
Panti Asuhan
Mereka meninggalkan rumah menuju garasi mobil. Kevin mengambil mobilnya. “ Bel lo sama gue aja!” ucap Kevin. Abel pun menghampiri Kevin dan masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Adam bersama Nabila, disopiri oleh Pak Slamet. “ Ke tempat biasa Pak!” Perintah Nabila pada sopirnya.
“ Siap Non.” Pak Slamet memang sudah beberapa kali mengantar Nabila ke Panti Asuhan.
Setelah perjalanan 45 menit mereka sampai di panti asuhan. Bila dan Abel langsung keluar dari mobil. Bila memberi perintah pada Adam, Kevin dan pak Slamet untuk menurunkan box berisi cup cake dari dalam mobil.
“ Kakak Bila, Kakak Abel!!” teriak anak-anak panti langsung berhamburan memeluk Nabila dan Abel.
Adam dan Kevin melongo dibuatnya, baru pertama kali mereka datang ke panti. Meskipun mereka sudah sering berdonasi ke pantai asuhan, tapi baru kali ini melihat pemandangan suasana panti secara langsung.
Nabila berjalan ke arah ibu panti yang sedang menggendong bayi, dia mengambil alih bayi itu untuk digendongnya. Abel terlihat bermain dengan anak-anak panti.
“ Dam lihat tuh istri lo, udah cocok jadi ibu!” ucap Kevin menunjuk Nabila.
“ Kayaknya gue harus berusaha lebih keras!” Adam berjalan kearah Nabila, sementara Kevin bergabung dengan Abel bermain bersama anak-anak panti.
“ Mas lihat tangannya mungil!!” ucap Bila menunjukkan tangan mungil yang sedang bermain rambut panjang Bila.
“ Bil bayi sekecil ini kok bisa di panti?,” tanya Adam.
“ Bayi ini ditinggalkan di depan pintu panti mas, sekitar 3 bulan yang lalu. Mungkin orang tuanya tidak sanggup membiayai jadi meninggalkannya di panti, lebih baik sih mas ditinggal di panti dari pada dibunuh.” ucap Nabila.
“ Siapa namanya?,” tanya Adam.
“ Arka Mas, aku yang kasih nama. Eh lihat mas dia kayaknya suka sama kamu, dia nyengir-nyengir gitu lihat kamu Mas!”
Adam memperhatikan bayi mungil yang berada di gendongan istrinya itu, dia jadi tidak sabar untuk mempunyai bayi bersama Nabila.
***
Riko dan Nita.
Nita membawa sepiring nasi goreng+telur.
“ Maaf mas ternyata sayur di kulkas habis, jadi cuma bisa buat nasi goreng,”
“ Makasih Nit,” Riko segera melahap Nasi goreng buatan Nita. “ Enak, lebih enak dari nasi goreng yang bisa aku beli!”
“ Mas Riko terlalu memuji.”
Tok tok... “Aku buka pintu dulu,”
__ADS_1
Ternyata yang bertamu adalah Bila and the genk (Adam, Kevin dan Abel).
“ Kalian!!” ucap Nita kaget, Abel langsung nyelonong masuk ke dalam rumah tanpa menunggu di persilahkan masuk begitu juga Bila. Abel dan Bila langsung menuju kamar Ibu, tidak menghiraukan orang yang sedang makan di ruang tamu.
“ Masuk mas!” ucap Nita mempersilahkan Adam dan Kevin masuk.
Adam dan Kevin melihat Riko tengah asik menyantap nasi goreng dengan lahap.
“Ehemm,” Kevin berdehem.
“ Gue lagi makan Bro,” ucap Riko santai.
“ Enak Rik?,” tanya Adam.
Riko mengunyah makanannya secepat mungkin, “ Enak Dam, lebih enak dari nasi goreng resto!”
Nita membawa teh anget dari dapur. “Diminum Mas.” ucap Nita.
“ Gak perlu repot-repot Nit,” kata Adam yang di imbuhi oleh Kevin. “ Tapi makasih, kebetulan aku dan Adam memang haus, kita habis kerja rodi di panti!” ucap Kevin.
“ Jadi kalian yang bantu acara hari ini ?,” tanya Nita.
“ Iyaa.. mau siapa lagi, Adam nurut sama istrinya tidak berani membantah takut ngga dikasih jatah,” ledek Kevin.
“ Sialan Lo,”
“ Memang ada acara apa Panti?” Tanya Riko.
“Gue juga mau ikut,” ucap Riko.
“ Nanti sebulan lagi kita kesana lagi kok, kalau Mas Riko mau ikut. Atau kalau hari jum’at kadang kita juga kesana bagiin Nasi kotak buat anak-anak. Dulu aku sama Bila sering jadi guru ngaji disana, tapi sekarang kita bayar guru ngaji karena aku sama Bila sibuk juga.” Ucap Nita.
“ Boleh Nit, aku mau.. Aku mau ikut kamu.” Ucap Riko yang kemudian tersadar “ Maksud aku ikut ke pantai.”
Riko semakin kagum dengan kepribadian Nita.
“ Oke.. Nanti aku kabarin.” Nita mengiyakan permintaan Riko.
Adam dan Kevin saling pandang. Mereka menatap Riko dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Abel dan Bila keluar dari kamar ibu. “ Kok Bu Sofi bisa pingsan Nit?” tanya Bila.
“ Ibu kan punya lemah jantung Guys!kayaknya Om Damar dari sini tadi. Aku lihat di kamar ibu ada map coklat, sepertinya dia mengancam ibu untuk memberikan tanah warisan ibu yang dikampung.” ucap Nita, dia kemudian menceritakan kelicikan om Damar yang tidak lain adalah adik dari ibunya.
“Owh begitu, jadi itu satu satunya peninggalan kakek Lo. Bil lo aja yang beli tanahnya, jadi Nita bisa tetep mempertahankan satu-satunya peninggalan Kakenya.” ucap Abel menatap kearah Bila.
“ Mas ?” Bila menatap Adam penuh arti.
__ADS_1
Adam mengusap lembut rambut Bila. “ Bisa diatur, biar Tio yang urus!”
Riko menyenggol Adam dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Adam dan kevin seakan paham dengan isi pikiran Riko.
“ Ngga perlu guys, selama ibu tidak tanda tangan tanah kakek masih aman.” ucap Nita.
“ Dah lo tenang aja Nit, biar mas Adam yang urus ini juga demi kebaikan ibu lo, daripada om Damar terus-terusan nemuin ibu lo, kan bahaya untuk kesehatan ibu lo !” tutur Bila .
“ Iya bener Nit, lo tenang aja. Setelah itu mending lo jangan ada hubungan lagi sama Om damar ,eneg gue lihat muka Om damar.”
Nita pun menurut pada sahabatnya, saat sudah malam mereka memutuskan untuk pamit. Abel pulang dengan mobil Nabila yang tadi dibawa Riko, sementara Riko bersama Kevin kembali ke apartemen Kevin. Adam dan Nabila juga kembali kerumanya.
Sampai dirumah Nabila membersihkan diri, begitu juga dengan Adam. Setelah membersihkan diri Nabila membaca buku di tepi tempat tidur. Adam menghampiri Bila.
“ Mas enggak kerja?,” tanya bila.
“ Ini mau mulai kerja!” Jawab Adam langsung mencium bibir bila.
“ Maksud mas?” Tanya Bila, merasakan hawa mesum dalam diri Adam.
“ Aku mau kerja ini, kerja keras bikin bayi!”
“ Hah ?,” Nabila kaget dengan jawaban Adam, dia menatap suaminya yang tengah nyengir itu.
Adam mengangkat tubuh Nabila membaringkannya di kasur, dia mulai menindih tubuh Nabila, menghujani Nabila dengan ciuman mesra. “ Sayang aku ingin bayi!” bisik Adam di telinga Nabila. Dia meniup daun telinganya Nabila lalu mencium tengkuk leher Nabila. Membuat Nabila merasa terangsang. Dia membantu Nabila melepaskan pakaianya, lalu Adam pun melepaskan pakaianya juga. Adam kembali melanjutkan aksinya. Bermain di dada Nabila, Adam ****** kedua ******* kembar Nabila, membuat perempuan itu mendesah hebat. Desahan Nabila sungguh membuat Adam semakin menggila, dia bermain di area bawah Bila. Desahan terus mengaung di ruang kamar mereka yang kedap suara, seraya Bila menjambak rambut kepala Adam. Dan malam panjang pun terjadi.
Pagi harinya Nabila terbangun setengah lima, dia lalu keramas untuk sholat subuh. Beberapa waktu lalu bahkan Nabila kelewatan sholat subuh gara-gara permainan Adam yang tidak berhenti semalam suntuk sampai pagi. Dan membuat Nabila tertidur sampai jam 14:00 siang.
Setelah subuh dia turun ke dapur untuk membuat sarapan, kali ini Nabila ingin memasak sendiri. Setelah selesai memasak, Bila meminta bantuan Bi Ani untuk menata makanan di meja, sementara Nabila kembali ke kamar untuk membangunkan Adam. Ternyata suaminya itu telah bangun dan rapi siap untuk berangkat ke kantor.
Adam memberi isyarat ke Bila, agar mendekat. Saat Bila sudah berada di dekatnya, Adam langsung memeluk Bila. “Aku mencintaimu!” ucapnya mencium pucuk kepala Nabila.
Nabila tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari mulut Adam, dia tentu saja sangat bahagia. Apalagi selama ini dia sudah merasa lebih dulu mencintai Adam. “Aku juga mencintaimu Mas!” balas Bila merekatkan pelukannya.
“ Tuan Ada den Tio.” ucap Bi Sumi dari depan pintu.
“ Suruh tunggu sebentar Bi,” ucap Adam melepaskan pelukannya.
“ Sayang.. kamu semangat ujiannya ya, saat kamu libur aku akan membawamu honeymoon!”ucap Adam.
“ Tapi aku ingin pulang ke Jogja Mas,”
“ Tidak masalah, kita bisa pulang sekalian berlibur disana.”
Nabila sangat senang, dia mengantar Adam yang akan berkerja sampai depan pintu. Setelah itu dia berangkat ke kampus dengan mobil Abel, yang kemarin ditinggal di rumah Nabila.
Setelah memarkir mobilnya di cafe, Bila masuk ke gerbang kampus.
__ADS_1
Plakk tamparan mendarat di pipi Nabila.
Bersambung ..