
Pukul 08:00 Abel dan Daniel sudah keluar dari hotel dengan pakaian rapi. Mereka akan mencari sarapan di luar hotel. Dengan mengendarai mobil yang sudah disiapkan oleh anak buah Raka, Daniel membawa Abel mencari sarapan.
Hari pertama di Jogja Abel mengajak Daniel sarapan dengan menu soto Lamongan. Abel mengajak Daniel makan soto Lamongan yang berlokasi di dekat xt square. Disana ada soto Lamongan terkenal. Tidak hanya letak warung yang strategis namun rasa dari soto nya tidak bisa diragukan lagi.
Usai memarkir mobilnya dangan rapi, Daniel dan Abel masuk ke dalama warung.
“Kamu mau apa?” Tanya Abel menoleh pada Daniel yang mengekor di belakangnya.
“Soto.” Jawab lelaki itu polos.
“Aku tau, maksudku soto daging apa babat?” Tanya Abel lagi namun sedikit berbisik. Ia merasa malu pada pelanggan yang berada di sebelahnya.
“Daging lah, babat itu yang kayak gitu, kan?”
Kayak gitu kayak gitu apa coba?Dasar, makanya nggak cuman Club hotel Club hotel aja jajannya. Batin Abel.
“Kayak gitu apa coba?” Balik tanya Abel.
“Ah, lupakan. Soto daging saja.” Jawab Daniel malas menjelaskan. Untuk apa pula di jelaskan tidak penting. Abel pun mengangguk.
Abel memesan soto nya. “Mas, soto daging 2, minumnya es teh 2.” Pesan Abel. Dan, mas-mas itu mengacungkan jempol nya menjawab Abel.
“Ayo!” Menarik lengan Daniel dengan mesra untuk duduk.
Senangnya. Batin Daniel.
Abel memilih untuk duduk di dekat jendela seraya melihat ramainya lalu lintas di sekitar jalan itu. Ia duduk bersebelahan dengan Daniel. Laki-laki itu menolak duduk di hadapan Abel karna tidak mau ada orang lain yang duduk di sebelah Abel nantinya.
Di meja ada beberapa lalapan yang tersaji. Ada sate ati ampela, sate usus, sate telur puyuh, telur bebek, tempe krispi, tempe dan tahu mendoan, lumpia, martabak telur versi mini dan kerupuk.
Daniel menatap makanan itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
“Makasih, mas.” Ujar Abel saat pesanannya sudah diantar di meja.
“Kamu yang kasih bumbu!” Menyerahkan mangkuk yang berisi soto ke hadapan Abel. Abel hanya menggeleng kan kepalannya.
Masa sih cuma kasih bumbu soto aja nggak bisa?Gak mungkin dia yang setua ini belum pernah makan soto, kan? Rutuk Abel.
Meskipun begitu Abel tetap membumbui soto Daniel dengan sambal dan kecap manis yang takarannya seimbang. Abel juga memberi perasan dua irisan jeruk nipis untuk menambah rasa nikmat di dalam sotonya.
“Sampun ndoro.” Menyerahkan kembali soto yang sudah ia bumbui pada Abel.
“Sudah tuan.” (Artinya)
Daniel yang tidak bisa dan tidak mengetahui bahasa Jawa hanya bisa menatap Abel dengan tatapan aneh. Mau bertanya tapi gengsi, tidak bertanya tapi ingin tau.
__ADS_1
Ahaa..Mbah Google pasti bisa diandalkan, tidak ada yang tidak Mbah Google tau. Diam-diam Daniel mengambil ponselnya dan mencari tau apa arti kata yang diucapkan Abel.
Oh, artinya itu. Daniel manggut-manggut sendiri.
“Mau makan atau goyang kepala?” Melihat Daniel yang bermain ponsel seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Keburu dingin nggak enak nanti!” Seru Abel kemudian.
Daniel menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. “Iyaa...iya, ini aku makan.” Mengangkat sendok dan memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.
“Enak?”
“Enak, Bel.” Jawab Daniel.
“Soto Semarang lebih enak lagi, soto bathok.” Abel pernah jalan-jalan ke Semarang bersama kedua sahabatnya beserta Adam dan juga kedua sahabatnya. Saat itu Abel dan Nita menyusul Nabila yang sedang pulang kampung bersama Adam.
“Kalau gitu Next time kita kesana, agendakan lah.” Ujar Daniel semangat.
“Aku sih ya ya aja, kamu yang bayarin tiketnya tapi.”
Sebenarnya Abel sih mampu-mampu saja membeli tiket sendiri dan membiayai biaya liburannya. Perempuan itu hanya menggoda Daniel, tidak disangka Daniel menanggapinya serius.
“Siap, mau keliling Indonesia pun aku siap.” Jawab Daniel serius.
“Aku serius, Bel. Kamu mau ajak liburan kemana aja, ayok!Keluar negeri ayok, di dalam negeri ayok!”
Abel manggut-manggut. “Iya..iya, aku percaya.” Mengambil sate ati ampela dan memasukannya ke dalam kuah soto. Dan, lelaki yang berada di sebelahnya melirik tajam sate itu. Sepertinya lelaki itu juga mau.
“Mau?” Tanya Abel. Daniel mengangguk. “Sama itu!” Menunjuk tempe mendoan.
Abel mengambil dua tusuk sate ati ampela dan satu tempe mendoan, meletakannya dia mangkuk soto milik Daniel.
“Makasih.” Ucap Daniel lembut. Abel tersenyum manis.
“Itu namanya tempe mendoan paling enak makannya di cocol sama Sambel bawang.” Ucap Abel menjelaskan.
“Enak, seumur-umur aku pertama kalinya makan tempe mendoan.” Menikmati setiap gigitan tempe mendoannya, rasa gurih asin pas di lidah. “Kamu bisa buatnya?” Tanya Daniel.
“Enggak, aku nggak bisa masak.” Jawab Abel jujur. Diantara Abel, Nabila dan Nita. Dirinyalah yang tidak mengerti masak per masakan. Beda dengan Nabila dan Nita yang handal dalam hal memasak.
“Nggak papa, di masa depan aku bakal kasih pembantu yang banyak buat bantu kamu ngurus pekerjaan rumah.” Daniel mengusap puncak kepala Abel dengan lembut sembari tersenyum.
Deg..Deg..Deg.. Ya ampun, ya ampun jantung gue kayak lagi disko. Mana dia ngomong gitu, kayak gue bakalan jadi masa depannya aja. Uuuuw, ku meleleh membayangkan betapa indahnya hari ini. batin Abel seraya menekan dadanya.
“Apaan sih.” Menepis tangan Daniel dari atas kepalanya.
__ADS_1
“Kamu baper?”
“Nggak!”
“Haha, kamu baper..wajah kamu merah kayak udang rebus.” Daniel terkekeh.
Panik, Abel mencari cermin dari sling bagnya untuk memeriksa wajahnya. “Ya wajarlah merah aku kan pakai Blush on.” Menujuk-nunjuk pipinya sendiri.
“Apa itu Blush on?” Tanya Daniel.
“Sudahlah, kamu tidak akan tau.” Cebik Abel. Sementara Daniel masih terkekeh.
Bisa ya, Daniel menggoda Abel di sela-sela makan sarapan. Namanya juga kasmaran.
“Berapa mas?” Daniel berada di depan meja kasir untuk membayar tagihan sarapan mereka.
“Nambah nya apa saja, mas?” Tanya mas kasir.
“Soto daging 2, es teh 2, sate ampela 3, tempe mendoan 5, krupuk 2, lumpia 1, sate telur puyuh 1.” Jawab Abel yang berdiri di sebelah Daniel. Perempuan itu yakin Daniel pasti lupa apa saja yang mereka makan karna asyik mengobrol saat makan.
“53ribu mas.” Ucap mas kasir. Lalu Daniel pun mengeluarkan selembar uang seratus ribuan untuk membayar. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Hari ini Abel dan Daniel hanya akan mengekspor Mall-Mall yang ada di Jogja sekalian belanja baju ganti. Untuk besok mereka baru akan pergi ke tempat wisata.
“Baru jam 9, belum ada Mall buka, kita mau kemana sekarang?” Tanya Daniel setelah melihat jam ditangannya.
Abel sendiri juga bingung, masih sepagi ini, mereka mau kemana?Ke rumah orang tua Nabila?Mau ngapain, orang tua Nabila masih di Jakarta. Jika pergi kesana hanya ada pengurus rumah dan tukang kebun.
“Aku juga nggak tau mau kemana.” Gumam Abel sesaat kemudian perempuan itu menemukan tempat tujuan.
“Balik ke hotel aja deh, tidur aja. Ntar siangan baru nge Mall.”
“Yakin?” Tanya Daniel. Abel mengangguk.
Akhirnya mereka tidak jadi pulang ke hotel, tapi pergi ke gembira loka zoo. Abel berniat menengok saudara nya disana kalau kata Daniel. Siapa saudara Abel, ya itu. Iya benar, Monkey..
.
.
.
.
.
__ADS_1