
Kediaman orang tua Abel.
Suasana ruang kerja Papa Damar nampak tegang. Caca yang juga kakak perempuan Abel tengah bersitegang dengan papa Damar.
“Caca nggak mau, pa. Caca, kan, sudah tunangan, papa sama mama sendiri yang merestui kemarin.” Keluh Caca seraya terisak.
Beberapa waktu lalu Caca memang sudah bertunangan dengan pacarnya yang berasal dari kalangan biasa, pertunangan itu ditentang oleh kakek Nanto, oleh sebabnya pertunangan hanya di lakukan sederhana dan tanpa sepengetahuan kakek Nanto.
“Ca, kamu, kan, tau ini bukan keinginan papa dan mama. Ini semua keinginan kakek kamu, juga bagian dari surat wasiat nenek kamu.” Ujar papa Damar menjelaskan. Lelaki paruh baya itu nampak hati-hati saat berbicara pada putri sulungnya yang tengah merasakan kecewa.
“Tapi, pa.. Bagaimana dengan mas Ilham?Caca dan mas Ilham saling mencintai, pa. Caca nggak bisa ninggalin mas Ilham. Nggak akan bisa.”
Sungguh berat bagi Caca sebagai putri sulung, ia harus menerima perjodohan yang sudah di atur oleh almh. Neneknya dengan sahabatnya di masa lalu. Bagaimana dnegan Ilham, tidak mungkin Caca meninggalkan Ilham, namun, ia juga tidak mau membuat kakek Nanto kecewa. Jika saja Caca tau lebih awal perihal perjodohan ini, Ia mungkin tidak akan bertunangan dengan Ilham.
“Maafkan papa, Ca.” Lirih papa Damar yang juga bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini. Disatu sisi wasiat dari almarhum ibu nya dan disatu sisi kebahagiaan putri nya.
Mama Lila yang sedari tadi hanya diam akhirnya bersuara. Mama Lila tidak bisa hanya diam melihat kedua orang yang disayangi nya dalam kebimbangan. “Pa, Ca, apa kita minta Abel saja yang dijodohkan dengan cucu teman Bapak?” Usul Mama Lila.
Papa Damar dan Caca menoleh ke arah mama Lila, keduanya menggelengkan kepala dengan serentak.
“Mama tau, kan, bagaimana nakalnya Abel, jika kita biarkan Abel yang dijodohkan apa mama yakin Abel akan bersikap baik, belum lagi jika Abel ngamuk. Itu hanya akan menyakiti hati Bapak.” Ujar Papa Damar tidak setuju dengan usulan mama Lila.
“Papa benar, ma. Selain itu Caca mau Abel bahagia dengan pilihannya sendiri. Caca nggak mau adik satu-satunya Caca harus tersakiti karena di jodohkan dengan orang yang tidak dia cintai, jika memang perjodohan ini wajib dan sudah di tentukan, biarlah Caca yang menjalaninya, ma.” Ucap Caca lembut.
Caca sangat menyayangi Abel, ia tidak mungkin membiarkan Abel terjebak dalam perjodohan yang tidak Abel inginkan. Sekalipun dirinya harus terluka itu tidak masalah, bukankah seorang kakak harus berkorban untuk adiknya?
“Apa kamu yakin, Ca?” Tanya mama Lila dan Caca pun menangguk.
“Baiklah, sudah diputuskan kamu akan menerima perjodohan ini. Papa akan berusaha mengulur waktu pertemuan dengan calon mu, agar kamu bisa menyelesaikan masalahmu dengan Ilham. Jika perlu biar papa dan mama yang bertemu Ilham secara langsung dan meminta maaf atas batalnya pertunangan kalian.”
Ya, papa Damar dan mama Lila juga kasihan pada Ilham. Sekali lagi ini bukan kehendak papa damar dan mama Lila.
“Tidak pa, biar masalah Caca dan mas Ilham, caca sendiri yang menyelesaikan.” Caca menghapus sisa-sisa air matanya dengan kedua ibu jarinya.
“Maafkan, mama, nak. Mama tidak bisa membantu mu.” Mama Lila mendekati Caca lalu memeluknya. Caca menggeleng pelan, “Ini bukan salah mama, mama sama papa nggak perlu minta maaf ke Caca. Mungkin ini sudah jalan takdir dari Tuhan, pa, ma.” Ucap Caca mencoba ikhlas.
Mendengar apa yang di ucapkan putri sulungnya mama Lila justru menangis. Hatinya sakit melihat putri sulungnya bersedih dan ia tidak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
“Sudah, ma, Ca, tenangkan diri kalian, ingat sebentar lagi si bungsu datang. Jangan sampai dia menyadari kalian sedang bersedih.” Papa Damar menimpali sekalian mengingatkan pada kedua perempuan itu untuk berhenti menangis karna Abel akan pulang.
***
Abel tiba di rumahnya diantar oleh Daniel. Awalnya Daniel ingin bertamu sekalian bertemu dengan papa, mama Abel, namun Abel melarangnya. Abel beralasan butuh waktu memberi tahu hubungan nya dengan Daniel pada papa dan mama nya dulu baru mengajak Daniel kerumahnya.
Daniel tidak mempermasalahkan itu, lagi pula hubungan mereka masih awal. Ia bisa memaklumi kemauan Abel.
“Siang pak..” sapa Abel pada tukang kebun sekaligus keamanan dirumahnya.
“Siang juga non, mau pindahan lagi non?” Tanya Pak Jo pada Abel yang membawa dua koper lumayan besar.
Abel lalu teringat beberapa waktu yang lalu saat dirinya memutuskan tinggal di apartemen sendiri. Mungkin pak Jo mengira Abel tidak betah tinggal di apartemen dan akan kembali ke rumah.
“Haha.. nggak pak, ini saya bawa oleh-oleh. Saya habis liburan dari Jogja.” Jawab Abel.
“Wah, dapat bakpia dong non.”
“So pasti itu pak, tunggu saya unboxing dulu ya pak. Nanti pasti sampai depan bakpianya.” Ujar Abel lembut seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
***
Di ruang keluarga..
Papa Damar dan Mama Lila sedang minum teh sambil nonton televisi saat Abel datang.
“Mama..papa..” teriak Abel semangat menghambur ke pelukan mama Lila.
“Eh si bungsu sudah pulang, mama kira lupa jalan pulang. Habis nggak pernah kelihatan batang hidungnya di rumah.” Ujar mama Lila memeluk balik Abel. Abel justru mengerucutkan bibir nya. “Abel, kan, udah pamit kemarin mau ke Jogja.” Sahut Abel gemas.
“Cuman mama saja yang di peluk, papa nggak nih?” Sindir papa Damar.
Abel melepaskan pelukannya dari mama Lila lalu menoleh ke papa Damar. “Eh, ada si papa, minta uang jajan dong pa.” Sambil nyengir dan menengadahkan tangannya ke arah papa Damar.
“Hm..kamu ingat papa cuman kalau mau minta uang jajan, sungguh terlalu.” Papa Damar geleng-geleng kepala.
“Bercanda papa ku sayang.” Abel langsung memeluk papa Damar sebentar.
__ADS_1
“Gimana liburan kamu, oleh-olehnya mana?” Todong papa Damar langsung. Lelaki paruh baya itu sempat meminta dibelikan blangkon dan batik.
“Aman..” Abel meraih kopernya yang berada di sebelah sofa lalu membukanya. Ada banyak batik di dalam koper itu, juga beberapa blangkon. “Untuk papa ku tersayang.” Memberikan blangkon pesanan papa Damar.
“Nah, bagus ini. Besok kalau kamu nikah pakai adat Jogja putri saja. Biar papa bisa pakai blangkon.” Ujar papa Damar seraya menerima blangkon dari Abel.
“Mama setuju, Bel. Lagi pula mama itu punya darah Jogja lho, Kakek buyut kamu itu asalnya Jogja.” Mama Lila menimpali.
“Lah kok kita nggak punya rumah di Jogja, ma?” Tanya Abel.
“Dulu punya, tapi di jual buat modal kakek buyut kamu buka usaha di Jakarta.” Jelas mama Lila. Abel pun manggut-manggut.
Abel celingukan seperti mencari sesuatu.
“Caca lagi keluar, baru saja.” Ucap mama Lila seakan bisa membaca pikiran Abel.
“Kaka Caca sendiri atau sama mas Ilham?” Tanah Abel.
“Papa nggak tau.” Mengangkat bahunya sendiri.
.
.
.
Done dua bab untuk hari ini ya guys.. See u tomorrow.
Kalau boleh nih, mampir ke karya aku yang lain ya.
1. Bersamamu
2. My Dave
3. Pengacara Tampanku
4. Nice to meet You
__ADS_1