
Rangga tersenyum pada Nabila. “Saya mendapat undangan dari Nita.” Balas Rangga.
Nabila manggut-manggut, “Oh, memang kak Rangga sering kontakan sama Nita?”
“Enggak sih, kebetulan saya ketemu Nita sama calon suaminya di kantor teman saya. Pas mereka pilih wo, ini wo nya teman saya, Bil.” Jawab Rangga menjelaskan jika wedding organiser Nita dan Riko adalah teman Rangga.
“Wah, bagus wo nya mahal nggak kak?Soalnya bagus konsepnya ini.” Tanya Nabila penasaran.
“Memang kalau bagus kamu mau nikah lagi?”
“Ya nggak lah.” Nabila nyengir.
“Terus?”
“Buat adekku, kali aja dia besok nikah muda. Kan aku udah punya referensi wo gitu loh.” Teringat masih punya Yoga yang belum menikah.
“Bukannya kamu nggak punya adik?” Rangga sudah menyelidiki latar belakang Nabila sedetail mungkin. Disana tertulis informasi Nabila adalah anak tunggal dan juga cucu tunggal. Sementara Adam juga tidak punya adik menurut laporan yang Rangga terima dari bawahannya.
“Adik angkat suamiku, kak.” Balas Rangga.
“Oh, cari tempat duduk yuk, Bil. Biar enak ngobrol nya. Saya lihat kayaknya kamu capek berdiri terus.” Usul Rangga menunjuk kursi tamu yang masih kosong. Letaknya di sisi kanan pelaminan lebih ke pojok hall.
Nabila mengangguk. “Boleh kak, aku emang udah rada capek berdiri. Maklum si adik kadang suka nakal sama bundanya, suka nendang-nendang.” Nabila mengelus perutnya yang buncit seraya tersenyum.
‘Jadi, Nabila suka dipanggil bunda. Bagusnya kalau anak itu anakku.’ Batin Rangga.
Rangga hanya bisa tersenyum getir dengan ucapan Nabila. Ia cemburu melihat Nabila mengelus-elus perutnya. Cemburu karna bukan dia ayah dari sang anak yang dikandung Nabila.
Nabila dan Rangga pun berjalan menuju kursi tamu yang tadi ditunjuk Rangga. “Kamu mau makan apa?Biar saya ambilkan.” Ujar Rangga menawarkan diri untuk mengambilkan Nabila makanan.
“Nggak usah, kak. Nanti biar mas Adam aja yang ambilin.” Tolak Nabila.
“Nanti kapan?Keburu acaranya selesai, lagian suami kamu nggak kelihatan.” Sindir Rangga. Ia sengaja memanas-manasi Nabila se-akan-akan Adam suami yang tidak sigap. Laki-laki itu bahkan tidak berada di sebelah Nabila.
__ADS_1
“Sebentar lagi kok, tadi mas Adam bilang cuma mau bertemu klien sebentar.” Ucap Nabila jujur sesuai apa yang Adam katakan. Suminya itu meminta izin pada Nabila untuk menyapa beberapa rekan kerjannya.
“Masak suami kamu di acara seperti ini masih saja ngurusin klien.” Sindir Rangga lagi.
‘Kak Rangga kenapa sih, Sensi banged sama mas Adam.’ Batik Nabila.
“Bukan ngurusin klien, Kak. Mas Adam hanya menyapa koleganya yang juga dapat undangan!” Ucap Nabila penuh penegasan di kata “hanya menyapa”. Perempuan itu menjadi kesal.
“Iya, iya. Dah jangan cemberut gitu.” Ujar Rangga bisa melihat Nabila mulai kesal.
“Mana ada aku cemberut, aku tuh menggemaskan tau.” Ia menangkup kedua pipinya agar terlihat gembul menggemaskan.
Dan, itu membuat Rangga merasa gemas. Ia ingin sekali mencubit pipi Nabila. Tapi niatnya ia urungkan. Rangga tidak berani menyentuh Nabila. Perempuan itu pasti akan marah jika Rangga sembarangan menyentuhnya.
“Gemas dari mana?Yang ada jelek.” Ejek Rangga.
“Bohong, semua orang bilang Nabila menggemaskan.” Cebik Nabila tidak terima di bilang jelek.
“Mereka yang bohong sama kamu, Bil.”
Rangga malah tertawa melihat Nabila bersungut-sungut. Laki-laki itu tertawa lepas. Entah sudah berapa lama Rangga tidak tertawa seperti itu. Ia pun mengingat kata Randy jika Nabila bisa memberikan warna di kehidupan orang lain. Pantas saja alm. Kakak kembarnya sangat mencintai Nabila. Rangga sendiri yang sudah lama memperhatikan Nabila bisa merasakannya.
“Nabila!!” Bentak Abel. Perempuan itu tiba-tiba sudah berdiri disamping Nabila.
“Astaga..astaga,” Nabila hampir saja jantungan karna kaget. Ia menyentuh dada sambil mengelus elusnya seakan menetralkan kembali jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Kaget aku, Bel.” Keluh Nabila.
“Lo bisa-bisanya duduk nyantai disini sementara gue, kesana kemari nyariin lo. Emang lo temen ga da akhlak.” Ucap Abel kesal. Setelah dari toilet Abel kebingungan mencari Nabila. Ia bahkan memutari seluruh ruangan itu untuk mencari Nabila. Keadaan tamu yang berjubel membuatnya kesusahan mencari Nabila.
“Hehe, sorry gue lupa kalau lo lagi ketoilet.” Ucapnya seraya nyengir, “Maafin ya.” Merengkuh lengan Abel dan menyenderkan kepalanya di bahu Abel. Begitulah cara Nabila membujuk Abel.
Abel menghela nafasnya. “Hm, lain kali jangan keluyuran kalau lagi gue tinggal. Untung sekarang kita ditempat yang aman. Kalau misal lo diculik dan gue gak tau gimana, suami lo bakal murka sama gue. Lo gak inget mas Adam tadi nitip in lo ke gue?” Sebelum Adam meninggalkan Nabila, lelaki itu sempat menitipkan Nabila pada Abel.
__ADS_1
“Iya..iya, maaf mama. Bila nggak akan nakal lagi.” Ujarnya seraya mengerucutkan bibirnya. Benar-benar menggemaskan dimata Rangga.
“Ingat ya!” Tegas Abel dan Nabila pun mengangguk.
“Loh, ada kak Rangga?” Abel baru saja menyadari kehadiran sosok Rangga.
“Udah dari tadi saya disini, Bel. Kamu saja yang tidak menganggap saya ada.” Jawab Rangga.
“Hehe, bukan gitu, Kak. Abel tadi fokus ke Nabila soalnya.” Balas Abel kikuk.
“Emang semua orang hanya bisa fokus ke Nabila, Bel.” Ucap Rangga refleks.
“Ya, gimana ya kak. Bila sih nggak enak kalau kaya gitu, tapi ya mau gimana lagi mana ada orang yang gak luluh sama pesona Bila.” Sahut Nabila percaya diri, ia bergaya sok cantik. Ia kembali duduk tegak seraya mengibaskan rambutnya yang ia biarkan tergerai. Tadi saat hairdo Nabila hanya mengepang bagian atas agar rapi sementara bagian bawah ia biarkan tergerai lurus.
“Kamu ngapain sayang kaya gitu, lagi iklan sampo?” Adam baru saja bergabung dengan mereka. Laki-laki itu sudah mengamati Nabila dari beberapa saat yang lalu. Ia bisa melihat istrinya sok imut dari jarak yang tidak terlihat di tempat itu. Barulah Adam menghampiri istrinya saat Nabila mulai memainkan rambutnya. Adam berjalan dengan cepat menghampiri Nabila. Langkah kakinya yang panjang mempermudah lelaki itu untuk sampai di kursi Nabila kilat.
“Eh, mas Adam.” Nabila menoleh dan malu-malu melihat suaminya datang.
“Ngapain kamu, iklan sampo?” Tanya Adam lagi.
Nabila mengangguk, “Kali aja ada yang nawarin casting iklan beneran, kan lumayan mas.” Ucap Nabila bercanda.
Puk..puk.. Adam mempuk-puk kepala Nabila dengan lembut, “Jangan aneh-aneh.” Ucap Adam seraya duduk di kursi sebelah Nabila.
“Loh, ada Tuan Rangga juga?” Melihat Rangga duduk di depan Nabila. Adam pura-pura menyapa padahal ia sudah tau ada Rangga. Laki-laki itu juga mengamati gerak-gerik Rangga dari kejauhan.
“Apa kabar Tuan Adam.” Mengulurkan tangannya pada Adam. Adam pun menjabatnya. Mereka saling berjabat tangan. Yah mereka sedikit berbasa-basi.
.
.
.
__ADS_1
.