Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Adam yang bayar


__ADS_3

Adam menemani istrinya belanja dengan semangat, terlihat lelaki itu menenteng paper bag di tangan kanan dan kirinya. Lelaki itu berjalan mengekori istrinya masuk ke satu toko menuju toko yang lain.


“Sayang?”


“Yaa?” Nabila menoleh Adam yang berjalan di belakangnya, “Apa mas?”


“Jadi, beli tas?”


Nabila menggeleng, “Nggak, gak ada yang bagus. Mau nitip mbak Ayu aja.”


“Emang Ayu mau keluar negeri?” Adam tau tas yang diinginkan istrinya di jual di luar negeri, lelaki itu sempat beberapa kali mengintip isi ponsel Nabila. Disana ada beberapa scrennshot gambar tas yang sangat di inginkan Nabila.


“Enggak sih.”


“Terus gimana kamu nitipnya?”


“Itu pengawal si kembar akan ke Indonesia, aku bisa minta tolong sekalian belikan tas dulu.”


“Memang mereka punya uang?”


“Kan mas Adam tinggal transfer mereka saja, jadi mereka bisa punya uang.”


“Gitu yaa?”


“Iyalah.”


“Bentar, aku tanya mbak Ayu No rekeningnya. Nanti aku kirim ke whatshap mas Adam, terus mas Adam transfer yaa.” Pinta Nabila.


“Hm Oke bunda.”


***

__ADS_1


Nabila, Nita dan Abel sedang berada di salah satu kamar tamu rumah Adam. Sesuai permintaan Nita, Nabila menutup rapat pintu kamar itu.


“Ada apa sih?” Abel penasaran apa yang akan Nita ceritakan.


“Aku akan menikah.” Ucap Nita.


“What?” Nabila dan Abel terkejut.


Abel menyentuh kening Nita kemudian menyentuh keningnya sendiri. “Nggak sakit kok.”


“Gue serius, Bel.” Sungut Nita.


“Oke oke anggaplah itu serius, dengan siapa kapan karena apa?” Nabila menyerang Nita dengan beberapa pertanyaan. Nabila sendiri merasa ada yang tidak beres sama Nita. Gelagat Nita dari beberapa hari yang lalu agak aneh. Nita menjadi pendiam dan sering melamun.


“Lo nggak hamil kan?” Tebak Abel.


Bagai tersambar petir, Nita tidak menyangka Abel akan bertanya seperti itu. Nita menunduk, tidak berani menatap Abel maupun Nabila.


“Gue nggak hamil.”


“Terus?”


“Bel, santai dong. Nita kan jadi takut kalau kamu kaya gitu.” Melihat Abel yang menatap tajam Nita seperti tatapan hendak memakan Nita hidup-hidup.


“Biak aku yang ngomong sama Nita.” Nabila menarik tangan Abel agar berdiri dan duduk di belakangannya. Abel menuruti kemauan Nabila, ia bangkit dari dudukny beralih ke belakang Nabila.


“Ada apa Nit?Kamu mau nikah sama siapa?Mas Riko?” Tanya Nabila menebak.


Nita mengangguk.


“Mas Riko udah nyatain cinta ke kamu?”

__ADS_1


Nita mengangguk lagi.


“Udah ngenalin kamu ke keluarganya?”


Nita mengangguk lagi.


“Jadi, apa masalahnya kenapa kamu kayak nggak senang. Seperti ada yang mengganjal di hatimu.” Nabila masih mencoba mencari tau apa yang terjadi pada Nita, kenapa Nita memutuskan untuk menikah secara mendadak.


“Apa mas Riko melecehkan kamu?” Tanya Nabila dengan hati-hati.


Abel melotot mendengar apa yang ditanyakan Nabila. Tapi, dia tidak bersuara. Abel memilih menunggu jawab Nita.


“Ini salahku.” Ucap Nita diiringi air maya yang mulai berjatuhan di pipinya.


“Jadi, benar?” Sahut Abel. “Benar mas Riko melecehkan kamu?” Tanya Abel dengan suara sedikit meninggi.


“Abel...” Nabila melotot pada Abel.


“A-aku sudah kotor.” Nita sesenggukan.


Nabila memeluk Nita. “Ceritakan semuanya pada kami, kami tidak akan menyalahkan mu.” Nabila menepuk-nepuk lembut punggung Nita.


Nabila melepaskan pelukannya. “Ambil nafas dalam-dalam lalu keluarkan.” Memberikan contoh pada Nita agar bisa mengatur nafasnya menjadi lebih tenang.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2