
Abel memutuskan menginap dirumahnya hari ini. Entah mengapa Abel ingin tidur bersama kakaknya. Dengan membawa guling dan bonekanya Abel pergi ke kamar Caca.
“Permisi..” lirih Abel seraya membuka pintu kamar Caca.
“Mau tidur sama Kakak?” Tanya Caca dan Abel mengangguk. Caca pun dengan senang hati mengizinkan Abel tidur di kamarnya. “Sini..” menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya. Abel langsung berlari dan naik ke atas tempat tidur.
“Tumben kamu nginep?”
“Abel mau cerita kak.” Abel sudah masuk ke dalam selimut Caca.
“Kamu punya pacar?” Tebak Caca.
“Kok kakak tau sih, ah nggak asyik.” Abel cemberut, Caca bisa menebak apa yang ingin ia ceritakan. Caca pun terkekeh sambil menepuk puncak kepala Abel pelan. Ternyata Abel masihlah adik kecilnya, hanya usia nya saja yang kian bertambah, tingkahnya masih sama seperti saat balita.
“Jadi, sekarang udah punya pacar?Udah move on dari Akbar?” Goda Caca.
“Ih.. kak Caca apaan sih, memang siapa yang gak bisa move on dari Akbar.” Cebik Abel.
“Iya..iya, adik kakak pasti mudah sekali move on nya. Tapi, kalau di ajak balikan Akbar masih mau, kan?” Lagi-lagi Caca menggoda Abel karna tidak mungkin bagi Abel balikan dengan Akbar, semua orang tau itu.
“Kakaakkkkk...” Teriak Abel dan Caca terkekeh lagi.
Kakak beradik itu bercerita hingga dini hari. Mereka baru terlelap setelah mendengar ayam jago berkokok.
***
Keesokan pagi nya keluarga besar Abel nampak menikmati sarapan mereka, sesekali mereka mengobrol di sela-sela makannya.
“Papa, Mama sama Kak Caca mau ke Kanada akhir pekan ini, Bel. Kamu mau ikut apa enggak?” Tanya papa Damar.
Abel menggeleng, Abel mengira keluargannya hanya akan berlibur di ke tempat almh. nenek. Biasanya mereka memang pergi ke Kanada untuk berziarah ke makam nenek. Padahal mereka kesana untuk menemui calon suami dari perjodohan yang diatur kakek untuk Caca dan cucu sahabat kakek, nenek.
“Yakin nggak mau ikut?” Tanya papa lagi. Sekali lagi Abel menggeleng.
“Nggak mau, pa. Abel mau fokus mengerjakan skripsi. Biar bisa cepet lulus.” Jawab Abel sambil makan buah pisang.
“Memang kamu mau apa pengen cepat lulus?” Tanya mama Lila heran. Bukannya si bungsu itu tidak terlalu rajin saat kuliah, Abel bahkan sering bolos saat kakek nya sakit diluar negeri.
__ADS_1
“Mau nikah lah, biar nanti anak Abel bisa seumuran dengan anak Nabila dan Nita.” Jawab Abel jujur. Dulu saat awal kuliah Abel, Nabila dan Nita pernah bercita-cita menikah dalam jarak waktu yang berdekatan juga hamil bersamaan biar anak mereka bisa seumuran, biar pas ambil raport bisa sekalian ketemuan.
“Huahahaha.” Papa Damar yang mendengar ucapan Abel seketika tertawa terbahak. Bukan semangat mengerjakan skripsi agar bisa lulus dan kerja, tapi, putri bungsunya justru ingin lulus dan menikah agar punya anak.
“Papa kenapa sih, emang ada yang lucu?” Cebik Abel.
“Enggak ada yang lucu kok, Bel.” Papa Damar menghentikan tawanya sejenak. “Memang kamu tidak punya keinginan kerja dulu setelah lulus?” Tanya papa Damar.
“Hm.. Enggak, pengennya kerja ngurus suami sama anak.”
Berbeda dengan Caca yang menjadi wanita karir setelah lulus. Abel lebih berkeinginan menjadi istri yang baik setelah lulus.
“Ya sudah, terserah kamu saja, mama sama papa dukung semua keputusan kamu asal itu hal baik.” Ucap mama sembari mengelus puncak kepala Abel.
***
Abel pergi ke rumah Nabila untuk memberikan oleh-oleh sekaligus bertemu baby Aksa dan Akra. Sekalian ia akan membagikan berita bahagia jika dirinya tidak lagi jomblo.
Dengan mengendarai mobil kesayangannya Abel menuju rumah Nabila. Di sepanjang jalan perempuan itu bersenandung ria, ia memplay lagu-lagu romantis yang membuat hatinya semakin berbunga-bunga.
Tin..tin.. Abel membunyikan klakson mobilnya nya begitu sampai di depan gerbang rumah mewah itu. Pak Bejo yang mengenali mobil Abel pun segera membuka gerbang.
“Makasih, Pak.” Ujar Abel menurunkan kaca mobilnya sambil tersenyum pada pak Bejo.
Abel pun melajukan mobilnya masuk ke pekarangan rumah, jika biasanya Abel memarkir mobilnya sembarang kali ini ia memarkir mobilnya dengan rapi. Abel turun dari mobil lalu beralih membuka pintu mobil bagian belakang mengambil beberapa paperbag berisi oleh-olehnya dari liburan.
Ia pun berjalan menuju pintu utama, namun saat akan masuk ke dalam rumah, Abel melihat mobil yang ia kenali terparkir di depan pintu utama. Tiga mobil yang ia kenali salah satunya mobil milik Daniel kekasihnya, dua mobil yang lain milik Kevin dan juga Riko.
Daniel disini? Pikirnya.
Ia pun mengurungkan niatnya lewat pintu utama. Abel memilih untuk lewat pintu samping yang terhubung dengan dapur dan taman samping.
“Assalamualaikum..” sapa Abel pada Bi Sumi dan Bi Ijah yang sedang berada di dapur.
Keduanya pun menoleh pada Abel, “Walaikumsalam, eh non Abel. Tumben lewat dapur, non?” Tanya Bi Ijah.
“Iya, Bi. Kayaknya ada tamu ya Bi?” Tanya Abel basa-basi.
__ADS_1
“Iya, non. Teman-teman nya tuan.” Jawab Bi Ijah. Abel pun manggut-manggut, “Oh iya, ini oleh-oleh Bi, saya dari Jogja kemarin.” Abel menyerahkan oleh-oleh yang dibelinya khusus untuk pembantu di rumah Nabila. “Di bagi rata ya Bi.” Lanjut Abel.
“Makasih ya, non.” Bi Ijah menerima beberapa dua paperbag dari Abel.
“Sama-sama, Bi.”
Setelah mengobrol sebentar dengan Bi Sumi dan Bi Ijah, Abel pergi ke kamar Nabila untuk menemui Nabila. Abel tau Nabila di kamarnya bersama si kembar, ia sudah bertanya pada Bi Ijah.
Tok..tok.. Abel mengetuk pintu kamar Nabila.
‘Masuk.’ Sahut Nabila dari dalam kamar, kebetulan pintu kamar Nabila terbuka sedikit.
Abel masuk ke dalam kamar Nabila dengan langkah santai, dan Nabila pun menoleh. Nabila sedang bersama mama Silfi dan ibu Putri mengurus si kembar. Maklum Nabila masih belum bisa bergerak bebas setelah operasi cecar, ia masih banyak di bantu kedua ibunya saat mengurus si kembar.
“Abel!!” Teriak Nabila senang. Perempuan itu langsung melambai-lambaikan tangannya agar Abel mendekat. Bukan mendekat Abel malah mematung di tempatnya seraya menutup kedua telingannya, teriakan cempreng Nabila tidak enak di dengar. Bahkan si kembar yang di pangku mama Silfi dan Ibu putri pun menangis.
“Oekk..oek..” tangis si kembar karna suara Nabila.
“Aduh, duh, Maafin bunda sayang.” Ucap Nabila seraya mengelus kepala Aksa yang dipangku mama Silfi.
Sementara mama Silfi dan ibu Putri hanya geleng-geleng kepala. “Teman kamu itu, Bel. Masa teriak-teriak kaya di hutan saja.” Keluh Bu Putri.
“Soalnya dia excited buk ketemu inces Abel.” Jawab Abel percaya diri seraya menghampiri Akra. “Uluh..uluh, sayang nya aunty kaget ya karna Bunda teriak-teriak.” Abel menciumi Akra yang sudah mulai tenang.
“Ya sudah kalian ngobrol dulu, biar Aksa dan Akra ikut mama sama ibuk.” Ucap Mama Silfi.
“Makasih ya, ma. Mama baik deh.” Ucap Nabila senang. Mama Silfi membalas dengan acungan jempol. Setelahnya mama Silfi dan Ibu Putri keluar dari kamar Nabila.
.
.
.
.
Ntar aku up satu bab lagi, kemungkinan malam banget.. Happy reading ya guys..
__ADS_1