Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Saranghaeyo!


__ADS_3

“Serius mbak!Aku lihat mbak Nita tadi jalan sama pacarnya. Pacarnya cakep juga.” Ujar Yoga menggebu-gebu.


Riko yang tadi santai bersandar sofa menonton televisi langsung melirik ke Yoga. Riko dengan serius mendengarkan apa yang Yoga katakan.


“Kamu lihat dimana?”


“Di jalan depan apartemen mbak Nita.”


“Ngapain kamu bisa sampai daerah apartemen Nita.”


“Tadi nganter temenku mbak.”


Nabila terlihat berfikir keras, selama ini yang Nabila tau Nita tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun kecuali dia. (Read:Dia yang Nita tangisin pas di Jogja, waktu nongkrong di pendopo lawas)


Riko juga sangat penasaran, pasalnya Nita pernah mengaku tidak punya pacar saat Riko bertanya. “Yoga, kamu yakin itu Nita?”


“Yakin 100% itu mbak Nita, mas yang nganterin mbak Nita pakai mobil Silver. Mobilnya mirip punya mbak Abel.” Kali ini Yoga berbicara dengan serius, dia lalu menceritakan apa saja yang dilihatnya tadi. Dari saat Yoga beriringan di jalan dengan mobil yang ditumpangi Nita sampai ketika Nita turun dan melambaikan tangannya pada sosok yang sudah mengantarnya pulang.


Adam melirik Nabila. “Siapa sayang?”. Tanya Adam mungkin saja Nabila sudah punya pandangan tentang orang yang di ceritakan Yoga.


“Enggak tau, mas.” Jawab Nabila. “Udah, kamu mandi sana!” Nabila mengusir Yoga yang bau itu agar segera mandi.


“Iya, iya.” Dengan sedikit berlari Yoga menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Riko masih tidak percaya dengan Yoga, jika benar Nita sudah punya pacar bagaimana bisa. Bagaimana mungkin Riko bisa kalah start, padahal Riko sudah mencoba memperlihatkan sisi baiknya pada Nita. Riko juga sering mengkode Nita tentang perasaannya. Tidak mungkin Nita bisa memiliki pacar tanpa sepengetahuan Riko.


“Bagaiamana ini Bil, Dam?” Riko mengambil ponselnya yang ada di saku siap mengirim pesan pada Nita.


“Bagaimana apanya?” Tanya Adam menarik tubuh Nabila agar kembali bersandar di bahu Adam.


“Bagaimana kalau Nita sudah punya pacar?”


“Ya alhamdulilah dong, jadi ada yang bisa dijadikan tempat bersandar untuk Nita saat kesusahan. Iya kan Mas?” Nabila mendongak ke arah Adam, disambut dengan senyuman hangat Adam.


“He’m.” Balas Adam.


Riko terlihat menempelkan ponselnya di dekat daun telinga, seperti sedang menelefon seseorang. “Huh, ponselnya nggak aktif.” Riko mencoba menelefon kembali tapi sama saja tidak menyambung.


“Bil, kalau untuk tempat bersandar aku bisa, bisa banged malahan. Dijadikan suami juga aku siap, menjaga Nita sama ibunya aku siap banged.” Kata Riko serius.


“Ya udah sana kerumah Nita bilang langsung ke orangnya!” Adam menanggapi keseriusan Riko.


“Udah jam segini, aku nggak enak bertamu jam segini.”


Nabila setuju dengan Riko, sudah terlalu malam untuk bertamu. Nabila melihat Riko sedikit gusar semenjak apa yang dikatakan Yoga, Riko jadi terus-terusan menatap ponselnya. Membuat Nabila merasa kasian.


“Besuk aku tanya ke Nita deh, siapa yang nganter Nita tadi.” Ucap Nabila.


“Janji ya Bil.” Kata Riko penuh harap.


“Iyaa, iya.”

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 saatnya bagi Adam dan Nabila untuk beristirahat. Nabila baru saja selesai memakai Cream malam sebelum tidur ketika Adam mendekati Nabila dan langsung mencium bibir Nabila. Nabila sangat tau, itu adalah kode dari Adam yang ingin meminta jatahnya.


“Mas, pelan dong.” Protes Nabila saat Adam mulai menggila dengan senjatanya.


“Maaf, maaf sayang. Aku akan lebih lembut.”


Kadang-kadang Adam lupa bahwa Nabila sedang hamil. Malam itu menjadi malam yang pajang bagi keduanya. Nabila terhanyut oleh permainan lembut Adam, begitu juga Adam. Sampai akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncaknya dan jatuh terkulai di ranjang. Adam memeluk Nabila yang baru saja terlelap, seraya menyelimuti tubuh Nabila yang polos tanpa sehelai pakaian pun.


***


Adam dan Nabila mengantar Raga dan Diana ke bandara. Raga dan Diana akan pergi ke Bali selama seminggu untuk liburan. “Kabarin nanti kalau sudah sampai ya.” Ujar Nabila pada Diana dan Raga.


“Iya, Mbak.” Diana pun melambaikan tangan pada Nabila dan Adam yang masih melihat Diana masuk.


Setelah Raga dan Diana tidak terlihat lagi, Adam dan Nabila juga meninggalkan bandara. “Aku antar kamu ke kampus.” Ucap Adam.


“Yang jemput nanti siapa?”


“Maunya kamu di jemput siapa?” Adam balik nanya ke istrinya.


“Maunya pulang naik bus aja.”


Adam langsung memberi tatapan tajam pada istrinya. “Jangan bercanda kamu, trans Jakarta enggak lewat rumah kita. Nanti kamu mau turun dimana?”


“Ya..turun di halter terus mas yang jemput dari halte.”


“Hmm, gak usah neko-neko. Nanti aku jemput sampai depan kampus!”


“Mas, Tio ngetawain aku.” Ujar Nabila polos menunjuk Tio, Nabila menyadari Tio yang tadi melirik ke belakang.


Adam yang sedang menatap Nabila pun mengalihkan pandangannya menuju Tio. “Tio!Kamu ngetawain istri saya?”


“Tidak, Tuan. Saya saja sedang fokus mengemudi.” Kata Tio dengan serius.


Adam kembali memandang Nabila. “Enggak kok Bil, Tio lagi fokus nyetir itu, dia enggak ngetawain kamu. Tio kalo lagi nyetir jadi robot Bil, nggak bakalan peduli sama orang sekitar.”


Nabila melipat kedua tangannya di depan dada. “Mas Adam lebih percaya Bila apa Tio?” Dengan cemberut Nabila memberi pertanyaan itu pada Adam.


Kalo aku jawab Tio, bila pasti ngambek nih.


“Percaya Tuhan sayang, nanti kalau percaya sama manusia jatuhnya musrik gimana?”


“Ah, sudahlah. Aku malas ngomong sama mas Adam!” Nabila membuang muka, dia membuka kaca jendela pintu dan menatap ke arah luar jendela mobil.


Lah, beneran ngambek. Sabar, Adam sabar.


“Sayang?”


Nabila tidak menghiraukan panggilan Adam.


“Gara-gara kamu Tio, istriku jadi ngambek. Potong bonus akhir tahun kamu.” Ucap Adam pada Tio.

__ADS_1


“Lah, kok gara-gara saya, Tuan?Kan Tuan sendiri yang tidak menjawab pertanyaan Nona Bila.”


****** kalau bonus akhir tahun sampai di potong beneran.


“Dia mah gitu Tio, kesalahan siapa yang disalahin siapa.” Sindir Nabila.


Malah mihak Tio. Kuharap anakku cepat lahir, biar ada teman ngelawan bundanya.


Adam menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Bil, aku percaya kamu. Sayang kamu, cinta kamu, pokoknya i love you forever.” Kata Adam dengan menunjukkan dua jarinya.


Aku dimana?aku siapa?? Begitulah kira-kira yang difikirkan Tio saat mendengar gombalan Adam pada istrinya.


“Cih.. gombal.”


“Serius Bil.”


Ternyata mendengar gombalan Adam pun tidak meluluhkan Nabila yang sedang ngambek. Nabila tetap tidak mau menatap Adam.


“Sayang, lihat aku!” Pinta Adam menarik Nabila agar menghadapnya.


“Apa?Apa?” Gerutu Nabila.


“Saranghaeyo!!” Ucap Adam dengan mengaitkan jempol tangannya dan jari telunjuknya membentuk cinta ala drama Korea.


“Aaa.. tayang.” Nabila merasa gemas dengan Adam yang seperti itu.


Astaga Tuan, Tuan. Untung hanya ada saya di mobil ini. Bisa-bisa jadi Presdir bucin Tuan ini.


.


.


.


Bersambung...


Mohon dukungannya ya temen-temen, dengan kasih vote dan like ke author..


Like


Like


Like


Netizen : Thor kok update nya nggak teratur sih?


Author: Sabar yaa, masih nyambi ini itu soalnya.


Netizen: Thor kok ceritanya datar-datar aja sih?


Author: Untuk Nabila dan Adam ceritanya emang dibuat lebih ke kehidupan sehari-hari sih, biar sedikit agak nyata. Meskipun nanti ada juga yang agak gak fiktif.

__ADS_1


__ADS_2