Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Nabila Pov


__ADS_3

Nabila Pov


Aku melihat mobil mas Adam memasuki halaman rumah dari jendela kamarku. Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Aku ingin tau mas Adam menciumku atau tidak. Saat kita tidak sedang bertengkar mas Adam akan selalu menciumku setelah pulang kerja. Tapi, sekarang kita sedang renggang.


Aku menunggu dengan cemas. Aku takut mas Adam mengabaikanku. Aku naik keranjang dan berbaring. Aku pura-pura tidur.


Ceklek.. kudengar pintu kamarku terbuka. Harum parfum mas Adam juga sudah tercium. Aroma parfum yang selalu membuatku merindukannya. Tap tap langkah kaki mas Adam pelan tapi aku bisa mendengar dari hentakan sepatu pantofelnya. Sepertinya mendekatiku. Aku tetap memejamkan kedua mataku dengan harap-harap cemas.


Cup... aku merasakan bibir mas Adam menyentuh keningku. Dia menciumku. Apakah dia sudah tidak marah lagi?Tapi, beberapa hari ini dia masih mengabaikanku.


Aku mendengar suara gemericik dari kamar mandi. Pasti mas Adam sedang mandi. Aku pun memutuskan untuk membuka mata. Aku merasa lega setidaknya mas Adam masih peduli padaku. Nyatanya dia masih menciumku. Saking bahagianya aku kembali memejamkan mataku dan akhirnya tertidur. Aku terbangun saat jam makan malam. Mas Adam yang membangunkanku.


***


“Makan yang banyak, Bil. Biar cucu mama tumbuh sehat!” Ujar mama Silfi padaku.


“Iya, ma.”


“Atau kamu mau dimasakan apa selama ibu dan mama disini?” Tanya ibu putri.


“Ibuk mau menuruti semua keinginan Bila?” Aku senang tapi mas Adam melototiku seakan tidak suka dengan sikapku. Aku pun menundukkan kepalaku.


“Kamu kenapa, Dam?Mama nggak suka kamu natap mantu mama kayak gitu, kamu nakutim mantu mama.” Sepertinya mama Silfi memergoki saat mas Adam melotot padaku. Seperti biasa mama Silfi selalu memihak padaku. Menantu kesayangannya.


“Memang Adam ngapain, ma?” Tanya mas Adam masa bodoh.


“Kamu itu melotot sama Nabila, kamu pikir mama nggak tau?” Ketus mama Silfi.


“Perasaan mama aja kali, orang Adam natap dinding kok.” Mas Adam berkelit padahal terlihat jelas dia sedang melotot padaku.


“Sudah, sudah!Kita makan dulu, jangan ribut!” Seperti biasa pula ibuk menjadi penengah saat mas Adam dan mama Silfi bersitegang.


“Mantu kamu itu sih Jeng yang mulai.” Ucap mama Silfi.


“Nggak buk, mama yang nyalah-nyalahin Adam terus.” Ucap mas Adam membela diri.


Ibu menepuk-nepuk bahu mas Adam. “Udah, kamu yang sabar.” Ucap ibu.


Kami hanya makan malam berempat. Papa Wisnu sudah kembali ke Australia karna harus mengurus pekerjaan. Bapak dan kakek Tejo juga sudah kembali ke Jogja. Kakek Trisno pulang ke rumah utama. Sedangkan Yoga bocah itu belum pulang. Mungkin basket atau pacaran. Aku bahkan belum sempat bertanya apakah Yoga sudah punya pacar atau belum.


Setelah makan malam aku kembali ke kamarku. Mas Adam masuk ke ruang kerjanya. Mama dan ibu sudah masuk ke kamar mereka juga untuk istirahat.

__ADS_1


***


Keesokan paginya, hari dimana aku kembali kuliah. Mama Silfi dan ibu mengantarku. Mama Silfi akan pergi kerumah kakek bersama ibu. Tapi, mereka mengantarku ke kampus lebih dulu.


“Makasih, ma!” Ucapku pada mama Silfi. Mama memgangguk. Aku pun turun dari mobil.


Mobil yang ditumpangi mama dan ibu akhirnya hilang dari pandanganku. Aku pun masuk ke kampus. Aku berjalan dengan tenang menuju ruang kelas. Kulihat Abel sedang tidur di dalam kelas, padahal masih pagi. Abel tidur dengan kepala bersandar di meja.


“Bel!” Aku meletakan tasku di atas meja. Lalu aku duduk di kursi tepat di sebelah Abel.


“Hm.” Jawab Abel.


“Ngantuk?”


“Hm.”


“Bolos aja kalau ngantuk,” ucapku pada Abel. Lebih baik bolos dari pada tidak konsen.


Abel mengangkat kepalanya. “Gue nggak mau ngulang, mata kulian ini susah.” Ucap Abel tidak mau bolos.


“Atau kamu cuci muka dulu gih.” Aku menyuruhnya cuci muka agar tidak kusut mukanya.


“Oke!” Abel bangkit dari duduknya untuk pergi kekamar mandi dan cuci muka.


“Cuci muka.” Jawabku singkat.


“Emang semalam nggak tidur, sampai bawa muka bantal ke kelas?” Tanya Nita seraya duduk di bangku kursinya.


Aku mengangkat kedua bahuku. “Nggak tau.” Ucapku.


“Bagaimana tanggapan mas Riko?” Tanyaku pada Nita. Dia belum menceritakan pada kami bagaimana tanggapan mas Riko saat tau Nita hamil.


“Dia sangat bahagia, kami akan memajukan tanggal pernikahan kami.” Jawab Nita.


“Syukurlah. Nanti sepulang kuliah kita nongkrong di cafe ku, gimana?Sekalian aku nunggu jemputan.”


“Boleh.”


Sesuai rencana pulang kuliah aku, Abel dan Nita ngopi-ngopi cantik di cafe ku. Sekalian aku menunggu pak Slamet yang akan menjemputku.


Kita duduk di tempat biasa, kursi pojok ruangan. Spot yang sangat nyaman untuk digunakan gosip. Saat sedang asik mengobrol bersama Abel dan Nita, aku melihat seorang laki-laki dewasa dan wanita paruh baya yang ku kenal masuk ke cafe ku.

__ADS_1


“Bil, Bil!” Abel sedikit berteriak seraya menepuk-nepuk lenganku. “Itu tante Rani, kan?” Abel menunjuk kursi yang diduduki tante Rani dan Rangga. Ternyata bukan hanya aku yang menyadari kedatangan tante Rani.


“Iya Bel, aku juga lihat.” Jawabku pada Abel.


“Mana sih?Eh, Iyaa sama kembaran kak Randy, ya?” Nita menatap kerajaan yang ditunjuk Abel.


“Ngapain ya, mereka ke Jakarta?” Tanya Abel.


Aku juga penasaran, apa yang dilakukan tante Rani dam Rangga di Jakarta. Yang ku tau usaha mereka di Bandung dan Medan. Tidak ada kerabat dekat juga. Pikirku terdiam. Eh, tatapan kami bertemu?Aku dan kak Rangga bertatapan dengan jarak beberapa meter. Dia tersenyum padaku saat pandangan mata kami bertemu. Kulihat dia langsung berbicara pada tante Rani.


Pun, tante Rani langsung menoleh padaku. Beliau tersenyum hangat dan melambai padaku. Rangga juga langsung berdiri dan berjalan kearahku.


“Nabila kan?” Tanya Rangga begitu dirinya sampai di hadapanku. Aku mengangguk. “Masih ingat aku, Rangga kembaran Randy?” Mana mungkin aku lupa. Wajah kalian saja mirip. Meskipun bukan kembar identik, tapi, siapa pun pasti tau kalian saudara.


Aku mengangguk lagi. “Kak Rangga apa kabar?” Aku berdiri lalu menyalami Rangga. Begitu juga Abel dan Nita, mereka juga langsung berdiri menyalami Rangga.


“Baik, kamu sendiri gimana?”


“Alhamdulillah, kami juga baik, kak.” Jawabku.


“Kalau nggak keberatan apa kalian mau bergabung sama aku dan mama?Kebetulan mama pengen ngobrol sama kamu,” Aku tidak mungkin menolak, kan?Lagi pula tante Rani selama ini sangat baik padaku. Aku juga kangen beliau.


“Boleh, kak.” Aku mengambil tasku dan mengajak Abel serta Nita pindah ke meja Rangga dan tante Rani.


“Ya ampun Nabila, tante hampir pangling sama kamu. Kalau enggak Rangga yang bilang, tante nggak tau itu kamu. Padahal tante tadi lihat kamu pas masuk.” Ujar tentu Rani padaku. Kami cipika cipiki seperti biasa.


“Nabila tambah gemuk, Tan.” Jawabku dengan mengerucutkan bibirku. Yah, mau bagaimana lagi berat badanku naik karna hamil. Aku tidak keberatan sih dengan berat badanku yang naik,hanya saja kadang aku merasa tidak pe-de.


“Iyaa, pipi kamu gembul hehe.” Dah tau dari dulu pipi Bila gembul, masih aja dijelaskin. Emang ya tante Rani tidak berubah. Tetap ramah dan penuh kasih.


“Eh, Abel sama Nita kok diem aja?” Tante Rani menoleh pada Abel dan Nita.


‘Gimana mau ngomong, tante dari tadi nerocos sambil toel toel pipi Nabila.’ Gumam Abel sepertinya sih dia bilang begitu pada dirinya sendiri.


“Apa kabar tante?” Tanya Abel pada tante Rani.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2