
“Mas?”
“Ya sayang?”
“Sepertinya Mas Riko dan Nita semakin dekat.”
“Mas juga berfikir seperti itu.”
Adam masih fokus dengan kemudinya. Setelah beberapa saat ngobrol Nabila akhirnya tertidur di kursi sebelah kemudi.
Saat sampai di rumah Adam tidak mau membangunkan istrinya yang tengah tertidur pulas, akhirnya Adam menggendong Nabila dari mobil. Adam membaringkan tubuh Nabila dan melepas jaket yang masih menempel di tubuh istrinya. Ia juga menggantikan Nabila dengan baju tidurnya. Setelahnya Adam masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Keesokan harinya Nabila terbangun, tanpa mendapati Adam di sebelahnya. Ia pun bergegas untuk membersihkan diri.
“Bi Ijah apa lihat mas Adam?” Tanya Nabila di dapur. Saat turun ke lantai 1 Nabila tidak menemukan siapapun.
“Tuan sudah berangkat ke kantor, Non.”
“Oh, ya sudah. Tolong siapkan bekal makan siang untuk 3 orang ya bik.”
“Baik, Non.”
Nabila lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Dengan mengemudikan mobilnya sendiri Nabila berangkat ke kampus, ia lebih dulu mampir ke apartemen Nita untuk menjemput sahabatnya itu.
“Cie cie”
“Apaan sih Bil, cie cie apa?”
“Gimana perkembangan hubungan kamu sama mas Riko, Nita?”
“Ya gimana?Biasa aja.” Jawab Nita tertunduk.
“Kamu tenang aja, keluarga mas Riko baik kok. Aku udah tanya mas Adam.”
“Wait, kamu tanya mas Adam apa?Jangan bilang kamu ngomong sama mas Adam kalau aku suka sama mas Riko?” Hardik Nita.
“Hu’um.” Jawab Nabila seraya mengangguk dengan polosnya.
“Astaga baby, hihh. Sumpah ya kamu tuh, hihhh. Bener-bener Gemes aku sama kamu.”
“Emang aku salah ya?”
“Yaa, salah. Bisa-bisanya kamu ngomong rahasia ke mas Adam.”
__ADS_1
“Emang kamu suka sama mas Riko itu rahasia?” Tanya Nabila lagi dengan polos.
Memang bukan rahasia lagi sih, Nita dan Riko sama-sama menunjukkan ketertarikan satu sama lain. Entah apa yang Riko dan Nita tunggu, sampai-sampai mereka tidak mengungkapkan perasaannya satu sama lain.
Nabila memarkirkan mobilnya di parkiran kampus khusus mahasiswa. Ia sengaja parkir di kampus karena kesiangan jika parkir di cafe akan butuh waktu untuk berjalan dari cafe ke kampus. Setelah memarkirkan mobilnya Nabila dan Nita pun berlari menuju kelas mereka.
“Huh, untung saja dosennya belum datang.” Nita mendudukkan dirinya dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari dari parkiran.
“Gue kira kalian bolos hari ini.” Ujar Abel melihat keduanya.
“Maunya gitu Bel, tapi aku nggak mau lama di kelas dosen ini. Lebih baik selesaikan dengan cepat dan dapat nilai.” Sahut Nabila.
Nabila mengambil ponselnya yang berada di tas begitu menyadari getaran dari ponsel. Ternyata suaminya mengirimnya pesan.
📲 Adam: Semangat kuliahnya sayang, maaf tadi aku tidak sempat berpamitan. Aku tidak mau membangunkan mu yang begitu pulas, tapi tenang saja aku tetap mencium keningmu seperti biasanya.
Seulas senyum terpancar jelas di wajah Nabila setelah membaca pesan dari suaminya.
‘Cinta banged deh sama kamu mas.’
4 jam berlalu, akhirnya Nabila and the genk bisa melewati dua mata kuliah dosen killer dengan lancar. Nabila pun mengajak kedua sahabatnya untuk makan siang di taman dengan bekal yang di bawa Nabila.
“Kalian duluan, gue mau beli es teh ke kantin dulu.” Ujar Abel.
Nabila dan Nita berjalan menuju taman untuk mencari bangku kosong. Sampailah mereka di bawah pohon rimbun dan sangat teduh. Karena tidak mendapatkan bangku kosong terpaksa Nabila memilih untuk duduk di atas rumput hijau di bawah pohon itu. Meskipun duduk di atas rumput tapi rumputnya bersih dan nyaman. Tak lama kemudian Abel datang dan bergabung bersama Nabila, Nita, dengan membawa 3 cup es teh. Mereka bertiga menikmati makan siang itu dengan bersenda gurau.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah 3 sore. Nabila dan Nita berjalan menuju parkiran dimana ia memarkir mobilnya.
“Eh Upik abu kok bisa bawa mobil ke kampus, nyolong dari mana?Atau dari om-om?” Sindir Jenny yang juga di parkiran. Jenny terlihat iri melihat mobil yang Nabila bawa. Hari ini Nabila membawa BMW I8 milik suaminya. Jenny terus-terusan mengejek Nabila sampai-sampai banyak mahasiswi kampus yang berdatangan ke parkiran karena teriakan Jenny.
Hal itu pun membuat Nabila merasa marah. “Hm baiklah Jen, jika kamu sangat penasaran aku akan menjawab pertanyaanmu. Mobil ini memang bukan mobilku.”
“Tu kan aku sudah menduga, kamu pasti meminjam dari om-om yang sering kamu layani kan!” Hardik Jenny.
“Wait, aku belum selesai bicara. Mobil ini memang bukan milikku, tapi milik suamiku. Dan asal kamu tau aku bukan simpanan om-om.”
“Suami?suami dari mana menikah saja belum.”
“Aku sudah menikah jen, bahkan aku sedang hamil anak suamiku.” Kata Nabila santai. Sontak perkataan Nabila pun mengundang perhatian. Dosen yang berada tidak jauh dari situ pun mendengarnya, seakan tidak ada yang percaya bahwa Nabila sudah menikah mereka malah mencemooh Nabila. Sang dosen pun ikut mencemooh Nabila.
“Baiklah, jika kalian tidak percaya aku akan memanggil suamiku untuk menjemputku.” Ucap Nabila datar.
“Itu lebih baik, aku sangat penasaran dengan suami yang kamu banggakan itu.” Ketus Jenny.
__ADS_1
Sang dosen juga menyetujui, karena pak dosen juga penasaran.
Sudah 1 jam berlalu Adam tak kunjung datang untuk menjemput Nabila. Nabila masih tetap tenang. Sedangkan Jenny dan mahasiswa yang lain sudah tidak sabar. Mereka mulai kembali mencemooh Nabila.
“Sabar ya, Bil.” Bisik Nita memegangi lengan Nabila.
“Tenang saja, mas Adam pasti datang.” Nita sudah sangat cemas. Andai saja Abel tidak pulang duluan, Nabila pasti tidak akan sampai mengungkap identitas Adam. Karena bisanya Abel selalu bisa mengendalikan mulut jahanam Jenny dan genk nya.
Selang 5 menit terlihat mobil range rover velar memasuki area parkiran kampus. Tio nampak keluar dari kursi kemudi kemudian membukakan pintu untuk Adam. Penampakan itu pun menarik perhatian mahasiswa kampus dan dosen yang sedang berkerumun di dekat Nabila. Tak jauh dari tempat itu suara langkah kaki dengan sepatu pantofel tengah berlarian. Rektor dan beberapa pejabat tinggi kampus nampak menghampiri Adam, mereka pun langsung menunduk hormat begitu Adam keluar dari mobil.
“Tidak perlu sungkan atau menyambut saya seperti ini, saya hanya datang untuk menjemput istri saya.” Tutur Adam pada rektor dan beberapa pejabat tunggu kampus yang berdiri berbaris di depan Adam.
“Istri?” Cuit seluruh orang di tempat itu.
Adam pun berjalan dan langsung menghampiri Nabila yang sudah tersenyum kearah Adam. “Sayang, maaf aku terlambat.” Kata Adam seraya mencium kening Nabila tanpa malu walaupun di tempat itu sedang banyak orang.
Nita tampak lega dan bersyukur.
Gleg.. Jenny pun menelan salivanya ketiaknya Adam mencium kening Nabila. ‘Mati aku, bahkan rektor dan pejabat tinggi kampus mengenal suaminya.’ Jenny masih berdiri di dekat Nabila dengan gemetaran.
“Ada apa ini?Kenapa ramai sekali?” Tanya Adam.
“Iya, apa yang kalian lakukan disini?Kembali ke tempat kalian, bubar!” Pak rektor tampak mengusir segerombolan orang yang tadi mencemooh Nabila.
“Ada apa sayang?”
“Nggak papa kok mas, ayo pulang bila laper.” Ucap Nabila dengan bergelanyut manja di lengan suaminya.
“Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu, Pak. Masalah lain asisten saya yang akan membicarakan pada bapak.”
“Ba-baik Tuan Adam. Terimakasih.”
“Jangan sungkan pak, saya senang bisa membantu karena ini adalah kampus istri saya juga.” Setelah sedikit berbincang Adam pun mengajak Nabila pulang. Sementara ia meninggalkan Tio untuk berbicara dengan pihak kampus terkait masalah sumbangan. Dan Nita pun ke cafe karena harus bekerja.
.
.
.
Bersambung..
Mampir guys.
__ADS_1