Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Kebaikan keluarga Randy


__ADS_3

Nabila sudah memakai Cream malamnya, ia menguap beberapa kali merasakan kantuk yang luar biasa. Tapi Nabila tidak mau tidur lebih dulu, ada hal penting yang ingin ia bicarakan pada Adam. Adam baru saja masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tadi saat sampai di rumah Adam mendapat telefon dari Tio. Jadilah Adam mengurus pekerjaanya dulu.


“Sayang, kamu kenapa belum tidur?” Adam keluar dari kamar mandi sudah memakai piyama dan memegang handuk untuk mengusap rambut kepalanya yang basah.


“Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu mas.” Nabila bersandar di ranjang dengan selimut yang menutupi kaki sampai paha.


“Ada apa?” Adam naik keranjang, menyenderkan punggungnya pada bagian ranjang atas, seperti Nabila ia masuk kedalam selimut yang sama dengan yang Nabila gunakan.


Nabila menceritakan semua yang ingin ia ceritakan pada Adam, perihal masa lalunya yang juga berhubungan dengan Nita. Tidak ada yang terlewatkan, Nabila menceritakan semua sedetil mungkin.


Adam mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan oleh Nabila.


Seperti apa lelaki itu, aku sungguh penasaran. Bagaimana dia bisa mengorbankan nyawanya untuk Nabila? Batin Adam dalam hatinya.


“Baiklah, sayang. Sudah malam, kau tidurlah.” Adam mengajak Nabila untuk berbaring.


“Jadi, bagaimana?” Tanya Nabila.


“Aku mengizinkanmu. Kau bisa pergi diantar oleh pak Slamet, bersama Abel dan Nita. Setelah urusanku di kantor selesai, aku akan menyusul mu.”


“Terimakasih, mas.” Nabila merasa lega setelah menceritakan semuanya pada Adam.


Malam itu Nabila bisa tidur nyenyak dengan Adam yang memeluknya.


***


Nabila menjemput Nita dan Abel di apartemen Nita. Nita dan Abel sudah menunggu di depan pos satpam, jadi Nabila tidak perlu masuk dengan mobilnya.


Setelah berbicara dengan Adam semalam, Nabila memberitahu Nita jika Adam menyuruh sopir untuk mengantarkan mereka. Nita dan Abel tidak keberatan sama sekali, mereka justru merasa senang. Raut wajah Nabila sangat cerah, berbeda dengan Nita yang terlihat murung.


“Are you Okay, baby?” Tanya Nabila pada Nita.


Nita hanya bisa menjawab pertanyaan Nabila dengan air mata. Tentu saja Nita tidak baik-baik saja, sama seperti tahun lalu Nita akan sangat tersiksa. Nita selalu saja menyalahkan dirinya sendiri atas kemalangan yang terjadi 2 tahun yang lalu.


Nabila meraih tangan Nita, ia menggenggam tangan Nita memberi kekuatan pada sahabatnya itu. “Aku mengerti.” Itulah kata yang diucapkan Nabila untuk menenangkan Nita.


“Pak nanti beli bunga kalau sudah hampir dekat ya pak.” Ucap Abel pada pak Slamet.


“Baik, Non.”


Butuh perjalanan 2-3 jam untuk sampai pada tampar tujuan. Belum sampai setengah perjalanan Nabila sudah mengeluh lapar. Mau tidak mau Nita dan Abel mengajak Nabila untuk makan dulu. Apalagi Nabila sedang hamil, ia akan sering merasa lapar atau sekedar ingin makan sesuatu.


Mobil yang dikemudikan pak Slamet menepi di sebuah restoran mewah. Nabila dan kedua sahabatnya berserta pak Slamet turun untuk makan. Pak Slamet terlihat sangat menikmati hidangan di resto itu. Berbeda dengan Nita yang tak berselera, Nita hanya makan beberapa suap saja. Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


1 jam kemudian Nabila dan rombongan sampai di salah satu TPU yang ada di kota Bandung. Nabila turun dengan membawa bunga begitu juga Nita dan Abel.


“Apa kamu gugup?”


Nita mengangguk menjawab pertanyaan Nabila.


Abel menggandeng lengan Nabila dan Nita kanan kiri. “Aku ada di tengah kalian.” Kata Nita.


Dari arah 50 meter yang tidak kelihatan oleh Nabila dan kedua sahabatnya ada dua pasang mata memperhatikan mereka. Yang tak lain adalah Adam dan Riko, entah apa yang direncanakan Adam dan Riko.


Nabila dan sahabatnya masuk ke dalam area TPU, Nabila melihat sosok yang tidak asing sedang duduk di tepi makam. Seorang laki-laki dewasa disebelahnya nampak memegangi punggung perempuan paruh baya yang sedang menangis seraya mengelus pusara makam itu.


“Tante.” Nabila menyapa perempuan paruh baya itu.


Sontak perempuan paruh baya dan lelaki dewasa di sebelahnya langsung menoleh ke arah Nabila. “Bila, kamu datang nak.” Perempuan paruh baya itu langsung berdiri menghambur Nabila, memeluk Nabila dengan erat, seketika tangis perempuan paruh baya itu kembali pecah.


Lelaki dewasa itu nampak memandangi Nabila, Nita dan Abel secara bergantian.


“Maaf, Maafin Bila Tante.” Kata Nabila, diikuti cairan bening yang perlahan menetes dari pelupuk matanya membasahi pipi Nabila.


“Maaf, maafkan Nabila tante jik saja bukan karena Nabila Randy pasti masih ada bersama kita.” Tangis Nabila semakin menjadi.


Tante Rani yang tidak lain adalah mama Randy melepaskan pelukan Nabila. “Tidak, Bila. Ini semua bukan salah kamu, ini sudah menjadi takdir nak. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Tante Rina mengusap air mata Nabila dengan lembut.


Nita dan Abel mendekat ke tante Rani. Tante Rani memeluk keduanya secara bergantian. Setelah keadaan mulai stabil dari tangisan. Mereka pun berdoa di pusara Randy.


“Setelah ini kalian akan ke makam Dio?” Tanya tante Rani. Yang di jawab dengan anggukan oleh Nabila, Nita dan Abel.


“Tante belum melihat keluarga Dio, mungkin mereka sudah datang tadi pagi. Oh, iya kenalin ini anak tante Rangga kembaran Randy.” Tante Rani mengenalkan Rangga pada Nabila dan sahabatnya. Rangga langsung menjabat tangan Nabila, Nita dan Abel secara bergantian.


“Tapi waktu pemakaman Randy, kami tidak melihat Rangga tante?” Abel sedikit penasaran.


“Waktu itu Rangga masih kuliah diluar negeri, kami terpaksa belum memberi tahu Rangga karena takut Rangga akan shock.”


Abel manggut-manggut mendengar jawaban tante Rani. “Sudah berapa bulan Bil?” Tanya tante Rani mengelus perut Nabila.


“Tante tau?”


Tante Rani menganggguk seraya tersenyum. Rangga sedikit masam saat tau Nabila tengah hamil, seperti ada kekecewaan tersediri. Sedari tadi saat Nabila baru sampai hingga sekarang Rangga memang terlihat curi-curi pandang pada Nabila. Ada sedikit ketertarikan pada Nabila.


“Sudah hampir 8 minggu tante.” Jawab Nabila tersenyum.


Tante Rani menggenggam Nabila. “Syukurlah nak, tante ikut bahagia mendengarnya. Tante mau ini yang terakhir kamu mengunjungi Randy, mulai sekarang kamu harus fokus pada kehidupanmu sendiri, pada keluarga barumu. Tante selalu mendoakan kebahagiaanmu Bila, tante juga yakin Randy di atas sana juga bahagia melihat kamu bahagia. Kamu paham apa maksud tante kan nak?”

__ADS_1


Nabila mengangguk air matanya kembali mengalir mendengar perkataan tante Rani. “Terimakasih, tante.” Nabila memeluk tante Rani.


“Sama-sama sayang.”


Tante Rani dan Rangga meninggalkan area TPU, tante Rani berjanji akan mengunjungi Nabila ketika tante Rani pergi ke Jakarta . Tante Rani tetap mau menjaga silaturahmi diantara Nabila dan dirinya meskipun Randy sudah tiada.


Andai saja keluarga Dio bisa sebaik keluarga Randy. Batin Nita.


.


.


.


.


Bersambung..


Kasih tau author jika ada kata yang typo ya guys..


Like


Like


Like


Vote


Vote


Vote


Komen


Komen


Komen


Terimakasih sudah membaca ..


Mampir ke karyaku yang satunya juga ya guys.


“My Dave”

__ADS_1



__ADS_2