
“Selamat malam nona Tasya, maaf sudah membuat anda menunggu lama.” Ucap Adam.
“Tidak papa Tuan, saya juga baru sampai.” Jawab Tasya berbohong. Padahal ia sudah menunggu Adam sejak satu jam yang lalu. Adam sengaja datang telat karna ingin melihat reaksi Tasya.
Kedua nya pun makam malam sambil mengobrol. Adam bersikap lembut di hadapan Tasya. Mungkin orang lain yang tidak tau pun akan mengira Adam dan Tasya adalah pasangan kekasih. Adam bahkan tidak menolak Tasya yang menyuapinya.
Sementara di sisi lain yang tidak jauh dari tempat Adam dan Tasya ada dua pasang mata memperhatikan adegan sok romantis Adam dan Tasya. Dua pasang mata itu ialah Abel dan Daniel.
“Benar-bener mas Adam gak ada akhlak, bisa-bisanya dia bermesraan dengan perempuan lain sementara istrinya sedang hamil.” Abel mengepalkan tangannya kesal. Ia hampir saja menabarak Adam jika Daniel tidak menahannya.
“Sabar.”
“Bagaimana saya bisa sabar, lelaki itu menyelingkuhi sahabat saya.” Abel mendengus kesal.
“Kita lihat dulu apa yang terjadi selanjutnya.” Ucap Daniel masih menahan Abel.
“Eh, mereka pergi.” Abel menghadap ke arah Daniel. Ia ingin menyembunyikan dirinya agar tidak dikenali oleh Adam yang berjalan ke arahnya. Daniel yang memahami niat Abel langsung memeluk Abel dan menyembunyikan kepala Abel di dada bidangnya.
Daniel juga membenarkan masker dan topi nya agar Adam tidak bisa mengenalinya.
Adam juga Tasya berjalan melewati Daniel yang masih memeluk Abel. Untunglah Adam tidak mengenali Daniel maupun Abel.
“Apakah mereka sudah lewat?” Abel menggerakan sedikit kepalanya ingin mengintip. Namun, Daniel malah semakin menyembunyikan kepala Abel.
“Belum.”
“Tapi, aku mendengar langkah kaki orang lewat.” Tanpa sadar Abel mengganti kata-katanya menjadi aku dari saya.
“Itu tamu lain.” Ucap Daniel, Yah lelaki itu bohong pada Abel. Entah mengapa Daniel masih ingin memeluk Abel lebih lama.
“Apa sudah?” Adam sudah berjalan jauh dari Abel maupun Daniel. Mau tidak mau Daniel pun melepaskan Abel.
“Sudah.”
“Mana, mana mereka?” Abel celingukan karna sudah tidak melihat Adam maupun Tasya.
“Mereka sudah pergi.” Jawab Daniel santai.
“Pergi?!Kok, bisa?ih, kamu gimana sih?” Abel memukul bahu Daniel kesal. “Aku jadi kehilangan mereka, kan?” Abel berjalan keluar dari restoran berniat mencari Adam dan Tasya. Ia mengabaikan Daniel yang mengekorinya.
“Dengarkan aku dulu, Abel!” Daniel menahan Abel, ia juga mengganti ucapan saya menjadi aku. Meraka sudah semakin dekat dilihat dari bagaimana cara Daniel memanggil Abel dengan aku, kamu.
“Nggak mau, mendingan kamu jangan ngikutin aku lagi.” Menepis tangan Daniel.
“Bel, kita tidak mungkin mengikutinya dari dekat. Harus ada jarak, itulah sebabnya aku membiarkan mereka pergi.” Ucap Abel.
“Tapi, kita jadi kehilangan mereka.”
“Tidak, aku tau kemana mereka akan pergi.”
__ADS_1
“Kau yakin?” Tanya Abel. Daniel pun mengangguk.
Daniel menggenggam lembut tangan Abel meninggalkan restoran. Mereka menuju parkiran mobil. Sebelumnya Daniel menyewa sebuah mobil untuk mempermudah Abel dan dirinya mengikuti Adam.
“Apakah itu mobil mereka?” Tanya Abel melihat mobil didepannya.
“Iya, kau tau mereka akan kemana?” Tanya Daniel. Abel menggeleng, mana bisa Abel tau Adam dan Tasya akan pergi kemana. “Aku tau mereka akan kemana.” Ucap Daniel.
“Kemana?”
“Bar.”
“Bar?” Tanya Abel shock. Bagaimana mungkin Adam pergi ke bar dengan seorang wanita. Abel akan semakin kesal jika apa yang dikatakan Daniel benar.
“Setelah dari Bar mereka akan ke hotel.” Lanjut Daniel.
“A..apa?Hotel?” Abel mendadak pusing seperti mendapat serangan paku menusuk-nusuk kepalanya. Melihat Adam pergi ke bar dengan seorang wanita saja sudah membuat Abel pusing. Apalagi jika ke hotel. Bagaiamana Abel bisa mengatakannya pada Nabila. Abel menggigit bibir bawahnya karna cemas. Juga menggenggam tangannya sendiri, yang sudah berkeringat di bagian telapak tangan.
“Kau kenapa?” Daniel bisa melihat perubahan di wajah Abel.
“Aku gugup.”
“Tenanglah, aku yakin Adam tidak akan selingkuh. Dia pasti punya alasan sendiri membawa wanita itu.” Ucap Daniel lembut seraya mempuk-puk lembut kepala Abel.
“Darimana kau bisa mempunyai keyakinan seperti itu?”
“Abel, aku tau lelaki seperti Adam type-type lelaki setia dan takut istri. Pengusaha seperti tuan Raka dan Adam, aku yakin mereka budak cinta istrinya masing-masing.” Jawab Daniel serius. Lelaki itu bisa menilai lelaki lain hanya dari pengamatan saja.
“Daripada itu apa aku bisa menanyakan sesuatu padamu?” Daniel merasa penasaran akan satu hal dari diri Abel.
“Tanyakan saja, apa yang mau kau tanyakan?”
“Apa kau punya pacar?” Akhirnya pertanyaan yang sempat di pikirkan Daniel berulang-ulang itu keluar juga dari mulut Daniel. Sebelumnya Daniel sempat ragu untuk menanyakan hal itu pada Abel.
“Tidak, eh, belum.” Jawab Abel santai.
“Kenapa?” Rasa penasaran Daniel semakin menjadi-jadi. Seperti ia ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Abel.
“Maksudmu kenapa aku tidak mempunyai pacar?” Tanya Abel balik yang diangguki oleh Daniel. Lelaki itu tetap fokus mengemudi meskipun sambil mengobrol dengan Abel.
“Sekarang baru cari, awalnya aku tidak berniat mempunyai pacar. Kupikir tidak berpacaran pun hidupku tidak masalah, tapi sekarang aku membutuhkannya.” Ucap Abel serius. Ya, Abel sepertinya memang jomblo sejak lahir. Perempuan itu seperti tidak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan. Namun, akhir-akhir ini pemikiran Abel sedikit berubah, ia juga ingin menjalin hubungan yang serius dengan seseorang. Jika bisa Abel bahkan ingin menikah. Tapi, bukan berarti Abel ingin menikah karna kedua sahabatnya sudah menikah ya. Perempuan itu ingin menikah karena memang murni dari hatinya, ia ingin menjalani hubungan dengan lawan jenis yang sah di mata hukum maupun agama.
“Kau membutuhkannya?Kau butuh seorang pacar?Untuk apa?”
“Untuk dijadikan suami, aku butuh pacar yang bisa langsung diajak menikah, tanpa banyak fa fi fu.” Jawab Abel tersenyum tipis.
“Tapi, sepertinya tidak semudah itu mencari pacar yang bisa dijadikan untuk suami.” Lanjut Abel menerawang jauh.
“Kau bahkan belum mencoba tapi sudah memutuskan.” Daniel tergelak mendengar ucapan Abel.
__ADS_1
Mereka berhenti di lampu merah. Abel tidak menyahuti lagi ucapan Daniel, perempuan itu memilih untuk memejamkan matanya sebentar. Ia pura-pura tidur agar percakapan perihal pacar berpacaran tidak berlanjut.
Daniel bukan lelaki yang tidak peka. Ia bisa tau Abel pura-pura tidur karna tidak ingin melanjutkan obrolan mereka. Akhirnya Daniel pun membiarkan Abel yang seperti itu sampai mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah bar yang terkenal di pusat kota itu.
“Bel!”
“Hem.” Abel mengerjap-ngerjapkan mata nya. “Apakah sudah sampai?” Kedua mata Abel membulat sempurna. Ia melihat kesekeliling dan ternyata mereka tiba di sebuah basement.
“Ayo kita turun!Adam sudah turun beberapa menit yang lalu.” Daniel melepas seatbelt nya. Ia turun lebih dulu dan berjalan memutar untuk membukakan pintu abel.
“Terimakasih.” Abel turun dari mobil lalu berjalan mengikuti Daniel masuk ke dalam bar.
“Pegang lenganku!” Ucap Daniel sedikit memerintah.
“Kenapa aku harus memegang lenganmu?Aku bisa jalan sendiri.”
“Aku tau kau bisa jalan sendiri, tapi kau bisa di goda oleh para lelaki jika berjalan sendirian. Lebih baik kau pegang lenganku, dengan begitu mereka bisa mengira kau pacar ku. Atau kau lebih suka digoda oleh para lelaki?” Daniel berjalan mendahului Abel dengan cuek.
“Tunggu, aku pegang, aku pegang tanganmu.” Abel mengejar Daniel dan langsung merangkul lengan Daniel dengan mesra. Lelaki itu sedikit menyunggingkan kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis.
.
.
.
.
Hai teman-teman jagalah kesehatan, jangan lupa gosok gigi, cuci tangan pakai masker dan jaga jarak aman 🥰
Mampir ke karya aku yang lain ya temen-temen:
Love story: Nice to meet you
Pengacara tampanku
Bersamamu/Bekas istri yang kaya
__ADS_1