalu menoleh Daniel. “Sayang, mama mana?Papa mana?” Abel kembali menanyakan keluarganya.
“Aku akan menghubungi mereka, kau istirahat lah.” Abel mengangguk. Daniel keluar dari kamar Abel menuju ruang rawat Caca. Sementara Mike menemani Abel.
.
.
.
__ADS_1