Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Merindukanmu


__ADS_3

Cahaya matahari mulai menampakkan sinarnya, menerobos sisi-sisi celah jendela yang tidak tertutup gorden. Perempuan yang berbaring di atas kasur memincingkan matanya akibat sinar pagi yang ia terima, perempuan itu mulai merentangkan tangannya membuat peregangan otot.


“Hoam.” Ia menguap di ikuti kedua mata yang perlahan terbuka lebar. Sejenak ia menatap langit-langit kamarnya sembari mengumpulkan semangat untuk bangun. Abel merasa malas untuk bangun.


Tak lama dering ponsel memaksanya untuk segera menggerakan tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Ia mencari-cari dimana asal dering ponsel yang ternyata berada di dalam tas yang tergeletak di sofa.


“Halo.” Mengangkat panggilan telepon segera sebelum sang pemanggil memutuskan panggilannya.


‘Kenapa lama sekali, sayang?’ Suara dari lelaki yang amat Abel cintai.


“Maaf, aku baru bangun.” Abel menjawab dengan lembut. Sudah beberapa hari ia tidak bertemu kekasihnya. Karena Daniel ada pekerjaan di Kalimantan. “Apa pekerjaanmu lancar, kapan kamu kembali?”


‘Pekerjaan ku berjalan lancar, mungkin lusa aku bisa kembali ke Jakarta. Aku merindukanmu!’


Abel menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. “Cepatlah pulang, aku juga Merindukanmu.”


‘Tunggu aku sayang!’


“Pasti sayang, aku pasti menunggumu!”


Panggilan telepon dari Daniel di pagi hari adalah moodboster bagi Abel. Ia menjadi lebih semangat seakan baterai tubuhnya terisi penuh.


***


Abel menuju apartemen Caca di antar oleh sopir yang sudah di siapkan Daniel. Saat di jalan ia mampir ke pasar untuk membeli bubur ayam dan beberapa jajan pasar. Abel belum sarapan, setelah mandi Abel langsung pergi ke apartemen Caca.


Flash back on..


Abel dan Daniel dalam perjalan pulang setelah dinner romantis mereka, saat Mike tiba-tiba menghubungi Daniel dan menyuruh Daniel pergi ke apartemen Caca. Mike mengatakan dirinya sedang bersama Caca yang tengah mabuk berat.


Daniel pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Caca karena Abel mengkhawatirkan Caca.


Sampai di apartemen Caca, Abel langsung masuk ke dalam apartemen, dilihatnya Mike tengah duduk termenung di rumah tamu sambil menyangga dagunya.


“Dimana kak Caca, dokter Mike?” Abel terbiasa memanggil dengan profesi nya. Mike menjawab pertanyaan Abel dengan mengarahkan pandangan matanya ke arah kamar Caca, Abel paham maksud dari pandangan Mike, ia langsung saja menuju kamar Caca meninggalkan Mike dan Daniel di ruang tamu.


“Apa yang terjadi?” Daniel mendudukan dirinya di sebelah Mike.


“Kakak ipar lo mabuk hampir di bawa tikus got, untung saja gue disana.”


Daniel menepuk bahu Mike. “Terimakasih untukmu sudah menjaga kakak iparku.” Sambil terkekeh. Bagi Daniel yang lebih tua dari Caca memanggil Caca kakak ipar membuat nya geli.


“Apa kah dia selalu seperti ini saat ada masalah?” Mike penasaran, Caca tidak terlihat seperti wanita urakan. Perempuan itu tidak cocok dengan dunia malam.


Daniel mengangkat kedua bahunya. “Entahlah.”

__ADS_1


“Bagaimana lamaran lo?Tidak perlu di jawab melihat dari wajah lo, gue udah bisa nebak jawabannya. Gue heran apa yang Abel lihat dari lelaki seperti lo.” Mike geleng-geleng kepala.


“Gue tampan, dan juga mapan.” Daniel menjawab dengan bangga.


‘Apa kakak sudah tidak waras, Ha?’ Suara teriakan Abel terdengar jelas.


Daniel dan Mike terkesiap. “Apa mereka bertengkar.” Daniel bangkit dari duduknya melangkah menuju kamar Caca sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Begitu juga Mike, lelaki itu mengekor di belakang Daniel.


Mereka tiba di depan pintu kamar Caca yang tidak tertutup rapat. Daniel dan Mike berdiri di depan pintu untuk berjaga, jika keadaan memanas menurut Daniel maka lelaki itu akan langsung masuk menengahi.


***


Caca terisak. “Abel kakak mohon, bujuk Kevin untuk menikah dengan kakak. Kamu dan Kevin dekat, kan?” Pinta Caca.


“Menikah bukan solusi, kakak lupa apa yang kakak katakan pada ku kemarin, Ha??Kakak akan fokus pada karier Kakak.” Abel berkata sambil menahan amarah di dalam dirinya.


“Itu sebelum Ilham menggangguku lagi, kau tau Ilham ingin balikan.”


“Tolak saja apa susahnya.” Balas Abel cuek.


“Tidak semudah itu, Bel. Dia pasti tidak akan berhenti menggangguku sebelum aku menikah, jalan satu-satu nya adalah menikah. Dan, Kevin orang yang tepat.” Kedua manik mata Caca di penuhi cairan bening yang terus menerus jatuh menetes di pipinya.


Abel menggelengkan kepalanya. “Kevin sudah punya pacar, kak. Sadarlah, menikah bukan solusi, kak.”


Caca meraih tangan Abel dan menengadahkan pada Abel yang berdiri di hadapannya. “Baiklah, aku akan tidur dengan seorang lelaki saja. Lalu aku kan kembali pada Ilham. Itu lebih baik, aku bisa membalas pengkhianatan Ilham dan setelahnya kami bisa memulai hidup baru. Lagi pula aku masih sangat mencintai Ilham.” Omongan Caca semakin malam semakin melantur.


“Kamu mau, kan, membantu kakak?”


“Cukup, kak!Abel tidak mau mendengar omong kosong dari kakak lagi. Kakak sedang mabuk, lebih baik kakak istirahat, aku akan menginap di kamar sebelah malam ini.” Abel melepaskan tangan Caca yang masih menempel dilenagnnya. Lalu ia membalik tubuhnya berjalan keluar kamar Caca.


Daniel dan Mike pun secepat kilat kembali ke ruang tamu sebelum Abel memergoki mereka di depan kamar Caca. Daniel dan Mike berpura-pura sedang mengobrol.


“Sayang, aku akan menginap disini malam ini.” Abel mendekati Daniel dan duduk di sofa hadapan Daniel.


“Baiklah, aku dan Mike akan tidur di sofa.” Daniel enggan untuk meninggalkan Abel dan Caca apalagi setelah perdebatan Abel dan Caca tadi.


“Lebih baik di ruang TV saja, disana ada karpet juga kasur lantai, kalian bisa tidur disana.” Daniel menuruti saja perkataan Abel.


Abel menyiapkan dua selimut untuk Daniel an Mike juga dua bantal. Setelahnya Abel masuk ke kamar tamu untuk membersihkan diri, ia berganti pakaian tidur dengan piyama Caca.


Flash back off


“Kamu sudah datang, ayo sarapan!” Caca menyambut Abel dengan senyuman manis. Perempuan itu sudah bangun, dan berkutat di dapurnya menyiapkan sarapan. Saat Abel datang pas sekali Caca selesai memasak.


“Kakak masak apa?” Abel duduk di kursi pantry dan meletakan bubur serta jajajan pasar yang tadi dia beli ke atas meja.

__ADS_1


“Nasi goreng bumbu racik.” Caca terkekeh.


Caca hanya bisa memasak dengan bantuan bumbu racik. Sama seperti Abel, namun saat ini Abel sudah lebih sedikit ada kemajuan. Abel mulai masak dengan bumbu racikannya sendiri.


“Aku suka ada sosisnya, sosis punya kakak kasih ke Abel aja dong. Sebagai gantinya Abel kasih kakak martabak.” Abel nunjuk plastik kresek yang tadi ia bawa.


“Kamu dari kecil nggak berubah, sosis milik kakak selalu kamu minta.” Caca menggerutu dengan sifat Abel. Padahal sudah mau menikah.


“Abis enak sih.” Abel menyendok sosis di piring Caca memindahkannya ke dalam piring nya yang sudah berisi nasi goreng.


***


Daniel sudah berada di Jakarta saat dia menelepon Abel. Ia tiba di jakarta dini har. Lelaki itu sengaja membohongi Abel masih di Kalimantan karena akan memberi kejutan pada kekasihnya.


Hari ini Daniel pergi ke firma hukumnya untuk menyelesaikan pekerjaanya yang ia tinggal beberapa hari ini. Daniel uring-uringan seharian karna pekerjaanya sangat banyak. Ia jadi tidak bisa menemui Abel saat jam makan siang. Daniel terpaksa menunggu pekerjaan nya selesai baru bisa menemui Abel.


Pukul lima sore pekerjaan Daniel baru selesai. Daniel pun langsung memacu mobilnya menuju apartemen Abel.


Daniel sengaja menekan bel apartemen Abel untuk memberi kejutan pada Abel. Dia membawa sebuket bunga yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya.


Klik.. pintu terbuka.


“Kejutan!” Daniel berteriak.


“Sayang, kamu sudah pulang?” Mata Abel berbinar melihat Daniel berdiri di hadapannya.


“Aku sangat Merindukanmu, makanya aku menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Ini untuk mu.” Mengeluarkan bunga yang Daniel bawa.


“Makasih, sayang.” Menerima bunga itu dan langsung berhambur ke pelukan Daniel. Daniel pun menghujani puncak kepala Abel dengan kecupan bertubi-tubi.


“Kau tidak akan membiarkan ku masuk, sayang?”


Abel melepaskan pelukannya dan menarik lengan Daniel untuk masuk ke dalam apartemennya.


“Kamu sepertinya lelah.”


“Bisa di bilang sangat lelah.”


“Baiklah, bersihkan dirimu. Aku akan menyiapkan makan malam.”


“Siap.” Mencium pipi Abel sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2