
Adam kembali ke kamarnya tepat pukul 23:00, Nabila telah terlelap dalam tidurnya. Dia berbaring di sebelah Nabila, menghadap ke arah Nabila.
Cantik sekali saat tidur begini. Gumam Adam. Cup ... Adam mengecup kening Nabila, gadis itu tidak terbangun hanya menggeliat pelan.
Drttt..drtttt... dering dari ponsel Nabila, ada satu pesan masuk.
✉️Revan: Udah tidur bil?Kok ngga pernah bales whatshapp ku?
Adam melihat sekilas pesan yang masuk di ponsel Nabila. Ada 23 panggilan tak terjawab dari Revan juga. Seketika Adam melototkan matanya.
Siapa Revan?. Adam melihat Nabila yang tengah tertidur, ingin sekali membuka ponsel Nabila tapi tidak tau kata sandinya. Setelah mengamati ponsel Nabila beberapa saat ia kembali berbaring di sebelah Nabila. Dia sengaja memeluk Nabila.
Pagi harinya Nabila mengerjapkan matanya, merasakan ada yang berat di perutnya ternyata tangan Adam tengah melingkar diperut Nabila, memeluk Nabila. Sementara Adam masih terlelap di tidurnya, Nabila menyingkirkan tangan Adam dengan pelan dan beranjak dari tempat tidur. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Astaga kenapa mas Adam memelukku?. Gumam Nabila. Setelah mandi Nabila membangunkan Adam. Dia menyiapkan baju kerja Adam, di saat Adam mandi.
“Tolong pakaikan dasiku Bil!” ucap Adam memerintah Nabila untuk membantunya memakai dasi.
“Mas kamu kok tinggi banget sih, coba menunduk sedikit.” ucap Nabila.
“Kamu saja yang cebol!” kata Adam sedikit membungkukkan badannya.
“Enak aja, tinggiku 162 tahu,”
“Masa sih?tapi kamu kelihatan cebol.”
Nabila tidak menanggapi perkataan Adam ia justru cemberut. Setelah selesai membantu Adam memakai dasi Nabila mundur berniat meninggalkan Adam menuju dapur tapi tangannya ditarik oleh Adam.
“Kamu ngambek?” tanya Adam memegang tangan Nabila .
“Enggak.. aku mau siapin sarapan buat Mas.”ucap Nabila..
“Oh, aku kira ngambek.” Adam melepaskan tangan Nabila dan mengikuti Bila dari belakang.
Mereka berjalan menuju ruang makan, disana Bi Ani dan Bi Ijah tengah sibuk mempersiapkan sarapan.
“Pagi Bi.” Sapa Nabila.
“Pagi Non.” jawab Bi Ani dan Bi Ijah.
“Sarapan sudah siap Non.” Ucap Bi Ani.
“Makasih Bi,” jawab Nabila.
Nabila mengambilkan makanan untuk Adam. “Mas kamu tuh jangan jutek-jutek, coba lebih ramah sama Bibi. Mereka itu udah kerja keras membantu kita.” bisik Nabila pada suaminya.
“Aku nggak jutek Bil, memang sudah bawaan dari sononya.” ucap Adam santai.
“Tapi kan bisa senyum dikit gitu, mau aku kasih tutorial senyumkah?”
“Apaan kamu. memang sesulit itu senyum sampai harus pakai tutorial segala.”
__ADS_1
“Habisnya tampang mas itu jutek banged, dingin kaya sadis gitu.” gerutu Nabila.
“Ya, besuk aku senyum ke mereka, kamu hari ini mau bawa mobil sendiri atau aku antar?” tanya Adam.
“Bawa mobil aja.. nanti aku mampir ke cafe mau cek keuangan.” ucap Nabila membereskan piring kotornya.
“Oke.. ingat pulang lebih awal.”
“Siap.”
Selesai sarapan Adam berangkat ke kantor dengan Tio, sementara Nabila ke kampusnya dengan mengendarai mobil sendiri.
***Hanggara Grup ***
Adam melempar map laporan dari para direktur. Raut muka Adam dingin, tidak ada satu orang pun diruangan itu yang berani menegakkan kepalanya.
“Apa kalian tidak bisa memberikan laporan yang lebih baik?” Tanya Adam dengan nada menakutkan. “Saya beri waktu 1hari perbaiki laporan kalian!” Tegas Adam.
“Ta..tapi pak setidaknya kami butuh waktu 3 hari,” Jawab salah satu direktur.
“Oke.. Kumpulkan laporan kalian sore ini di mejaku, siapa yang tidak sanggup bisa menyerahkan surat pengunduran diri.” setelah mengucapkan kata-kata nan sakral dan mematikan bagi para direktur Adam meninggalkan ruang meeting.
“Huh, tadi itu menakutkan sekali,” ucap salah satu direktur.
“Benar masih muda tapi kejam sekali,” ucap direktur yang lain menghela nafasnya..
Adam masih merasa kesal dengan hasil dari meeting, dia bersandar pada kursi kebesarannya dengan memejamkan mata.
“Jam berapa sekarang ?” tanya Adam pada Tio.
“Siapkan mobil, aku akan ke cafe milik Nabila.”
“Baik, Tuan.”
Adam dan Tio menuju ke cafe di samping kampus Nabila berniat untuk makan siang dengan Nabila. Setelah sampai di cafe, Adam masuk dan memilih tempat yang paling nyaman.
✉️Tio: Nyonya Tuan menunggu Anda di cafe Anda.
✉️Nabila: Hah??Kenapa tidak mengabariku dulu?
✉️Tio: Suasana hati Tuan sedang buruk, mohon nyonya menghibur Tuan dengan makan siang bersama Tuan.
✉️Nabila: Apa ada masalah di kantor?tunggu aku 15 menit lagi baru keluar kelas.
✉️Tio: Baik, Nyonya.
Setelah 30 menit Nabila terlihat keluar dari gerbang kampus, dia berlari kecil menuju cafe miliknya manghampiri Adam. Terlihat Adam memasang muka masam. Tio berdiri disamping Adam.
“Mas Adam?” Nabila telah berdiri di depan Adam.
“Kamu lama sekali, apa kamu tidak tau sudah berapa lama aku menunggumu?” Ketus Adam.
__ADS_1
“Maaf mas, tadi ada makul tambahan dari dosennya.” ucap Nabila lembut.
“Aku lapar.. Apa tidak ada tempat lain?Aku tidak selera jika harus makan disini, lihat para wanita itu dari tadi memperhatikanku!” ucap Adam.
Nabila melihat ke sekeliling, para mahasiswi yang tengah berada di cafe Nabila mencuri-curi pandang pada Adam. Jelas saja rupa Adam yang tampan dengan tubuh tinggi tegap dan atletis lengkap dengan setelan jas membuat mata para wanita memandang genit kepadanya.
“Ada mas, di lantai atas ayo!” Nabila menjulurkan tangannya yang langsung di sambut hangat oleh Adam. Nabila menggandeng Adam naik ke lantai atas. Sementara Tio menunggu di bawah menikmati makan siang yang sudah di pesan.
Para karyawan Nabila membungkuk hormat saat Nabila berlalu melewatinya.
“Ini suamiku!” ucap Nabila lirih pada salah satu karyawan kepercayaannya Mba Jesi. Yang dibalas dengan anggukan hormat.
Mereka sampai diruang atas, tempat Nabila biasa beristirahat dan saat menginap di cafe. Adam memperhatikan interior ruangan.
“Ini kamar?” tanya Adam.
“Iya mas, dulu aku sering menginap disini saat awal pembukaan cafe dan saat mata kuliah banyak, karena pulang malam dan capek jika harus kembali ke apartemen.” jawab Nabila.
“Siapa saja yang pernah kesini?” tanya Adam penasaran.
“Tidak ada.. Mas Adam yang pertama kali,”
Mendengar jawaban Nabila, Adam tersenyum senang. Dia kemudian membaringkan dirinya di tempat tidur.
“Mas tunggu disini sebentar, aku ambilan makan.”
“Oke ..,” ucap Adam santai.
Nabila kembali dengan membawa makan siang dan minum. Adam makan dengan sangat lahap seakan lupa kejadian saat rapat tadi.
“Aku akan menunggumu disini sampai kamu pulang kuliah,” ucap Adam setelah menyelesaikan makan siangnya.
“Mas Adam tidak kembali ke kantor?,”
“Tidak.. biar Tio yang kembali.” jawab Adam.
“Baiklah.. Mas istirahat saja, aku tinggal dulu yaa,” pamit Nabila untuk kembali ke kampus.
Sebelum kembali ke kampus Nabila mampir ke dapur cafe untuk menemui karyawannya.
“Mba Jesi, aku ke kampus dulu. Di lantai atas ada suamiku, tolong kasih tau yang lain ya..,” ucapnya pada Jesi.
“Kamu sudah Nikah Bil?” tanya Mba Jesi “Tapi kapan, kok tidak undang kami?” tanyanya lagi.
“Ceritanya panjang Mba, nanti aku ceritakan pada kalian. Sekarang aku kuliah dulu.” tutur Bila seraya meninggalkan cafe dan kembali ke kampus.
“Bil ?” Panggil Revan pada Nabila.. Revan terlihat menghampiri Nabila.
.
__ADS_1
.
Bersambung..