
Hari berikutnya, Adam sudah mulai masuk kerja. Sementara Nabila yang libur semester masih sibuk dengan rutinitasnya sehari-hari rebahan, makan, rebahan dan makan.
Karna merasa bosan, Nabila mengirim pesan pada Abel agar Abel main ke rumahnya. Satu jam kemudian mobil Abel terlihat memasuki area rumah Nabila.
Perempuan itu langsung gas ke rumah Nabila setelah mendapat undangan berkunjung.
“Pagi pak soleh.” Abel memamerkan senyum manisnya di pagi hari untuk menyapa pak soleh yang merupakan tukang kebun Adam.
“Pagi non, yah telat non, Tuan Adam sama non Bila sudah sarapan, non Abel jadinya sarapan sendiri.” Ujar pak soleh.
Pak Soleh maupun yang lainnya tau Abel sering numpang sarapan di rumah Nabila.
“Saya sudah sarapan kok pak,” ucap Abel melewati pak Soleh. Namun, ia terhenti karna melihat bunga asing menurutnya, ini pertama kalinya Abel melihat bunga itu.
“Pak ini Bugenfil, kan?” Tanya Abel menunjuk bunga itu.
“Kok warnanya putih sama pink, bisa ya dua warna gitu?”
“Itu bunga campur sari, non. Saolanya dua warna, kalau satu warna jadinya bugenfil.”Jawab pak Soleh menjelaskan. Abel pun manggut-manggut.
Lalu perempuan itu masuk ke rumah Nabila. Ia melihat Bi Ijah sedang membersihkan ruang tamu.
“Bila nya ada Bi?” Tanya Abel.
“Ada non, di taman belakang non.” Jawab Bi Ijah.
Abel pun mengusul Nabila pergi ke taman belakang.
“Bill!” Panggilnya pada Nabila.
Orang yang baru saja di panggil pun menoleh.
“Udah sampai?Sarapan belum, kalau belum sarapan dulu terus kita ngemall yuk!”
“Gue udah sarapan. Nge Mall jam segini belum buka sayang.” Abel geleng-geleng kepala. Baru juga jam delapan pagi mana ada Mall yang sudah buka.
“Maksudku Mall tradisional aja.” Ucap Nabila.
“Hem, ngomong dong dari tadi. Gegayaan pake Mall segala ujung-ujung nya ngajak ke pasar.” Abel menghela nafas kasar. Sementara Nabila terkekeh.
__ADS_1
“Pengen beli jamu, Bel.”
“Ya udah ganti baju gih, kita berangkat sekarang.”
“Oke.” Ucap Nabila senang. Ia berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
***
Abel mengemudikan mobilnya menuju pasar yang terletak tidak jauh dari rumah Nabila. Ia pun memarkir mobilnya dengan rapi di parkiran. Setelahnya Abel dan Nabila masuk ke arena pasar tak lupa mereka memakai masker agar bisa tahan dangan bau-bau yang ada di pasar, seperti bau keringat orang-orang yang berseliringan dengan mereka maupun bau ikan atau pun daging.
Nabila mengajak Abel langsung menuju penjual jamu. Ia hanya beli jamu yang bagus untuk ibu hamil, juga jamu beras kencur kesukaan Abel.
Setelahnya Nabila dan Abel beralih ke jajanan pasar. Ia membeli beberapa jajanan pasar, seperti lapis, kue mochi, bika Ambon dan beberapa jajanan pasar yang lain.
“Habis ini beli bakso, gue laper.” Ujar Abel tiba-tiba. Tadi aja bilang udah sarapan sekarang sudah lapar lagi, padahal belum juga jam sepuluh pagi.
“Bakso langganan kita belum buka jam segini, Bel.” Sahut Nabila. Nabila tidak mau jika makan bakso di tempat yang bukan langganan mereka.
“Iya sih, kalau gitu makan apa dong?” Abel menopang dagunya dengan satu jari telunjuknya.
Abel dan Nabila mempunyai selera sama dalam hal makanan. Kedua perumpunan itu tidak pilih-pilih jika soal makanan namun rasanya harus pas dengan lidah mereka, dan harus pedas. Mereka berdua penggila pedas, awalnya Abel tidak terlalu menyukai makanan pedas, semenjak berteman dengan Nabila lah dirinya menyukai makanan pedas.
“Kita makan lotek aja gimana?Aku lagi pengen makan yang berbau sambal kacang.” Ujar Abel memberi saran.
“Setuju, tapi kita muter-muter ke pasar dulu ya!Nanti setelah makan kamu temani aku ke kantor mas Adam.” Nabila berniat mengirim jajanan pasar untuk suaminya. Jarang-jarang, kan, Adam makan jajanan pasar. Lelaki itu pasti senang Nabila mengiriminya jajanan pasar.
“Oke deh.”
Setelah dari pasar Abel dan Nabila pergi ke warteg dekat apartemen Nabila. Mereka makan lotek di tempat itu. Nabila sudah akrab dengan pemilik warteg itu. Dulu saat masih tinggal sendiri Nabila sering makan disana. Ia juga beberapa kali mengajak Abel dan Nita ke tempat itu.
“Mau bungkusin buat mas Adam sekalian nggak?” Tanya Abel. Nabila menggeleng.
“Nggak, mas Adam nggak begitu suka pedes. Kita kirim jajanan pasar aja.” Jawabnya. Abel pun memgangguk.
***
Sampai di gedung menjulang tingga milik suamimu itu Nabila langsung menuju ke ruangan Adam yang berada di lantai atas. Abel setia mengikuti Nabila. Saat ini Adam sedang berada di perushaaan finansial miliknya bukan di Hanggara Group.
“Siang mbak, apa pak Adam ada?” Tanyanya pada sekertaris suaminya.
__ADS_1
“Ada, Bu. Tapi beliau sedang bersama tamu, Bu.” Jawab sekertaris Adam sopan.
“Oh, tolong sampaikan pada pak Adam kedatangan saya ya mbak.”
Nabila tidak mau masuk ke ruangan Adam begitu saja. Setidaknya ia harus meminta persetujuan dari suaminya dulu. Ia merasa tidak enak karna Adam sedang bersama tamu. Jika Adam sendirian pasti Nabila langsung menerobos masuk ke dalam kantor Adam.
Nabila juga sengaja memanggil suaminya pak di depan karyawan saat dirinya berada di perusahaan Adam. Yah, dia ingin lebih menghormati suaminya. Nabila berharap karyawannya juga menghormati Adam.
“Baik, bu.” Sekertaris Adam langsung menghubungi Adam dengan telepon internal perusahaan.
***
Di dalam ruang kantornya Adam sedang kedatangan tamu yang tidak lain adalah Daniel. Daniel sengaja datang ke kantor Adam untuk mengurus masalahnya dengan tuan Kris. Tuan Kris ingin membatalkan kerjasamanya dengan Adam setelah tau Adam menyerang perusahaan keponakannya.
“Biarkan masuk.” Ucap Adam pada sekertarisnya.
Setelah menjawab sekertarisnya Adam kembali duduk di sofa, ia melanjutkan pembicaraannya dengan Daniel yang sempat tertunda karena mendapat telepon dari sekertarisnya.
“Maaf, istriku datang.” Ucap Adam pada Daniel.
“Tidak masalah, lagi pula dia istrimu bukan orang lain.” Balas Daniel.
Ceklek pintu ruangan terbuka Nabila masuk kedalam ruangan Adam bersama Abel yang berjalan di belanganya. Adam dan Daniel pun menoleh ke arah pintu setelah mendengar suara pintu terbuka.
Nabila tersenyum melihat suaminya dan menunduk singkat menyapa Daniel dengan sopan.
“Bil, habis ini temenin gue ke Mall Yah. Akbar lagi di Jakarta dia ngajak jalan.” Ucap Abel tanpa menatap Nabila.
Ia sejak tadi fokus chatingan dengan Akbar mantan SMA nya yang juga salah satu sahabat baik Abel saat SMA. Ia juga tidak mendengar saat sekertaris Adam mengatakan jika Adam sendang bersama tamu.
Tanpa ada yang tau Daniel menatap Abel tajam setelah mendengar wanita itu menyebut nama seorang lelaki dan mengatakan akan jalan dengan lelaki itu. Entah mengapa Daniel merasa kesal mendengarnya.
“Bel, kita udah di dalam kantor mas Adam.” Bisik Nabila sambil mencubit pelan lengan Abel. Ia malu karna Abel sejak tadi mengoceh tentang akbar.
Abel pun mengangkat kepalanya dan menatap depan.
What the hell. Batin nya saat melihat Adam sedang bersama Daniel. Ia merasa malu pada Daniel. Ia mengira Adam hanya sendirian. Ia tidak malu kalau hanya Adam yang mendengarnya mengoceh..
.
__ADS_1
.
.