Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Pencarian kedua


__ADS_3

Taksi online yang ditumpangi Nabila dan Nita berhenti tepat di depan gerbang masuk pasar Senin. Salah satu pasar tradisional yang sering Bila dan Nita kunjungi. Masih jam setengah 6 pagi, Bila mencari warung soto Lamongan. Bila dan Nita memasuki salah satu warung soto yang sering didatangi Nita dulu waktu SMP.


“Soto 2 pak, minumnya teh anget manis 2.”


“Baik, Neng.”


Nita menoleh ke Bila yang sudah duduk seraya makan mendoan. “Enak Bun?” Tanya Nita.


“He’m, udah lama ya kita nggak kesini!”


Sesudah sarapan soto, Nabila dan Nita masuk ke area pasar mencari jajanan pasar. Nita sudah menenteng satu kresek putih berisi jajanan pasar. “Mau cari apa lagi?” Tanya Nita.


“Udah sih, sekarang kita kemana?” Nabila tiba-tiba merasa bingung dengan tujuannya. Jika pulang ke apartemen pastilah Adam cepat menemukan Nabila.


“Aku ngikut aja, atau pulang aja yuk Bil?” Bujuk Nita.


Nabila menatap tajam Nita. “Pulang kemana?Aku kan masih marah sama mas Adam.”


“Hm, mau sampai kapan kamu nggak mau dengerin penjelasan mas Adam dulu?Kan belum tentu mas Adam salah.”


“Entahlah, kita ke cafe aja!” Ajak Bila.


Kali ini Nabila dan Nita pergi ke cafe dengan taksi biasa, mereka sengaja mematikan ponselnya agar tidak bisa dihubungi. Sampai di cafe masih sepi hanya ada beberapa karyawan shift malam, belum pergantian shift. Nabila berpesan pada karyawannya untuk tidak mengatakan pada siapapun Nabila dan Nita sedang di cafe, Nabila juga berpesan jika ada yang mencarinya untuk mengatakan Nabila tidak di cafe. Nabila merebahkan dirinya ranjang ruang pribadinya di latai atas.


“Nit aku tidur sebentar yaa, ngantuk.” Ucap Nabila sudah meringkuk memeluk guling.


Nita menyalakan televisi di ruangan itu, dan duduk bersender pada sofa. “Iya iya, tapi kamu nggak takut gendut?Baru habis sarapan udah mau tidur aja.”


Tidak ada sahutan dari Nabila, ternyata Bila sudah terlelap dalam tidurnya. “Cepat sekali tidurnya.”


***


Adam mengerjapkan matanya melihat jam tangannya sudah jam 6 pagi. Dia pun langsung duduk tegap, Adam berjalan ke kamar yang yang ditempati Nabila dan Nita. Mengetuk pintu kamar itu dan memanggil Nabila berkali-kali tapi tidak ada sahutan. Adam memustukan untuk membuka pintu e kamar itu, betapa terkejutnya Adam saat tau kamar yang ditempati Nabila sudah kosong dan rapi. Dia masuk kedalam kamar mengecek kamar mandi lalu keluar melihat ke arah dapur, balkon dan setiap sudut apartemen Abel tapi tak menemukan keberadaan Nabila. Adam mulai panik, dia mengetuk pintu kamar Abel serta memanggil-manggil Abel.


“Mas Adam apa-apaan sih?Masih jam berapa sudah ribut saja.” Gerutu Abel seraya membuka pintu kamarnya.


Krekk.. pintu kamar Abel terbuka, muncul Abel dengan rambut berantakannya dan wajah kesal. Dua kali Adam mengganggu mimpi indahnya. “Apa mas apa?”


“Bel, Nabila nggak ada.”

__ADS_1


“Nggak ada gimana?” Tanya Abel mulai panik.


“Nggak ada, nggak ada di kamarnya. Kamarnya sudah rapi, Bila sama Nita nggak ada.”


Abel pun nyelonong melewati Adam yang berdiri di depan pintu kamarnya berjalan menuju kamar yang ditempati Nabila. Benar kata Adam, Nabila dan Nita enggak ada. “Hm, pasti Aira kabur lagi nih. Mas Adam gimana sih?Udah di depan mata bisa-bisanya kecolongan.” Abel kembali ke ruang tamu.


“Aku ketiduran Bel.” Ucap Adam.


“Aku tadi kan nyuruh mas Adam untuk menunggu Nabila bangun, bukan nyuruh mas Adam tidur!” Abel duduk di sofa.


Riko terbangun karena suara ribut Adam dan Abel. “Ada apa?Kalian sudah ribut saja.”


“Tuh mas Adam kecolongan, Nabila kabur lagi. Sekarang berdua sama Nita.”


Riko langsung duduk tegap mendengar nama Nita di sebut. “Mereka kabur?Nabila sama Nita?” Tanya Riko.


Abel hanya mengangguk, sementara Adam sibuk menelefon. Sepertinya Adam menelefon Frans untuk mencari Nabila. Setelah mematikan telefonnya Adam mengajak Riko untuk meninggalkan apartemen Abel. Adam berpesan agar Abel terus menghubungi Nabila dan memberi kabar pada Adam jika ada perkembangan.


“Mereka kapan kaburnya Dam?” Tanya Riko.


“Entahlah Rik, mungkin pas subuh. Aku yakin Bila sama Nita bangun pas subuh. Bila tau aku di rumah Abel makanya langsung kabur.” Balas Adam fokus mengemudi.


Adam memarkirkan mobilnya di gedung Aero finance Group. Dia turun dari mobil dan diikuti oleh Riko. Hari ini Adam harus memimpin rapat penting di Aero. Sampai di ruang kerjanya Adam langsung masuk ke ruang pribadinya untuk mandi dan mengganti bajunya dengan baju setelan kerja. Riko memilih untuk menunggu Adam di sofa dengan rebahan.


“Gue meeting sama karyawan bentar, lo mandi aja. Setelah urusan kerjaan gue selesai, kita cari Nabila sama Nita.” Ucap Adam.


“Oke. Sekarang aja balik lo gue, tadi aja aku kamu.”


Adam meninggalkan Riko. Sebelumnya Adam sudah menghubungi sekertarisnya agar memajukan jadwal meeting. Sebagai bos Adam sudah biasa memajukan jadwal meeting. Adam memajukan jadwal meeting menjadi sangat pagi juga bukan karena alasan yang tidak jelas, hari ini Adam akan fokus mencari Nabila. Bagaimanapun Nabila lebih penting dari pekerjaan. Meeting yang di pimpin Adam berjalan lancar, Adam hanya mendengarkan garis besarnya saja dan menyerahkan selanjutnya pada sekertarisnya.


“Ayo!” Adam mengajak Riko untuk mencari Nabila dan Abel.


Riko sudah mandi dan berganti baju meminjam kemeja Adam. “Mau cari dimana?Makan dulu enggak?” Riko memang merasa lapar, sejak semalam dia tidak makan sama sekali.


“Kita makan di cafe Bila aja.” Jawab Adam. “Kamu yang nyetir!” Adam melemparkan kunci mobil yang langsung ditangkap oleh Riko.


“Oke, menu di cafe Nabila enak juga sih. Gue sering makan di sana.” Riko membuka pintu mobil dan masuk duduk ke kursi pengemudi.


Adam duduk di kursi penumpang tepat di sebelah Riko. “Lo sering makan disana karena ngapelin si Nita kan?”

__ADS_1


“Lo tau?” Tanya Riko.


“Lo lupa?Yang punya cafe istri gue, gue bisa tau kelakuan lo lewat CCTV cafe.”


“Sial*n.”


Riko mengemudikan mobil Adam dengan kecepatan tinggi. Adam tidak protes sama sekali, karena dia ingin cepat sampai cafe milik Nabila. Sekitar jam 9 pagi Adam dan Riko sampai cafe milik Nabila. Karena cafe Nabila buka 24 jam, jam 9 pagi pun sudah tergolong ramai. Riko memarkirkan mobil Adam di parkiran tamu. Adam dengan cepat turun dari mobilnya dam masuk kedalam cafe. Beberapa dari karyawan Nabila sudah tau jika Adam adalah suami Nabila jadi tidak ada yang berani menghentikan langkah Adam naik ke lantai atas.


“Gak papa kan Pak Adam naik ke lantai atas?” Tanya salah satu karyawan cafe.


“Nggak papa. Pak Adam kan suaminya mba Nabila.” Jawab karyawan yang lain.


“Tapi mbak Nabila tadi pesan jangan kasih tau siapapun kalau mbak Nabila disini.”


“Tapi kan pak Adam enggak tanya mbak Nabila disini apa enggak. Pak Adam kan langsung ke atas, berarti pak Adam sudah tau mbak Nabila di atas.”


“Iya juga sih.”


“Sudah, kembali bekerja saja.”


Dua karyawan itu kembali pada pekerjaanya. Adam sendiri langsung menuju lantai atas di ikuti Riko.


Kriet.. Adam membuka pintu pelan tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Dilihatnya Nita menoleh ke arah pintu, Adam memberi meletakan jari telunjuk tepat didepan bibirnya memberi isyarat pada Nita agar diam. Adam bersama Riko mendekati Nita dengan langkah yang pelan agar Nabila tidak terbangun.


“Udah lama tidurnya?” Lirih Adam melihat istrinya yang terlelap.


“Lumayan, mas tau dari mana kita disini?” Tanya Nita dengan berbisik.


“Anak buahku.” Adam duduk di sofa yang masih berdekatan dengan Nita juga diikuti Riko. “Tolong kamu temani Riko sarapan, dia udah hampir mati kelaparan.” Adam mengusir Nita secara halus.


Nita menatap Riko yang diangguki oleh Riko. Akhirnya Nita pun menurut, “Jangan dibangunin!Tunggu saja sampai bangun, tapi mas Adam jangan tidur nanti Bila kabur lagi.” Bisik Nita.


Adam mengangguk. “Tenang saja, kali ini pasti masalah selesai.”


Nita dan Riko turun ke lantai bawah. Nita menemani Riko sarapan. Riko juga menjelaskan yang terjadi antara Nabila dan Adam hanya salah paham.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2