
Matahari pagi menyelinap di antara celah gorden masuk menyinari kamar. Dua sosok manusia masih tertidur berpelukan dengan balutan selimut yang menutup tubuh polos keduanya. Salah satunya menggeliat pelan ketika merasakan hangat cahaya sinar matahari, perlahan ia pun membuka mata.
“Hm.” Beranjak duduk dan melakukan peregangan otot dengan dua tangannya. “Mas, bangun!” Perempuan itu mengguncang tubuh lelaki di samping nya yang tidak lain adalah suaminya.
“Bentar lagi sayang.” Jawab Adam dengan suara serak khas bangun tidur, ia menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Lelaki itu bukannya bangun malah merubah posisi tidurnya membelakangi istrinya.
“Aku hitung sampai 5 kalau nggak bangun aku ngambek!” Ancam Nabila pada suaminya. “Satu, dua-.”
“Iya, iya aku bangun.” Jawab Adam malas, ia duduk bersandar punggung ranjang.
“Ayo mandi bareng, terus kerumah sakit!” Ajak Nabila yang sudah lebih dulu beranjak berdiri dengan selimut yang ia lilitkan di tubuhnya, untuk menutupi tubuh polosnya.
Nabila berjalan menuju kamar mandi di ikuti Adam. Meskipun masih mengantuk lelaki itu tetap menuruti kemauan istrinya, bagi Adam perkataan Nabila adalah wajib. Pun, mereka mandi bersama. Hanya mandi saja ya, tidak melalukan hal lain.
Nabila sudah rapi dengan dress selutut berwarna soft. Rambutnya yang panjang lurus ia biarkan terurai rapi. Tak lupa flatshoes warna Nude dan tas yang juga senada melengkapi gaya fashion Nabila hari ini.
“Cantik banged sih istriku.” Ujar Adam mendekati istrinya hendak mencium Nabila.
“Jangan cium!” Seakan Nabila tau apa yang akan di lakukan suaminya itu. Perempuan itu mengangkat telapak tangannya di depan dada menghadap Adam, pertanda agar Adam tidak boleh mendekatinya.
“Dikit aja, sayang.”
“Nggak!” Nabila berjalan melewati Adam keluar dari kamarnya.
“Hm pelit.” Mengekori Nabila keluar dari kamar menuju ruang makan.
Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 Yoga pasti sudah berangkat sekolah 3 jam yang lalu. Kasian anak itu sarapan sendirian.
“Mas yakin nggak perlu ke kantor?” Nabila mengambilkan secentong nasi menaruhnya ke piring Adam, kemudian mengambilkan lauk dan sayur sebagai pelengkap.
“Nggak, aku mau nemenin kamu.” Balas Adam.
“Aku nggak papa kok berangkat kerumah sakit sendiri.”
“Nggak boleh!Harus sama aku, lagian kamu mau ngecek anak aku. Ayahnya harus ikut dong, masa iya bundanya sendirian.”
“Hehe makasih ya ayah.”
__ADS_1
“Sudah menjadi kewajibanku bunda, jangan sungkan.”
Keduanya makan sarapan dengan lahap.
Adam mengemudikan sendiri mobilnya menuju rumah sakit miliknya. Yang ia beri nama rumah sakit Hanggara.
Adam memilih memarkirkan mobilnya di tempat parkir pasien seperti pasien yang lain. Ia ingin merasakan menjadi pengantar pasien yang sesungguhnya. Ia bahkan ikut mengantre seperti pasien obgyn yang lain.
“Sayang, apa kamu lelah?Mau masuk sekarang?” Tanya Adam menoleh istrinya. Mereka sudah mengantre selama 2 jam, Adam takut Nabila merasa lelah kelamaan menunggu.
“Tidak, sebentar lagi giliran kita mas. Santai saja, aku justru senang.” Balas Nabila dengan senyuman.
“Baiklah.” Menggenggam jari jemari tangan Nabila.
15 menit kemudian akhirnya sampai pada giliran Nabila. Setelah mendapat panggilan dari suster, Nabila dan Adam masuk ke ruangan dokter.
“Pa-pak Adam?” Ucap Dokter Mita tergagap, tidak menyangka orang nomer satu di rumah sakit itu ikut mengantre bersama pasien yang lain.
“Santai saja dok, tidak usah gugup. Saya hanya menuruti kemauan istri saya, dia bilang ingin memeriksa kandungan seperti orang pada umumnya.” Ucap Adam santai seraya duduk di kursi sebelah Nabila. Biasanya Adam memang selalu menggunakan kekuasaanya untuk menyerobot antrean, bahkan pernah Adam menutup bagian obygn selama dua jam hanya khusus untuk memeriksa kandungan Nabila. Berlebihan memang, tapi begitulah seorang Adam Ruhby Hanggara.
Dokter Mita segera memeriksa Nabila dan kandunganya, semuanya baik. Setelah pemeriksaan selesai dokter Mita memberikan resep vitamin yang perlu di tebus oleh Adam.
“Aku juga harus antre untuk ambil vitamin, Bil?” Tanya Adam pada istrinya begitu keluar dari jangan dokter Mita.
“Ya iyalah.”
“Hm.. aku suruh orang aja yaa sayang?” Pinta Adam begitu melihat antrean di bagian khusus penebusan obat.
Nabila melotot tajam pada istrinya membuat Adam begidik ngeri.
“Iya.. iya, aku antre.” Ucap Adam merasakan hawa suram di tubuh Nabila. Adam memutuskan untuk segera mengambil No antrean dan mengajak Nabila duduk ditempat yang nyaman seraya menunggu panggilan dari bagian farmasi.
“Mas kamu capek yaa, kamu jengkel ya?” Tanya Nabila.
“Kamu ngomong apa sih Bil, buat kamu sama adek aku nggak pernah capek ataupun jengkel.” Nabila mengelus lembut rambut Nabila.
“Yakin?”
__ADS_1
“Yakin sayang!”
Perlu satu jam untuk menebus vitamin yang sudah di terapkan dokter Mita. Tak terasa waktu pun sudah menunjukan pukul 15:00. Dan tak terasa juga Adam maupun Nabila belum makan siang.
“Mas aku lapar, mampir ke nasi Padang ya. Pengen rendang sama lele bakar.”
“Siap sayangku.”
***
Riko dan Nita..
Riko sudah mempertemukan Nita dan keluarganya. Beruntung keluarga Riko bisa menerima kehadiran Nita yang berbeda status dengan keluarga Riko. Keluarga Riko justru senang mendapat menantu seperti Nita, perempuan polos dan jujur. Tidak seperti mantan pacar Riko yang kemayu. Keluarga Riko juga sangat senang saat Riko mengatakan akan segera menikahi Nita, dengan begitu mereka yakin Riko sudah insyaf dari dunia malam nya yang suram.
Riko dan Nita tengah berada di dalam mobil SUV hitam milik Riko. Mereka dalam perjalanan pulang dari rumah Riko.
“Kanapa diam saja?” Tanya Riko melirik Nita disebelahnya. Perempuan dia e belahnya itu hanya diam sepulang dari rumahnya.
“Aku hanya bahagia, terlalu bahagia sampai tidak percaya apakah ini hanya mimpi atau kenyataan.” Jawab Nita jujur, dirinya masih tidak percaya keluarga Riko bisa dengan mudahnya menerima Nita sebagai calon menantu.
Riko pun menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia melepaskan tangannya dari setir kemudi. Riko menggerakan tubuhnya menghadap Nita, tangan kanan Riko menyentuh halus pipi Nita lalu mencubitnya.
“Aw sakit, mas.” Keluh Nita merasakan pipinya dicubit Riko.
“Nah jadi sekarang kenyataan atau mimpi?”
“Iya kenyataan iya.”
Riko kembali melajukan mobilnya pulang. Ia sudah mengajak Nita tinggal serumah tapi dengan kamar yang berbeda. Riko tidak mau mengulang kesalahan untuk kedua kalian nya sebelum mereka menikah secara resmi.
Sampai di rumah Riko dan Nita masuk ke kamar masing-masing.
‘Aku harus menemui Nabila dan Abel. Aku harus menceritakan semuanya.’ Batin Nita. Perempuan itu tidak mau menyembunyikan apapun pada Nabila dan Abel. Awalannya Nita mau menyimpan rapat rahasia kejadian yang merenggut kesuciannya hanya untuk dirinya dan Riko, tapi setelah dipikir-pikir Nita ingin Nabila dan Abel tau. Ia juga ingin meminta pendapat pada Nabila dan Abel tentang rencana pernikahannya.
***
Bersambung ..
__ADS_1