Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kepulangan Shelvi


__ADS_3

"Shelvi! Kamu kemana saja? Mami sangat merindukan kamu." ucap Diah, tepat saat Shelvi menginjakkan kaki di dalam rumah.


"Bukan urusan, kamu!" Sentak Shelvi sembari menghempaskan tangan Diah yang menyentuh lengannya.


"Sayang, kamu jangan seperti ini! Mami itu sangat merindukanmu! Mami tidak ingin kehilangan kamu lagi," balas Diah ia mencoba memeluk Shelvi lagi. Namun sayangnya Shelvi justru mendorongnya.


"Jangan pernah memasang wajah menyedihkan seperti itu, aku sudah muak melihatmu!" Bentak Shelvi pada Maminya.


Diah tercengang mendengar ucapan Shelvi. Hatinya terluka karena Shelvi terlihat begitu membencinya. Padahal, selama ini Diah sudah sangat merindukannya.


Diah memejamkan matanya sejenak sehingga membuat air matanya pun terjatuh. Ia tersenyum lembut sembari menatap ke arah Shelvi.


"Ah, kamu pasti sangat lelah. Sekarang Mami buatkan makanan kesukaan kamu dulu, ya, Nak. Sudah lama kamu tidak makan itu, kan?" ucap Diah sambil menawarkan makan favorit anaknya itu.


"Tidak usah berpura - pura baik padaku. Aku datang kesini hanya untuk mengambil beberapa barang, setelah itu, aku akan langsung pergi," balas Shelvi suaranya begitu sinis yang membuat Diah berusaha mati - matian untuk tidak terisak.


"Kenapa buru - buru, bukankah sudah lama kamu tidak pulang kerumah? Kamu is......"


"Heh! Jangan mengatur hidupku lagi! Bukankah suami itu, sudah menyatakan kalau aku ini bukan lagi anak kalian? Jadi berhentilah mengkhawatirkan diriku!"


"Bagaimana mungkin Mami tidak mengkahawatirkan kamu, Nak? Kamu darah daging Mami. Mami yang sudah merawat kamu dari bayi. Mami....Mami...."


Diah tak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya. Ia terlanjur menangis sembari menatap penuh luka ke arah Shelvi. Diah begitu kecewa sebab Shelvi tidak seperti dulu. Bahkan, kini Diah juga merasa Shelvi seolah - olah telah menjadi orang yang asing. Namun meski begitu rasa sayangnya tidak pernah pudar.

__ADS_1


"Sudahlah.. Cih! Benar - benar keluarga yang sangat membosankan" tukas Shelvi sembari berlalu pergi meninggalkan Diah.


Shelvi berjalan menuju kamar. Hari ini setelah pulang berlibur bersama Vanesha dan Kevin, ia memang sengaja berkunjung ke rumah.


Shelvi ingin mengambil barang - barang miliknya yang masih tersisa. Rencananya ia ingin tinggal di rumah Bima. Tentu saja, ia sudah mendapatkan persetujuan dari Kevin dan Vanesha yang tidak tahu menahu tentang hubungan dirinya dengan Kevin.


Langkah kaki Shelvi terhenti. Saat berada di depan sebuah figura foto. Hati Shelvi berdesir saat melihat potret dirinya ketika masih kecil bersama Bara serta Diah. Ia memejamkan mata merasakan perasaan aneh yang diam - diam menyusup di hatinya.


Namun, dengan cepat Shelvi buru - buru mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menghembuskan napas panjang lalu melemparkan foto tersebut hingga hancur.


"Jangan pernah memikirkan masa lalu bodoh itu, Shelvi!" Ucap Shelvi untuk dirinya sendiri.


Setelah puas menggerutu, Shelvi kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar. Sesampainya di kamar Shelvi sangat terkejut saat melihat Bara tampak duduk di tepi ranjang.


Bara terduduk lesu sembari menatap foto lama milik Shelvi. Matanya memanas dan mulai berkaca - kaca saat dirinya teringat dengan masa lalunya yang begitu membahagiakan.


Bara tersentak kaget saat mendengar suara langkah kaki. Ia buru - buru menoleh dan terkejut saat melihat Shelvi. Bara tersenyum manis sambil mengusap air matanya dengan kasar.


"Shelvi, kamu pulang, Nak?" sapa Bara yang beranjak mendekati Shelvi.


Hati Bara berdebar merasakan kebahagiaan yang begitu membuncah di hatinya. Ia merasa sangat senang melihat Shelvi kembali ke rumahnya. Bara bahkan tak mampu menyembunyikan air matanya saat berhadapan dengan Shelvi.


"Jangan pernah menyentuhku!" Sentak Shelvi, saat Bara hampir saja memeluknya.

__ADS_1


Shelvi melangkah mundur sembari menatap penuh peringatan ke arah Bara.


"Kamu tidak rindu dengan Papi, Nak? Sudah lama kita tidak bertemu. Papi sangat merindukanmu," ujar Bara.


"Aku tidak pernah sekalipun merindukan orang sepertimu!" Balas Shelvi.Ia tersenyum miring lalu bersedekap.


Deg!


Jantung Bara, berdetak semakin kencang sehingga membuat dadanya mejadi sesak.Ia tidak menyangka dengan kalimat yang di ucapkan oleh Shelvi.


"Shelvi, Papi...."


"Berhentilah bicara! Lebih baik kamu keluar saja dari sini! Aku sangat malas melihat wajahmu!" Pungkas Shelvi tanpa memedulikan perasaan Bara.


"Shelvi? Kamu tega berbicara seperti itu, kepada Papi?" Ucap Bara merasa begitu terluka dengan ucapan anaknya sendiri.


"Apa Papi? Hei! Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku untuk tidak menganggapmu sebagai orang tua?" ucap Shelvi dengan sinis dan kesal.


"Shelvi...." Ucapan Bara terhenti, karena Shelvi berbalik dan mengabaikan hal itu, Bara menyugar rambutnya kemudian menatap lekat putrinya itu.


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen dan juga vote.

__ADS_1


__ADS_2