Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Hasil meeting


__ADS_3

“Rekan kerja?” Abel mengernyit, ia sama sekali tidak berpikiran kesana.


Yoga mengangguk. “Hu’um, bisa saja, kan, rekan kerjanya.” Jawab Yoga santai seraya duduk di sebelah Abel.


Abel menatap Nabila.


“Enggak tau, aku nggak tanya. Yang mas Adam bilang cuman harus keluar negeri ketemu rekan kerjanya yang tiba-tiba ngebatalin kerja sama.” Ucap Nabila paham dengan tatapan Abel.


“Apa perlu Yoga tanya ke mas Adam langsung?” Yoga sudah meraih ponselnya berniat menelepon Adam.


“Jangan!!” Teriak Nabila dan Abel bersamaan. Yoga sampai menutup kedua telinganya.


“Gimana sih?Biar jelas mbak.”


“Jangan, Ga. Mbak punya rencana.” Ucap Nabila.


“Apa rencana lo?”


“Iya, rencana mbak apa?”


Nabila menceritakan rencananya pada Abel dan Yoga. Keduanya pun manggut-manggut.


***


Hari berikutnya, Abel sudah bersiap akan berangkat ke luar negeri. Ia berangkat di antar Nabila dan Yoga sampai di bandara.


“Kabarin aku kalau udah sampai ya, Bel.” Ucap Nabila seraya memeluk Abel.


“Pasti.” Membalas pelukan Nabila. “Ga, jagain mbak lo, dia cuman sendirian, Nita masih sakit belum bisa main-main.” Ucap Abel.


“Siap, mbak. Mbak Abel hati-hati disana.” Balas Yoga. Abel pun mengangguk.


Seusai mengantar Abel, Nabila dan Yoga pergi ke cafe milik Nabila. Ia akan menghabiskan waktu di cafe nya, sementara Yoga akan berangkat ke sekolah. Yah, meskipun sudah telat.


Nabila dan Abel sedang libur setelah ujian akhir semester. Mereka libur selama satu bulan.


***


Di luar negeri Adam tidak bisa menemui Tuan Kris secara langsung. Beliau beralasan putri nya lah yang akan menggantikan posisinya di perusahaan. Sebagai gantinya jika akan membahas kerjasama lebih baik menemui putri Tuan Kris yang bernama Tasya. Mau tidak mau Adam pun menemui Tasya.


Namun, apa yang direncanakan Adam tidak berjalan lancar. Tasya selalu saja membuat Adam susah, alih-alih membahas kerjasama saat bertemu Tasya justru merepotkan Adam, perempuan itu selalu menyusahkan Adam saat mereka janjian untuk bertemu. Adam harus menemani Tasya ke bar, bertemu di cafe sampai Adam harus mengantarkan Tasya ke hotel karna mabuk.


Saat ini Adam baru saja pulang ke hotel tempatnya menginap setelah mengantar Tasya ke hotel. Di sepanjang perjalanan ke hotel tempatnya menginap Adam mendumel karna kesal.


“Ini keterlaluan Tio, wanita itu memuakkan!Aku tidak bisa seperti ini terus-terus an.” Keluh Adam pada asistennya.


“Lalu bagaimana, Tuan?” Tanya Tio.

__ADS_1


“Lebih baik aku bekerja sama dengan orang lain, aku akan menghubungi Raka. Mungkin dia bisa membantu.” Ucap Adam memikirkan rencana lain. Ia memilih untuk mencari jalan lain dari pada menuruti kemauan tidak masuk akan Tasya.


“Baik, Tuan. Saya juga akan mencari informasi perusahaan lain yang setara dengan perusahaan Tuan Kris dan bergerak dibidang yang sama.” Balas Tio, lalu Adam pun mengangguk.


Sampi di hotel Adam langsung membersihkan dirinya lalu beristirahat.


***


Sementara di sebuah apartemen mewah di kawasan pondok indah. Rangga mencoba menghubungi seseorang, ia mondar mandir dangan ponsel nya.


‘Hallo!’ Jawab seseorang di seberang.


“Tasya, akhirnya kau menjawab. Apa kau sudah menyelesaikan apa yang ku minta?” Tanya Rangga tidak sabaran.


‘Sudah, kau sungguh menggangu saja. Kau tidak tau aku baru bangun.” Keluh Tasya.


“Bagaiamana, apakah itu berhasil?”


‘Hem, tentu saja. Jangan meremehkan sepupuku ini. Tapi, suaminya terlalu tampan. Aku tidak keberatan menjadi istrinya kelak.’


“Jangan ngawur, aku tidak akan setuju.” Rangga sedikit emosi.


‘Kenapa?Lagi pula kau mengincar istrinya, bukankah adil jika aku mendapatkan suaminya. Kita bisa menjadi kelaurga Hahaha.’ Tasya tertawa geli membayangkan jika dirinya menjadi istri Adam menggantikan Nabila. Dan, Nabila menjadi istri Rangga. Maka dia harus memanggil Nabila kakak ipar.


“Hentikan khayalan burukmu, Tasya!”


“Baiklah, aku tutup teleponnya.” Rangga mengakhiri panggilan teleponnya dengan Tasya.


***


Abel sudah sampai di luar negeri dengan selamat. Kini ia berada di negara yang sama dengan Adam berada. Abel sengaja pergi ke luar negeri untuk me mata-matai Adam sesuai hasil meetingnya dengan Nabila dan Yoga. Awalnya Nabila sendiri yang akan menyusul Adam dan meminta penjelasan pada Adam, namun Abel dan Yoga melarangnya.


Abel berpikir lebih baik menyelidiki apa yang terjadi lebih dulu. Baru meminta penjelasan pada Adam. Setidaknya Nabila bisa menyamakan hasil penyelidikan dengan apa yang dikatakan Adam nanti.


Semua biaya Abel saat memata-matai Adam di biayai oleh Nabila. Jadi, Abel tidak perlu memikirkan biaya selama di luar negeri. Ia hanya perlu fokus menjadi mata-mata Adam.


Abel tidak takut meskipun pergi ke luar negeri sendiri. Ia sudah terbisa Berpergian ke luar negeri sendiri, lagi pula bahasa Inggris Abel juga bagus.


Bruk.. saat akan naik taksi dari bandara tidak sengaja Abel menabrak seseorang. “Maaf, saya tidak sengaja.” Ucap Abel dalam bahasa Inggris.


“Tidak masalah.” Balas lelaki yang di tabrak oleh Abel. Ia merapikan kemejanya lalu memungut tasnya yang terjatuh saat di tabrak oleh Abel.


“Tuan Daniel?” Abel bisa mengenali lelaki itu saat lelaki itu menoleh padanya.


“Nona Abel?” Daniel terkejut ternyata perempuan yang menabraknya adalah Abel. “Apa yang nona lakukan disini?” Tanya Daniel.


“Saya liburan disini.” Jawab Abel.

__ADS_1


“Sendiri?” Tanya Daniel melihat sekeliling Abel tidak ada siapapun. Abel pun mengangguk.


“Mana mungkin liburan hanya sendirian nona Abel, saya tidak percaya.” Daniel sedikit tersenyum tipis.


“Tapi, kenyataanya memang saya liburan sendiri.” Balas Abel datar.


“Saya juga liburan sendiri.” Ucap Daniel tiba-tiba.


“Terus?” Abel, kan, tidak bertanya Daniel apa urusan Daniel di luar negeri dan dengan siapa lelaki itu.


“Gimana kalau kita liburan berdua?” Ujar Daniel menawarkan diri. Lebih baik liburan berdua daripada sendirian pikir Daniel. Padahal rencana awal Daniel adalah mengurus bisnis tapi ia tidak sengaja bertemu Abel, tidak masalah, kan, menyita sedikit waktu bisnisnya untuk liburan. Lagi pula Daniel merasa Abel perempuan yang menarik. Ia ingin mengenal Abel lebih jauh.


“Nggak mau ah.” Jawab Abel tidak formal.


“Kenapa?” Daniel heran, mana pernah sebelumnya ada perempuan yang menolaknya.


Abel pun melambaikan tangannya agar Daniel mendekat. Daniel dengan polos mendekat pada Abel. Perempuan itu langsung berbisik pada Daniel. “Saya kesini sebenarnya karna misi penting, bukan untuk liburan.”


“Misi penting?Nona Abel tentara, atau agen FBI?” Ejek Daniel.


“Detektif Conan.” Jawab Abel kesal karna Daniel mengejeknya.


“Boleh saya ikut?” Pinta Daniel.


“Ikut apa?”


“Ikut main misi-misi an. Mau juga jadi detektif Conan.” Lanjut Daniel.


Abel berpikir sejenak.


“Saya tidak akan merepotkan.” Ucap Daniel lagi.


“Tapi, saya yang akan merepotkan.”


“Tidak masalah, saya tidak keberatan.” Daniel malah senang jika direpotkan oleh perempuan seperti Abel.


“Tapi, saya keberatan.” Tolak Abel.


“Hem,” Daniel menghela nafas panjang. “Pokoknya saya mau ikut nona Abel main misi-misi an. Titik no debat!” Ucap Daniel serius.


“Hahaha, siapa juga yang mau debat.” Abel terkekeh. Ia pun menyerat kopernya dan mencari taksi lagi. Sementara Daniel mengekori Abel. Lelaki itu memutuskan untuk mengikuti Abel.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2