Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Dinner


__ADS_3

Abel dijemput oleh sopir suruhan Daniel yang akan mengantarkannya ke tempat dinner.


“Memang pak Daniel sesibuk itu ya pak, sampai nggak bisa jemput saya sendiri?” Tanya Abel pada pak sopir.


“Saya tidak tau, non. Nanti non tanyakan ke pak Daniel langsung saja.” Pak sopir memang tidak tau kesibukan Daniel, ia hanya di beri perintah untuk menjemput Abel.


Sampailah mereka di salah satu restoran mewah. Daniel sudah menunggu Abel di depan pintu masuk. Lelaki itu tampak gagah, sambil melambai pada Abel. Daniel juga tersenyum lebar pada Abel.



Melihat Daniel yang seperti itu Abel mana bisa marah. Ia yang awalnya menahan kesal karena Daniel tidak menjemputnya pun luluh.


Keterlaluan, bisa-bisanya dia senyum kayak gitu setelah bikin gue kesal.


Abel berjalan ke arah Daniel, ia membalas lambaian tangan Daniel dengan senyum.


Daniel langsung melingkarkan tangannya di pinggang Abel seraya mengajak perempuan itu masuk.


“Kamu cantik, sayang.” Puji Daniel pada Abel.


“Baru sadar??Udah dari dulu kali.” Balas Abel.


Mereka masuk ke dalam lift.


“Kok masuk ke lift sih, emang mau makan di mana?” Tanya Abel heran. Padahal di lantai tempat yang Abel dan Daniel pujaki tadi banyak ruang VVIP nya jika Daniel tidak mau berbaur dengan pengunjung lain.


“Ke tempat yang hanya ada kita berdua.” Jawab Daniel.


“Kamar dong.” Ceplos Abel.


“Gass lah kalau mau ke kamar, sekalian belah duren juga gas.” Ucap Daniel yang langsung mendapat cubitan gemas diperut oleh Abel. “Awwh. Sakit, yang.” Daniel meringis.


“Makanya jangan bicara sembarangan.” Jawab Abel santai.


“Iya, iya.”


Daniel mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah sapu tangan.


“Sayang, kamu tutup mata pakai ini dulu.” Daniel menunjukan sapu tangannya.


Abel menaikan sebelah alisnya. “Buat apa?”


“Rahasia.” Tanpa mendengarkan protes Abel, lelaki itu menutup kepala Abel dengan sapu tangannya.


“Kekencengan.” Abel merasakan Daniel terlalu erat saat mengikat sapu tangan itu di belakang kepalanya.


“Maaf, aku longgarkan sedikit.” Setelahnya Daniel meletakan dua jarinya di depan mata Abel.


“Sayang, ini berapa.” Membentuk dua jari di depan mata Abel ya g tertutup.


“Emang berapa?” Ya elah Abel, malah balik nanya.


“Lima.” Jawab Daniel.


“Oh.”


Hm..Anggap saja dia sudah tidak lihat, dari pada cerewet.

__ADS_1


Berani sekali Daniel membatin Abel cerewet, coba kalau di ungkapkan langsung. Belum bilang sampai bilang Abel pasti sudah murka.


Usai menutup kedua mata Abel dengan sapu tangannya, Daniel menggenggam erat tangan Abel dan menggiring perempuan itu menuju tempat dinner.


Daniel membuka pintu masuk ke rooftop, ia pun mengajak Abel berjalan masuk.


“Pelan-pelan dong, aku nggak bisa lihat tauk.” Lagi-lagi Abel memprotes, perempuan itu kesulitan berjalan apalagi dengan kondisi mata tertutup dan heels yang setinggi 12 cm, belum lagi dressnya.


“Iyaa, Hm.”


Untung sayang, kalau nggak udah ku buang ke laut gara-gara cerewet.


“Kamu ngatain aku cerewet?” Pekik Abel.


Eh, dari mana dia tau?


“Eng-enggak sayang, mana mungkin aku ngatain kamu cerewet.” Ucap Daniel terbata-bata.


“Udah belum sih, masih lama ya?!”


“Sebentar lagi.” Jawab Daniel.


Mereka sampai di rooftop restoran itu yang sudah di sulap menjadi tempat dinner romantis oleh Daniel di bantu Mike.


“Sudah tuan putri.” Ucap Daniel.


Abel menarik sapu tangan Daniel ke bawah agar bisa melihat. Dua kursi dan satu meja sudah yang sudah di hias tepat di depan Abel.



“Ini??”


“Kamu yang nyiapin ini?” Tanya Abel.


Daniel mengangguk. “Setelah pekerjaanku selesai aku langsung ke sini, menyiapkan semuanya sendiri.” Jawab Daniel bangga.


“Sendiri?” Abel seperti tidak percaya pada Daniel.


Masa sih dia siapin ini sendiri, nggak yakin deh.


Namun, Daniel mengangguk meyakinkan Abel bahwa dirinya memang hanya sendiri saat menyiakan semuanya.


“Termasuk angkat-angkat kursi dan mejanya?”


“Huh.. ya nggak lah sayang, angkat kursi dan mejanya di bantu karyawan restoran.” Jawab Daniel.


“Oh.. berarti bukan kamu sendirian dong.”


Hih.. Daniel nampak gemas sendiri pada pacaran nya yang cerewet itu.


“Iya, aku di bantu sama pihak restoran, puas!” Pungkas lelaki itu malas untuk berdebat karna hal sepele.


“Lha kok mayah-mayah sih.” Goda Abel sambil menarik-narik ujung jas Daniel.


“Diem kamu, nggak usah sok imut.” Daniel menepis tangan Abel.


“Hahaha, kamu marah sayang?” Abel terkekeh.

__ADS_1


“Habis kamu cerewet banged dari tadi.” Keluh Daniel.


“Ohhh.. jadi aku cerewet nih?” Merubah wajahnya menjadi datar.


“Eh..enggak sayang,” jawab Daniel terbata-bata.


Dasar mulut suka keceplosan. Rutuk Daniel pada dirinya sendiri.


Daniel pun menjentikan jari tangannya pada pelayan agar menyajikan makanan dan minuman. Pelayan itu membawa steak dan dua gelas berisi minuman berwarna merah. Abel meraih gelas itu dengan tangan kanannya dan menggoyang-goyangkan gelas itu.


“Ini Fanta?” Abe terkekeh keras sekali. Ia sudah menyipitkan kedua matanya melihat pelayan membawa dua gelas berisi minuman berwarna merah. Abel kira itu anggur atau alkohol lainnya. Ternyata Fanta.


“Ya..gimana lagi, kamu nggak minum alkohol, jadi minum Fanta aja.” Jawab Daniel santai.


“Kenapa nggak coca-cola aja sih, yang. Aku lebih suka itu.” Ucap Abel.


“Air putih aja buat kamu.” Benar kata Daniel tak selang berapa lama, pelayan datang membawa air putih untuk mereka.


Daniel dan Abel pun mulai menyantap makan malam mereka. Keduanya sesekali bercerita tentang kegiatan yang dilakukan keduanya hari ini.


Abel sangat antusias saat menceritakan si Santi aja bencong yang menurutnya menyenangkan. Untuk seterusnya Abel ingin nyalon di tempat Santi saja. Karna bencong itu nampak tulus saat mengobrol dengan Abel. Sikap nya yang ceplas-ceplos juga menjadi nilai plus di mata Abel.


***


Caca sedang berada di sebuah Club malam saat ini. Ia telah minum beberapa gelas alkohol. Berbeda dengan Abel, Caca pernah tinggal di luar negeri dengan budaya bebas. Perempuan itu mengenal alkohol dan Club, namun ia tidak pernah menurunkan perilaku yang buruk itu pada Abel.


Caca sangat menjaga Abel dari alkohol dan yang lainnya. Tapi, ia lupa menjaga dirinya sendiri lebih penting, saat kita bisa menjaga diri sendiri barulah kita bisa menjaga orang lain.


“Be rengsek... Ilham be rengsek.” Rancau Caca tidak karuhan.


Alunan musik jedag jedug membuat mood Caca menjadi semakin kacau. Namun, perempuan itu ingin menari melepaskan penat di kepalanya. Caca menenggak segela bir nya lalu pergi ke dance floor untuk menari bergabung dengan orang lain.


Caca seakan lupa pada masalahnya, ia terus menari melenggok-lenggokan tubuhnya hingga tidak sadar ada beberapa pasang mata menatapnya dengan wajah lapar seperti sedang mencari buruan.


“Cantik juga tuh, cewek.” Ucap seorang laki-laki yang sedari tadi memperhatikan Caca.


“Sikat Bro, body nya juga aduhai. Pasti goyangannya pun mantap.” Saut salah satu temannya.


“Ntar kalau gue bilang siapin kamar lo siapin.”


“Siap.”


Lelaki itu pun berjalan mendekati Caca. Ia menari di dekat Caca.


“Hai, cantik. Sendrian aja nih.” Ucap lelaki itu basa-basi.


Caca menoleh ke arah lelaki aneh di sebelahnya. “Mata lo buta, nggak lihat disini banyak orang.” Semprot Caca merasa kesal. Ia sendang tidak ingin diganggu malah ada pengacau datang.


“Galak banged, mau cek in sama gue nggak?”


What cek in?


Seketika mata Caca membulat sempurna.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2