
Adam membawa Jordan ke ruang meeting. Jordan sangat senang, apalagi Adam menggandeng Jordan sepanjang jalan menuju ruang meeting.
Sampai diruang meeting Adam melihat kliennya sudah berada diruangan itu.
“Maaf membuat anda menunggu lama, Tuan Raka.” Adam menjabat tangan kliennya yang bernama Raka.
“Saya juga baru saja sampai, Tuan Adam.” Keduanya saling bersalaman.
Raka melirik melirik bocah kecil di sebelah Adam. “Putra anda?” Tanya Raka penasaran. Yang Raka tau Adam belum memiliki putra, istrinya saja masih hamil.
“Oh bukan, ini anak sahabat istri saya. Mommy nya baru ada urusan kerjaan di Shanghai, jadi dia dititipkan pada kami.” Jawab Raka.
Adam bisa melihat tatapan tidak biasa Raka pada Jordan. “Jordan kenalan dulu sama rekan bisnis uncle.”
“Hallo uncle.” Jordan meraih tangan Raka dan mencium punggung tangan Raka.
‘First time, akhirnya bertemu Daddy.’ Batin Jordan.
Raka pun berjongkok agar sejajar dengan Jordan. “Halo Jordan, panggil saja uncle Raka.” Ucap Raka dengan lembut.
Setelah saling berkenalan Adam mengajak Raka untuk memulai rapatnya. Adam mendengarkan dengan seksama penjelasan dari tim Pratama Group seraya memangku Jordan.
Jordan terlihat anteng di pangkuan Adam. Bocah kecil itu sesekali melirik Raka. Raka bisa mengetahui lirikan dari Jordan dengan mudah, tapi Raka memilih berpura-pura tidak tau. Raka malah senang melihat tingkah Jordan yang curi-curi pandang padanya.
Rapat dengan Pratama Group memakan waktu yang cukup lama, hampir 5 jam baru selesai. Adam pun memutuskan untuk malan malam bersama kliennya.
Dengan menggendong Jordan, Adam kembali ke ruangnya menjemput Nabila dan Jessi. Lalu mereka menuju restoran tempat makam malam bersama tim Raka. Adam mereservasi 2 ruangan di restoran. 1 di gunakan untuk karyawannya dan tim dari Pratama Group dan satu ruangan khusus untuk dirinya dan Presdir Pratama Group yaitu Raka.
Adam masuk ke ruangan yang sudah ia reservasi dengan menggendong Jordan, sementara Nabila menggendong Jessi. Mereka sudah seperti sepasang keluarga. Sebelum berangkat ke restoran Adam dan Nabila harus memandikan Jordan dan Jessi. Bisa dilihat dari pakaian Jordan yang sudah ganti baju.
“Lah dimana rekan bisnismu, mas?” Tanya Nabila melihat ruangan yang di pesan suaminya masih kosong.
“Entahlah, Bil. Seharusnya susah disini.” Jawab Adam.
Adam menurunkan Jordan dari gendongannya, begitu juga Nabila menurunkan Jessi dari gendongannya. Kedua bocah itu langsung duduk di kursi. Jordan mengambil kursi yang dekat dengan Adam, dan Jessi duduk di dekat Nabila.
Raka memasuki ruangan di ikuti Leo. Raka dibuat terbelalak begitu melihat Jessi, Raka merasa Jessi sangat mirip dengan seseorang.
Acara makan malam berjalan lancar, setelah berpamitan pada rekan bisnisnya Adam dan Nabila pun memutuskan pulang kerumah.
__ADS_1
“Mas kita ke rumah mbak Ayu dulu, mengantar Jordan dan Jessi.” Ucap Nabila.
“Lah bukannya Ayu baru kembali lusa?” Tanya Adam.
“Iya, tapi yangti sama yangkung mereka ke Jakarta. Jadi, Jordan dan Jessi akan pulang.” Nabila mengelus elus rambut Jessi yang tidur di pangkuannya itu.
“Baiklah.”
Pun, Adam mengemudikan mobilnya menuju rumah Ayu. Sesampainya disana, Adam dan Nabila sudah di sambut yangti. Mereka mengobrol sebentar dengan yangti dan yangkung nya Jordan.
“Terimakasih nak Adam sama nak Nabila, sudah mau direpotkan untuk mengurus si kembar.” Ucap yangti.
“Sama-sama yangti, saya sama mas Adam justru merasa senang si kembar menginap. Rumah kami jadi ramai.” Balas Nabila. Melihat kedua orang tua Ayu mengingatkan Nabila pada orang tuanya. Sudah lama Nabila tidak pulang ke Jogja.
Setelah berpamitan pada yangti dan yangkung, Adam dan Nabila pun melanjutkan perjalanan pulang.
“Mas, Jordan mirip sekali sama rekan bisnismu tadi.”
“Aku juga berfikir seperti itu, Bil.” Sudah lama Adam berfikir Jordan dan Raka sangat mirip.
“Apa dia Daddy nya Jordan ya, mas?”
Sampai dirumah Nabila dan Adam langsung membersihkan diri. Mereka mandi bersama karena Adam sudah merengek minta mandi bersama sejak perjalanan pulang.
“Mas kamu tuh manja banged tau nggak?” Nabila mengusap rambut Adam yang basah dengan handuk.
“Emang nggak boleh, Bil?” Balas Adam.
Sambil mengeringkan rambut Adam, Nabila memijat lembut kepala Adam. “Boleh sih, asal nggak keseringan.”
Adam meraih tangan kanan Nabila dan mencium punggung tangan istrinya.. Cup cup cup. “Malam ini begadang yuk, Bil. Kangen.” Ucap Adam dengan nyengir.
“Hm.. Jangan begadang, besuk aku ada kuliah pagi mas.” Nabila bangkit berdiri dan menaruh handuk yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut Adam di keranjang pakaian kotor.
“Yah..” ucap Adam lesu. Adam kecewa tidak bisa begadang. Padahal dia sudah puasa beberapa hari karena ada si kembar.
Nabila tersenyum melihat suaminya yang manja itu. Ia pun mendekati suaminya yang duduk di tepi ranjang dengan lesu.
Nabila langsung duduk di pangkuan Adam dengan genitnya. Nabila menangkup kedua pipi Adam dan cup.. ia mengecup sekilas bibir Adam.
__ADS_1
“Sayang..” Adam memeluk Nabila ada di pangkuannya. Ia mulai menciumi tengkuk leher Nabila dengan lembut.
“Wangi banget kamu, Bil.” Adam mengendus wangi tubuh Nabila.
“Mas jangan.” Nabila menghentikan Adam yang sedang mengh*sap leh*rnya.
“Kenapa sayang?” Tanya Adam menghentikan aktivitasnya.
“Nanti ada bekasnya, di sini aja jangan di leher.” Nabila menujuk bagian dadanya.
“Tapi aku lebih suka disini, Bil.” Adam menujuk bagian tengkuk leher Nabila. “Biar orang tau kamu sudah ada yang punya.” Ucap Adam jujur. Adam seringkali membuat tanda kepemilikan di leher Nabila.
“Mas Adamku sayang, semua orang juga tau kalau Nabila udah ada yang punya, mas lupa ini?” Nabila menunjuk perutnya yang sudah tidak rata tapi belum terlalu buncit.
“Hehe aku lupa sayang.” Jawab Adam kembali menciumi Nabila. Adam mengecup seluruh bagian wajah Nabila.
“Mas aku tu bukannya nggak suka mas buat kissmark di leher, tapi dilihat orang kan enggak pas gitu loh. Kaya risih aku jadinya.” Ucap Nabila jujur.
“Iyaa sayangku, nggak lagi buat di leher.” Jawab Adam lembut seraya mengecup bibir Nabila. “Tapi disini aja hehe.” Adam beralih pada bagian dada Nabila. Buah sintal milik Nabila selalu menjadi bagian favorite Adam. Adam akan berlama-lama bermain disana.
“Ah .. Mas pelan dong.” Kata Nabila mengingatkan Adam yang sudah rakus bermain di bagian dadanya.
“MA-maaf sayang, habisnya ngga bisa dikontrol ini bibir.” Sebentar Adam menghentikan aksinya dan menatap Nabila seraya mengerucutkan bibirnya.
“Be gentle, Mas.”
“Oke sayang.” Adam memulai kembali aksinya yang sempat terhenti. Kali ini dia lebih lembut.
Setelah selesai menjalankan ritual suami istri, Nabila pun tertidur di pelukan Adam.
‘Mimpi indah istriku.” Kecupan manis mendarat di kening Nabila.
Setelahnya Adam memejamkan mata dan menyusul Nabila ke alam mimpi.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Guys gabung ke grup chat yuk..