
"Brengsek! Bukan dia yang memintaku datang. Tapi aku sendiri yang berinisiatif untuk menemuinya. Kalau tidak tahu apa - apa lebih baik ayah diam! bentak Arya. Suaranya menggelegar penuh kemarahan. Sehingga membuat Lesti bergegas mendatanginya.
"Ada apa ini, Arya? kenapa kamu berani membentak Ayahmu?" tanya Lesti ia menatap tajam ke arah sang putra yang kini tengah memandang sinis pada Pandu.
"Dia sudah keterlaluan, Bu! Astaga, sudahlah. Lebih baik saya memang tidak pulang," Ucap Arya.Ia mengacak rambutnya dengan kasar kemudian berjalan meninggalkan ruang keluarga.
Sepanjang jalan menuju kamar, Arya terus menggerutu. Ia marah karena Pandu terus mendesaknya untuk menikahi keponakan dari Kenzo Wijaya. Padahal ia sendiri belum pernah bertemu dengannya.
"Bekerja memang jauh lebih menyenangkan dari pada datang kerumah. Benar - benar membuat pening dengan permintaaan tidak masuk akal darinya." ujar Arya. Ia kemudian menghembuskan napas panjang kemudian berbaring di atas ranjang.
Arya memejamkan mata. Bibirnya mengulas senyum tipis saat teringat dengan Kiran.
"Aku yakin Darren tidak akan membiarkan aku menemui Kiran begitu saja," gumam Arya.
"Tapi siapa yang peduli saya akan menjenguk Kiran dan juga anaknya. Ah, apa Kiran merindukan saya?"
***
Sesuai rencana, setelah hari cukup siang. Arya bergegas menuju ke rumah sakit. Tidak lupa ia membawa hadiah untuk Arka dan juga Kiran.
Arya berharap kondisi Kiran akan lebih baik jika bertemu dengannya. Namun, tentu saja Darren tidak akan membiarkannya begitu saja.
Sebelum memasuki ruang rawat inap Kiran, Darren memperingati Arya terlebih dahulu.
"Jangan macam - macam dengan Kiran!" kata Darren sambil menatap datar ke arah Arya. Ia bersedekap sedangkan Arya terlihat begitu santai. Sambil menenteng paper bag berisi hadiah.
"Memangnya kenapa? saya sangat merindukannya. Jadi terserah saya mau melakukan apa saja," Kata Arya ia tersenyum miring sembari membalas tatapan Darren.
Namun, tentu saja Arya hanya bercanda. Ia tidak mungkin berbuat macam - macam dengan Kiran yang notabennya sudah bersuami. Arya hanya ingin menggoda Darren. Yang akan terlihat lucu ketika sedang cemburu.
"Kau benar - benar menjengkelkan. Harusnya kau bersyukur karena aku mengizinkanmu mengujungi Kiran. Bukan malah seperti ini! sentak Darren.
"Saya hanya bercanda. Saya tidak mungkin berbuat macam - macam dengan istrimu. Jadi tolong sekarang biarkan saya masuk," kata Arya
"Baik. Tapi aku kasih waktu kamu lima belas menit untukmu! Setelah itu jangan muncul lagi di hadapan Kiran!" tukas Darren ia mendengus kesal lalu membukakan pintu ruang rawat inap Kiran untuk Arya.
"Saya tidak peduli tapi yang jelas saya akan berlama - lama disini," balas Arya sambil terkekeh.
"Brengsek! Kalau bukan sedang berada di rumah sakit, sudah aku pastikan dia akan merasakan pukulanku, " geram Darren.
"Apa kabar?" Tanya Arya sembari meletakkan paper bag di atas brankar Kiran. Ia tersenyum lembut sembari mengusap lembut puncak kepala Kiran.
__ADS_1
"Aku baik. Kamu sendiri bagaimana, Mas? Sudah lama ya kita tidak ketemu?" ucap Kiran.
Ia membalas senyuman Arya.
"Saya juga baik, Kamu benar saya terlalu sibuk. Sehingga tidak bisa datang menemuimu. Lagi pula suamimu pasti marah kalau saya terus mendatangimu," ujar Arya sembari melirik ke arah Darren yang kini sedang duduk santai di sofa.
"Tentu saja aku marah. Mana ada suami yang tidak marah saat istrinya di temui laki - laki asing." balas Darren sambil mengalihkan pandangannya dari Arya.
"Tapi saya bukan orang asing. Saya adalah..." Arya tidak melanjutkan ucapannya ketika mendengar suara tangisan Arka. Ia lalu menatap ke arah box bayi.
"Ah, saya lupa tidak menyapanya? siapa namanya? Tanya Arya sambil mendekati Arka. Ia tersenyum penuh kagum saat melihat Arya membuka matanya.
"Namanya Ravindra Arka Wijaya. Dan panggilannya Arka," jawab Kiran ia tersenyum lembut sembari mengangkat Arka dari box bayi.
"Siapa yang memberi nama begitu?" tanya Arya sambil menatap lekat kearah Kiran.
"Tentu saja Papanya. Memangnya kenapa?" tanya Kiran. Ia terkekeh sembari membalas tatapan Arya.
"Nama yang aneh persis seperti Papanya," ia tergelak ketika mendengar protes dari Darren.
"Justru namanu ya aneh! Dasar Manusia kutub," kata Darren yang tidak terima setelah mendengar ucapan Arya.
"Kau..."
"Mas sudahlah! Jangan marah begitu! Mas Arya itu tamu loh," ujar Kiran sambil menatap penuh peringatan kearah Darren.
Darren menghembuskan napas panjang. ia mengangguk kemudian memilih diam. Namun tidak lama kemudian dering ponselnya terdengar.
Darren merogoh saku celananya. Ia terkejut saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Ran, aku keluar dulu. Kalau Arya macam - macam segera hubungi aku!" kata Darren.
"Mau kemana?" kata Kiran.
"Ke taman rumah sakit. Ada telepon dari Om Alex," jawab Darren.
"Oh ya sudah. Nanti kalau sudah kembali jangan lupa belikan makanan dan minuman untuk Mas Arya."
"Hm, aku tahu"
Setelah kepergian Darren, Arya duduk di kursi di dekat brankar. Arya menatap Kiran. Ia mengernyitkan dahi saat merasakan desiran aneh di hatinya. Arya merasa seolah - olah dirinya dan Kiran memiliki ikatan yang begitu kuat.
__ADS_1
"Ran, dimana keluargamu?" tanya Arya setelah beberapa saat ia terdiam.
"Aku tidak punya keluarga lagi, Mas. Ibu dan adikku sudah meninggal."
"Lalu dimana Ayahmu?"
Kiran terdiam lalu menggelengkan kepala. " Aku tidak tahu dimana dia, Mas. Kata ibu, bapak pergi merantau tapi saat ini tidak ada kabar apapun darinya."
Arya tertegun dan jantungnya berdetak kecang. Seolah - olah ada rasa aneh yang perlahan - lahan hinggap di hatinya.
"Apa kamu sudah pernah mencarinya?"
"Aku sudah pernah mencarinya tapi tidak ada hasil apapun. Bapak seolah - olah hilang di telan bumi."
"Apa menurutmu dia masih hidup?"
"Entahlah aku juga tidak tahu."
"Kalau begitu, boleh saya membantumu mencarinya?" tanya Arya Ia menggenggam tangan Kiran lembut. Arya menatap lekat ke arah manik mata Kiran.
'Kenapa Kiran semakin mirip dengannya? Atau jangan - jangan...,' batin Arya.
"Memang kamu mau mencarinya kemana, Mas?" tanya Kiran yang sukses membuyarkan lamunan Arya.
"Ya kemana saja. Siapa tahu nanti saat berkunjung dari daerah ke daerah, aku busa menemukannya," ucap Darren.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan sangat berterima kasih. Saat kamu berhasil menemukannya."
Arya menganggukan kepala. Rasa penasaran dan curiganya semakin tinggi. Apalagi meligat wajah Kiran yang samar - samar mirip dengan sesrorang yang ia kenal.
"Saya yakin ada sesuatu yang telah terjadi," gumam Arya.
Bersambung...
Kira - kira siapakah Ayah kandung Kiran?
Selamat membaca. Yeay akhirnya Beautiful Maid sampai juga di Episode ke 100 hehe. Nggak nyangka bisa bertahan sejauh ini.
Terima kasih pada kalian semua yang sudah setia menanti hehe. Nantikan terus kisah mereka ya!
Jangan lupa, like, komen, vote dan Hadiahnya.
__ADS_1