Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Murahan


__ADS_3

Hola hola, kita sudah memasuki musim kedua ya guys. Di musim kedua ini akan lebih banyak kisah Abel dan Daniel. Tapi, kalian jangan sedih untuk Nabila dan Adam akan tetap ada kok di musim kedua ini. Nyempil-nyempil di cerita Abel dan Daniel.


Oke, segini dulu yah cuap cuap dari author . Selamat membaca 🙃


Peluk jauh dari ku 😌


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Daniel memaksa Abel untuk di periksa karena melihat keadaan Abel yang pucat. Ia pun membawa Abel ke ruangan Mike, dan meminta sahabatnya itu untuk memeriksa Abel.


“Gimana?”


“Cuman kecapekan aja, Bro.” Jawab Mike.


“Tuh, kan, aku juga udah bilang cuma capek aja, cuma butuh istirahat.” Abel menimpali.


“Iya..iya, sekarang aku antar kamu pulang.” Daniel yang semula di dekat Mike pun menghampiri Abel. Di genggamnya lengan Abel keluar dari ruangan Mike.


“Terimakasih dokter Mike.” Ucap Abel sebelum keluar ruangan Mike.


Setelah berpamitan pada Nabila dan keluarganya Daniel dan Abel pun meninggalkan rumah sakit.


“Kamu mau pulang kemana?” Tanya Daniel.


Abel sendiri bingung harus pulang ke mana. Di rumah ia selalu sendirian, di apartemen nya juga sendirian. Ia sudah seperti anak yang terabaikan, papa dan mamanya sibuk dengan pekerjaan di luar negeri. Kakaknya setelah bertunangan tinggal di apartemennya sendiri.


“Bel?” Panggil Daniel yang melihat Abel melamun.


“Apartemen aja.”


Setelah tiga puluh menit mereka sampai di apartemen Abel.


“Nggak usah pulang.” Ucap Abel menahan lengan Daniel.


“Maksud kamu?” Daniel tercengang dengan ucapan Abel.


“Nginep aja, aku nggak mau sendiri.”


Lagi-lagi Daniel tercengang dengan ucapan Abel.


“Bel, kamu sadar nggak sama ucapan kamu?Saya mana bisa nginep di apartemen kamu?Saya juga laki-laki normal, Bel!” Tukas Daniel.


“Memang kenapa kalau laki-laki normal, Kevin juga sering nginep disini, Akbar juga.” Lanjut Abel blak-blak an.


Ya, Kevin dan Akbar sering menginap di apartemen Abel saat mereka kemalaman nonton balap mobil, tidak hanya Kevin dan Akbar, tapi Yoga juga sering bersama ketiganya. Mereka akan tidur di kamar tamu bertiga atau salah satu tidur di sofa, sementara Abel tidur di kamarnya sendiri.


Bukan tanpa alasan mereka memilih menginap di apartemen Abel, karna apartemen Abel lebih dekat dengan jarak tempat balap mobil biasa dilangsungkan.


Namun, sepertinya Daniel menangkap ucapan Abel dengan artian yang berbeda. Lelaki itu nampak emosi dan memandang Abel dengan remeh.


“Jadi, kamu sering tidur dengan laki-laki di dalam apartemen yang sama?” Pertanyaan Daniel terdengar ambigu. Abel hanya mengangguk polos.


“Murahan..” ketus Daniel menepis tangan Abel lalu meninggalkan Abel begitu saja.

__ADS_1


“Murahan?Aku?” Tunjuk Abel pada dirinya sendiri setelah menyadari Daniel sudah pergi dari hadapanya bahkan punggungnya saja tidak terlihat.


Tidak mau ambil pusing ucapan Daniel, Abel menekan kode sandi apartemen nya lalu masuk kedalam. Di rebahkannya dirinya di sofa panjang.


Dia kenapa sih? Batin Abel.


Abel memang tidur dengan laki-laki dalam apartemen yang sama. Namun kamar berbeda. Daniel mungkin lupa jika di dalam apartemen itu ada banyak ruangan, contohnya kamar tidur tidak hanya satu.


Terbakar api cemburu menjual Daniel tidak bisa berpikir waras dan menilai Abel dengan salah. Padahal Abel tidak seperti yang Daniel pikirkan.


***


Club Wu bai..


Daniel terlihat kacau, baru saja ia mendapat kesempatan mengetahui Abel tidak memiliki pacar namun sudah di buat kecewa lagi. Kali ini Daniel kecewa dengan apa yang Abel lakukan. Laki-laki itu mengira Abel sering tidur bersama Kevin maupun Akbar, tidur dalam artian ena-ena.


Ia melampiaskan emosinya dengan mabuk. Terjejer alkohol dengan merek mahal di atas meja. Lelaki itu sudah menghabiskan beberapa botol namun belum juga tumbang.


Ceklek.. pintu ruangan itu terbuka.


“Lo disini?Bukannya nganter Abel pulang?” Tanya Mike seraya mendudukkan dirinya di sofa sebelah Daniel. Daniel hanya diam tidak menyahuti pertanyaan Mike, lelaki itu justru menengguk lagi minumannya.


“Kenapa dia?” Tanya Leo yang baru dan bergabung dengan Daniel dan Mike.


Mike hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tau.


“Wu bai dimana?” Tanya Mike.


Pyarrr.. Daniel melempar botol kosong ke dinding. Serpihan kaca pun bertebaran du lantai.


Mike dan Leo melirik Daniel dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Perlu gue telepon bos?” Tanya Leo melirik Mike. Sepertinya hanya Raka yang bisa mengatasi kemarahan Daniel.


“Sepertinya nggak perlu.” Jawab Mike.


“Niel, lo kenapa?” Mike mencoba bertanya sekali lagi pada Daniel.


“Dasar perempuan murahan.” Ucap Daniel frustrasi sambil mengacak-acak rambut kepalanya sendiri.


Nggak bisa begini, gue harus ketemu Abel. Batin Daniel.


Lelaki itu bangkit dari duduknya menyambar jas yang tergeletak di sofa lalu keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.


“Perlu gue kejar?” Melirik Leo. Leo menggeleng.


“Biarkan dia sendiri.” Balas Leo.


***


Daniel meminta salah satu karyawan Club untuk mengantarnya menuju apartemen Abel. Setelah menempuh perjalanan 25 menit akhirnya sampailah mereka di apartemen Abel.


Ia pun menunju flat apartemen Abel. Cukup lama Daniel berdiri di depan apartemen Abel, ia bingung harus mengetuk pintu atau tidak. Selain bingung ia juga takut akan kenyataan, bagaimana jika Abel tidak sendiri di apartemennya?Bagaimana jika Abel bersama dengan lelaki lain. Bagaimana jika Abel sedang ena-ena dengan seorang lelaki?Harusnya Daniel setuju saja saat Abel memintanya untuk tinggal, bukan malah pergi begitu saja.

__ADS_1


Pasrah, Daniel pun merosotkan tubuhnya dan duduk di depan pintu apartemen Abel dengan bersandar daun pintu. Ia menutup matanya untuk beristirahat. Lebih baik menunggu besok pagi baru bicara dengan Abel.


“Daniel..lo ngapain disini?” Tanya Kevin heran melihat Daniel duduk di lantai tanpa alas apapun. Lelaki itu terlihat seperti gembel.


“Marahan sama Abel?” Tanya Kevin.


“Lo mau apa?” Tanya Daniel sambil beranjak berdiri.


“Mau masuk lah, emang lo mau tidur di depan pintu semalaman?” Kevin menekan kode sandi masuk apartemen Abel.


“Ayo masuk!” Ajak Kevin.


Daniel menurut begitu saja, lelaki itu mengekori Kevin masuk ke apartemen Abel. Pertama kalinya ia masuk ke apartemen Abel. Apartemen yang lumayan mewah dan cukup luas untuk ukuran seseorang yang tinggal sendiri.


“Lo mabuk?” Kevin bisa mencium bau alkohol dari tubuh Daniel. Lelaki itu hanya tersenyum tipis.


Abel keluar dari kamarnya saat mendengar pintu apartemen terbuka. Ia melihat Kevin dan Daniel berdiri dirumah tamu.


“Gue kira siapa Vin.” Ucap Abel menghampiri kedua lelaki itu. Abel hanya mengenakan daster tie die yang berbahan katun rayon viscos.


“Gue capek banged Bel, gue tidur duluan. Urus pacar lo nih mabok dia.” Ucap Kevin sekilas melirik Daniel kemudian berlalu menuju kamar tamu. Entah atas dasar apa Kevin mengatakan Daniel pacar Abel.


Pacar?batin Daniel senang.


Abel memutari tubuh Daniel dan mengendus aroma tubuh Daniel. Perempuan itu bisa mencium aroma alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Daniel. Sedangkan Daniel hanya diam kikuk.


Bener-bener ni orang, udah pergi seenaknya, balik-balik mabuk. Batin Abel.


“Kamu ngapain kesini?!” Hardik Abel mengingat lelaki yang dihadapanya itu beberapa waktu yang lalu meninggalkannya dengan ucapan yang sangat menyakitkan.


“Aku nggak mau kamu tidur sama Kevin ataupun Akkbar atau siapa pun itu.” Jawab Daniel to the point.


“Emang siapa juga yang mau tidur sama mereka?” Tanya Abel heran.


“Itu Kevin kesini mau ngapain?”


“Tidur.” Jawab Abel santai.


Rahang Daniel mengeras mendengar jawaban Abel. Dan, sepertinya Abel mengerti Daniel mungkin salah paham.


“Kevin kalau nginep sini di kamar tamu.” Ucap Abel tiba-tiba seraya menunjuk kamar tamu. Sambil menarik lengan Daniel untuk masuk ke kamarnya, Abel membuka pintu kamarnya mengajak Daniel masuk ke dalam kamar dan menutupnya kembali. Lelaki itu hanya menurut saja.


“Cuci muka kamu!” Meraih jas yang tadi dipegang Daniel dengan tangan kirinya. Abel menggantung jas Daniel di tempat gantungan.


“Kamar mandinya mana?” Abel pun menunjuk sebelah kanannya tempat tidur ada pintu menunju kamar mandi.


Selagi menunggu Daniel mencuci muka, Abel naik ke atas tempat tidur dan membaca novel.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2