
“Hoek..hoek..” sudah kali ke berapa Daniel bolal balik ke toilet. Pekerjaannya tidak berjalan lancar sama sekali. Rasa mual yang tiba-tiba datang sangat mengganggu Daniel untuk beraktivitas.
“Perasaan gue nggak makan yang aneh-aneh.” Gumamnya. Kembali duduk di kursi putar nya dan menyenderkan kepala di sandaran kursi, “apa gue masuk angin?” Ia teringat Abel yang mual-mual saat masuk angin.
**
“Ini minyak kayu putihnya, pak.”
“Ya, makasih.”
“Baik. Saya kembali ke tempat, pak.” Dijawab anggukan oleh Daniel.
Daniel meminta sekertarisnya untuk membelikan minyak kayu putih. Dia akan meniru cara Abel mengatasi masuk angin dengan mengoleskan minyak kayu putih di sekitar pelipisnya.
Selang 30 puluh menit rasa mual Daniel kembali datang. Lelaki itu pun mau tidak mau kembali berdiam di dalam toilet berusaha memuntahkan isi dalam perutnya namun tidak berhasil. Dia hanya merasakan mual dan tidak muntah.
**
“Loh, kamu kok udah pulang, Bee?” Abel memandang heran suaminya yang pulang lebih awal, bahkan belum masuk jam makan siang lelaki itu sudah sampai di Apartemen. Hal lain yang membuat Abel heran suaminya datang dengan keadaan lesu. Kemejanya sudah tidak rapi dengan dasi yang sudah longgar.
“Huh, aku lagi sakit sayang.” Merebahkan dirinya di sofa. Jas kerjanya yang semula terlampir di lengannya Daniel buang ke sembarang arah.
Abel dengan sabar memungut jas kerja suaminya, “kok di buang sih?” Abel lipat jas kerja Daniel lalu ia duduk dan memangku jas itu.
Abel memeriksa kening suaminya yang tidak panas. “Nggak demam. Kenapa?”
Lelaki itu menggelengkan kepalanya, “memang nggak panas. Kayaknya masuk angin.” Merangkul manja lengan Abel dan bersandar di bahu Abel. “Pengen itu yang.” Ucap Daniel manja.
“Itu apa?”
“Itu lho kuda-kudaan.”
“Ih, masih siang tauk.” Sambil memukul kecil lengan Daniel yang bertautan manja di lengan Abel.
“Ya nggak papa, Bee.” Bujuk rayu Daniel tidak pernah berhasil di tolak oleh Abel. Keduanya pun melakukan hubungan suami istri disiang hari.
Daniel memandangi wajah damai Abel yang tertidur pulas di sampingnya dengan meringkuk menghadap Daniel dan memeluk perut Daniel. “Aneh, gue sama sekali nggak mual pas dirumah.” Gumam Daniel heran.
Malam harinya Abel sibuk memasukan ke dalam koper beberapa baju dan perlengkapan mandi yang akan di bawa Daniel perjalanan dinas keluar kota. Selama dua hari Daniel akan bekerja di luar kota. Tepatnya, di Surabaya.
“Kamu yakin nggak mau ikut sayang?” Tanya Daniel. Abel menggelengkan kepalanya, “nggak, Bee. Aku mau ngecek persiapan pembukaan resto ku.” Belakangan ini Abel tengah di sibukkan dengan bisnis yang baru saja ia bangun. Abel mencoba berbisnis kuliner.
“Padahal aku pengen banget kamu nemenin aku.” Peluk lelaki itu manja.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih manja banget akhir-akhir ini?”
“Nggak tau. Pengennya deket sama kamu terus.”
Ck.. gombal sekali ya kamu Daniel. Abel tidak akan tertipu dengan gombalan suaminya. Ia sudah bisa menebak kemana akhir dari percakapan itu. Yah, tidak salah lagi. Percakapan mereka berakhir di ranjang seperti apa yang Daniel lakukan saat siang hari.
**
Surabaya, Indonesia.
Hari pertama di Surabaya. Kali ini Daniel bekerja bukan sebagai pengacara. Namun, sebagai seorang pengusaha. Daniel sedang meninjau pembangun apartemen yang di kerjakan oleh perusahaannya. Selain mempunyai firma hukum, lelaki itu juga memiliki perusahaan pribadi yang dia bangun dari nol saat Daniel.
“Pembangunan sudah 80%, pak. Di pastikan pembangunan akan selesai sesuai jadwal.” Lapor salah satu penanggung jawab proyek pembangunan apartemen tersebut. Daniel manggut-manggut mendengar dengan seksama laporan dari bawahannya tersebut.
“Saya mau laporan lengkapnya di kirim ke saya sore ini.”
“Bisa, pak. Saya akan kirimkan ke hotel tempat bapak menginap.”
Daniel menoleh pada sekertarisnya dan sang sekertaris pun langsung memberikan alamat tempatnya menginap pada penanggung jawab proyek.
“Jadwal saya sore ini apa?” Tanya Daniel pada sekertarisnya.
“Sore ini ada pertemuan dengan tuan Raka, pak.” Jawab sang sekertaris.
“Baik, pak.”
**
Daniel menyenggol lengan Mike saat sahabatnya itu tak berkedip memandangi sekertaris barunya. “Ehem.” Daniel berdehem.
“Mike.” Ucap Mike menjulurkan tangan.
“Sely, pak.” Menjabat uluran tangan Mike.
“Kamu kembali ke hotel saja, Sel. Kami akan keluar sebentar, malam ini kamu bisa istirahat lebih awal.” Ucap Daniel pada sekertarisnya.
“Baik, pak.” Sely pamit undur diri pada Daniel dan Mike.
Mike masih memandangi Sely hingga punggung perempuan itu menghilang dari pandangan Mike.
“Lo mau lihat dia sampe mata lo copot juga nggak akan berubah.” Sindir Daniel dan Mike terkekeh.
“Gue baru tau lo punya sekertaris baru.” Keduanya berjalan munuju parkiran mobil untuk pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
“Sekertaris lama gue resign. Mau lahiran.” Jawab Daniel, “Bos Raka kemana?” Seingat Daniel, lelaki itu janjian dengan Raka nampan kenapa yang muncul justru Mike.
“Bos terpaksa balik ke Jakarta, Jessica jatuh dari sepeda.” Jawab Mike.
“Emang parah lukanya?”
“Nggak. Lecet kecil, cuman bos lo ‘kan nggak bisa lihat putri kecilnya luka dikit aja.” Danjel setuju dengan ucapan Mike. Sahabat sekaligus bos nya itu memang over protektif pada putri kecilnya.
“Gue jadi pengen cepet-cepet punya baby.” Gumam Daniel membayangkan Abel berbadan dua. Seulas senyuman terbit di wajah Daniel.
Keduanya tiba di salah satu Club malam kota Surabaya. Dan, masuk ke ruang VVIP yang sudah di pesan.
“Lo minum?” Tanya Mike.
“Nggak, gue udah berhenti minum.”
Mike mengangguk paham. Daniel memang pernah mengatakan akan berusaha berhenti minum minuman beralkohol jika sudah menikah dan sepertinya Daniel sedang mencoba nya sekarang.
“Mana orangnya?” Tanya Daniel tidak sabaran.
“Bentar lagi.”
Singkat cerita Mike akan mengenalkan Daniel pada salah satu pengusaha yang sedang mengalami masalah hukum. Pengusaha itu meminta bantuan Mike untuk mencarikan pengacara yang kompeten. Dan, Mike berpikir Daniel lah orang yang tepat.
Setelah menyelesaikan pertemuan dengan klien, Daniel dan Mike kembali ke hotel. Daniel terpaksa menyetir karena Mike mabuk berat.
“Lo harus hati-hati sama sekertaris lo.” Ucap Mike melantur. “Dari yang gue lihat, dia bukan sekertaris biasa.” Lanjut Mike.
“Hm.” Jawab Daniel singkat, padat dan jelas.
“Gue serius.”
Siapa yang akan percaya dengan ucapan orang yang sedang di kuasai oleh minuman beralkohol, kira-kira begitulah yang Daniel pikir.
“Lo denger nggak? Gue serius!” Teriak Mike.
“Gue denger berengsek.” Jika tidak sedang menyetir sudah habis Mike di pukul Daniel. Bisa-bisanya Mike berteriak dengan kencang di dekat telinga Daniel.
“Hahaha, tampang sekertaris lo kayak pelakor.” Semakin malam ucapan Mike semakin melantur. Daniel menjadi tidak sabaran untuk sampai ke hotel. Dia pun memacu mobil yang ia kendarai dengan kecepatan tinggi.
.
.
__ADS_1
.