
Satu minggu berlalu, keadaan Daniel tidak membaik. Lelaki itu justru semakin aneh saja. Sering meminta ini itu pada Abel seperti bukan Daniel. Selain itu Daniel menjadi lebih manja dari biasanya. Dia menempel pada Abel kemanapun, tidak masuk kerja dan hanya menempel pada Abel.
Abel dan Daniel akan menginap di rumah mama Lila. Dia menuruti permintaan Daniel yang ingin makam malam dengan menu buatan tangan mama Lila.
“Iya ma, mas Daniel jadi lebih manja dan aneh. Abel sampe pusing, ma. Kemana Abel pergi mas Daniel selalu ikut. Arisan ya ma, namanya arisan yang isinya perempuan semua, mas Daniel ikut coba. Aku ‘kan jadi malu, ma.” Keluh Abel pada mama Lila, menceritakan ulah suaminya yang aneh. Abel sedang membantu mama Lila memasak di dapur sekaligus mencurahkan keluh kesahnya pada mama Lila.
Mama Lila justru senyum-senyum sendiri mendengar Abel menggerutu.
“Mama kok malah senyum-senyum sendiri sih. Abel lagi kesel mama malah kelihatan seneng gitu, gak kasian apa sama Abel?” Cebik Abel.
“Maaf, maaf.. habis mama pikir kalian lucu sih, bisa-bisanya Daniel yang ngidam.” Ungkap mama Lila.
“Ngidam?”
“Iya, kalau mama nggak salah apa yang bikin Daniel jadi kayak gitu karena ngidam. Kamu hamil, Bel.” jelas mama Lila yakin.
Abel membelalak tidak percaya lalu mengelus perutnya sendiri. Dia tidak merasa ada yang aneh pada perutnya. Apa benar dia hamil?
“Mama yakin Abel hamil?” tanya Abel ragu. Jika benar, Abel akan merasa bahagia. Dia sudah membayangkan bagaimana rasanya menjadi ibu hamil seperti Nabila dan Nita.
“Mama yakin, coba aja kamu beli tespeck.”
“Tapi kalau hasilnya negatif gimana?”
“Mama yakin positif, coba aja dulu.”
Abel melepas apronnya dan meletakannya di atas meja pantry.
“Kalau gitu Abel ke apotik ya, ma.” Pamit Abel.
“Minta sopir yang anter!” Seru mama Lila. Dan, Abel membentuk lingkaran dengan menautkan jari telunjuknya dan ibu jarinya.
Abel pergi ke kamarnya untuk mengambil tas dan dompet. Dia menemukan suaminya tengah bermain game di atas tempat tidur.
“Sayang, aku ke supermarket bentar ya sama sopir.” Pamit pada Daniel sembari mencium pipi Daniel.
“Hati-hati.” Ucap Daniel masih fokus pada layar Gadget nya.
Abel sengaja tidak memberitahu Daniel jika dia akan pergi ke apotik untuk membeli tespack. Dia akan memberitahu Daniel sekaligus menunjukkan hasilnya nanti, karena dia tidak mau memberi harapan yang belum pasti pada Daniel.
☘️☘️☘️
“Dua garis!” Antara percaya dan tidak, tangan bergetar memegangi tespack dengan hasil dua garis merah di tangannya. Sebulir cairan bening keluar dari pelupuk mata Abel.
“Aku Hamil.” Abel mengelus lembut perut nya yang masih rata, “ada janin di dalam sini,” lanjutnya masih mengelus perutnya.
“Sayang, kamu ngapain sih? Kok lama pipisnya?” panggil Daniel dari balik pintu.
__ADS_1
“Iya, sebentar sayang.” Abel mengusap air matanya dengan jari-jemarinya. Dia menyimpan tespack itu di dalam saku piyamanya.
“Lama banget, aku pikir kamu ketiduran tau nggak.” Ujar Daniel berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Kamu pikir aku anak kecil tidur di kamar mandi?” Abel memanyunkan bibirnya.
Cup.. yang langsung di sambut kecupan singkat oleh Daniel.
“Jadi pengen, main yuk!” Ajak Daniel.
Abel menggeleng kan kepalanya. “Kamu harus libur dulu, Bee.”
“Libur? Kamu lagi datang bulan?” tanya Daniel dan Abel menggelengkan kepalanya.
“Lalu?” Daniel mengernyit heran.
“Aku hamil,” bisik Abel sembari melangkah meninggalkan Daniel yang berdiri mematung karena bisikan Abel.
“Hamil?” gumam Daniel, “hamil? Abel hamil?” Daniel tersadar dan menoleh.
“Serius? Kamu hamil sayang?” Menyusul Abel naik ke atas ranjang.
“Nih,” menyerahkan tespack dengan hasil dua garis.
Daniel menerimanya dan melihatnya. Jadi, ini yang namanya tespack? Cukup lama Daniel memandangi barang di tangannya itu?
“Mungkin.”
“Sama sekali nggak bisa?” Daniel kaget. Perempuan hamil selama sembilan bulan, bagaimana Daniel bisa tahan untuk tidak menyentuh Abel?
“Sepertinya iya.”
“Terus junior aku gimana?”
“Ya gimana, Solo dulu. Hahaha,” ejek Abel dengan gelak tawa.
“Mana bisa sayang?” Daniel cemberut.
“Ya terus? Apa aku gak usah hamil aja?”
Daniel geleng-geleng kepala. “Jangan!”
“Ya udah, ngalah dulu sama anak.” Abel kembali tertawa. Rasanya puas menggoda Daniel.
“Tapi, kamu serius hamil?”
“Hasilnya sih garis dua. Besok aku mau kedokter untuk memastikan lagi. Soalnya tadi ‘kan aku ngecek nya pas habis makan. Takutnya hasil nggak akurat.” Ujar Abel.
__ADS_1
“Oke, aku yang antar.”
“Bukannya kamu ada meeting?”
“Memang meeting lebih penting dari pada anak istri?”
“Engga sih.”
“Nah, itu kamu tau.” Daniel mengelus kepala Abel, “ya udah ayo tidur. Biar besok bisa bangun pagi,” ajaknya pada Abel.
“Nggak jadi main?” Goda Abel.
“Jangan mancing dong. Jahat banget.”
“Hahaha.” Malam itu berakhir dengan Daniel yang harus menahan gejolak hasratnya. Daniel terpaksa mengalah demi melindungi kandungan Abel. Mereka tidur sambil berpelukan.
☘️☘️☘️
“Selamat bapak, istri anda tengah hamil dan usia kandunganya delapan minggu.” Ujar dokter Dian pada Daniel.
Daniel tersenyum senang. “Terimakasih, dok. Lalu saya harus bagaimana, dok?” tanya Daniel karena ini pertama kalinya dia akan menjadi ayah.
“Di jaga kandungannya ibu Abel ya pak, diperhatikan pola makannya. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat karena usia kandungannya masih awal jadi masih harus berhati-hati. Apalagi ini kehamilan pertama.” Tutur dokter Dian.
“Baik, dok.”
Abel dan Daniel tidak sabar untuk pulang kerumah keluarga besar dan membagikan kabar bahagia ini pada keluarga besarnya.
“Papa sama mama pasti senang, sayang. Apalagi papa, kemarin papa curhat rekan bisnisnya suka mamerin cucu nya, terus di bawa-bawa ke lapangan golf.” Ucap Daniel sembari mengemudikan kereta besi miliknya menembus jalanan kota Jakarta yang padat.
“Terus kamu bilang apa ke papa, Bee?”
“Aku bilang sabar ya pa, nanti Daniel sama Abel kasih cucu yang imut buat papa gitu. Eh ga taunya beneran ada cucu pertama di perut kamu,” menoleh dan salah satu tangannya mengelus perut Abel.
“Aku juga nggak nyangka beneran hamil. Udah gitu kamu yang nyidam.” Abel terkekeh lucu.
“Gak papa deh aku yang nyidam, yang penting kamu sama anak kita sehat.” Ujar Daniel.
“Meskipun mual muntah terus gak papa? Pusing, lemes nggak berdaya juga gak papa?” mengingat Daniel yang sering mengalami masalah pada tubuhnya yang kekar akhir-akhir ini membuat Abel merasa kasihan. Ternyata itu semua karena Abel hamil.
“Nggak papa sayang, mau aku sampai di opname pun nggak papa.”
“Amit-amit jangan sampai, Bee. Aku gak mau lihat kamu sakit apalagi gara-gara aku.”
“Aku lebih nggak mau lihat kamu yang sakit apalagi gara-gara ulah aku. Yang buat kamu hamil ‘kan aku, sayang. Aku juga mau merasakan nggak nyamannya orang hamil, ya mungkin salah satunya di kasih ngidam nya di aku,” tutur Daniel lembut.
“Makasih ya Bee. Aku sama adik lope you full pokoknya!”
__ADS_1
“Aku juga lope you pull too pokonya!”