Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Kantor polisi


__ADS_3

Drttt.. Ponsel Adam berdering. Ada whatshap dari Yoga. Adam mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja lalu membaca pesan dari Yoga.


Isi whatshap Yoga.


📲 Mas, aku di kantor polisi. Tolong jemput aku (emot memelas).


Adam melirik Nabila yang sedang fokus menonton drama Korea. Lalu beralih menatap ponselnya kembali dan mengirim balasan pada Yoga.


Isi balasan pesan dari Adam.


📲 Oke.. memang kamu ngapain sampai berakhir di kantor polisi?Kalau berantem awas aja sampai nggak memang.


“Sayang?” Panggil Adam. Setelah meletakan kembali ponselnya di meja.


“Hhm.” Nabila menyahuti panggilan Adam tanpa menoleh pada suaminya. Perempuan itu masih fokus pada drakor.


“Yoga di kantor polisi, aku harus kesana menjemputnya.” Nabila langsung mempause drakor yang ia tonton lalu menoleh pada Adam. “Ngapain dia dikantor polisi?” Tanya Nabila.


“Entahlah, mungkin silahturahmi sama pak polisi.” Jawab Adam datar.


“Hiss, aku serius nanya mas.” Nabila menepuk bahu suaminya, tidak terlalu keras tapi cukup untuk membuat Adam berakting. “Sayang, nggak boleh KDRT sama suami. Dosa lho, Bil.” Tutur Adam berakting dengan memegangi bahunya yang tadi di tepuk Adam.


Nabila mengelus bahu Adam. Merasa tidak enak setelah melakukan KDRT. “Maaf, aku kan ngga sengaja.” Ucapnya lirih.


“Hahaha, bercanda sayangku.” Adam mencubit pipi Nabila gemas. “Lagian tepukan tangan kecil mu itu nggak ngefek sama sekali di bahuku hih.” Kembali mencubit kedua pipi Nabila.


Ponsel Adam kembali berdering, kali ini panggilan masuk dari pak Kapolres. Adam melepaskan jari jemarinya dari pipi Nabila, lalu mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.


“Siapa?” Tanya Nabila setelah Adam selesai menerima panggilan telepon.


“Dari pak Kapolres. Sepertinya Yoga mengaku kalau dia adikku.” Jawab Adam.


“Sepertinya masalah Yoga berat, mas.” Nabila khawatir, apalagi sampai Adam mendapat telepon langsung dari kantor polisi.


“Aku akan menghubungi pengacara, kita ke kantor polisi sekarang.” Ajak Adam bergegas. Mereka kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Karna tadi sudah mengenakan piyama tidur.

__ADS_1


***


Adam sampai di kantor polisi. Disana pengacara Adam sudah datang lebih dulu. Daniel adalah pengacara Adam. Biasanya Adam hanya meminta salah satu pengacara dari Firma hukum Daniel. Tapi, karena ini menyangkut keluarga Adam meminta Daniel langsung yang turun tangan. (Jika kalian membaca bekas istri yang kaya pasti tau Daniel. Dia adalah orang kepercayaan Raka).


Daniel menunggu Adam di ruang tunggu. Laki-laki itu langsung berdiri saat melihat sosok Adam menghampirinya.


“Bagaiamana?Sorry lama, gue nggak bisa ngebut, istri sedang hamil.” Adam langsung bertanya pada Daniel.


“Adikmu merusak mobil temannya, dia menabrak mobil temannya sampai rusak tak berbentuk.” Ujar Daniel terkekeh. Bukan khawatir bagaimana jika Yoga di tuntut, Daniel malah tertawa saat menceritakan ulah Yoga.


“Sayang, duduklah dulu.” Tutur Adam saat melihat Nabila memijat pelipisnya. Perempuan itu terlihat shock dengan apa yang di lakukan adik angkatnya. Adam memapah Nabila untuk duduk di sofa. Kemudian Adam dan Daniel ikut duduk.


“Apa yang mereka inginkan?” Tanya Adam. Laki-laki itu sangat yakin pasti si pemilik mobil yang sudah di hancurkan Yoga meminta ganti rugi.


“Ganri rugi 1 milyar.” Jawab Daniel. “Jika tidak, mereka tidak mau damai. Mereka mau Yoga masuk penjara.” Daniel mengatakan apa yang diminta dari pihak korban. Sebelum Adam sampai, Daniel sudah lebih dulu bernegosiasi dengan orang tua korban yang mobilnya di hancurkan Yoga.


Nabila menyentuh tangan Adam dengan tatapan sendu. “Berikan saja ya mas, kasian Yoga. Dia pasti ketakutan disana.” Bujuk Nabila.


Adam mengusap lembut kepala Nabila. “Kamu tenang dulu, Bil. Aku perlu ketemu Yoga. Anak itu tidak mungkin berulah tanpa ada sebab.” Ujar Adam.


“Betul.” Timpa Daniel.


Daniel mengangguk. “Aku akan minta izin dulu.” Daniel bangkit dari duduknya, laki-laki itu menghampiri pak polisi yang bertugas untuk meminta izin bertemu Yoga.


“Pokoknya aku nggak mau tau Yoga harus bisa pulang bareng kita malam ini!” Tegas Nabila.


“Iyaa.. iya.”


Tak selang beberapa menit Daniel memberi isyarat pada Nabila dan Adam agar mendekat padanya. Daniel mengajak Nabila untuk menemui Yoga.


“Ya ampun. Kamu kenapa le?Wajahmu kok bisa babak belur begini?” Tanya Nabila pada Yoga. Wajah Yoga banyak lebam, bahkan sudut bibirnya terluka.


Yoga menunduk. Merasa tidak enak karena berbuat ulah. “Maaf mbak.” Katanya pelan.


“Menang apa kalah?” Tanya Adam.

__ADS_1


“Menang.” Jawab Yoga.


Adam menepuk bahu yoga lembut. “Bagus!!” Kata Adam. “Tidak masalah, aku akan mengeluarkan mu. Jangan bersedih.” Ucap Adam menangkan. Sebenarnya Yoga tidak sedih, lebih ke merasa bersalah pada Nabila.


“Iya mas Adam pasti bisa mengeluarkan mu dari sini, kamu tenang saja.” Sahut Nabila. Nabila lanjut bertanya apa yang menjadi penyebab Yoga menabrak mobil temannya. “Memang apa yang terjadi?”


Yoga tidak menjawab pertanyaan Nabila. Remaja laki-laki itu hanya menunduk dan diam. “Maaf, mbak.”


Nabila menghela nafasnya. “Hm sudahlah, tidak papa.”


Adam juga tidak mau memaksa Yoga untuk berbicara. “Sayang, kamu tunggu disini dulu. Aku dan Daniel akan mengurus masalah Yoga.” Adam meminta Nabila untuk menunggu di ruang ruang tunggu setelah mereka menemui Yoga dan tidak mendapatkan jawaban dari Yoga.


10 menit kemudian Adam dan Daniel beserta Yoga menghampiri Nabila yang ketiduran di sofa. Yoga jadi tambah merasa bersalah melihat kakak perempuan ya terlihat lelah.


“Terimakasih, Daniel. Lain kali aku akan mentraktir mu.” Ujar Adam pada Daniel. Adam menjabat tangan Daniel.


“Santai aja Bro, yang penting masalah adek lo udah kelar. Gue cabut duluan.” Pamit Daniel.


“Terimakasih kak.” Ucap Yoga sopan pada Daniel.


“Sama-sama Ga.” Daniel menepuk bahu Yoga. Laki-laki itu pun meninggalkan kantor polisi.


Adam menyerahkan kunci mobilnya pada Yoga. “Aku mau gendong mbakmu.” Ucap Adam. Yoga mengangguk menerima kunci mobil Adam. Ia berjalan mengikuti Adam. Sampai di parkiran Yoga langsung membukakan pintu untuk Adam. Adam duduk di kursi belakangan karna pahanya di pakai untuk bantalan Nabila. Perempuan itu tertidur pulas.


“Kamu yakin nggak mau ngomong, Ga?” Tanya Adam sambil mengelus elus kepala Nabila. Yoga melirik sekilas dari kaca depan melihat Nabila masih tidur pulas. “Mereka menghinaku mas, mereka bilang aku dan teman-teman ku tidak layak bermain futsalan di tempat itu.” Ujar Yoga menceritakan.


“Oh, terus?”


“Aku kesana hanya pakai motor saling berboncengan dengan teman-temanku. Mobilku aku tinggal di rumah Radit. Si Doni sama teman-temannya pamer karena mereka membawa mobil semua. Mas ingat Doni kan, teman sekelasku waktu di Jogja. Entah kenapa dia pindah di sekolah dan kita malah ketemu di tempat futsalan.” Ujar Yoga menceritakan. Doni adalah teman Yoga saat di Jogja, dia juga musuh Yoga. Mereka tidak pernah akur saat di Jogja.


“Tadi dia menghina temanku, dia menghina Radit. Si Doni itu berselingkuh sama pacarnya Radit, dia memandang sebelah mata Radit yang berasal dari orang kurang mampu. Mantan pacarnya Radit mau sama Doni karene dia punya mobil. Terus Doni pamer dengan mobilnya terus terusan menghina Radit. Aku jadi emosi, jadi, aku ambil mobilku dan ku hancurkan mobilnya biar dia tidak bisa pamer lagi.” Lanjut Yoga.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2