
Masih Nabila Pov
“Baik, Bel. Kamu tambah cantik aja, Bel.” Ujar tante Rani pada Abel. Tante Rani mengajak aku dan kedua sahabatku untuk duduk. Kami mengobrol banyak.
Aku merasa Kak Rangga mencuri-curi pandang terhadapku, membuatku merasa tidak nyaman. Entah hanya aku yang merasa atau Abel dan Nita juga sadar jika kak Rangga sering melirik ku.
“Jadi, tante pindah ke Jakarta?” Tanya Abel.
“Iya, Bel. Baru satu bulanan. Nanti kamu main kerumah tante, ya?”
“Boleh, tapi tante masak yang enak, ya?Nanti Abel kesana sekalian numpang makan.” Ucap Abel tanpa sungkan. Sahabatku yang satu itu memang tidak punya malu.
“Hahaha, dengan senang hati, Bel.” Tante Rani malah tertawa menanggapi Abel.
“Lo udah di jemput tuh, Nit.” Abel melihat mobil mas Riko diseberang cafe.
“Oh, iya. Tante Rani dan Kak Rangga kalau gitu Nita duluan, ya. Sudah di jemput soalnya,” Nita pamit pada tante Rani dan kak Rangga.
“Hati-hati ya, Nit. Jangan lupa mampir ke rumah tante.”
“Siap, Tan.” Nita pun lebih dulu meninggalkan aku dan Abel untuk pulang.
“Kalah kamu, Bil?Dijemput juga?” Tanya kak Rangga padaku.
“Harunya iya kak, tapi, nggak tau kenapa belum sampai.” Jawabku pada kak Rangga.
“Atau kamu diantar sama Rangga aja, Bil. Udah hampir magrib ini.” Ujar tante Rani padaku.
“Iya, Bil mending kak Rangga aja yang nganter kamu.” Timpal Abel.
“Terus kami gimana, Bel?” Tanyaku pada Abel yang juga tidak membawa mobil. Sebenarnya aku sih berharap Abel ikut pulang bersamaku. Aku merasa tidak nyaman jika diantar kak Rangga.
“Aku dijemput kak caca, ini kak caca udah otw.” Jawab Abel.
__ADS_1
“Gimana, Bil?Kamu diantar sama Rangga saja!” Tante Rani sedikit memaksa. Aku sedikit bingung mau menolak atau menerima niat baik tante Rani.
Dengan berbagai bujukan akhirnya aku mengalah. Aku membiarkan kak Rangga mengantarku setelah pak Slamet mengirim pesan tidak bisa menjemputku. Kak Rangga lebih dulu mengantar tante Rani pulang. Karna, rumah mereka lebih dekat. Setelahnya kak Rangga mengantarku pulang.
Canggung sekali suasana di dalam mobil. Aku duduk di kursi depan sebelah kak Rangga. Tadinya aku duduk di belakang tapi, setelah tante Rani turun aku pindah ke kursi depan sesuai permintaan kak Rangga.
Mobil yang dikemudikan kak Rangga melaju menembus jalanan kota Jakarta petang itu. Aku tidak tau harus memulai percakapan bagaimana, ini pertama kalinya aku dan kak Rangga berduaan. Aku juga belum mengenal kak Rangga, ini kedua kalinya kami bertemu.
“Bil!” Kak Rangga menoleh sekilas ke arahku.
“Hm, ya kak?”
“Kenapa diam?Kamu gak nyaman saya antar?” Tanya Kak Rangga padaku.
“Eng,,enggak kok kak,”
“Ya sudah jangan tegang gitu, saya nggak gigit kok.” Mungkin kak Rangga ingin mencairkan suasana dari kesunyian.
“Hehe, iya kak.” Gimana nggak tegang kalau jadi aku. Aku bisa menyadari kak Rangga sering melirik ke arahku.
“Mas Adam sibuk kak, sedang menangani proyek besar. Jadi, sering lembur.”
“Sesibuk-sibuknya kerjaan, keluarga harusnya menjadi prioritas, Bil.” Ujar kak Rangga terdengar santai tapi agak memojokkan mas Adam menurutku. Seakan dia ingin mengatakan jika mas Adam lebih mementingkan pekerjaan dari pada keluarga. Entah mengapa aku tidak suka dengan perkataannya.
“Sebenarnya mas Adam selalu mau menjemputku, kak. Tapi, aku yang menolaknya.” Jawabku berbohong. Eh, sebenarnya bukan berbohong dulu sebelum bertengkar mas Adam selalu menyempatkan waktu untuk menjemputku. Sekarang mas Adam tidak menjemputku karna hubungan kami sedang renggang. Tapi, dia tetap bertanggung jawab, nyatanya mas Adam selalu memerintahkan pak Slamet sebagai sopir pribadiku. Bahkan, pak Slamet bilang mas Adam meminta pak Slamet menungguku saat kuliah. Aku saja yang menolaknya. Aku kasian jika pak Slamet menungguku saat sedang kuliah.
“Kenapa kamu menolak?Seharunya kamu senang, kan?” Kenapa sih aku merasa kak Rangga sedikit kepo terhadap hubunganku dan mas Adam.
“Aku kasian sama mas Adam. Dia pasti juga lelah dengan setumpuk pekerjaan di kantor, yang aku tau pekerjaan Presdir tidak sedikit. Masa iya mas Adam menjemput aku pulang kuliah lalu mengantarku ke rumah lalu dia kembali lagi ke kantor. Aku tidak mau seperti itu. Aku hanya tidak mau mas Adam kecapekan dan jatuh sakit. Lagipula mas Adam sudah menyiapkan sopir pribadi untukku.” Aku sedikit menyombongkan suamiku yang juga seorang Presdir perusahaan besar. Biar kak Rangga tau perkerjaan mas Adam banyak. Belum lagi jadwal meeting nya bersama klien. Perkara menjemput ku pulang kuliah adalah hal sepele menurutku. Aku tidak perlu harus diantar jemput oleh suamiku. Hih, lagi-lagi aku merasa kesal dengan kak Rangga. Kenapa sih?
“Perusahaannya juga milik suamimu, Bil. Jika hanya absen sebentar untuk menjemputmu juga tidak akan menjadi masalah.” Kata kak Rangga datar. Tapi menyebalkan menurutku. Kok, aku merasa kak Rangga sedang berusaha menjelek-jelekkan mas Adam.
“Memang benar perusahaannya milik suamiku, kak. Tapi, bukan berarti mas Adam bisa menyalahgunakan kekuasaannya hanya untuk hal sepele. Mas Adam, kan, juga harus menjadi contoh pemimpin yang baik bagi bawahannya.” Biar saja aku sombong lagi. Biar kak Rangga tau betapa suamiku itu sangat bijaksana sebagai pemimpin. Meskipun, kenyataanya mas Adam pernah bolos hanya karna ingin berduaan denganku seharian. Ah, aku rindu bermanja-manjaan dengan mas Adam.
__ADS_1
“Hehe, kamu benar, Bil. Sebagai pemimpin memang dia seharunya menjadi contoh yang baik untuk bawahannya.” Ujar kak Rangga dengan senyuman yang dipaksakan kalau menurutku. Terserahlah, yang penting aku menjadi pemenangnya. Kak Rangga tidak berhasil menjelek-jelekkan mas Adam. Aku juga tidak yakin sih kak Rangga sengaja ingin menjelek-jelekkan mas Adam atau hanya tidak sadar dengan apa yang dari tadi ia katakan. Bisa saja Kak Rangga memilih topik obrolan seputar mas Adam karna canggung dengan keadaan kami di dalam mobil.
“Sudah sampai, kak.” Tak terasa sudah 45 menit perjalanan yang kami tempuh. Mobil kak Rangga pun berhenti di depan gerbang rumahku. Aku bingung akan menawarinya untuk masuk dulu atau tidak. Jika aku menawarinya masuk apakah pantas?Mas Adam bisa saja salah paham, tapi, jika tidak aku merasa tidak enak apalagi kak Rangga sudah berbaik hati mengantarku pulang.
“Ya sudah kamu masuk saja, sebentar lagi magrib. Saya lanjut saja, gak enak kalau mampir jam magrib begini.” Tutur kak Rangga. Syukurlah kak Rangga bisa membaca situasi dan kondisi.
Aku turun dari mobil yang pintunya dibukakan oleh kak Rangga. Kemudian aku mengucapkan Terimakasih pada kak Rangga. “Terimakasih, kak. Maaf, sudah merepotkan.” Ujarku tulus.
“Santai saja, Bil. Kalau gitu saya pamit.”
“Hati-hati di jalan kak.”
***
“Dari mana kamu?!” Hardik mas Adam begitu aku masuk ke dalam kamar.
“Dari kampus, mas.” Aku takut, mas Adam sepertinya marah.
“Jam segini?Memangnya kamu kuliah ambil kelas malam, magrib begini baru sampai rumah?”
.
.
.
.
.
Hiss Adam ya, bisa-bisanya marahin Nabila yang baru saja sampai rumah. Author nggak terima Nabila di marahin!!
Pesan dari author untuk siapapun: Jika suami atau istri kalian baru pulang/telat pulang entah itu dari bekerja atau dari melakukan hal apa, jangan langsung di ajak berantem!Karna, kita nggak tau selelah apa hari itu mereka. Kita nggak tau apa saja yang mereka hadapi hari itu.Jangan tambah penat lelah mereka dengan kemarahan atau keketusan. Jika kita marah dengan suami/istri yang telat pulang hal yang harus dilakukan adalah tetap sapa dengan baik. Jika perlu buatkan teh atau siapkan air hangat untuk mandi. Setelah sama-sama beristirahat barulah komunikasikan, tanyakan apa alasan telat pulang.
__ADS_1
Oke?