Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Menjemput Nabila


__ADS_3

"Siapa mas?" Tanya Raga.


"Anak buahku, aku meminta mereka untuk melacak keberadaan Nabila dan mengawasi Abel sama Nita." Jawab Adam dan kembali duduk.


"Sebenarnya aku curiga sama mba Abel mas. Entah mengapa firasatku mengatakan mba Nabila lagi sama mba Abel." Ujar yoga.


"Aku juga berfikiran seperti itu Ga, tadi aku sudah menghubungi sahabatku kakaknya Abel. Dia bilang Abel belum pulang semenjak tadi siang."


"Soalnya tadi pas aku video call mba Abel, dia kayak canggung gitu mas. Pas aku tanya tentang mba nabila."


"Kita tunggu saja Ga, semoga anak buahku cepat kasih kabar. Aku ke ruang kerja dulu, ada kerjaan yang harus aku urus." Adam pamit pada Raga, Diana dan Yoga. Sementara yoga juga kembali ke kamarnya untuk mengerjakan PR.


Saat ini yang bisa dilakukan hanya menunggu laporan dari anak buah Adam, karena adan juga sudah mencari Nabila kesana kemari tapi nihil.


Waktu cepat sekali berlaku sudah jam setengah 3 pagi Adam masih terjaga di ruang kerjanya bersama Riko. Riko yang mendapat kabar dari Caca tentang Nabila yang kabur pun langsung ke rumah Adam. Riko menemani Adam yang sedang kacau itu, dia juga tidak memejamkan matanya sama sekali sampai jam setengah 3 pagi.


Drtt..drtt...ponsel Adam berdering ada panggilan masuk dari Frans salah satu anak buah Adam dari dunia bawah.


📞 Hallo! Bagaimana, apa sudah ada kabar?Oke, kirim alamatnya sekarang!


"Ada kabar?" Tanya Riko saat Adam mengakhiri panggilan telefonnya.


Adam menyambar jaketnya yang terlampir di sofa, "Iya, mereka sudah menemukan Nabila. Aku akan menjemputnya sekarang!"


Riko pun ikut bangkit dan juga memakai jaketnya. "Aku temani kamu."


Adam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Abel. Jam 3 pagi lebih 15 menit sampai di basement aparteman Abel, Adam memarkirkan mobilnya tepat di depan mobil Abel terparkir.


"Benar, itu mobil Abel!” Tunjuk Riko pada mobil di depannya.


Setelah turun dari mobil Adam langsung menghampiri Frans dan Frans pun langsung menceritakan bagaimana mereka bisa menemukan Nabila sedetail detailnya.


"Kalian sudah bekerja keras, pulang dan istirahatlah!" Ucap Adam pada Frans dan anak buahnya yang lain, setelah mendengar laporan dari Frans.


"Baik, Tuan."


Adam dan Riko pun naik ke lantai unit apartemen Abel. Sampai di depan pintu apartemen Abel, Adam merasa ragu untuk mengetuknya.


"Kenapa diam saja?" Tanya Riko melihat Adam yang diam saja.

__ADS_1


"Aku tidak enak membangunkan mereka, apa kita tunggu sampai pagi saja?Tapi aku tidak sabar untuk bertemu Nabila." Jawab Adam.


"Tidak papa, ketuk saja pintunya!"


Dengan yakin Adam pun memutuskan untuk mengetuk pintu apartemen Abel. Beberapa kali Adam menekan bel dan mengetuk pintu tidak ada jawaban, hampir 10 menit baru ada jawaban dari penghuni rumah. Abel membuka pintu masih dengan mengenakan piyama dan rambut berantakan.


"Kalian!" Teriak Abel langsung menutup mulutnya, Abel pun menutup pintu apartemenya dan keluar menemui Adam dan Riko.


"Bel, Bila disini kan?izinkan aku bertemu dengannya. Aku mau menjelaskan apa yang terjadi kemarin siang, tidak seperti yang Bila lihat. Dia salah paham."


"Salah paham??Salah paham dimananya?" Suara Abel meninggi.


Riko mendekat ke Abel memegang tangan Abel. "Bel, tenang dulu. Biar Adam jelasin dulu, jangan teriak enggak enak sama tetangga masih jam segini." Ujar Riko, mereka berbicara di luar rumah Abel tentu saja tidak akan terdengar oleh Nabila dan Nita yang tengah tidur di kamar dengan kedap suara.


"Habis mas Adam, bisa-bisanya bilang salah paham. Jelas-jelas lagi ciuman sama perempuan lain." Abel berbicara sinis pada Adam.


"Sumpah Bel, itu bukan aku." Ucap Adam.


"Terus siapa?"


Adam menjelaskan kejadian yang sesungguhnya saat di kantor pada Abel. Termasuk idetitas Raga yang juga sepupunya.


"Gimana mau ngomong Bel?Kamu sama Nita aja sengaja menghindari aku." Ucap Adam, Abel dan Nita memang sengaja tidak mengangkat telefon dari Adam.


"Ya sudah, ayo masuk!" Abel menekan sandi pintu rumahnya dan mengajak Adam serta Riko untuk masuk kedalam rumah. "Nabila sama Nita ada dikamar, kalau bisa jangan di bangunin. Soalnya Bila semalam demam, dan Nita semalaman ngompres Nabila. Baru setelah demam Bila turun mereka baru bisa tidur. Nengok sebentar saja yaa, kalau udah kalian tunggu diruang tamu sampai mereka bangun. Aku mau tidur lagi!" Abel pun pindah kamar untuk melanjutkan tidurnya, Abel merasa lega dengan penjelasan Adam. Jadi dia bisa tidur nyenyak.


Adam membuka pintu kamar yang ditempati Nabila dan Nita dengan pelan diikuti Riko dibelakangnya, terlihat Nabila tengah tidur dengan kain kompres di dahi. Sementara Nita tidur di sebelah Nabila, memeluk Nabila. Kedua lelaki itu pun dibuat terharu dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat. Setelah memastikan keadaan Nabila, Adam dan Riko memilih untuk menunggu di ruang tamu sesuai arahan dari Abel. Tanpa terasa merekapun ketiduran karena mengantuk.


Jam 5 pagi Nabila dan Nita bangun untuk sholat subuh. Sesudah mandi dan sholat subuh Nabila dan Nita berniat ke dapur untuk memasak, tapi langkah mereka terhenti ketika tau diruang tamu ada Adam dan Riko. Ruang tamu dan dapur memang saling berhubungan tanpa sekat jadi saat akan ke dapur melewati ruang tamu dulu.


“Suami lo disini ra.” Lirih Nita.


“Kapan mereka kesininya?Kok Abel nggak kasih tau kita, dia juga tidur dimana nggak kelihatan batang hidungnya.” Ucap Nabila. Nabila melirik ke Adam yang terlelap di sofa dengan kepala bertumpu tangannya. Nabila masih merasa marah dengan Adam, dia pun kembali ke kamar Abel dan berkemas. Nita juga mengikuti Nabila.


“Kamu mau kabur lagi?” Tanya Nita saat melihat Nabila tengah berkemas.


“Iya, aku nggak mau ngomong sama mas Adam. Kamu mau ikut aku atau tetap disini?” Tanya Nabila.


Nita pun akhirnya ikut-ikutan berkemas. “Baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi, apa tidak sebaiknya kamu dengarkan dulu penjelasan mas Adam?” Nita mencoba membujuk Nabila.

__ADS_1


“Tidak mau!”


Nita tidak berani membujuk Nabila lagi, Nita paham betul suasana ibu hamil memang sedikit berbeda dari perempuan biasanya. Daripada Nabila kabur sendiri karena Nita terus-terusan membujuknya, lebih baik Nita pergi bersama Nabila. “Aku akan pesan taksi online.”


Setelah itu keduanya pergi meninggalkan apartemen Abel dengan mengendap-endap. Nita hanya mengirim pesan singkat pada Abel. Bagaimanapun Abel harus tau Nita dan Nabila pergi tanpa berpamitan. Nita dan Nabila masuk ke taksi online yang sudah di pesannya. “Sekarang mau kemana?”tanya Nita.


“Aku lapar, cari sarapan dulu aja. Terus ke hotel aja deh.” Ucap Nabila.


Nita berbicara pada sopir taksi online untuk mengganti tujuan mereka yang semula apartemen Nabila pindah ke salah satu pasar tradisional di Jakarta. Karena masih pagi akan susah untuk mencari restoran yang sudah buka, lebih baik pergi ke pasar membeli jajanan pasar atau soto.


.


.


Bersambung..


Baca novel aku yang satunya juga ya guys..



Kasih juga ..


Like


Like


Like


Komentar


Komentar


Komentar


Vote


Vote


Vote

__ADS_1


Terimakasih yang masih setia membaca sampai sekarang ❤️☺️ Big hug buat kalian pembaca setia novelku ..


__ADS_2