Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Gosip


__ADS_3

Sang surya mulai menampakkan cahayanya. Sinarnya menerobos masuk melalui celah jendela kaca yang tak tertutup gorden. Menyinari seluruh sudut ruang kamar. Sepasang suami istri masih terlelap dalam tidurnya dengan berpelukan. Seakan enggan untuk bangun. Perlahan keduanya mulai mengerjapkan mata, membuat peregangan pada otot sebelum akhirnya terbangun dengan sempurna.


“Sayang,,!” Sang suami mengecup kening istrinya dengan lembut. Bagi Adam memberikan kecupan saat bangun tidur untuk Nabila adalah wajib.


“Hm.” Balas sang istri dengan malas. Membuka mata pun rasanya masih malas.


“Kuliah jam berapa?” Menarik lengannya yang masih di gunakan untuk bantalan istrinya. Menggantinya dengan bantal. Laki-laki itu duduk bersandar pada punggung ranjang.


Merasakan batalnya berubah. Nabila mendongak melihat suaminya menarik lengannya dan menggantinya dengan bantal. “Kuliah siang.” Ucapnya santai. Ia memilih bangun dan turun dari ranjang. Tanpa malu dengan tubuh polosnya perempuan itu melangkah menuju kamar mandi.


“Tunggu, Sayang!” Turun dari ranjang menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi.


“Ngapain mas ngikutin Bila?” Tanya Nabila melihat Adam yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Nabila baru saja mengisi bath up dengan air hangat. Perempuan itu ingin berendam sebelum mandi.


“Mau ikut kamu mandi, lah. Sekalian minta tolong gosokkan punggung mas.” Ucapnya dengan nyengir.


“Hilih manja, ntar sore aja ya gosok punggungnya. Bila kan mau berendam, nggak sempet waktunya. Ntar mas telat kerjanya.” Mengingatkan suaminya jika sudah siang. Tidak akan sempat untuk mandi berlama-lama. Karna keduanya sudah bangun kesiangan.


“Hm.. Baiklah.” Balas Adam kecewa. Laki-laki itu menghidupkan shower dan berdiri di bawahnya. Seluruh tubuhnya kini basah oleh guyuran air dari shower.


Sementara Nabila, perempuan itu dengan tenangnya berendam di bath up.


***


Mama Silfi dan ibu Putri seperti biasnya sudah bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan sarapan. Selama mama Silfi dan ibu Putri di Jakarta menu makan sarapan sampai makan malam akan dimasak sendiri oleh kedua perempuan paruh baya itu. Mereka sengaja memanjakan Nabila dengan menuruti semua keinginan Nabila soal makanan. Tiap hari ada saja permintaan Nabila. Yang minta di masakin ini lah, itu lah.


Pagi ini menu sarapan untuk Yoga dan Nabila adalah nasi goreng plus telur mata sapi. Untuk Adam menu sehat roti dan telur mata sapi. Minumnya air putih saja untuk Adam. Nabila minum susu ibu hamil. Untuk Yoga lebih suka teh manis. Untuk ibu putri teh pahit dan untuk mama Silfi air putih seperti Adam.


“Mas!!!” Teriak Nabila dari lantai dua. Perempuan itu meneriaki suaminya yang sudah sampai di lantai satu.


‘Apa lagi?’ Batin Adam.

__ADS_1


“Iya sayang.” Menoleh pada istrinya yang sedang berjalan menuruni tangga. Laki-laki itu membalik tubuhnya berjalan menghampiri istrinya.


“Mas kan udah bilang pakai lift saja, perut kamu udah makin besar, Bil!” Melihat Nabila jalan dengan hati-hati. Ia pun meraih tangan Nabila dan menggandengnya.


“Nggak enak kalau naik lift sendirian, yang lain juga pakai tangga.”


“Mau ke ruang makan?Aku anterin tapi mas nggak ikut sarapan ya?!” Melangkah menuju ruang makan seraya menggandeng Nabila.


“Kenapa nggak sarapan?”


“Mas udah telat banged, sayang. Kamu sarapan sama mama dan ibuk saja. Gak papa kan?” Nabila mengangguk.


Setelah mengantar Nabila sampai ke ruang makan, Adam pamit pada istrinya dan kedua ibu untuk bekerja. Tak lupa ia mencium kening istrinya. Agar lebih sangat bekerja.


***


Kampus Nabila..


Nabila dan Abel berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas mereka. Mereka hanya berdua tanpa Nita. Karna, Nita sudah ambil cuti menikah. 2 hari lagi pesta pernikahan Nita dan Riko akan digelar.


“Kalian tau nggak Nita tu hamil duluan!” Ucap Jenny di depan kelas. Padahal kelas sudah penuh dengan mahasiswi dan mahasiswa karna sebentar lagi jam kuliah akan dimulai.


“Masa sih Jen?” Tanya salah seorang teman tidak percaya.


“Serius!Gue lihat dia beberapa hari yang lalu di rumah sakit. Dia lagi periksa di bagian obygn.” Meraih ponselnya yang berada di dalam tas. Membuka isi galeri nya dan memperlihatkan foto Nita sedang keluar dari polo obgyn. Beberapa dari teman perempuan maju mendekati Jenny untuk memastikan keaslian foto.


“Gilak, ini beneran Nita.” Salah satu perempuan mengamati foto yang ada di ponsel Jenny.


“Kalian pasti nggak akan nyangka, kan?Gue aja awalnya nggak percaya, tapi ini udah ada buktinya. Emang ya perempuan yang kalem itu lebih berbahaya.” Semangat sekali Jenny membicarakan tentang Nita. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Nabila dan Abel yang sudah berdiri di pintu sejak tadi.


“Apa mungkin dia cuman sok kalem tapi aslinya ...” salah satu teman yang ingin menjelek-jelek an Nita tidak berani melanjutkan ucapannya saat melihat Nabila sedang menatapnya tajam. Ia takut pada Nabila karna semua orang tau Adam salah satu donatur di kampus mereka.

__ADS_1


“Aslinya apa?” Tanya Jenny tidak sabaran. “Aslinya jal*ng kan?” Lanjut Jenny dengan terkekeh.


Tidak ada yang menyahuti Jenny lagi. Teman-teman yang lain sudah menyadari kehadiran Nabila dan Abel.


“Heh kok kalian diem sih?” Jengkel tidak ada yang menyahutinya.


“Yang lain mendadak bisu, Jen.” Ucap Abel berjalan mendekati Jenny.


“A..Abel.” Jenny tergagap melihat Abel mendekatinya.


“Kalau enggak mungkin gagu, iya kan Bil?” Menoleh pada Nabila yang berjalan dibelakangnya. Nabila mengangguk dengan santai lalu melewati Jenny untuk duduk di kursinya.


“Jangan hiraukan aku, lanjutkan pembicaraan kalian.” Ujar Nabila, perempuan itu membuka tasnya dan mengambil buku mata kuliah hari ini. Ia pun membuka buku dan membacanya.


“Monggo dilanjut, mbak Jenny.” Melirik Jenny tajam lalu melewatinya berjalan mendekati Nabila. Abel duduk di sebelah Nabila.


“Kok diem, Jen?Udah selesai?” Tanya Abel.


“Gu..gue ke kamar mandi dulu, Bel. Mules.” Jenny terburu-buru meninggalak ruang kelasnya. Entah benar-benar sakit perut atau hanya alasanya untuk menghindari Abel.


“Bil, lo tau nggak calon suaminya Nita pengusaha kaya raya?” Meninggikan suaranya agar seluruh penghuni kelas bisa mendengar ucapan Abel.


“Tau, dia pemilik Wijaya corp kan?Mas Adam yang bilang, soalnya kan sahabatnya mas Adam.” Jawab Nabila tak kalah kerasnya dengan suara Abel.


“Nah itu lo tau, Bil. Dan, gue denger calon suaminya Nita tu paling nggak suka ada orang yang ngomong in tentang dia ataupun keluarganya. Bahkan ya Bil pernah ada satu kelas di keluarkan karna mereka mengusik mas Riko saat SMA. Gilak, serem kan, Bil?Gue nggak bisa bayangin aja kalau gue sampai bikin salah sama Nita.” Ujar Abel sengaja mengarang cerita. Tujuannya agar teman sekelasnya takut dan tidak sembarang membicarakan tentang Nita.


“Itu kan cerita lama, Bel. Mas Adam udah cerita. Ada yang lebih parah Bel. Mas Riko melaporkan temannya dengan tuduhan pencemaran nama baik karna temannya mengatai mas Riko yang enggak-enggak. Alhasil temannya masuk penjara dong.” Kali ini Nabila yang mengarah cerita. Perempuan itu sudah ketularan Abel.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2