
***
Di cafe milik Nabila.
Riko baru saja sampai di cafe milik Nabila setelah mendapat pesan dari Nita. Nita meminta Riko untuk menjemputnya di tempat Nita bekerja yang tidak lain adalah cafe milik Nabila.
“Mana calon suamimu?” Tanya Abel tidak sabar. Abel sudah mempersiapkan beragam pertanyaan untuk Riko.
“Udah di jalan kok, mas Riko bilang nggak sampai 30 menit sampai.” Balas Nita.
“Sabar Bel.” Sahut Nabila.
Mobil Riko masuk ke halaman parkir cafe. Lelaki itu memarkirkan mobilnya dengan rapi di tempat parkir pelanggan. Riko berjalan masuk ke cafe dengan tenang.
Nita yang melihat Riko tengah berjalan masuk ke cafe menyambut Riko di depan pintu. Nita sedikit berbisik pada Riko. Mungkin Nita memberi peringatan pada Riko agar bersiap karna Nabila dan Abel akan menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaaan.
“Hm.. tangan bos tangannya kondisikan.” Sindir Abel saat Riko masuk bersama Nita dengan bergandengan tangan. Nita langsung melepaskan tangan Riko yang sedang menggenggam lembut tangannya.
“Kenapa di lepas sayang?” Riko melirik Nita yang melepas tangannya sementara Nita hanya menunduk.
“Bel jangan gitu dong.” Nabila mengingatkan agar Abel tidak bersikap ketus pada Riko.
“Lah emang gue ngapain, Bil?Kan gue cuman minta mereka nggak gandengan tangan di depan jomblo.” Ujar Abel.
“Oh, gue kirain apa. Nita jadi panik itu lho.” Nabila menunjuk Nita yang masih menunduk di sebelah Riko.
Riko tersenyum. “Gue kira lo nggak suka gue sama Nita, Bel. Emang kenapa kalau gandengan tangan di depan jomblo, Bel?” Tanya Riko dengan tampang tanpa dosa.
“Jiwa jomblo gue meronta-ronta, kalian nggak kasihan apa sama gue?” Abel memelas.
“Makannya cari pacar.” Ujar Riko.
“Mang cari pacar gampang.” Lirih Abel yang masih bisa di dengan oleh yang lain.
__ADS_1
Riko dan Nita duduk di kursi, bergabung dengan Nabila dan Abel yang juga duduk di kursi. Nabila lalu memanggil pelayan. “Mas Riko mau minum apa?” Tanya Nabila.
“Apa aja Bil yang penting gratis, sama jangan lupa kasih camilannya juga ya, Bil.” Ucap lelaki itu tanpa malu. Sementara Abel dibuat melongo dengan Riko yang dengan santainya minta gratisan di cafe milik Nabila.
“Air putih aja Bil, camilannya kasih kerupuk.” Kata Abel.
“Astaga Bel, jahat banged lu sama gue Bel.” Sahut Riko.
“Hahaha, lo juga gue kasih air putih sama kerupuk mau Bel?”
“Ew buset, ya jangan.” Nabila pun memesankan minuman dan beberapa camilan pada pelayan untuk sahabat-sahabatnya.
Mulailah pembicaraan serius antara Nabila, Abel vs Riko. Sedangkan Nita khusus menjadi saksi bisu kedua sahabatnya menginterogasi Riko. Nita tidak marah atau merasa kesal saat kedua sahabatnya berniat menginterogasi Riko. Nita yakin apa yang akan ditanyakan sahabatnya adalah hal yang terbaik untuk nya.
“Jadi mas Riko mau nikah sama Nita?” Tanya Abel. Sorot matanya menajam menatap Riko.
Riko mengangguk yakin. “Iya, gue minta restu kalian. Gue tau Nita udah kayak saudara bagi kalian, gue juga tau kalian sangat menyayangi Nita. Jadi, gue harap kalian mau merestui hubungan gue sama Nita.” Ucapnya bersungguh-sungguh.
Riko mengangguk.
Abel menghela nafasnya. Perempuan itu mengingat perlakukan Riko ke Nita. Bagaimana Riko mengambil kesucian Nita sebelum mereka menikah. Apakah itu bisa di sebut mencintai?bukankah mencintai seharusnya menjaga dan melindungi bukan malah merusak. Bolehkah Abel menyebut apa yang dilakukan Riko ke Nita adalah merusak?Ya, merusak masa depan Nita. Merusak kebanggaan Nita yang sudah bersusah payah menjaga kehormatannya sampai sebelum direnggut oleh Riko. Ingin sekali Abel meneriaki Riko, memaki Riko dengan sebutan seluruh hewan di kebun binatang.
Tapi, Abel sadar semua sudah terjadi. Tidak mungkin di ubah lagi. Yang bisa dilakukan sekarang adalah memperbaiki keadaan bukan malam memperkeruh keadaan dengan memusuhi Riko. Menikahkan Riko dan Nita adalah memperbaik keadaan. Tentu saja jika keduanya saling mencintai. Jika keduanya tidak saling mencintai menikah bukan hal yang tepat.
“Gimana sama lo Nit?Lo cinta sama mas Riko?” Tanya Abel serius.
Nita mengangguk, menandakan jika ia juga mencintai Riko.
Abel menatap Nita dan Riko secara bergantian. Melihat apakah ada kebohongan di antara keduanya. Tidak ada kebohongan diantara keduanya, justru Abel bisa merasakan perasaan tulus antara keduanya. Abel memang sedikit bar-bar tapi ia juga perempuan yang sangat perasa.
“Hm..Baiklah, aku merestui.” Ucap Abel.
Nabila tersenyum senang mendengar perkataan Abel. Sebenarnya Nabila sama dengan Nita. Ia juga was-was takut Abel murka pada Riko. “Aku jelas merestui, apapun yang membuat Nita bahagia pasti aku dan Abel merestui.”
__ADS_1
“Terimakasih, Bil, Terimakasih, Bel.” Riko merasa lega mendapat lampu hijau dari Nabila Nita. Karna Nita tidak punya keluarga lagi selain Nabila dan Abel, kedua sahabatnya itu ikut andil dalam keputusan Nita.
“Nit, aku mau makan red velvet, ambilin dong.” Abel sengaja menyuruh Nita mengambil cake agar dirinya bisa berbicara pada Riko tanpa ada Nita.
“Aku juga mau, tapi aku pie aja deh. Tolong yaa hehe.” Timpa Nabila yang bisa membaca pikiran Abel. Mau tidak mau Nita pun menggerakan tubuhnya untuk mengambil red velvet cake dan pie.
Setelah Nita berjalan meninggalkan meja, Abel langsung menatap serius Riko. Deep talk pun dimulai.
“Mas Riko?”
“Ya, Bel?”
“Tolong, jangan menyakiti Nita.” Ucap Abel memohon bahkan perempuan itu nampak berkaca-kaca.
“Gur janji Bel, gue bakalan ngebahagiain dia dengan seluruh upaya yang gue.” Ucap Riko mengangkat kedua jarinya.
Nabila menanggapi. “Kita semua tau masa lalu mas Riko, type perempuan yang mas Riko suka seperti apa. Jujur aku sama Abel masih belum yakin sepenuhnya sama mas Riko apalagi jika mengingat mantan-mantan yang mas Riko pernah pacari. Nita hanya perempuan biasa tidak gaul tidak terlalu cantik, Nita sangat jauh dari type perempuan yang mas Riko suka. Apa mas Riko yakin bisa menerima Nita apa adanya?” Tanya Nabila serius.
“Yakin Bil, seratus persen yakin. Bil, Bel, gue emang dulunya bejat, gue suka main sama wanita malam, gua suka gonta ganti pacar, tapi gue udah berhenti semenjak kenal sama Nita. Gue jatuh cinta sama Nita saat pertama kali melihat dia di kampus kalian. Gue tau Nita nggak suka dunia kelam gue, gue berusaha ngerubah diri gue agar menjadi lebih baik. Bukan hanya karena Nita tapi karena emang gue merasa gue harus berubah menjadi yang lebih baik. Gue bener-benar sayang dan tulus sama dia. Gue pastiin apa yang kalian khawatirkan nggak akan pernah terjadi.” Riko bersungguh-sungguh, laki-laki bisa melihat jika Nabila dan Abel khawatir bisa saja Riko hanya bermain-main dengan Nita dan akan membuang Nita jika dirinya bosan.
“Kita nggak minta lebih, hanya izinkan dia menggapai mimpinya setelah menikah.” Ucap Nabila mengingat mimpi Nita.
Abel mengangguk. “Jangan membatasi ruang geraknya, dan jangan pernah membuat nya menangis atau mas Riko bakal berurusan dengan kami.” Abel sedikit mengancam.
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1